Waspada, 3 Jenis Penyakit Autoimun Ini Paling Sering Menyerang Wanita

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit autoimun merupakan penyakit yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh (imun) yang menyerang organ sehat dalam tubuh diri Anda sendiri. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan organ menjadi abnormal sehingga mengakibatkan perubahan fungsi organ dalam jangka panjang. Rematik dan diabetes tipe 1 adalah dua contoh penyakit autoimun yang paling umum dan bisa menyerang siapa saja. Tapi ada beberapa penyakit ini yang secara khusus lebih sering menyerang wanita daripada pria. Berikut daftarnya. 

Daftar penyakit autoimun yang paling sering dialami oleh wanita

1. Lupus

Lupus, atau lengkapnya lupus eritematosus sistemik, merupakan penyakit autoimun yang kronik atau menahun. Lupus terjadi saat antibodi yang dihasilkan tubuh menempel pada jaringan di seluruh tubuh. Beberapa jaringan yang umumnya terserang lupus adalah sendi, paru-paru, ginjal, sel darah, saraf, dan kulit.

Gejala yang timbul seperti demam, kehilangan berat badan, nyeri dan bengkak di bagian sendi dan otot, ruam pada wajah, dan rambut rontok. Penyebab lupus belum diketahui. Namun, sepertinya ada sesuatu yang memicu sistem kekebalan tubuh dan menyerang berbagai area tubuh. Itu sebabnya menekan sistem kekebalan tubuh adalah salah satu bentuk pengobatan utama lupus. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan perkembangan lupus meliputi virus, polusi bahan kimia lingkungan, dan susunan genetik seseorang.

2. Multiple sclerosis (MS)

Multiple sclerosis atau sklerosis ganda adalah penyakit autoimun yang menyerang lapisan pelindung di sekitar saraf. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang.

Gejala penyakit ini adalah kebutaan, otot menegang, lemah, mati rasa pada kaki dan tangan, kesemutan, kelumpuhan dan sulit melakukan keseimbangan tubuh serta sulit bicara. Gejalanya bisa bervariasi karena lokasi dan tingkat serangannya berbeda-beda antar individu. Pengobatan yang dilakukan biasanya fokus pada mempercepat pemulihan dari serangan, memperlambat perkembangan penyakit, dan mengatasi gejala-gejalanya. Berbagai obat yang menekan sistem kekebalan tubuh bisa digunakan untuk mengobati sklerosis.

Penyebab sklerosis belum diketahui. Penyakit ini dianggap sebagai penyakit autoimun simana sistem imun menyerang jaringannya sendiri. Kerusakan sistem imun ini menghancurkan myelin, yaitu zat lemak yang melapisi dan melindungi serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Jika pelindung myelin rusak dan serat saraf terpapar, rangsang yang berjalan di sepanjang saraf itu bisa diperlambat atau diblokir. Saraf juga bisa menjadi rusak sendiri. Faktor genetik dan lingkungan juga dianggap sebagai salah satu penyebabnya.

3. Tiroiditis hashimoto

Tiroiditis hashimoto terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang tiroid. Beberapa orang mengalami pembengkakan di depan tenggorokan seperti gondok. Gejala lain termasuk kelelahan, penambahan berat badan, depresi, ketidakseimbangan hormon, nyeri otot atau sendi, tangan dan kaki dingin, kulit dan kuku kering, rambut rontok berlebihan, sembelit, dan suara serak. Penyakit ini biasanya diatasi dengan mengambil hormon pengganti sebagai tiroid sintetis.

Penyakit Hashimoto biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan menyebabkan kerusakan tiroid kronis, yang menyebabkan penurunan kadar hormon tiroid dalam darah Anda (hipotiroidisme). Penyebab penyakit ini juga belum diketahui. Namun beberapa peneliti berpendapat bahwa virus atau bakteri yang memicu penyakit ini. Ada juga yang berpendapat kelainan genetik juga berpengaruh, termasuk keturunan, jenis kelamin dan usia, dapat menentukan kemungkinan Anda terkena penyakit ini.

Mengapa penyakit autoimun lebih banyak terjadi pada wanita?

Mayoritas orang yang nemiliki penyakit autoimun adalah wanita dalam usia produktif. Faktanya, penyakit autoimun adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan pada anak perempuan dan wanita berusia 65 tahun dan lebih muda. Meskipun belum sepenuhnya jelas apa penyebabnya, namun beberapa teori berpendapat bahwa beberapa faktor di bawah ini berperan cukup besar dalam menentukan risiko seorang wanita terhadap suatu penyakit autoimun:

1. Hormon seksual

Perbedaan hormon antara wanita dan pria menjelaskan mengapa wanita lebih berisiko mengalami penyakit autoimun. Banyak penyakit autoimun yang cenderung membaik dan memburuk seiring dengan fluktuasi hormon wanita (misalnya, selama kehamilan, sejalan dengan siklus menstruasi, atau saat menggunakan kontrasepsi oral), yang mengindikasikan bahwa hormon seksual mungkin berperan dalam banyak penyakit autoimun.

Fungsi sel di tubuh dipengaruhi oleh hormon yang salah satunya adalah hormon estrogen yang banyak terdapat pada perempuan. Kadar estrogen cenderung tinggi di usia produktif. Kondisi ini yang membuat perempuan rentan mengidap penyakit ini.

2. Perbedaan ketahanan sistem imun antar gender

Beberapa peneliti percaya bahwa wanita berisiko tinggi terkena penyakit autoimun karena sistem kekebalan tubuh wanita cenderung lebih canggih daripada pria. Wanita secara alami memiliki respons  yang lebih kuat daripada pria saat sistem kekebalan mereka dipicu, dan peradangan memainkan peran penting dalam banyak penyakit autoimun. Meskipun hal ini sering menghasilkan kekebalan yang superior di kalangan wanita, ini juga dapat meningkatkan risiko wanita mengembangkan kelainan autoimun jika terjadi kesalahan.

3. Kode genetik perempuan yang lebih rentan

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa wanita memiliki dua kromosom X sedangkan pria memiliki kromosom X dan Y dan secara genetik hal ini cenderung memicu berkembangnya penyakit autoimun. Ada beberapa bukti bahwa cacat pada kromosom X mungkin terkait dengan kerentanan terhadap penyakit autoimun tertentu. Genetika penyakit autoimun bisa dibilang cukup rumit, dan penelitiannya sedang berlangsung.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sarcoidosis

Sarcoidosis merupakan salah satu penyakit peradangan yang belum diketahui pasti apa penyebabnya. Lalu, bagaimana cara mengobati penyakit ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 24 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Skizofrenia

Skizofrenia adalah penyakit mental. Simak informasi tentang penyebab, gejala, faktor risiko, dan cara pengobatan penyakit ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Septic Arthritis

Septic arthritis adalah infeksi yang menimbulkan rasa sakit di persendian. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab hingga pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Sindrom Antifosfolipid (APS)

Sindrom antifosfolipid, atau antiphospholipid syndrome (APS) adalah penyakit autoimun yang membuat darah mudah menggumpal.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengetahui umur tulang manusia

Bagaimana Cara Mengetahui Umur Tulang Anda?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
mengenal gangguan autoimun

Mengapa Penyakit Autoimun Semakin Banyak Terjadi di Indonesia?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
pemfigoid bulosa (bullous pemphigoid)

Pemfigoid Bulosa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
vitiligo adalah

Vitiligo

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit