4 Pilihan Obat Herbal untuk Melengkapi Pengobatan HIV/AIDS

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Januari 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

HIV/AIDS merupakan penyakit kronis yang hingga kini belum bisa disembuhkan total. Untuk mengendalikan gejalanya, orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) harus menjalani pengobatan seumur hidup. Namun, tidak sedikit pula ODHA yang melengkapi pengobatan HIV/AIDS mereka dengan obat herbal sebagai dukungan untuk meningkatkan kesehatan tubuhnya. 

Obat herbal untuk pengidap HIV dan AIDS (HIV/AIDS)

Berikut adalah beberapa obat herbal yang dilaporkan dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan infeksi penyebab HIV dan AIDS. Beberapa obat herbal di bawah ini bahkan juga diyakini bisa mengatasi gejala HIV.

1. Lidah buaya

Sebuah penelitian tahun 2012 di Nigeria terbitan Journal of Complementary and Integrative Medicine mengatakan lidah buaya berpotensi sebagai obat alami dalam perawatan HIV dan AIDS.

Penelitian ini mengamati 10 perempuan muda yang positif HIV/AIDS tapi tidak memungkinkan diobati dengan antiretroviral karena risiko efek samping dari obat HIV tersebut. Selama satu tahun, semua perempuan itu diminta untuk minum 30-40 ml jus lidah buaya setiap hari, untuk hasilnya dibandingkan dengan pasien HIV yang diobati dengan terapi ARV

Setahun setelah pengamatan, kelompok perempuan yang rutin minum jus lidah buaya mengalami rata-rata peningkatan berat badan sebanyak 4,7 kg, hampir setara dengan kelompok yang menggunakan obat ARV (naik 4,8 kg).

Kelompok peminum jus lidah buaya juga tampak mengalami peningkatan jumlah sel CD4 yang sehat, dengan rata-rata 153,7 sel / μL sementara pasien terapi ARV sebanyak 238,85 sel / μL.

Secara umum, penelitian di atas tidak menyebutkan adanya efek samping berarti dari konsumsi lidah buaya. Namun, kebenaran manfaat lidah buaya sebagai obat herbal untuk HIV masih harus dipastikan dengan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar.

2. Gandarusa (Justicia gendarussa) 

Tahun 2017 silam, sebuah penelitian dari Journal of Natural Product menemukan potensi dari ekstrak tanaman gandarusa (daun rusa atau kisi-kisi) sebagai obat herbal HIV dan AIDS.

Tanaman semak yang bernama latin Justicia gendarussa diketahui mengandung senyawa pantetiflorin A (anti-HIV arylnaphthalene lignan glycoside). Senyawa tersebut diyakini mampu membantu mencegah virus HIV bereplikasi dalam tubuh. 

Para peneliti meneliti efek senyawa ini terhadap virus HIV-1 M-tropis dan T-tropis. M-tropism mengacu pada kemampuan virus untuk menyerang makrofag, sedangkan T-tropisme mengacu pada kemampuannya untuk menyerang sel T.  Keduanya merupakan sel darah putih yang penting untuk kekebalan tubuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut dapat menghambat proses infeksi virus HIV ke sel kekebalan tubuh. Patentiflorin A dalam tanaman herbal justicia bahkan dianggap memiliki efek penghambat yang lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan obat azido-deoxythymidine (AZT).

Peneliti mengatakan bahwa patentiflorin A mampu menghambat aksi enzim reverse transcriptase. Sejauh ini peneliti belum yakin benar bahwa tanaman herbal justicia aman untuk dikonsumsi langsung untuk obat herbal HIV.

Namun, penelitian yakin bahwa dengan adanya penelitian lebih lanjut tanaman justicia sebagai obat herbal HIV berpotensi membantu pengobatan antiretroviral dalam menekan jumlah virus agar tidak semakin banyak. 

3. Daun salvia

Daun salvia adalah salah satu tanaman yang masuk termasuk dalam anggota keluarga daun mint. Sebelum digunakan sebagai obat HIV, daun ini sering digunakan sebagai obat herbal untuk mengobati infeksi virus.

Nyatanya, manfaat itu tidak hanya mitos semata. Menurut penelitian dalam jurnal Retrovirology, ekstrak daun salvia dinilai memiliki potensi besar sebagai obat HIV alami.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa daun saliva mampu melawan human immunodeficiency virus tipe 1 (HIV-1), yang dapat menyebabkan AIDS. Penelitian tersebut juga melihat adanya kemampuan daun salvia mencegah virus memasuki sel CD4 yang ditargetkan untuk dihancurkan

Namun sayang, belum ada penelitian yang mengulik efek daun saliva sebagai obat herbal HIV pada manusia. Penelitian yang ada hanya terbatas sebagai uji kultur terkendali dalam laboratorium dengan sampel jaringan.

4. Milk thistle

Sebelumnya milk thistle umum digunakan untuk meningkatkan fungsi hati menghilangkan racun dan limbah seperti alkohol dan kelebihan cairan empedu, serta meningkatkan kerja pencernaan.

Nah, salah satu hasil penelitian dari HIV Medicine Association memperlihatkan bahwa milk thistle adalah ramuan yang bisa digunakan sebagai obat herbal HIV dan AIDS.

Namun, penggunaan obat ini diketahui dapat memengaruhi kerja obat antiretroviral.

Pengidap HIV dan AIDS (ODHA) tidak boleh sembarang minum obat herbal

Sudah cukup banyak penelitian yang berfokus pada kegunaan obat herbal bagi perkembangan penyakit HIV dan AIDS

Agar aman, baiknya selalu konsultasi ke dokter lebih dulu sebelum memutuskan menjalani pengobatan alami apa pun jika Anda mengidap HIV dan AIDS. Anda juga bisa meminta rekomendasi dokter mengenai obat herbal yang bagus untuk penderita HIV AIDS, atau suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Meski begitu, Anda tidak seharusnya menjadikan pengobatan alami sebagai terapi utama dan satu-satunya. Pasalnya, obat herbal pada dasarnya bukanlah obat paten yang dibuat atau ditujukan untuk menyembuhkan HIV dan AIDS.

Hingga saat ini belum ada cukup bukti yang mendukung penggunaan obat alami untuk mengatasi gejala HIV sesuai stadiumnya dan meredakan infeksi. Penggunaan obat HIV alami sejauh ini hanya sebatas direkomendasikan untuk meningkatkan kesehatan tubuh secara menyeluruh. 

Jika dokter sudah membolehkan Anda untuk minum obat herbal, obat tersebut tetap harus digunakan dengan hati-hati.  Jangan lupa untuk cek informasi lengkap dari obat itu; mulai dari keamanan, cara pakai, penyimpanan, dan dosis takaran yang tepat.

Cara memilih obat herbal yang aman dikonsumsi pengidap HIV dan AIDS

Sebelum sembarang membeli dan konsumsi, baiknya Anda cek dulu keaslian dan keamanan obat herbal tersebut. Pastikan obat herbal yang Anda gunakan dalam pengobatan HIV telah terdaftar di BPOM dan teruji secara klinis. Berikut cara cari tahunya:

1. Cek kemasan

Teliti dahulu kemasan produk. Pastikan boks kemasan tidak robek, gompal, sobek, ataupun penyok. Pastikan juga wadah obatnya tidak berlubang, berkarat, atau bocor.

Setelah itu, cek kapan produk tersebut dibuat dan kapan tanggal kedaluwarsanya. Pastikan juga bahwa informasi berikut disertakan pada label semua suplemen herbal:

  • Nama suplemen
  • Nama dan alamat pabrik atau distributor
  • Daftar bahan komposisi lengkap — baik di brosur yang disertakan dalam kemasan atau tercantum di wadah
  • Saran penyajian, dosis, dan jumlah bahan aktif
  • Nomor izin edar BPOM

2. Baca labelnya

Baca dengan teliti label informasi obat yang tertera pada kemasan. Apakah ada kontraindikasi dan larangan? Seperti apa cara pakainya yang benar, dan adakah batasan dosis per harinya?

Apa saja bahan aktif yang mungkin terkandung di dalamnya? Apakah Anda memiliki alergi terhadap salah satu dari komposisi yang tertera? Apakah dokter atau kondisi kesehatan yang Anda miliki saat ini melarang Anda untuk mengonsumsi salah satu bahan yang ada?

Apa ada pantangan makanan, minuman, obat-obatan, dan aktivitas yang harus dihindari sewaktu minum obat herbal tersebut?

Produsen suplemen herbal bertanggung jawab untuk memastikan bahwa klaim yang mereka buat tentang produk mereka tidak salah atau menyesatkan. Namun, mereka tidak diwajibkan menyerahkan bukti ini ke BPOM.

3. Lihat logo golongan obatnya

Berdasarkan ketentuan BPOM, obat tradisional dibagi menjadi 3 kategori, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka.

Agar sebuah obat herbal bisa dinyatakan aman untuk pengidap HIV dan AIDS, produk haruslah terlebih dulu dibuktikan keamanannya secara ilmiah melalui serangkaian uji klinis. Obat herbal juga harus diuji dosis, cara penggunaan, efektivitas, monitoring efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain.

Fitofarmaka adalah satu-satunya golongan obat herbal yang telah lulus semua uji praklinis dan klinis pada manusia. Maka dari itu, sebisa mungkin cari suplemen maupun produk obat herbal HIV yang berlabel “fitofarmaka”.

Apabila tidak yakin apakah obat herbal HIV dan AIDS yang Anda gunakan terdaftar serta aman atau tidak, cek di situs http://cekbpom.pom.go.id/.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat psoriasis alami

Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit
obat cacing kremi

Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit