Gejala Awal Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai Wanita

Author: dr. Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Kanker serviks adalah jenis kanker yang paling sering dialami oleh kaum hawa. Mengutip dari Kementerian Kesehatan RI, kanker serviks atau leher rahim menempati urutan kedua dari angka kejadian kanker di Indonesia. Sebenarnya, peluang kesembuhan kanker serviks bisa jauh lebih besar apabila dideteksi sejak dini. Sayangnya, banyak wanita yang tidak menyadari atau bahkan mengabaikan gejala awal kanker serviks yang mungkin dialaminya. Memangnya, apa saja gejala kanker serviks awal yang perlu diwaspadai wanita?

Gejala awal kanker serviks yang perlu diketahui

Kanker serviks terjadi saat sel abnormal tumbuh tak terkontrol pada serviks atau leher rahim Anda. Anda. Sebagai gambaran, serviks alias leher rahim terletak di bagian paling bawah dari rahim.

Serviks menjadi jalur penghubung antara rahim (uterus) dengan vagina. Penyebab kanker serviks diduga karena adanya infeksi human papillomavirus (HPV) yang menyerang leher rahim. 

Saat wanita terinfeksi virus ini, khususnya HPV onkogenik yang berpotensi menyebabkan kanker, sistem kekebalan tubuh akan berusaha untuk melawannya. Itulah mengapa virus HPV mungkin tidak akan langsung berkembang menjadi kanker serviks.

Akan tetapi, virus tersebut bisa saja masih akan bertahan di dalam tubuh wanita, berkembang, hingga akhirnya menyebabkan perubahan pada sel-sel sehat di dinding serviks.

Sel-sel sehat inilah yang kemudian mengalami perubahan genetik menjadi sel abnormal dan tumbuh dengan tidak terkendali. Sel abnormal yang tumbuh kemudian membentuk suatu benjolan atau massa yang disebut dengan tumor. 

Perkembangan sel-sel abnormal (pra-kanker) pada akhirnya dapat berubah menjadi sel-sel kanker. Adanya faktor risiko lain yang dimiliki seseorang juga dapat memengaruhi perkembangan kanker serviks, contohnya yakni gaya hidup. 

Wanita yang terinfeksi virus HPV ditambah dengan gaya hidupnya yang buruk mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita kanker serviks. Melansir dari laman American Cancer Society, wanita dengan kanker serviks stadium awal alias pra-kanker, biasanya tidak mengalami gejala.

Hanya saja, ketika kanker di dalam serviks sudah semakin berkembang, akan muncul beberapa gejala awal sebagai penanda. Nah, sebelum semakin bertambah parah, ada baiknya Anda pahami dan kenali gejala awal kanker serviks.

Berikut penjelasannya:

1. Keluar darah dari vagina yang tidak normal

benda asing di vagina

Salah satu tanda atau gejala awal kanker serviks yang cukup khas yakni adanya perdarahan pervaginam yang tidak normal dari vagina. Bila Anda tiba-tiba mengeluarkan darah atau bercak darah dari vagina, padahal saat itu Anda sedang tidak dalam masa haid, kemungkinan merupakan gejala awal kanker serviks.

Jumlah perdarahan biasanya cenderung lebih banyak dibandingkan saat menstruasi sehingga membuat masa menstruasi menjadi lebih lama, juga bisa menjadi pertanda dari kanker serviks.

Selain itu, perdarahan abnormal dari vagina juga bisa muncul saat Anda melakukan hubungan seksual, dan setelah masa menopause. Beragam kondisi perdarahan tersebut terbilang tidak normal, dan termasuk satu dari beberapa tanda awal dari kanker serviks. Meski begitu, memang keluarnya darah dari vagina bisa disebabkan oleh berbagai hal.

Jadi, ada baiknya untuk segera memeriksakan kondisi Anda ke dokter guna mengetahui penyebab pastinya.

2. Sakit pada bagian panggul saat seks

berapa kali ganti seprai setelah berhubungan seks

Di samping gejala awal kanker serviks berupa perdarahan tidak normal dari vagina, jangan remehkan juga apabila Anda mengalami perdarahan pada vagina disertai dengan nyeri di bagian panggul. Pasalnya, kedua kondisi itu bisa menjadi gejala atau tanda dari kanker serviks. 

Nyeri di area panggul ketika memasuki masa haid mungkin hal biasa, dan akan hilang dengan sendirinya seiring selesainya haid. Akan tetapi, sakit atau nyeri pada panggul bisa terjadi kapan pun, termasuk saat Anda melakukan hubungan seksual. 

Hal ini berarti nyeri pada panggul yang Anda rasakan tersebut sudah tidak lagi normal, bahkan menandakan adanya kondisi medis yang lebih serius. Lagi-lagi, Anda disarankan agar tidak meremehkan kondisi ini dan segera memeriksakan diri ke dokter.

3. Keputihan yang tidak normal

pakai pantyliner

Keputihan merupakan hal normal dan dialami setiap wanita. Namun, ada kalanya keputihan yang dikeluarkan vagina tidak normal dan menunjukkan adanya masalah kesehatan.

Keputihan yang normal seharusnya tidak berwarna dan tidak disertai bau apa pun. Sementara ketika keputihan berbau menyengat, amis, dan beda dari biasanya, kemungkinan besar merupakan gejala atau tanda kanker serviks. 

Keputihan yang cenderung tidak normal ini biasanya muncul usai menopause, maupun di antara masa menstruasi. Bahkan, keputihan ini bisa disertai dengan adanya darah yang memiliki warna merah mudah yang cerah, atau agak kecokelatan.

Hal ini dikarenakan adanya jaringan nekrotik, yang bercampur dengan cairan dari permukaan tumor pada serviks. Kemudian keluarlah keputihan abnormal dari vagina. Namun, jangan keburu cemas, sebab keputihan yang tidak normal bisa disebabkan oleh berbagai hal, belum tentu selalu menjadi gejala awal kanker serviks. Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan jawaban pasti dari kondisi Anda.

Bagaimana melakukan pencegahan kanker serviks?

vaksin torch adalah

Sebenarnya agak sulit untuk mengetahui dan mengenali gejala awal kanker serviks. Sebab seperti yang telah disinggung sebelumnya, kanker serviks stadium awal biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun.

Ada dua macam pencegahan kanker serviks yang bisa dilakukan, yakni:

Pencegahan primer

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kanker serviks ini, yaitu dengan menerapkan gaya hidup sehat. Mulailah dengan menghilangkan faktor-faktor risiko kanker serviks. 

Pasalnya, virus HPV bisa menyebar melalui kulit area tubuh yang terinfeksi. Sebagian besar melalui seks vaginal, maupun seks anal. Terlebih apabila Anda memiliki penyakit seksual menular, risiko untuk terserang virus HPV juga cukup tinggi. 

Maka dari itu itu, Anda juga sebaiknya selalu berperilaku seksual sehat agar terhindar dari berbagai infeksi. Tak lupa, minimalisir berbagai faktor risiko yang bisa memicu berkembangnya kanker serviks. Meliputi tidak gonta-ganti pasangan seks, tidak seks di usia terlalu dini, tidak merokok, dan lain sebagainya.

Pencegahan sekunder

Mendeteksi kemungkinan adanya kanker serviks sejak dini setidaknya dapat mempercepat proses perawatan, sekaligus menurunkan risiko perkembangan penyakit semakin parah.

Berikut pemeriksaan yang bisa Anda lakukan sejak ini untuk mendeteksi adanya kanker serviks:

1. Pemeriksaan pap smear

dideteksi lewat pap smear

Pap smear adalah salah satu cara mengetahui kanker serviks sedini mungkin, termasuk saat muncul gejala awal. Biasanya, pemeriksaan pap smear bisa dilakukan oleh wanita yang berusia di atas 21 tahun dan sudah aktif berhubungan intim. 

Pemeriksaan pap smear dapat dilakukan secara rutin yaitu setiap 1-2 tahun sekali, walaupun Anda tidak mengalami gejala apa pun. Selama pemeriksaan pap smear berlangsung, sebuah alat bernama spekulum akan dimasukkan dokter ke dalam vagina Anda. 

Selanjutnya, dokter mengambil sampel sel pada area serviks menggunakan spatula, sikat, atau kombinasi dari sikat dan spatula. Jika dari hasil pemeriksaan pap smear ditemukan adanya perubahan sel serviks yang abnormal (pra-kanker), dokter dapat segera memberikan pengobatan sedini mungkin. 

Ketika berhasil didiagnosis sejak dini, kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang kemungkinan besar bisa dicegah. Hasil tes pap smear yang negatif menunjukkan kalau kondisi Anda normal dan tidak memiliki tumor kanker serviks.

Sebaliknya, tes pap smear yang positif justru menunjukkan kemungkinan Anda mengalami kanker serviks.

2. Pemeriksaan HPV

berhubungan seks setelah pap smear

Pemeriksaan HPV juga bisa dilakukan untuk mendeteksi adanya gejala atau tanda kanker serviks. Sedikit berbeda dengan pemeriksaan pap smear yang bisa dilakukan sendiri, pemeriksaan HPV biasanya dikombinasikan dengan tes pap smear. 

Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, pemeriksaan HPV bisa dilakukan untuk menggantikan tes pap smear. Hal ini bertujuan untuk semakin memperkuat hasil dalam mendeteksi kanker serviks.

Umumnya, wanita di atas usia 30 tahun dianjurkan untuk melakukan kombinasi tes pap smear dan tes HPV setiap lima tahun sekali.

Kapan harus pergi ke dokter?

medical checkup

Ketika Anda merasa mengalami satu atau bahkan serangkaian gejala atau tanda awal kanker serviks di atas, sangat dianjurkan untuk segera memeriksakan diri Anda ke dokter. Khususnya saat Anda mengalami perdarahan yang tidak normal dari vagina di luar masa menstruasi.

Entah itu saat Anda sudah masuk masa menopause, setelah melakukan hubungan intim, maupun perdarahan yang muncul di antara masa menstruasi. Kemungkinan besar, perdarahan tersebut menjadi tanda ada yang tidak beres dengan tubuh Anda, atau menunjukkan adanya kanker serviks. 

Munculnya keputihan yang tidak biasa pun sebaiknya jangan dianggap sepele. Meski berbagai kondisi tersebut bisa saja menandakan masalah kesehatan lainnya, tapi tidak ada salahnya untuk mencari tahu penyebab pastinya.

Semakin cepat Anda memeriksakan diri ke dokter, akan semakin cepat pula deteksi dilakukan. Dengan demikian, peluang Anda untuk mendapatkan pengobatan dan segera pulih pun akan lebih besar.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 15, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 24, 2020

Sumber
dr. Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) Spesialis Kebidanan dan Kandungan
Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) merupakan dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang berpraktek di MRCCC Siloam Hospitals ...
Selengkapnya
dr. Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) merupakan dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang berpraktek di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Beliau menamatkan pendidikan kedokteran umum di Universitas Indonesia (1983) dan pendidikan spesialis kebidanan dan kandungan di universitas yang sama tahun 1992. Beliau juga mendapatkan gelar master bidang cellular and molecular biology dari University of New Haven, Connecticut (2002), master kajian administrasi rumah sakit di Universitas Indonesia (2013), dan doktor epidemiologi klinik di Universitas Indonesia (2015).

Bambang Dwipoyono, Sp.OG (K) tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Perkumpulan Onkologi Indonesia (POI), Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Union Internationale Contre Cancer (UICC), International Gynecology Endoscopy Society (IGES), dan International Gynecologic Cancer Society (IGCS).

Selengkapnya
Artikel Terbaru