Berbagai Obat yang Digunakan untuk Mengatasi Nyeri Otot

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Ada banyak cara untuk mengobati nyeri otot. Nyeri otot dapat disebabkan oleh cedera, melakukan aktivitas secara berlebihan, atau gangguan muskuloskeletal. Agar tidak mengganggu keseharian yang biasa dilakukan, coba untuk mengonsumsi obat pereda nyeri otot seperti di bawah ini.

Pilihan obat untuk nyeri otot

Dikutip dari Mayo Clinic, nyeri otot terjadi ketika adanya cedera, stres, juga ketegangan yang berlebihan pada area tubuh tertentu. Jenis rasa sakit ini biasanya terlokalisasi, artinya hanya mempengaruhi sebagian kecil tubuh Anda.

Namun, ketika rasa sakit tidak bisa tertahankan dokter bisa memberikan resep obat untuk mengatasi masalah yang mendasari sakit tersebut. Berikut beberapa pilihan obat pereda nyeri otot yang perlu diketahui.

Tergantung pada penyebab dan seberapa parahnya rasa sakit Anda, dokter dapat merekomendasikan obat atau obat-obatan dari satu atau lebih dari kelas obat berikut:

  • Paracetamol
  • Obat anti-inflammatory(NSAID)
  • Relaksan otot
  • Penghilang rasa sakit opioid
  • Kortikosteroid
  • Antidepresan
  • Antikonvulsan, juga dikenal sebagai obat anti-kejang atau obat-obatan neuroleptik.

Obat ini dapat digunakan secara oral atau diberikan melalui suntikan (biasanya diberikan oleh dokter Anda).

1. Paracetamol

Paracetamol dapat digunakan sebagai obat nyeri otot karena dapat membantu meringankan rasa sakit serta tergolong pilihan yang aman.

Akan tetapi, lebih efektif untuk nyeri yang sangat ringan seperti sakit kepala. Alasannya karena parasetamol telah terbukti bekerja terutama di bagian-bagian tertentu pada otak juga sistem saraf pusat.

Sementara penghilang rasa sakit lainnya bekerja di kedua sistem saraf pusat dan perifer. Inilah sebabnya mengapa paracetamol sangat efektif dalam mengurangi demam.walaupun tergolong obat yang aman, perhatikan pula dosis yang akan dikonsumsi.

Dosis maksimum setiap harinya untuk orang dewasa adalaj 4000 mg dan tidak boleh lebih dari 1000 mg dalam rentang waktu 4 jam.

2. Anti-inflammatory drugs (NSAID)

Seperti parasetamol, obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) dapat meredakan demam dan nyeri. Bekerja sedikit berbeda dan lebih efektif untuk menghilangkan rasa sakit.

NSAID bekerja dengan cara menghalangi produksi prostaglandin, yang merupakan bahan kimia dalam sistem kekebalan tubuh kita yang bertanggung jawab untuk rasa sakit dan demam. Tak hanya itu saja, jenis obat ini pun direkomendasikan sebagai obat pereda nyeri otot yang disebabkan oleh cedera serta ketegangan.

Lebih khusus lagi, penghambat enzim yang disebut siklooksigenase (COX-1 dan COX-2). Obat yang umum termasuk ibuprofen, diklofenak, dan naproxen.

Menggunakan NSAID dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke dan juga diketahui memperburuk gejala sakit maag. NSAID harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan kondisi jantung. Anda harus berbicara dengan dokter atau apoteker untuk informasi lebih lanjut.

3. COX-2 inhibitor

Ini adalah kelas terbaru dari NSAID. Obat ini bekerja sama dengan NSAID namun ia tidak memblokir COX-1, yang merupakan penyebab utama iritasi lambung.

Obat ini baik untuk pasien yang sensitif pada bagian perutnya. COX-2 inhibitor biasa mengobati kondisi seperti arthritis dan gangguan sendi lainnya. Beberapa obat umum termasuk celecoxib (Celebrex ®) dan etoricoxib (Arcoxia®).

Para peneliti menemukan bahwa salah satu obat nyeri otot yang satu ini mampu untuk mengurangi rasa sakit pada otot.

4. Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan obat anti-inflamasi yang kuat dan sebaiknya hanya digunakan untuk jangka waktu yang singkat (1-2 minggu). Kortikosteroid biasanya diresepkan oleh dokter dan dapat diberikan sebagai dosis tinggi.

Salah satu jenis obat pereda nyeri otot ini termasuk obat yang dapat digunakan untuk mengendalikan pembengkakan parah sekaligus mengendalikan jenis nyeri tertentu.

Ini berarti bahwa Anda akan mulai dengan dosis tinggi dan perlahan-lahan dosis akan diturunkan per hari selama waktu lima sampai enam hari atau seperti yang diperintahkan oleh dokter Anda.

Kortikosteroid sebagai obat sakit otot dapat memberikan beberapa efek samping seperti kenaikan berat badan, sakit perut, sakit kepala, perubahan mood, dan kesulitan tidur.

Hal ini juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan menipiskan tulang Anda. Menghindari penggunaan jangka panjang dapat meminimalkan efek samping ini.

5. Relaksan otot

Relaksan otot biasanya digunakan dalam kombinasi dengan obat lain untuk sakit punggung yang berhubungan dengan ketegangan, kekakuan, serta kejang otot. Ia bekerja terpusat pada otak dan tidak langsung pada otot.

Jenis obat sakit otot yang satu ini idealnya diberikan untuk nyeri atau rasa sakit yang akut, bukan kronis. Obat ini pun bisa menjadi pilihan Anda apabila sakit yang dirasakan membuat Anda jadi sulit tidur.

Obat nyeri otot ini memberitahu otak Anda untuk mengendurkan otot-otot. Beberapa obat yang umum termasuk tizanidine, baclofen, cyclobenzaprine (Flexeril ®), carisoprodol (Soma®) dan eperison (Myonal ®).

Hal yang perlu diperhatikan adalah efek samping yang akan diakibatkan relaksan otot. Hindari berbagai macam aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan serta koordinasi seperti berkendara.

6. Opioid

Opioid merupakan penghilang rasa sakit lebih kuat yang umumnya digunakan untuk nyeri yang lebih parah. Obat nyeri otot ini memerlukan resep dari dokter dan pemantauan berkala.

Ia bekerja dengan menghalangi reseptor rasa sakit di otak serta melepaskan dopamin dalam jumlah besar ke seluruh tubuh dan menciptakan perasaan senang.

Hal ini juga dapat mempengaruhi detak jantung dan pernafasan. Beberapa contoh opioid antara lain:

Efek samping opioid mungkin termasuk mengantuk berat, mual, sembelit, gatal, detak jantung yang lebih rendah. Ketergantungan obat dapat berkembang jika Anda mengambil opioid secara teratur selama jangka waktu yang panjang.

Bicaralah dengan dokter Anda tentang bagaimana Anda dapat mencegah hal ini.

7. Antidepresan

Antidepresan biasanya digunakan untuk mengobati depresi, tetapi juga dapat digunakan untuk mengobati sakit dengan mengubah kadar kimia dalam otak, khususnya serotonin dan norepinefrin.

Reaksi kimiawi pada otak ini telah terbukti mempengaruhi reseptor nyeri serta reseptor mood. Orang dengan kondisi nyeri kronis yang tidak merespon pengobatan lain dapat menggunakan obat pereda nyeri otot ini untuk mengontrol rasa sakit.

Beberapa obat antidepresan meliputi:

  • Selective serotonin reuptake inhibitor,SSRI: Obat ini meningkatkan kadar serotonin. Termasuk obat-obatan seperti citalopram (Celexa ®), fluoxetine (Prozac ®), paroxetine (Paxil ®), dan sertraline (Zoloft ®).
  • Antidepresantrisiklik, TCA: Obat ini meningkatkan kadar norepinefrin dan serotonin. Termasuk obat-obatan seperti amitriptyline, desipramine (Norpramin ®), doxepin (Silenor ®), imipramine (Tofranil ®), dan nortriptyline (Pamelor ®).
  • Serotonin dannorepinefrin reuptake inhibitor, SNRI: Termasuk obat-obatan seperti venlafaxine (Effexor ®) dan duloxetine (Cymbalta ®).

Efek samping yang paling umum termasuk pandangan kabur, sembelit, kesulitan buang air kecil, mulut kering, kelelahan, mual dan sakit kepala.

8. Antikonvulsan (obat neuroleptik)

Antikonvulsan sering digunakan untuk meredakan saraf atau nyeri neuropatik. Pasien mungkin menggunakan obat neuroleptik untuk jangka waktu yang lama. Pada umumnya, orang bereaksi dengan baik terhadap antikonvulsan.

Efek samping yang paling umum termasuk mengantuk, pusing, kelelahan, dan mual. Beberapa obat yang umum adalah gabapentin (Neurontin ®), carbamazepine (Tegretol®) dan pregabalin (Lyrica®).

Tidak semua jenis obat ini cocok untuk Anda. Anda harus berbicara dengan dokter tentang kondisi Anda dan tingkat keparahan nyeri otot yang Anda derita. Jangan mencoba untuk mengobati sendiri apabila tidak memahami kondisi Anda sepenuhnya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 25, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 12, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca