Bulan puasa identik dengan makanan dan minuman manis. Gula memang bisa bantu mengembalikan energi setelah kita seharian berpuasa. Meski begitu, kebanyakan makan yang manis-manis tetap tidak baik untuk kesehatan. Selain terkait dengan risiko diabetes dan diabetes, terlalu banyak makan sesuatu yang manis juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan kanker. Maka jika sebelum puasa Anda sudah berhasil mengurangi gula, jangan kembali lagi pada kebiasaan lama tersebut di bulan yang suci ini. Yuk, simak berbagai cara berikut untuk membatasi makan makanan manis saat puasa.

Tips dan trik mengurangi makanan manis saat puasa

1. Buka puasa jangan pakai teh manis, tapi buah segar

Buka puasa pakai teh manis, sirup, atau es buah memang menyegarkan, tapi kandungan gulanya tinggi. Minuman manis tidak memberikan efek mengenyangkan, sehingga Anda tidak sadar kalau sudah terlalu banyak meminumnya.

Asupan gula yang terlalu banyak setelah seharian berpuasa bisa melonjakkan kadar gula darah dalam waktu singkat dan kemudian menurunkannya kembali dengan sama cepatnya. Naik-turunnya kadar gula darah secara drastis membuat Anda cepat merasa lemas dan kelaparan. Akibatnya, Anda akan makan banyak di malam hari.

Ganti teh manis atau es buah favorit Anda dengan segelas air putih atau teh tawar yang ditemani dengan semangkuk buah-buahan segar. Gula alami dalam buah lebih lambat untuk dicerna tubuh sehingga tidak langsung melonjakkan gula darah. Energi yang Anda dapat dari buah juga bertahan lebih lama daripada teh manis sehingga Anda jadi tidak malas-malasan setelah buka.

Buah-buahan segar mengandung serat, air, serta vitamin dan mineral yang penting bagi pemulihan tubuh setelah tidak diisi apa-apa selama selbih dari 8 jam. Kandungan seratnya pun membantu Anda kenyang lebih lama, yang bantu mencegah Anda lapar mata dan akhirnya kalap saat waktunya makan malam tiba.

2. Jalan kaki setelah buka

Jika setelah buka puasa Anda masih merasa lapar, jangan langsung terbutakan oleh nafsu dan cari camilan untuk mengganjal perut keroncongan Anda. Penting untuk Anda bisa membedakan mana lapar yang benar-benar lapar atau lapar akibat ngidam.

Kuatkan diri Anda melawan godaan ngidam dan pergunakan waktu luang untuk banyak bergerak. Misalnya jalan kaki barang 5-10 menit saja keluar rumah, atau bersih-bersih diri untuk bersiap berangkat Tarawih ke masjid. Bergerak aktif dapat membantu Anda melupakan rasa lapar palsu.

Jika benar-benar lapar, ganjal perut dengan banyak minum air putih atau kudap camilan sehat, misalnya yogurt dingin dengan topping buah atau irisan dari satu buah pisang yang dicocol selai kacang.

3. Kurangi gula hingga setengah dari takaran yang biasa Anda tambahkan

Berbuka memang sebaiknya dengan makanan yang manis. Namun yang perlu Anda perhatikan adalah takaran gulanya. Ingat bahwa batas maksimal asupan gula menurut Angka Kecukupan Gizi Kemenkes RI adalah 4 sendok makan (sdm) per hari. Batas ini bukan hanya untuk gula pasir saja, tapi termasuk gula atau sirup yang ada dalam makanan dan minuman manis cepat saji.

Untuk membantu Anda mengurangi makan makanan manis saat puasa, kurangi takaran gula dari yang biasanya Anda tambahkan ke makanan dan minuman Anda. Misalnya, Anda biasa pakai 2 sdm gula pasir untuk satu cangkir teh manis, atau 2 sdm sirup untuk satu gelas es buah, maka kurangi setengahnya (jadi 1 sdm).

Selain langsung dari jumlah gula pasir, kurangi juga jumlah kue manis atau sajian manis saat berbuka. Misalnya Anda terbiasa makan 1 mangkuk kolak pisang, maka sekarang sajikan hanya dalam cangkir kecil.

4. Pakai rempah untuk memaniskan makanan

Salah satu cara untuk mengurangi gula adalah dengan menambahkan lebih banyak rasa pada makanan atau minuman yang Anda makan. Anda dapat menggunakan bubuk kakao atau bubuk vanila hingga rempah-rempah seperti pala, jahe, kayu manis, dan lain-lain.

Studi dalam Journal of Medicinal Food menyebutkan bahwa rempah-rempah telah terbukti secara alami membantu mengatur gula darah yang akhirnya ikut membantu mengendalikan nafsu makan Anda.

5. Baca informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan makanan atau minuman Anda

Apabila Anda ingin membeli makanan kemasan atau yang cepat saji, jangan lupa untuk baca label informasi nilai gizi yang tertera di kemasannya. Cari produk makanan atau minuman yang kadar gulanya paling rendah per takaran saji.

Istilah gula dalam makanan kemasan bisa ditulis seperti aslinya “gula”/sugar) atau bisa juga dengan mencantumkan nama lainnya yang berakhiran “-osa atau -ol”. Misalnya dekstrosa, fruktosa, maltosa, sukrosa, glukosa, manitol, sorbitol. Sementara itu, sirup lebih sering ditulis sebagai pemanis jagung, sirup sorgum, dan sirup fruktosa. Ini semua adalah pemanis yang sering ditambahkan dalam minuman.

Setelah melihat kadarnya, cek juga label komposisinya. Semakin awal nama bahan-bahan ini tercantum dalam label komposisi, artinya kandungannya paling banyak daripada komposisi lainnya.

Tidak apa sesekali memanjakan tubuh

Gula bukan untuk dihindari, namun untuk dibatasi. Tanpa gula, tubuh dan berbagai organ penting di dalamnya tidak bisa bekerja secara optimal. Jika berlebihan, badan pengawas obat dan makanan di Amerika SerikatFDA, mengatakan bahwa konsumsi gula secara berlebihan dapat menyulitkan tubuh untuk mencerna makanan berserat, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh.

Jika Anda takut kesulitan mengurangi makanan manis saat puasa, Anda dapat menjadikan hari tertentu sebagai hari khusus Anda untuk “membolos”. Pilih satu hari di mana Anda dapat menikmati makanan atau minuman tertentu yang tidak dapat Anda nikmati di hari lain, misalnya satu kali tiap akhir pekan. Batasi juga porsinya meski sedang membolos. Misalnya hanya sepotong cake atau satu scoop es krim.

Untuk melampiaskan ngidam makan gula di hari-hari sisanya, selalu siap sediakan pilihan makanan manis yang sehat dan alami.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca