Dikarenakan sering disebut sebagai suatu kesatuan, seperti HIV dan AIDS atau ditulis “HIV/AIDS”, banyak yang menyamakan kedua kondisi ini. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Agar Anda tak lagi salah kaprah, berikut perbedaan HIV dan AIDS yang mungkin belum diketahui secara pasti.

Perbedaan HIV dan AIDS yang wajib Anda tahu

anggapan tentang hiv

HIV adalah virus, AIDS adalah penyakitnya

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4 (sel T). Sel CD4 adalah bagian dari sistem imun yang spesifik bertugas melawan infeksi.

Infeksi HIV menyebabkan jumlah sel CD4 turun secara dramatis sehingga sistem imun tubuh Anda tidak cukup kuat untuk melawan infeksi. Akibatnya, jumlah viral load HIV bisa meningkat. Ketika viral load Anda tinggi, itu artinya sistem kekebalan tubuh sudah gagal bekerja melawan HIV dengan baik.

Sementara itu, AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency SyndromeAIDS dianggap sebagai tahap akhir dari infeksi HIV jangka panjang.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis akibat infeksi HIV yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh.

Pengidap HIV bisa dikatakan sudah terkena AIDS apabila jumlah sel CD4 dalam tubuhnya turun hingga kurang dari 200 sel per 1 ml atau 1 cc darah.

Orang dengan AIDS memiliki sistem imun yang sangat lemah sehingga sangat rentan terhadap risiko infeksi terkait HIV stadium-4, seperti herpes zoster (cacar ular alias cacar api), sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkins, tuberkulosiskanker, dan/atau pneumonia.

Seseorang bisa saja mengidap HIV tanpa AIDS

HIV adalah virus dan AIDS adalah kondisi yang dapat disebabkan olehnya. Namun, tidak semua pengidap HIV akan otomatis terkena AIDS di kemudian hari.

Anda bisa memiliki infeksi HIV tanpa AIDS, tetapi siapa pun yang terdiagnosis positif AIDS sudah pasti memiliki HIV. Oleh sebab itu, begitu terinfeksi virus HIV, Anda akan memilikinya seumur hidup.

Kebanyakan penderita HIV bisa berhidup selama bertahun-bertahun lamanya (bahkan lebih dari 10 tahun) sebelum mengalami AIDS, atau malah tidak terjangkit sama sekali.

Berkat kemajuan dalam pengobatan, orang yang hidup dengan HIV bahkan memiliki kualitas hidup yang hampir sama dengan orang normal lainnya. Untuk itu, mendapatkan pengobatan yang tepat menjadi kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS.

Yang dapat ditularkan adalah HIV, bukan AIDS

HIV adalah virus. Artinya, virus ini dapat ditularkan dan menginfeksi orang lain, layaknya infeksi virus pada umumnya. Virus HIV ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui pertukaran cairan tubuh, misalnya lewat air mani, cairan vagina dari seks tanpa kondom, transfusi darah, atau air susu ibu dalam proses menyusui.

Namun, Anda tidak bisa tertular AIDS dari orang lain, sebab AIDS merupakan tahap selanjutnya dari infeksi HIV. Jadi, Anda harus tertular HIV terlebih dulu, baru kemudian infeksi itu berkembang menjadi AIDS.

HIV tidak selalu menunjukkan gejala

Orang yang memiliki virus HIV bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya sudah terjangkit. Pasalnya, infeksi HIV bisa diam-diam menggerogoti tubuh selama 10 tahun atau bahkan lebih, tanpa memunculkan gejala apa pun.

Di sisi lain, virus HIV biasanya dapat menyebabkan gejala mirip flu biasa, sekitar dua sampai empat minggu setelah infeksi. Gejala HIV awal ini dapat cepat mereda karena sistem kekebalan tubuh Anda pada tahap ini masih sanggup mengendalikannya. Periode waktu ini disebut sebagai infeksi akut.

Seiring waktu, jumlah virus HIV akan terus meningkat jika tidak diobati dan dapat mengarah pada periode laten. Periode laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala.

Ketika infeksi HIV jangka panjang sudah berkembang ke AIDS, orang tersebut biasanya mengalami beberapa gejala khas AIDS. Gejala AIDS bisa berbeda-beda antar satu orang dengan yang lain.

HIV dan AIDS punya gejala yang berbeda

HIV memang tidak selalu menunjukkan gejala. Akan tetapi, penyakit yang melemahkan sistem imun ini sebenarnya memiliki gejala yang mirip dengan flu, seperti:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Ruam yang tidak gatal
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Nyeri otot
  • Sakit tenggorokan
  • Berkeringat di malam hari
  • Luka di sekitar mulut

Sementara itu, AIDS memiliki gejala yang jauh lebih parah dibandingkan dengan HIV. Hal ini karena orang dengan AIDS biasanya memiliki jumlah sel CD4 atau sel T yang menurun drastis. Tanpa sel CD4 yang cukup, tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan penyakit. Akibatnya, Anda akan lebih mudah sakit terserang infeksi bahkan untuk infeksi yang biasanya tidak membuat Anda sakit.

AIDS biasanya menyerang ketika seseorang telah terinfeksi HIV selama 10 tahun tanpa mendapatkan perawatan. Adapun berbagai gejala yang biasanya muncul ketika Anda terjangkit AIDS, yaitu:

  • Sariawan, adanya lapisan putih tebal di lidah atau mulut akibat infeksi jamur
  • Sakit tenggorokan
  • Penyakit radang panggul kronis
  • Rentan terserang infeksi jenis apa pun
  • Merasa sangat lelah dan pusing
  • Sering sakit kepala
  • Berat badan menurun drastis dalam waktu cepat tanpa sebab yang jelas
  • Lebih mudah mengalami memar
  • Sering mengalami diare, demam, dan keringat di malam hari
  • Kelenjar getah bening yang bengkak di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan
  • Sering mengalami batuk kering yang cukup lama
  • Sesak napas
  • Perdarahan dari mulut, hidung, anus, atau vagina
  • Ruam kulit
  • Mati rasa di tangan atau kaki
  • Kehilangan kendali otot dan refleks
  • Mengalami kelumpuhan

HIV dapat didiagnosis dengan tes sederhana, diagnosis AIDS lebih rumit

Ketika terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh Anda menghasilkan antibodi khusus yang melawan virus tersebut. Tes darah atau air liur dapat mendeteksi antibodi tersebut untuk menentukan apakah Anda telah terinfeksi HIV. Meski demikian, tes ini hanya efektif untuk beberapa minggu setelah infeksi.

Tes lainnya bertujuan mencari antigen yang merupakan protein hasil produksi virus HIV. Tes ini dapat mendeteksi HIV hanya beberapa hari setelah infeksi. Kedua tes ini sama-sama akurat dan mudah untuk dijalankan.

Sementara itu, cara diagnosis AIDS jauh lebih rumit. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan kapan infeksi HIV laten dalam tubuh telah berubah menjadi AIDS. Misalnya, berapa banyak jumlah sel CD4 yang tersisa dalam tubuh.

Seseorang yang sehat dan tidak terinfeksi HIV bisa memiliki sekitar 500 sampai 1.200 sel CD4 per 1 cc/1 ml darah. Ketika jumlah sel tersebut turun hingga 200 atau bahkan kurang, pengidap HIV dikatakan telah memiliki AIDS.

Faktor lain yang menunjukkan keberadaan AIDS adalah kehadiran infeksi oportunistik. Pada orang sehat dengan daya tahan tubuh prima, infeksi ini tidak akan otomatis langsung membuat mereka jatuh sakit. Sementara pada orang dengan AIDS infeksi ini bisa sangat melemahkan. Itu sebabnya infeksi ini disebut “oportunistik”.

Beda harapan hidup penderita HIV/AIDS yang dulu dan sekarang

AIDS dapat memangkas angka harapan hidup pengidapnya jika terus dibiarkan tanpa pengobatan. Pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda terjangkit infeksi oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun.

Kondisi ini terjadi karena akan sangat sulit untuk memperbaiki kerusakan yang sudah telanjur terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Namun berkat kemajuan teknologi medis modern, harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada banyak pengidap HIV yang bahkan tidak mengidap AIDS seumur hidupnya.

Dikutip dari laporan Kementerian Kesehatan Indonesia, tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia juga terbukti dilaporkan cenderung terus menurun. Angka ini mengalami penurunan dari 13,21% pada tahun 2004 menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang sudah dilakukan sejauh ini berhasil mengendalikan perkembangan penyakitnya.

Namun, HIV dan AIDS sama-sama tidak bisa disembuhkan

siklus hidup virus hiv

Dari sekian banyak perbedaan yang telah disebutkan, HIV dan AIDS sama-sama tidak bisa disembuhkan. Namun, bukan berarti bahwa pengidap HIV/AIDS tidak memiliki hak untuk hidup sehat dan bahagia.

Meski tidak bisa disembuhkan, ada beberapa obat yang biasanya diberikan untuk membantu mengatasi gejala dan memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

HIV bisa diobati dengan terapi antiretroviral (ART). ART membantu mengurangi jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh Anda.

Biasanya obat yang satu ini direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV, terlepas dari berapa lama ia memiliki virus tersebut di dalam tubuhnya. Selain itu, ART juga mengurangi risiko Anda untuk menularkan penyakit ini ke orang lain jika diminum sesuai dengan resep.

ART biasanya diberikan dengan menggunakan kombinasi 3 obat atau lebih untuk membantu menurunkan jumlah HIV di dalam tubuh. Tiap orang biasanya akan diberikan rejimen atau kombinasi obat yang berbeda sesuai kondisi tubuhnya. Jika obat yang diresepkan ini ternyata tidak memberikan efek yang signifikan, dokter akan kembali menyesuaikannya.

Berdasarkan informasi dari U.S. Department of Health and Human Services, ketika seseorang terdiagnosis HIV positif maka saat itu juga ia mulai harus memulai pengobatan dengan ART.

Memulai pengobatan sedini mungkin membantu memperlambat perkembangan HIV. Dengan begitu, Anda bisa tetap sehat tanpa takut kondisi akan semakin memburuk apalagi hingga terkena AIDS.

Menunda pengobatan sama saja membiarkan virus merusak sistem kekebalan tubuh Anda dan meningkatkan risiko diri terkena AIDS. Untuk itu, lakukan berbagai perawatan seperti yang direkomendasikan dokter pada Anda.

Efek samping pengobatan HIV/AIDS

mual muntah disertai demam

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini memiliki efek samping yang tak bisa diabaikan. Pasalnya, sebagian efeknya bisa saja dikelola tetapi sebagian lainnya justru cukup serius.

Efek sampingnya umumnya berbeda pada tiap orang. Berikut beberapa efek yang mungkin dirasakan:

  • Sakit kepala atau pusing
  • Nafsu makan menurun bahkan hilang
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sulit tidur
  • Mulut kering
  • Ruam kulit
  • Mudah lelah
  • Pembengkakan di tenggorokan dan lidah
  • Kerusakan hati

Ketika HIV terus menggandakan diri, virus bisa berubah bentuk dan membuat variasinya sendiri. Variasi ini bisa membentuk jenis virus yang resisten terhadap obat. Akibatnya, obat yang Anda minum tak mempan membasmi virus yang baru.

Hal ini biasanya terjadi karena Anda tidak minum obat HIV sesuai dengan yang direkomendasikan dokter. Akibatnya, risiko pengobatan akan mengalami kegagalan pun cukup tinggi. Oleh sebab itu, Anda wajib mematuhi aturan minum obat yang telah dibuat oleh dokter demi kondisi kesehatan yang jauh lebih baik.

Selain efek samping, obat-obatan untuk mengatasi penyakit yang melemahkan sistem imun ini juga bisa berinteraksi negatif dengan obat-obatan dalam rejimen HIV.

Interaksi ini bisa meningkatkan atau bahkan mengurangi efek obat HIV pada tubuh. Bahkan, dalam kasus yang parah interaksi obat juga bisa menyebabkan efek samping yang cukup serius.

Cara efektif mencegah HIV/AIDS

pakai kondom bisa hamil

Sama seperti penyakit lainnya, HIV/AIDS juga bisa dicegah. Seperti kata pepatah, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Cara pencegahannya bisa dilakukan dengan berbagai hal ,berikut seperti:

  • Tidak memberikan ASI Anda pada si kecil jika ibu positif HIV.
  • Tidak bertukar mainan seks dengan pasangan yang positif HIV.
  • Menggunakan pelumas berbahan dasar air sebelum menggunakan kondom agar tak mudah robek.
  • Menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks, baik oral, vaginal, dan anal terlebih jika memiliki luka di kemaluan.
  • Minum PrEP terutama untuk Anda yang negatif HIV tetapi punya pasangan positif HIV.
  • Tidak berbagi jarum suntik yang sama.
  • Memilih tempat pembuatan tato yang tepercaya dan steril.
  • Rutin melakukan tes HIV jika merasa berisiko terutama saat memiliki penyakit kelamin.

Pengidap HIV dan AIDS sama-sama butuh dukungan dan kasih sayang

mendukung pasangan yang sakit

Terlepas dari segala perbedaan HIV dan AIDS di atas, setiap pengidapnya membutuhkan hal yang sama.

Setiap orang yang memiliki penyakit ini sangat ditekankan untuk mendapatkan pengobatan secepat mungkin dan mematuhinya setiap saat demi mencapai target kesembuhan yang optimal.

Pengobatan HIV yang tepat bukan hanya akan meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas pengidapnya, tapi juga mencegah risiko penularan penyakit pada orang lain.

Mereka juga perlu terus mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari orang-orang terdekat untuk menyelesaikan pengobatan sampai akhir. Begitu pula dengan dukungan untuk melawan stigma negatif dari masyarakat. Satu hal yang perlu Anda ingat selalu, jauhi virusnya bukan orangnya.

Untuk itu, rangkullah orang terdekat Anda yang mengidap penyakit ini. Jangan takut tertular karena HIV termasuk penyakit yang tak mudah menular hanya lewat kontak sehari-hari, seperti bersentuhan atau berpelukan.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca