home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bukan Sekadar Pereda Nyeri, Pahami Prosedur Pengobatan Rhizotomy

Bukan Sekadar Pereda Nyeri, Pahami Prosedur Pengobatan Rhizotomy

Anda pasti pernah merasakan nyeri pada bagian tubuh tertentu, bisa akibat luka setelah cedera atau gangguan tertentu pada tubuh. Pada kondisi ini, mengobati gangguan tersebut dapat mengurangi rasa sakit atau nyeri yang Anda alami. Namun, pada kondisi khusus, mengobati rasa nyeri bisa menggunakan prosedur rhizotomy. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai prosedur ini, berikut adalah informasi lengkapnya.

Apa itu rhizotomy?

Rhizotomy (rhizotomi), yang sering disebut dengan neurotomy atau ablasi, adalah prosedur bedah invasif minimal untuk menghilangkan rasa nyeri. Prosedur ini dilakukan dengan menghancurkan serabut saraf yang bertanggung jawab untuk mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.

Dokter dapat menghancurkan serabut saraf ini dengan memutusnya menggunakan alat bedah atau membakarnya dengan bahan kimia atau arus listrik. Prosedur ini dapat membantu meredakan nyeri secara cepat, dan bisa bertahan lama hingga beberapa tahun sampai saraf pulih dan mengirimkan sinyal rasa sakit kembali.

Seperti Anda ketahui, sistem saraf memiliki peran penting dalam menciptakan rasa nyeri di tubuh. Ketika tubuh terluka atau ada gangguan tertentu, saraf Anda mengirim jutaan sinyal atau pesan ke otak mengenai apa yang terjadi.

Otak sebagai sistem saraf pusat menafsirkan sinyal ini dan kemudian saraf mengirimkannya kembali ke bagian tubuh Anda yang bermasalah. Akibat proses ini, Anda bisa merasakan nyeri dan memberi respons terhadap rasa sakit tersebut.

Siapa saja yang membutuhkan prosedur rhizotomy?

Nyeri leher dan punggung karena meningitis

Meski demikian, tidak semua rasa nyeri dapat teratasi menggunakan prosedur ini. Biasanya, dokter merekomendasikan prosedur rhizotomi pada kondisi berikut:

  • Nyeri punggung dan leher akibat radang sendi (arthritis), hernia diskus, spinal stenosis, dan kondisi tulang belakang degeneratif lainnya. Facet rhizotomy biasanya dokter pilih untuk mengatasi masalah ini karena melibatkan saraf yang berada pada sendi facet di tulang belakang.
  • Sakit leher yang terkait dengan whiplash.
  • Nyeri sendi pada pinggul dan lutut yang biasanya terjadi karena arthritis.
  • Neuralgia trigeminal, yaitu nyeri wajah karena iritasi saraf trigeminal.
  • Spastisitas atau kejang otot yang tidak normal. Ini termasuk spastisitas akibat cerebral palsy pada anak, yang umumnya menggunakan prosedur selective dorsal rhizotomy.

Meski demikian, tidak semua penderita kondisi tersebut perlu mendapat prosedur rhizotomi. Biasanya, dokter merekomendasikan pengobatan ini bila rasa nyeri tidak membaik dengan obat-obatan atau terapi fisik. Pada nyeri punggung, ada kondisi khusus yang mungkin memerlukan pengobatan ini, yaitu:

  • Terjadi pada satu atau kedua sisi punggung bawah.
  • Rasa nyeri yang sudah menyebar ke bagian bokong dan paha, tetapi tidak pada bagian bawah lutut.
  • Nyeri terasa lebih buruk jika Anda memutar badan atau mengangkat barang.
  • Rasa sakit terasa membaik saat Anda berbaring.

Jenis-jenis rhizotomy

Ada beberapa jenis rhizotomi yang umum dokter lakukan. Jenis-jenis tersebut adalah:

  • Rhizotomi gliserin/gliserol. Jenis ini menggunakan bahan kimia (gliserin atau gliserol) untuk menghancurkan serabut saraf yang menjadi target.
  • Radiofrequency rhizotomy. Jenis ini menggunakan arus frekuensi radio untuk membakar serabut saraf. Biasanya, dokter memilih jenis ini bila Anda tidak bisa mendapat gliserin atau mengalami nyeri berulang.
  • Rhizotomi endoskopi. Jenis ini menggunakan perangkat kamera bernama endoskopi untuk menemukan saraf serta memutusnya.
  • Selective dorsal rhizotomy. Jenis ini menggunakan alat stimulasi listrik untuk memisahkan dan mengidentifikasi serabut saraf yang menjadi sasaran lalu kemudian memotongnya.

Apa persiapan yang perlu dilakukan sebelum menjalani prosedur ini?

Sebelum menjalani prosedur rhizotomy, dokter biasanya akan melakukan sejumlah tes pemeriksaan, seperti MRI atau bentuk tes lainnya. Tes ini dapat membantu dokter menentukan apakah Anda dapat menggunakan prosedur ini dan mencari tahu lokasi saraf yang menjadi target.

Anda pun perlu memberitahu dokter mengenai obat-obatan yang Anda konsumsi, terutama obat pengencer darah. Dokter mungkin akan meminta Anda untuk menghentikan konsumsi obat-obatan ini beberapa hari sebelum prosedur.

Selain itu, Anda juga perlu berhenti merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya. Hal-hal ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kemungkinan terjadi risiko setelah prosedur.

Perlu Anda pertimbangkan pula, prosedur pengobatan ini biasanya hanya dilakukan secara rawat jalan. Artinya, Anda mungkin boleh pulang pada hari yang sama setelah prosedur. Oleh karena itu, mintalah saudara atau teman Anda untuk menemani dan mengantar Anda pulang ke rumah.

Bagaimana prosedur rhizotomy dilakukan?

uretrotomi adalah prosedur operasi

Anda perlu berbaring di atas meja rontgen untuk memulai prosedur ini. Setelah itu, dokter atau ahli medis lainnya akan memasang infus pada bagian lengan atau tangan untuk memberikan obat-obatan penenang. Setelah itu, dokter akan memberi Anda obat bius lokal atau umum, tergantung pada lokasi saraf yang menjadi target.

Dokter pun kemudian akan menggunakan fluoroskop, yaitu jarum dengan lubang tipis, dan sinar-X guna memastikan lokasi saraf yang menjadi target. Peralatan ini juga dapat memandu perangkat medis untuk menghancurkan serabut saraf.

Setelah itu, dokter akan memasukkan bahan kimia gliserin/gliserol, arus frekuensi radio, atau alat bedah melalui fluoroskop tersebut untuk menghancurkan serabut saraf yang menjadi sasaran. Adapun prosedur ini bisa berlangsung selama beberapa menit atau jam tergantung dari jenisnya.

Apa yang terjadi setelah prosedur rhizotomi?

Setelah menjalani prosedur rhizotomi, perawat akan memindahkan Anda ke ruang pemulihan. Anda bisa berada di ruang pemulihan ini selama beberapa jam hingga kondisi Anda memungkinkan untuk pulang.

Anda mungkin akan merasakan sakit pada area bekas jarum suntikan. Namun jangan khawatir, rasa sakit ini biasanya akan membaik dalam satu atau dua hari.

Saat sudah sampai di rumah, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk merawat diri pascaprosedur rhizotomi. Berikut adalah beberapa hal tersebut:

  • Gunakan kompres es di tempat suntikan jika Anda merasa tidak nyaman. Lakukan selama 20 menit, sebanyak 3-4 kali sehari.
  • Jangan gunakan kompres atau bantalan panas di tempat suntikan.
  • Jangan berendam hingga dua hari setelah prosedur. Namun, Anda boleh mandi air hangat 24 jam setelah prosedur.
  • Anda mungkin baru boleh kembali beraktivitas pada 1-2 hari setelah prosedur, tergantung bagaimana efek obat bius terhadap Anda. Konsultasikan dengan dokter mengenai waktu yang tepat untuk kembali beraktivitas.

Apa hasil dari prosedur rhizotomy?

Rhizotomi tidak dapat menghilangkan rasa nyeri secara permanen. Selain itu, efek pengobatan ini pun bisa berbeda pada setiap pasien.

Anda mungkin akan merasakan nyeri yang mereda selama beberapa jam, bulan, atau tahun setelah menjalani pengobatan ini. Pada suatu waktu, rasa nyeri itu akan datang lagi jika saraf sudah tumbuh kembali. Namun, terkadang, pengobatan ini pun tidak memperbaiki rasa sakit sama sekali.

Ketika rasa sakit itu kembali datang, Anda bisa mengulang prosedur rhizotomi atau menggunakan cara pengobatan lainnya. Konsultasikan dengan dokter untuk cara penanganan yang terbaik.

Apa risiko atau komplikasi yang mungkin muncul dari rhizotomi?

Beberapa risiko, komplikasi, atau efek samping bisa muncul setelah menjalani rhizotomy. Adapun risiko yang muncul bisa berbeda, tergantung pada jenisnya. Berikut adalah risiko yang bisa muncul setelah menjalani rhizotomi:

  • Rasa nyeri, pembengkakan, atau memar pada area bekas suntikan.
  • Perdarahan atau infeksi pada area bekas suntikan.
  • Mual dan muntah, terutama pada rhizotomi gliserin/gliserol.
  • Perubahan sensasi, seperti mati rasa.
  • Kerusakan saraf.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Rhizotomy. (2021). Retrieved 1 July 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/rhizotomy.

Why Do I Have Pain? (for Kids) – Nemours KidsHealth. Kidshealth.org. (2021). Retrieved 1 July 2021, from https://kidshealth.org/en/kids/pain.html.

Radiofrequency neurotomy – Mayo Clinic. Mayoclinic.org. (2021). Retrieved 1 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/radiofrequency-neurotomy/about/pac-20394931.

Selective Dorsal Rhizotomy. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 1 July 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17458-selective-dorsal-rhizotomy.

Nerve Ablation for Chronic Pain. Wa.kaiserpermanente.org. (2021). Retrieved 1 July 2021, from https://wa.kaiserpermanente.org/kbase/topic.jhtml?docId=zx3505.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui 29/07/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team
x