home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Wabah Mematikan yang Bisa Membuat Orang Menari Tanpa Sebab

Wabah Mematikan yang Bisa Membuat Orang Menari Tanpa Sebab

Saat melihat tiba-tiba banyak orang menari di tengah keramaian, Anda pasti mengira gerombolan tersebut adalah bagian dari pasukan flashmob yang sedang menjalankan misi rahasianya — entah itu untuk kampanye politik, iklan produk, hingga kejutan lamaran sang pujaan hati.

Tapi mungkin tak banyak yang tahu bahwa sensasi flashmob sedikit banyak terinspirasi dari kejadian aneh yang sempat melanda Strasbourg, sebuah kota kecil di Prancis, di tahun 1518. Alih-alih menjadi sebuah hiburan rakyat, fenomena “flashmob” yang satu ini justru membuat banyak orang tumbang menemui ajalnya setelah menari tanpa sebab. Fenomena ini disebut sebagai The Dancing Plague.

The Dancing Plague, wabah aneh yang membuat orang menari tanpa sebab

Pada pertengahan Juli 1518 di kota Strasbourg, Perancis, seorang perempuan yang dikenal sebagai Frau Troffea tiba-tiba merasakan dorongan tak terbantahkan untuk menari di tengah jalan, tanpa alasan apapun. Frau Troffea masih terus menari tanpa henti sampai beberapa hari kemudian. Dalam seminggu, wabah ini “menulari” sekitar hampir 100 orang yang juga mengikuti jejak Frau Troffea mengalami dorongan tak tertahankan untuk tiba-tiba menari. Pada bulan Agustus, wabah ini memengaruhi sebanyak 400 orang untuk menari tanpa henti dan tanpa sebab di tengah keramaian kota Strasbourg.

Pejabat daerah mengumumkan bahwa wabah orang menari ini disebabkan oleh penyakit “darah panas”. Namun bukannya memerintahkan tabib untuk meresepkan obat untuk menghentikan perdarahan, mereka justru memerintahkan grup “penari” ini untuk terus menari. Orang-orang yang terserang wabah ini dikumpulkan di balai kota untuk menari sepuas hati. Bahkan pemerintah memutuskan untuk membangun sebuah panggung besar untuk menampung mereka yang tak bisa berhenti menari.

Pihak berwenang melakukan ini karena mereka percaya bahwa gerombolan orang menari tanpa sebab ini hanya bisa berhenti jika mereka pada akhirnya bosan menari sepanjang siang dan malam. Tim penari dan pengiring musik profesional pun ikut disewa demi menjaga mereka bisa tetap terus menari. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak dari penari dadakan ini tewas akibat kelelahan ekstrim, stroke, dan serangan jantung.

Menariknya, fenomena Dancing Plague di Strasbourg ini bukanlah yang pertama kalinya. Terhitung ada sepuluh wabah menari yang terjadi sebelum tahun 1518. Salah satunya melanda kota-kota di Belgium pada tahun 1374, yang juga merenggut banyak nyawa.

Apa yang menyebabkan wabah orang menari tanpa henti dan tanpa sebab ini?

Tabib dan dokter di zamannya menduga bahwa wabah orang menari ini disebabkan oleh keracunan jamur psikotropika ergot, yang tumbuh di batang gandum. Tapi gagasan ini dengan cepat dipatahkan. Setelah diteliti, jamur ergot dapat memicu delusi dan kejang, dua karakteristik yang mucul di para penari dadakan ini. Akan tetapi, jamur ergot juga memotong suplai darah ke lengan dan tungkai kaki, yang membuat gerakan terkoordinasi seperti menari akan sulit untuk dilakukan.

Lainnya menduga bahwa orang-orang tersebut melakukan ritual sekte sesat tertentu. Tapi teori ini juga dipatahkan, karena para korbannya tidak menunjukkan keinginan tulus untuk menari. Saat menari, mereka justru berteriak minta tolong, mengungkapkan penderitaan, serta keinginan mereka untuk bisa berhenti — namun tak berdaya. Terlebih lagi, tak ada saran dari pihak berwenang manapun untuk mencoba mengobati orang-orang ini dengan cara-cara keibadahan.

Tak ada yang tahu pasti dari penyebab wabah ini sampai pada akhirnya berhenti total dengan sendirinya di awal September tahun itu. Meski demikian, peneliti modern memiliki dugaan kuat bahwa sindrom psikogenik massa (MPI) adalah apa yang menyebabkan banyak orang menari tanpa henti dan tanpa sebab di tahun 1518. Histeria massa adalah perwujudan dari histeria massa yang seringnya didahului oleh tekanan psikologis ekstrim.

Dan benar saja. Penduduk Strasbourg pada masa itu sedang terbelit kelaparan ekstrim, cuaca panas ekstrim, badai salju dan hujan batu es, serta kekeringan produk pertanian yang berdampak besar pada kesejahteraan masyarakatnya. Selain kondisi lingkungan yang ekstrim, mereka juga hidup di tengah maraknya penyebaran banyak penyakit, seperti cacar variola, sipilis, dan kusta.

Peneliti dan sejarawan percaya bahwa rentetan tragedi menyengsarakan inilah yang pada akhirnya memicu MPI. Histeria massa menyebar dengan cepat bila dipicu stres mahabesar, dan seringnya menyebabkan pingsan, mual dan sesak napas. Stres berat juga dapat memporakporandakan pikiran hingga menciptakan halusinasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Deadly Dancing: Could a Nocebo Effect Explain Medieval Europe’s Dancing Plagues? [Excerpt] https://www.scientificamerican.com/article/excerpt-berdik-expectations-dancing-to-death/ accessed March 16 2017

What was the dancing plague of 1518? http://www.history.com/news/ask-history/what-was-the-dancing-plague-of-1518 accessed March 16 2017

Dancing death http://news.bbc.co.uk/today/hi/today/newsid_7608000/7608874.stm accessed March 16 2017

Foto Penulis
Ditulis oleh Ajeng Quamila Diperbarui 06/09/2017
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus