Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Gangguan Hormon dan Jenis Penyakitnya

Mengenal Gangguan Hormon dan Jenis Penyakitnya

Hormon memiliki banyak peran bagi tubuh, terutama dalam menjaga fungsinya agar dapat bekerja dengan baik. Bila produksi hormon mengalami gangguan, dampaknya bisa berbahaya untuk kesehatan Anda.

Apa itu gangguan hormon?

kekurangan hormon dopamin penyebab stres

Gangguan hormon adalah kondisi ketika kelenjar memproduksi hormon dalam jumlah yang terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Pada dasarnya, hormon diproduksi oleh sistem endokrin. Sistem ini mencakup delapan kelenjar utama di seluruh tubuh. Beberapa di antaranya termasuk kelenjar tiroid, kelenjar pituitari, kelenjar adrenal, dan pankreas.

Hormon bekerja secara perlahan dalam berbagai proses tubuh, termasuk tumbuh kembang, metabolisme, fungsi seksual, reproduksi, sampai suasana hati.

Produksi hormon harus selalu dalam jumlah yang seimbang. Perubahan sekecil apa pun pada sistem endokrin dan hormon dapat memberikan dampak yang serius pada tubuh.

Adanya gangguan hormon bisa menimbulkan gejala seperti kenaikan berat badan secara drastis, kelelahan, perubahan detak jantung, cemas, dan penurunan hasrat seksual.

Jenis gangguan hormon

hipertiroid gejala

Gangguan pada produksi hormon dapat memicu berbagai macam penyakit. Jenis penyakitnya berbeda-beda, tergantung kelenjar mana yang bermasalah.

Berikut merupakan beberapa penyakit akibat gangguan sistem endokrin.

1. Hipertiroidisme

Hipertiroidisme terjadi bila kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon tiroksin. Hormon tiroksin berperan dalam mengatur berat badan, tingkat energi, suhu tubuh, serta metabolisme lemak dan karbohidrat.

Hipotiroidisme dapat mempercepat metabolisme tubuh. Alhasil, orang-orang yang memiliki kondisi ini biasanya akan mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja atau detak jantung yang cepat atau tidak teratur.

Beberapa gejala lainnya termasuk jantung berdebar, cemas, mudah gugup, gemetar halus pada tangan, serta meningkatnya sensitivitas tubuh terhadap panas.

2. Hipotiroidisme

Berbeda dengan hipertiroidisme, hipotiroidisme merupakan suatu kondisi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon yang cukup.

Pada awalnya, gejala dari gangguan hormon ini mungkin tidak terasa. Namun, tanda-tandanya akan berkembang dengan perlahan dan bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Gejala awal meliputi mudah lelah, sembelit, naik berat badan, dan wajah bengkak. Seiring waktu, hipotiroidisme yang tidak diobati dapat menyebabkan obesitas, nyeri sendi, masalah kesuburan, dan penyakit jantung.

3. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Menstruasi sering tidak teratur? Bisa jadi ini merupakan tanda PCOS. PCOS atau sindrom ovarium polikistik merupakan kondisi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon reproduksi.

Normalnya, ovarium akan melepaskan sel telur setiap bulan sebagai bagian dari siklus menstruasi yang sehat. Ketika terjadi PCOS, sel telur tidak berkembang atau tidak dilepaskan selama ovulasi sebagaimana mestinya.

Kebanyakan perempuan didiagnosis PCOS di antara usia 20-an dan 30-an. Meski demikian, kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun setelah pubertas.

4. Diabetes

diabetes di indonesia

Diabetes merupakan salah satu penyakit akibat gangguan hormon yang paling umum di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi karena pankreas tidak menghasilkan hormon insulin yang cukup atau sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik.

Insulin membantu memindahkan gula dari darah ke dalam sel. Begitu berada di dalam sel, gula diubah menjadi energi untuk digunakan atau disimpan di kemudian hari.

Bila jumlah insulin terlalu sedikit atau sel tubuh tidak mampu merespons insulin sebagaimana mestinya, gula akan menumpuk dalam darah.

Selain faktor keturunan, diabetes juga bisa dipicu dari kebiasaan sehari-hari, seperti gaya hidup yang kurang aktif atau konsumsi makanan yang tinggi lemak dan gula.

5. Sindrom Cushing

Sindrom Cushing merupakan kondisi ketika tubuh memproduksi terlalu banyak hormon kortisol dalam jangka waktu yang lama. Kortisol juga dikenal dengan sebutan hormon stres karena tugasnya yang membantu tubuh dalam merespons stres.

Gejala sindrom Cushing akan terlihat lebih jelas pada orang-orang yang sudah terlalu lama memiliki kadar kortisol tinggi.

Beberapa gejalanya yaitu penambahan berat badan, bentuk wajah yang bulat, peningkatan lemak di sekitar pangkal leher, dan adanya punuk lemak di bahu.

Pada anak-anak, sindrom Cushing bisa menyebabkan obesitas dan pertumbuhan yang lebih lambat daripada anak-anak sebayanya.

6. Penyakit Addison

penyakit addison

Penyakit Addison merupakan kondisi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan hormon kortisol dan aldosteron yang cukup. Kondisi ini terjadi karena sistem imun malah menyerang bagian luar kelenjar adrenal, tempat produksi hormon kortisol dan aldosteron.

Jika kortisol membantu tubuh merespons stres, aldosteron berfungsi mengatur keseimbangan natrium dan kalium dalam darah. Nantinya, mekanisme ini berpengaruh pada jumlah urine yang dikeluarkan ginjal.

Gejala penyakit Addison dapat meliputi sakit perut, perubahan siklus menstruasi yang tidak normal, mengidam makanan asin, dehidrasi, mudah marah, dan tekanan darah yang rendah.

7. Hipopituitarisme

Hipopituitarisme timbul ketika fungsi kelenjar pituitari terganggu. Padahal, kelenjar pituitari berperan penting dalam pembentukan banyak jenis hormon. Akibatnya, produksi hormon jadi terhambat.

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari berfungsi untuk membantu pertumbuhan tulang dan jaringan, mengatur kerja kelenjar penghasil hormon lainnya, serta mendorong perkembangan reproduksi seksual.

Saat fungsi hormon pituitari mengalami gangguan, akan muncul berbagai dampak pada tubuh. Beberapa contohnya yaitu terganggunya fungsi reproduksi, stunting pada anak, dan energi yang berkurang.

8. Gigantisme

Gigantisme merupakan pertumbuhan tubuh yang abnormal akibat produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan pada masa kanak-kanak.

Gejala utama dari gigantisme yakni perawakan tubuh yang besar. Peningkatan tinggi badan anak juga lebih pesat dibandingkan teman-teman sebayanya.

Selain itu, gigantisme dapat menyebabkan keterlambatan pubertas, pembesaran ukuran tangan dan kaki, perubahan fitur wajah, pendalaman suara pada laki-laki, serta masalah kulit berminyak.

Bagaimana cara mendiagnosis dan mengobati gangguan hormon?

periksa gangguan hormon

Gangguan hormon cukup sulit dideteksi, sebab gejalanya seringkali menyerupai gejala penyakit lainnya. Untuk itu, dokter akan melakukan pemeriksaan khusus, salah satunya dengan tes hormon.

Pemeriksaan hormon dapat meliputi uji stimulasi dan supresi. Dalam prosedur ini, dokter akan memberikan hormon dan zat lain yang dapat merangsang atau menghentikan produksi hormon tertentu.

Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat melihat bagaimana tubuh Anda merespons zat tersebut serta mengetahui ada-tidaknya kelainan pada kelenjar hormon.

Terkadang, dokter juga melakukan pemeriksaan lain seperti CT scan, MRI, tes genetik, atau tes darah guna mengetahui kemungkinan tumor atau kanker.

Bila perlu, tes urine akan dilakukan untuk memastikan bahwa gejala bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti infeksi atau masalah ginjal.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda memiliki gangguan hormon, dokter akan memberikan rencana perawatan yang sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahannya.

Perawatan dapat meliputi pemberian suplemen penambah hormon untuk mengembalikan kadar hormon tertentu atau obat penekan hormon untuk menghentikan produksi hormon yang berlebihan.

Gangguan hormon juga bisa diatasi dengan prosedur operasi. Namun, operasi baru akan dilakukan ketika dokter mencurigai adanya kanker atau jika obat-obatan sebelumnya tidak berhasil memperbaiki kondisi Anda.

Untuk pertanyaan atau informasi lebih lanjut seputar gangguan hormon, konsultasikan kepada dokter.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Endocrine Diseases. (n.d.). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved March 21, 2022, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases

Hypertiroidisme. (2020). Mayo Clinic. Retrieved March 21, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hyperthyroidism/symptoms-causes/syc-20373659

Thyroid and Parathyroid Hormones. (2022). Endocrine Society. Retrieved March 21, 2022, from https://www.endocrine.org/patient-engagement/endocrine-library/hormones-and-endocrine-function/thyroid-and-parathyroid-hormones

Hypothyroidism. (2020). Mayo Clinic. Retrieved March 21, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothyroidism/symptoms-causes/syc-20350284

Polycystic Ovary Syndrome. (2019). Office on Women’s Health. Retrieved March 21, 2022, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/polycystic-ovary-syndrome

Diabetes and Endocrine Function. (2022). Endocrine Society. Retrieved March 21, 2022, from https://www.endocrine.org/patient-engagement/endocrine-library/diabetes-and-endocrine-function

Cushing’s Syndrome. (2018). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved March 21, 2022, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/cushings-syndrome

Addison’s Disease: Causes, Symptoms, Diagnosis, & Treatment. (2019). Cleveland Clinic. Retrieved March 21, 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15095-addisons-disease

Hypopituitarism. (n.d.). Cedars Sinai. Retrieved March 21, 2022, from https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/h/hypopituitarism.html

Gigantism. (n.d.). UCLA Pituitary Tumor Program. Retrieved March 21, 2022, from http://pituitary.ucla.edu/resources

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Apr 18
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa