Berapa Lama Harapan Hidup Pasien Kanker Paru?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kanker paru termasuk jenis kanker paling mematikan sehingga dapat memperkecil harapan hidup pasien. Namun, peluang kesembuhan untuk pasien tetap terbuka asalkan meningkatkan kesadaran sedari dini dan menjalani pengobatan dengan tepat. Pengendalian terhadap faktor risiko kanker paru juga berperan besar terhadap bertambahnya angka harapan hidup pasien.

Bisakah kanker paru disembuhkan?

Kanker paru merupakan penyakit yang sulit dideteksi. Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), 80 persen pasien baru didiagnosis terkena kanker paru ketika perkembangan kanker mencapai stadium akhir.

Pada kondisi ini dokter, memang sudah bisa menentukan sejauh mana prognosis atau perkiraan perkembangan kanker paru untuk menentukan lamanya harapan pasien.

Masih dari data PDPI yang dipublikasikan pada gelaran konferensi pers Gerakan Nasional Peduli Kanker Paru di Jakarta (11/02/2020), sekarang ini angka harapan hidup untuk pasien kanker paru laki-laki adalah 69 tahun. Sedangkan untuk perempuan adalah 74 tahun.

Dokter spesialis paru Elisna Syahruddin menyatakan meski harapan hidup cenderung pendek, tapi peluang kesembuhan kanker paru cukup terbuka. Pilihan pengobatan kanker paru yang efektif dilakukan sekarang ini adalah terapi target, imunoterapi, operasi, dan kemoterapi.

“Belum bisa dipastikan berapa lama pengobatan yang bisa menyembuhkan kanker paru. Kanker itu sifatnya on-off, jadi pasien harus terus melakukan pemeriksaan meskipun sudah sudah bersih dari kanker,” ujarnya.

Faktor yang memengaruhi harapan hidup pasien kanker paru

Namun, seringkali pasien kanker paru meninggal sebelum dari waktu yang diperkirakan oleh dokter. Dokter Elisna menambahkan bahwa salah satu penyebab angka harapan hidup pasien laki-laki lebih pendek adalah terlambatnya pemeriksaan dan pengobatan.

Gejala kanker paru sering disepelekan oleh laki-laki perokok. Mereka enggan memeriksakan diri ke dokter,” lanjutnya.

Dilansir dari halaman resmi PDPI, gejala kanker paru sendiri umumnya memang terlambat muncul di stadium 4 yaitu saat kanker menyerang lapisan pelura yang menutupi paru-paru.

Pengobatan targeting yang bertujuan memusnahkan sel kanker memang merupakan upaya penyembuhan utama. Akan tetapi, berbabagai faktor lain juga bisa menurunkan angka harapan hidup pasien selama pengobatan, salah satunya adalah penyakit degeneratif yang disebabkan oleh pertambahan usia.

Menurut dr Elisna pengobatan akan sulit menaikan angka harapan hidup apabila pasien tidak menghindari faktor risiko, di antaranya adalah:

  • merokok
  • paparan asap rokok
  • paparan polusi udara luar
  • paparan material yang mengandung zat radioaktif radon
  • paparan serbuk asbes

Kesulitan deteksi kanker paru juga bisa menyebabkan kesalahan diagnosis penyakit. Sering kali dokter mendiagnosis penyakit ini sebagai tuberkulosis paru. Padahal pengobatan yang tidak tepat turut menjadi faktor yang menurunkan angka harapan hidup pasien kanker paru.

Memperpanjang harapan hidup pasien kanker paru

Selain menjalani pengobatan rutin, upaya meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker paru juga perlu dibarengi dengan perubahan gaya hidup yang berfokus menjaga kesehatan paru-paru.

Data prevalensi kanker paru di Indonesia menunjukkan 80 persen pasien merupakan perokok. Dokter Elisna bersikeras menganjurkan pasien untuk sebisa mungkin menghindari paparan asap rokok, bahkan pasien wajib menghentikan kebiasaan merokoknya.

Ia juga menekankan untuk berolahraga secara rutin untuk melatih pernapasan. Saat proses pernapasan berjalan lancar, maka udara bisa secara maksimal masuk ke paru-paru. Alhasil, paru-paru tetap bisa berfungsi dengan baik, meskipun diserang oleh sel kanker.

Meski begitu, olahraga tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Pasien tetap memerlukan waktu istirahat yang cukup untuk recovery.

Salah satu penyintas yang menjadi narasumber, Megawati Tanto, kini dalam kondisi bersih dari kanker dan sudah lepas dari obat-obat medis setelah 5 tahun menjalani pengobatan target.

Menurutnya, kesembuhan yang diperolehnya juga disebabkan oleh upayanya untuk mengelola stres dan selalu bersikap optimis sehingga bebas dari beban psikologis yang kerap menghantui pasien kanker.

“Menjaga perasaan tetap bahagia sangat penting selama menjalani pengobatan kanker,” tuturnya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 13, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 12, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca