Alasan SADARI Saja Tak Cukup untuk Mendeteksi Kanker Payudara

Memeriksa benjolan cikal bakal kanker payudara memang tak selalu harus ke dokter. Anda bisa saja melakukan metode pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di rumah. Namun, pemeriksaan di rumah saja tak cukup untuk memastikan bahwa Anda terkena kanker payudara. Pasalnya, SADARI punya banyak keterbatasan jika dibandingkan dengan pemeriksaan di rumah sakit untuk mendeteksi kanker payudara.

Bagaimana SADARI dilakukan?

peradangan kanker payudara

Sesuai dengan namanya, SADARI adalah memeriksa payudara sendiri dengan meraba buah dada untuk merasakan apakah ada benjolan atau tidak. Ketika terasa ada benjolan di payudara, hal ini yang biasanya jadi acuan seseorang untuk memeriksakan diri lebih lanjut.

SADARI merupakan prosedur deteksi kanker payudara yang mudah dan bisa dilakukan dengan posisi berdiri, duduk, atau telentang. Pemeriksaan ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Berdiri di depan cermin sambil mengamati bentuk, ukuran, dan permukaan kulit payudara
  2. Angkat tangan kiri kemudian raba area payudara kiri menggunakan jari manis, tengah, dan telunjuk tangan kanan
  3. Lakukan gerakan atas-bawah, melingkar, lurus dari tepi payudara ke puting
  4. Pencet dan urut perlahan daerah sekitar puting sampai ujungnya
  5. Amati apakah keluar cairan yang tidak normal seperti putih kekuningan yang bercampur darah (nanah). Jika ada, patut diwaspadai. Pada wanita menyusui, bedakan dengan ASI
  6. Ulangi pada payudara kanan

SADARI juga bisa dilakukan sambil berbaring. Caranya mudah, letakkan bantal di belakang punggung. Kemudian, tangan kanan diletakkan di belakang kepala dan gunakan tangan kiri untuk memeriksa payudara sebelah kanan.

Semua wanita wajib melakukan SADARI secara rutin, misalnya setiap satu minggu sekali. Lakukanlah pemeriksaan ini saat bercermin atau mandi karena sangat mudah dan tidak membutuhkan biaya apa pun.

Sayangnya SADARI saja tak cukup untuk deteksi kanker payudara

SADARI sebenarnya cara yang paling mudah dilakukan untuk mendeteksi benjolan kanker payudara. Akan tetapi, prosedur ini sebetulnya kurang efektif untuk mendeteksi kanker payudara. Bahkan di negara Amerika prosedur ini sudah tidak disarankan.

SADARI dilakukan oleh diri kita sendiri yang cenderung kurang paham seputar benjolan kanker payudara. Oleh karena itu, meski SADARI mudah dilakukan, tak jarang tekniknya keliru. Hal ini membuat pemeriksaan menjadi tidak efektif.

Bisa jadi sebenarnya ada benjolan kecil di payudara Anda. Namun karena tekniknya keliru Anda tidak merasakan ada benjolan apa pun di area ini.

Selain itu pada payudara yang besar, benjolan bisa saja tidak teraba karena ukurannya kecil atau letaknya yang terlalu dalam.

Ketika Anda tidak merasa ada benjolan saat payudara diraba, kecil kemungkinan seseorang untuk memastikan kondisinya ke dokter. Pasalnya, memeriksakan diri ke dokter cenderung dilakukan hanya ketika ada benjolan atau tanda lain yang tak biasa.

Padahal mengenali gejala kanker payudara pada stadium awal dapat memperbesar peluang kesembuhannya. Maka dari itu, karena SADARI tidak cukup efektif untuk deteksi kanker payudara, saya sarankan Anda untuk melakukan skrining lainnya seperti mammografi dan USG payudara. Kedua pemeriksaan ini bisa membantu mendeteksi kanker payudara di awal kemunculannya secara efektif.

Skrining kanker payudara sangat penting dilakukan bagi wanita terutama mereka yang sudah berumur 40 tahun ke atas, karena risiko kanker semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Namun tak seperti SADARI, mammografi dan USG payudara tidak bisa dilakukan di rumah. Anda perlu pergi ke rumah sakit terdekat yang menyediakan pemeriksaan ini.

MRCCC Siloam Hospital Semanggi termasuk salah satu rumah sakit yang bisa Anda datangi jika Anda bertempat tinggal di sekitaran Jakarta.

Tanda dan gejala kanker payudara yang perlu diwaspadai

deteksi dini kanker payudara

Di awal kemunculannya, tanda dan gejala kanker payudara sering kali sulit ditebak apalagi lewat SADARI. Benjolan jadi salah satu tanda awal yang kerap muncul dan jadi tolak ukur. Namun, ketika kanker mulai berkembang, ada berbagai tanda yang perlu diwaspadai yaitu:

  • Puting yang tertarik ke dalam
  • Payudara terasa nyeri
  • Keluar cairan atau darah dari payudara
  • Adanya lekukan di payudara yang membentuk seperti kulit jeruk

Selain itu, berat badan pengidap kanker payudara umumnya akan berkurang tanpa alasan yang jelas jika sel kanker sudah menyebar. Kondisi ini biasanya disertai dengan demam dan rasa nyeri di area persebaran kanker.

Baca Juga:

dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik

dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM merupakan dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Beliau menyelesaikan pendidikan kedokteran spesialis penyakit dalam di Universitas Indonesia pada tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikan konsultan hematologi onkologi di Universitas yang sama dan lulus pada tahun 2012.

Beliau merupakan anggota Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan anggota Breast Cancer Care Alliance, pusat terpadu pelayanan dan penanganan kanker payudara di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.

Selengkapnya
Artikel Terbaru