Mengenal Hashimoto Disease, Penyakit yang Menyerang Kelenjar Tiroid

Mengenal Hashimoto Disease, Penyakit yang Menyerang Kelenjar Tiroid

Penyakit Hashimoto mungkin terdengar asing di telinga Anda. Namun, sebenarnya ini bukan penyakit baru. Bahkan, seorang model kenamaan, Gigi Hadid, diketahui memiliki penyakit ini.

Sebenarnya, apa itu penyakit Hashimoto dan apa saja penyebabnya?

Apa itu penyakit Hashimoto?

Penyakit Hashimoto atau Hashimoto’s disease adalah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid sehingga menimbulkan peradangan.

Penyakit tiroid ini memiliki banyak nama lain, seperti thyroiditis Hashimoto dan limfositik tiroiditis kronis.

Tiroid merupakan kelenjar kecil yang berada di pangkal leher di bawah jakun Anda.

Kelenjar ini bertugas untuk menghasilkan hormon yang mengendalikan penggunaan energi hingga mengatur detak jantung.

Penyakit ini dapat menyerang segala usia, terutama wanita lansia.

Jika tidak diobati, peradangan pada kelenjar tiroid dapat menyebabkan kelenjar tiroid menjadi kurang aktif (hipotiroidisme).

Bahkan, hipotiroid yang dibiarkan akan menyebabkan gagal jantung, gangguan kejiwaan, dan miksedema (komplikasi hipotiroidisme).

Tanda dan gejala penyakit Hashimoto

penyakit hashimoto

Pada awal perkembangan penyakit Hashimoto’s thyroiditis, sebagian besar orang mungkin tidak merasakan gejala apa pun.

Namun, Anda mungkin akan merasakan adanya pembengkakan di bagian depan tenggorokan.

Selama bertahun-tahun, penyakit ini akan semakin berkembang dan menyebabkan kerusakan tiroid kronis.

Akibatnya, kadar hormon tiroid dalam darah akan menurun dan menyebabkan hipotiroidisme.

Berikut tanda dan gejala yang mungkin terjadi akibat penyakit Hashimoto, antara lain:

  • kelelahan dan lesu,
  • lebih sensitif terhadap udara dingin,
  • sembelit,
  • pembengkakan pada wajah,
  • kulit menjadi kering dan pucat,
  • kuku jadi mudah rapuh dan rambut rontok,
  • ukuran lidah membesar,
  • nyeri otot dan sendi kaku,
  • otot menjadi lemah,
  • berat badan turun tanpa sebab yang jelas,
  • depresi dan daya ingat menurun,
  • menstruasi berlebihan (meorraghia), dan
  • melambatnya detak jantung.

Penyebab penyakit Hashimoto

Terjadinya peradangan pada kelenjar tiroid ini diakibatkan oleh reaksi antibodi dalam sistem imun.

Sistem imun salah mengira organ tiroid sebagai ancaman, sehingga melepaskan sejumlah sel darah putih untuk menyerang tiroid.

Sebagian besar ahli percaya jika kondisi ini dipicu oleh kombinasi mutasi gen yang mengendalikan sistem imu serta infeksi virus dan bakteri.

Mengutip dari MedlinePlus, mutasi dan variasi genetik merupakan faktor yang paling memengaruhi seseorang untuk terkena penyakit Hashimoto.

Selain itu, faktor nongenetik berpotensi menjadi penyebab penyakit Hashimoto, yang meliputi:

  • gangguan hormon (terutama pada wanita),
  • infeksi virus,
  • konsumsi obat-obatan tertentu,
  • paparan radiasi pengion (bermuatan listrik),
  • makanan mengandung protein hewani dalam jumlah besar, dan
  • kelebihan yodium.

Faktor risiko

Dikutip dari laman National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, Hashimoto tiroiditis 8 kali lebih umum terjadi pada wanita usia 40 – 60 tahun.

Selain itu, orang dengan kondisi tertentu lebih berisiko terkena penyakit ini, di antaranya:

  • hepatitis autoimun,
  • penyakit celiac,
  • penyakit lupus,
  • anemia pernisiosa,
  • rheumatoid artritis,
  • sindrom Sjogren,
  • diabetes tipe 1,
  • vitiligo atau kondisi kulit yang tidak berpigmen), dan
  • pernah menjalani operasi pada area sekitar kelenjar tiroid atau mendapatkan terapi radiasi di sekitar dada.

Diagnosis

Gejala yang ditimbulkan penyakit Hashimoto mirip dengan banyak penyakit lain.

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menjalani serangkaian tes kesehatan seperti di bawah ini.

  • Tes hormon: bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada produksi hormon tiroid.
  • Tes antibodi: untuk mendeteksi adanya produksi antibodi abnormal yang menyerang tiroid peroksidase (enzim yang berperan dalam produksi hormon tiroid).

Komplikasi penyakit Hashimoto

penyakit hashimoto

Hormon tiroid memiliki peran sangat penting bagi tubuh.

Oleh karena itu, banyak komplikasi dapat terjadi jika thyroiditis Hashimoto tak segera ditangani seperti yang disebutkan situs Mayo Clinic berikut ini.

1. Gondok

Saat produksi hormon tiroid menurun karena penyakit Hashimoto, tiroid menerima sinyal dari kelenjar pituitari untuk meningkatkan hormon sehingga kelenjar tiroid membengkak dan menyebabkan gondok.

2. Masalah jantung

Hipotiroidisme dapat mengganggu fungsi jantung, seperti jantung yang membesar dan detak jantung yang tidak teratur.

3. Masalah kesehatan mental

Depresi atau gangguan kesehatan mental juga dapat terjadi saat awal Anda mendapatkan diagnosis penyakit Hashimoto dan bisa semakin parah dari waktu ke waktu.

4. Disfungsi seksual dan reproduksi

Pada wanita, hipotiroidisme dapat mengakibatkan berkurangnya hasrat seksual (libido) dan masalah menstruasi.

Pria dengan hipotiroidisme mungkin mengalami penurunan libido, disfungsi ereksi, dan penurunan jumlah sperma.

5. Meningkatkan risiko masalah kehamilan

Hipotiroidisme selama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, berat badan lahir bayi rendah, hingga bayi lahir cacat.

6. Myxedema coma

Koma miksedema adalah gangguan fungsi otak yang mengancam nyawa akibat rendahnya hormon tiroid.

Meski terbilang langka, Anda yang mengalami Hashimoto’s disease juga berisiko mengalami komplikasi ini.

Pengobatan penyakit Hashimoto

Jika dokter sudah menentukan bahwa Anda terkena thyroiditis Hashimoto, pengobatan yang biasanya direkomendasikan adalah terapi hormon buatan.

Terapi ini dilakukan dengan memberikan hormon tiroid buatan, seperti levothyroxine. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kadar hormon sekaligus mengurangi gejala.

Selama menjalani terapi, dokter akan terus memeriksa level TSH (thyroid-stimulating hormone) Anda secara berkala setiap seminggu sekali.

Tujuannya, agar dokter mengetahui seberapa banyak tubuh Anda memerlukan dosis hormon buatan.

Selama menjalani terapi, pasien perlu menjaga asupan makanan, suplemen, dan obat-obatan lainnya.

Pasalnya, kandungan tertentu dapat mengganggu penyerapan levothyroxine dalam tubuh.

Beberapa obat dan suplemen yang mengganggu kerja levothyroxine seperti suplemen zat besi dan kalsium, cholestyramine (Prevalite), aluminium hidroksida, dan sucralfate.

Cara mencegah Hashimoto’s thyroiditis

Mengingat penyakit ini dipengaruhi oleh faktor genetik, Anda mungkin bertanya-tanya apakah penyakit Hashimoto bisa dicegah?

Penyakit ini memang sulit dicegah, tetapi Anda bisa menurunkan risikonya dengan rutin memeriksakan kesehatan ke dokter spesialis endokrin.

Tak hanya itu, Anda bisa menghindari hal-hal berikut untuk menurunkan risiko terkena Hashimoto’s disease:

  • konsumsi makanan bergizi seimbang,
  • gunakan garam beryodium dalam jumlah terbatas, dan
  • hindari paparan radiasi pengion.

Segera konsultasi dengan dokter bila Anda memiliki riwayat penyakit tiroid atau penyakit autoimun dan mengalami gejala mirip penyakit Hashimoto.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hashimoto’s Thyroiditis. (2021). Retrieved 23 August 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/hashimotos-thyroiditis

Hashimoto’s disease – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 23 August 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hashimotos-disease/symptoms-causes/syc-20351855

Conditions, G. (2020). Hashimoto thyroiditis: MedlinePlus Genetics. Retrieved 23 August 2022, from https://medlineplus.gov/genetics/condition/hashimoto-thyroiditis/

Disease, H., & Health, N. (2022). Hashimoto’s Disease | NIDDK. Retrieved 23 August 2022, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/hashimotos-disease

Hashimoto’s Disease: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatments. (2020). Retrieved 23 August 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17665-hashimotos-disease

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany Diperbarui Aug 31
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan