Jangan Salah Kaprah, Ini 7 Perbedaan Antara HIV dan AIDS

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Dikarenakan sering disebut sebagai suatu kesatuan, seperti HIV dan AIDS atau ditulis “HIV/AIDS”, banyak orang yang menyamakan kedua kondisi ini. Padahal, HIV atau AIDS adalah kedua kondisi yang berbeda. Agar Anda tak lagi salah kaprah, berikut perbedaan HIV dan AIDS yang mungkin belum diketahui secara pasti.

Perbedaan HIV dan AIDS yang wajib Anda tahu

1. HIV adalah virusnya, AIDS adalah kondisi akhir penyakitnya

Perbedaan HIV dan AIDS bisa dilihat dari penjelasan kondisi keduanya. 

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4 (sel T). Sel CD4 adalah bagian dari sistem imun yang spesifik bertugas melawan infeksi.

Infeksi HIV menyebabkan jumlah sel CD4 turun secara dramatis sehingga sistem imun tubuh Anda tidak cukup kuat untuk melawan infeksi. Akibatnya, jumlah viral load HIV bisa meningkat. Ketika viral load Anda tinggi, itu artinya sistem kekebalan tubuh sudah gagal bekerja melawan HIV dengan baik.

Sementara itu, AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS dianggap sebagai tahap akhir dari infeksi HIV jangka panjang.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis akibat infeksi HIV yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh.

Pengidap HIV bisa dikatakan sudah terkena AIDS apabila jumlah sel CD4 dalam tubuhnya turun hingga kurang dari 200 sel per 1 ml atau 1 cc darah.

Orang dengan AIDS memiliki sistem imun yang sangat lemah sehingga sangat rentan terhadap risiko infeksi terkait HIV stadium-4, seperti herpes zoster (cacar ular alias cacar api), sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkins, tuberkulosis, kanker, atau pneumonia.

2. Saat mengidap HIV belum tentu Anda terkena AIDS 

Perbedaan selanjutnya bisa dilihat dari kemungkinan seseorang terkena HIV dan AIDS secara bersamaan. Pasalnya tidak semua pengidap HIV akan otomatis terkena AIDS di kemudian hari.

Perbdeaan keduanya ditemukan ketika HIV adalah virus penyebab, sedangkan dan AIDS adalah kondisi akhir yang dapat disebabkan karena infeksi virus tersebut. Begini kemungkinannya:

  • Anda terkena HIV, tapi tidak terkena AIDS.
  • Anda kena HIV dan AIDS sekaligus.
  • Anda yang terdiagnosis positif AIDS, sudah pasti memiliki infeksi HIV. 

Kebanyakan penderita penyakit Human Immunodeficiency Virus bisa berhidup selama bertahun-bertahun lamanya (bahkan lebih dari 10 tahun) sebelum mengalami AIDS. 

Berkat kemajuan dalam pengobatan, orang yang hidup dengan HIV bahkan memiliki kualitas hidup yang hampir sama dengan orang normal lainnya. Untuk itu, mendapatkan pengobatan yang tepat adalah kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV dan AIDS.

3. HIV menular, AIDS tidak

Perbedaan antara HIV dan AIDS bisa dilihat menular atau tidaknya penyakit tersebut. 

Perlu diketahui bahwa HIV adalah penyakit ini disebabkan oleh virus. Artinya, virus HIV dapat ditularkan dan menginfeksi orang lain, layaknya infeksi virus pada umumnya. 

Virus HIV ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui pertukaran cairan tubuh, misalnya lewat air mani, cairan vagina dari seks tanpa kondom, transfusi darah, atau air susu ibu dalam proses menyusui.

Namun Anda tidak bisa langsung tertular AIDS dari orang lain tanpa tertular HIV terlebih dahulu.  Sebab AIDS merupakan tahap selanjutnya dari infeksi HIV. Jadi, Anda harus tertular HIV terlebih dulu, baru kemudian infeksi itu berkembang menjadi AIDS.

4. HIV dan AIDS gejalanya berbeda

HIV dan AIDS punya perbedaan gejala yang cukup signifikan. Ini bisa dilihat dari seberapa terlihatnya gejala yang dialami, tingkat keparahan gejala, dan efek penyakitnya pada tubuh Anda.

Gejala HIV

Orang yang memiliki virus HIV bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya sudah terjangkit. Pasalnya, infeksi HIV bisa diam-diam menggerogoti tubuh selama 10 tahun atau bahkan lebih, tanpa memunculkan gejala apa pun.

Di sisi lain, virus HIV biasanya dapat menyebabkan gejala mirip flu biasa, sekitar dua sampai empat minggu setelah infeksi.

Pada infeksi HIV, kondisi ini tidak selalu menunjukkan gejala. Akan tetapi, infeksi virus ini dapat melemahkan sistem imun ini sebenarnya memiliki gejala yang mirip dengan flu, seperti:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Ruam di kulit yang tidak gatal
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Nyeri otot
  • Sakit tenggorokan
  • Berkeringat di malam hari
  • Ada luka di sekitar mulut mirip sariawan

Gejala HIV awal ini dapat cepat mereda karena sistem kekebalan tubuh Anda pada tahap ini masih sanggup mengendalikannya. Periode waktu ini disebut sebagai infeksi akut.

Seiring waktu, jumlah virus HIV akan terus meningkat jika tidak diobati dan dapat mengarah pada periode laten. Periode laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala.

Gejala AIDS

Ketika infeksi Human Immunodeficiency Virus sudah berlangsung lama dan berkembang ke AIDS, orang tersebut biasanya mengalami beberapa gejala khas AIDS yang lebih berat.

Gejala AIDS bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain dan cukup bisa didentifikasi. AIDS memiliki gejala yang jauh lebih parah dibandingkan dengan Human Immunodeficiency Virus. Hal ini terjadi karena orang dengan AIDS biasanya memiliki jumlah sel CD4 atau sel T yang menurun drastis. 

Tanpa sel CD4 yang cukup, tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan penyakit. Akibatnya, Anda akan lebih mudah sakit terserang infeksi bahkan untuk infeksi yang biasanya tidak membuat Anda sakit.

AIDS biasanya menyerang ketika seseorang telah terinfeksi HIV selama 10 tahun dan tanpa mendapatkan perawatan. Adapun berbagai gejala yang biasanya muncul ketika Anda terjangkit AIDS, yaitu:

  • Sariawan, adanya lapisan putih tebal di lidah atau mulut akibat infeksi jamur
  • Sakit tenggorokan
  • Penyakit radang panggul kronis
  • Rentan terserang infeksi jenis apa pun
  • Merasa sangat lelah dan pusing
  • Sering sakit kepala
  • Berat badan menurun drastis dalam waktu cepat tanpa sebab yang jelas
  • Lebih mudah mengalami memar
  • Sering mengalami diare, demam, dan keringat di malam hari
  • Kelenjar getah bening yang bengkak di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan
  • Sering mengalami batuk kering yang cukup lama
  • Sesak napas
  • Perdarahan dari mulut, hidung, anus, atau vagina
  • Ruam kulit
  • Mati rasa di tangan atau kaki
  • Kehilangan kendali otot dan refleks
  • Mengalami kelumpuhan

6. Cara mendiagnosis HIV mudah, AIDS lebih sulit

Cara diagnosis HIV

Ketika terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh Anda menghasilkan antibodi khusus yang melawan virus tersebut. Untuk memeriksanya, dokter dapat menganjurkan tes darah atau air liur untuk mendeteksi antibodi virus HIV dan apa Anda telah terinfeksi atau belum. 

Meski demikian, tes tersebut hanya efektif untuk beberapa minggu setelah infeksi. Tes lainnya bertujuan mencari antigen yang merupakan protein hasil produksi virus HIV. Tes ini dapat mendeteksi HIV hanya beberapa hari setelah infeksi. Kedua tes ini sama-sama akurat dan mudah untuk dijalankan.

Cara diagnosis AIDS 

Sementara itu, cara diagnosis AIDS jauh lebih rumit. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan kapan infeksi HIV laten dalam tubuh telah berubah menjadi AIDS. 

Misalnya, berapa banyak jumlah sel CD4 yang tersisa dalam tubuh. Seseorang yang sehat dan tidak terinfeksi HIV bisa memiliki sekitar 500 sampai 1.200 sel CD4 per 1 cc/1 ml darah. 

Ketika jumlah sel tersebut turun hingga 200 atau bahkan kurang, pengidap HIV dikatakan telah memiliki AIDS.

Faktor lain yang menunjukkan keberadaan AIDS adalah kehadiran infeksi oportunistik. Pada orang sehat dengan daya tahan tubuh prima, infeksi ini tidak akan otomatis langsung membuat mereka jatuh sakit. Sementara pada orang dengan AIDS infeksi ini bisa sangat melemahkan. Itu sebabnya infeksi ini disebut “oportunistik”.

7. Angka harapan hidup penderita HIV dan AIDS berbeda

Angka harapan hidup antara AIDS dan HIV mengalami perbedaan. Kedua penyakit tersebut sama-sama dapat memangkas angka usia pengidapnya jika terus dibiarkan tanpa pengobatan.

Pada orang pengidap penyakit HIV saja, umumnya bisa hidup lebih lama sesuai kondisi kesehatannya masing-masing. Ini hanya berlaku apabila penderita HIV rutin konsumsi obat antiretroviral setiap hari untuk menonaktifkan virusnya, ya. 

Sedangkan pada orang dengan HIV yang telah memiliki AIDS, biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda terjangkit infeksi oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun.

Kondisi ini terjadi karena akan sangat sulit untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terlanjur terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Namun berkat kemajuan teknologi medis modern, harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada banyak pengidap HIV yang bahkan tidak mengidap AIDS seumur hidupnya.

Dikutip dari laporan Kementerian Kesehatan Indonesia, tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia juga terbukti dilaporkan cenderung terus menurun. Angka ini mengalami penurunan dari 13,21% pada tahun 2004 menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang sudah dilakukan sejauh ini berhasil mengendalikan perkembangan penyakitnya.

HIV dan AIDS sama-sama tidak bisa disembuhkan

Dari sekian banyak perbedaan yang telah disebutkan, HIV dan AIDS juga punya persamaan. Persamaan keduanya adalah sama-sama tidak bisa disembuhkan. Namun, bukan berarti bahwa pengidap HIV/AIDS tidak memiliki hak untuk hidup sehat dan bahagia, ya.

Meski tidak bisa disembuhkan, ada beberapa obat yang biasanya diberikan untuk membantu mengatasi gejala dan memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

HIV bisa diobati dengan terapi antiretroviral (ART). ART membantu mengurangi jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh Anda.

Biasanya obat yang satu ini direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV, terlepas dari berapa lama ia memiliki virus tersebut di dalam tubuhnya. Selain itu, ART juga mengurangi risiko Anda untuk menularkan penyakit ini ke orang lain jika diminum sesuai dengan resep.

ART biasanya diberikan dengan menggunakan kombinasi 3 obat atau lebih untuk membantu menurunkan jumlah HIV di dalam tubuh. Tiap orang biasanya akan diberikan rejimen atau kombinasi obat yang berbeda sesuai kondisi tubuhnya. Jika obat yang diresepkan ini ternyata tidak memberikan efek yang signifikan, dokter akan kembali menyesuaikannya.

Berdasarkan informasi dari U.S. Department of Health and Human Services, ketika seseorang terdiagnosis HIV positif maka saat itu juga ia mulai harus memulai pengobatan dengan ART.

Memulai pengobatan sedini mungkin membantu memperlambat perkembangan HIV. Dengan begitu, Anda bisa tetap sehat tanpa takut kondisi akan semakin memburuk apalagi hingga terkena AIDS.

Menunda pengobatan sama saja membiarkan virus merusak sistem kekebalan tubuh Anda dan meningkatkan risiko diri terkena AIDS. Untuk itu, lakukan berbagai perawatan seperti yang direkomendasikan dokter pada Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

 

Baca Juga:

Sumber