Bagaimana Kita Bisa Tertular Hepatitis Lewat Seks?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Hepatitis adalah penyakit yang menyerang organ hati (liver) Anda. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang mengakibatkan peradangan pada hati. Karena disebabkan oleh virus, maka hepatitis bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain. Penularannya antara lain melalui berbagi makanan dengan penderita hepatitis, berbagi jarum suntik, dan berhubungan seks. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa berhubungan seks sama sekali. Penularan hepatitis melalui seks bisa dicegah dan ditekan kemungkinannya dengan melakukan seks yang aman. Untuk mencari tahu lebih lanjut bagaimana seks menularkan hepatitis dan cara mencegahnya, baca terus informasi berikut ini.

Bagaimana bisa seks menularkan hepatitis?

Hepatitis yang disebabkan oleh virus dibagi menjadi 3 jenis, yaitu hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C. Ketiganya memiliki risiko penularan lewat seks. Pasalnya, virus hepatitis tinggal di dalam cairan tubuh manusia, misalnya pada darah, air mani, cairan rektum (pada anus), dan cairan vagina. Jika terjadi kontak antar cairan tubuh tersebut, virusnya pun akan pindah menjangkiti pasangan seksual. Pelajari berbagai kemungkinan penularan tiap jenis hepatitis di bawah ini.

Hepatitis A (HAV)

Biasanya virus hepatitis A ditularkan melalui feses. Maka, kemungkinan terbesar penularan HAV adalah melalui seks anal. Namun, kontak apa pun dengan rektum, misalnya oral-anal juga berisiko menularkan HAV. Penggunaan kondom saja tidak cukup untuk mencegah penularan karena saat melepas kondom yang telah terinfeksi HAV lewat seks anal, virus tersebut bisa pindah ke tangan. Sebaiknya pasangan seksual yang tidak mengidap HAV sudah melakukan vaksin hepatitis sebelum terlibat secara seksual dengan orang yang mengidap HAV.

BACA JUGA: Berbagai Hal yang Bisa Membuat Kita Tertular Hepatitis A

Hepatitis B (HBV)

Di antara jenis virus hepatitis lainnya, hepatitis B adalah yang paling banyak ditularkan melalui seks. Bahkan kemungkinan penularan HBV lewat seks jauh lebih besar daripada penularan HIV. Pasalnya, virus ini bisa ditemukan dalam cairan vagina, air mani, dan air liur. Meskipun belum ada contoh kasus penularan HBV melalui ciuman, risikonya tetap ada, terutama kalau pengidap HBV sedang sariawan atau ada luka dalam mulut dan bibirnya. Selain itu, risiko tertular virus ini melalui seks juga berkali-kali lipat lebih besar jika sering berganti-ganti pasangan seksual.

BACA JUGA: Bagaimana Hepatitis B Dapat Berkembang Jadi Kanker Hati Primer

Hepatitis C (HCV)

Virus ini hidup di dalam darah. Maka, hubungan seks saat menstruasi, sariawan, atau ada luka meningkatkan risiko Anda menularkan atau tertular hepatitis C. Sering berganti pasangan seksual, kira-kira lebih dari lima orang yang berbeda setiap tahunnya, juga akan meningkatkan risiko terjangkit HCV. Sedangkan orang yang tidak berganti-ganti pasangan seksual memiliki kemungkinan yang sangat kecil terjangkit HCV, bahkan jika pasangannya mengidap penyakit tersebut. Menurut data yang dihimpun oleh WebMD, hanya ada 2% orang yang tertular dari pasangan yang mengidap HCV dalam hubungan seksual yang bersifat monogami (tidak berganti pasangan).

BACA JUGA: Panduan untuk Anda yang Hidup Dengan Hepatitis C

Tips mencegah risiko penularan hepatitis melalui seks

Jika Anda atau pasangan Anda mengidap jenis hepatitis tertentu, Anda harus selalu mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan. Bukan berarti karena ada kemungkinan penularan hepatitis melalui seks maka Anda dan pasangan tidak bisa bercinta. Berikut adalah tips-tips seks yang aman dengan penderita hepatitis.

1. Vaksin HAV dan HBV

Ketika pasangan seksual Anda didiagnosis dengan hepatitis, sebaiknya Anda langsung divaksinasi hepatitis. Saat ini vaksin yang tersedia adalah vaksin HAV dan HBV, sementara untuk HCV belum ada vaksinnya. Namun, meskipun Anda sudah divaksin bukan berarti risiko penularannya hilang sama sekali. Saat bercinta pun Anda dan pasangan tetap harus mempraktekkan seks yang aman.

2. Selalu gunakan kondom

Aktivitas seksual apa pun yang dilakukan dengan pasangan, sebaiknya selalu gunakan kondom. Usahakan untuk memilih kondom berbahan dasar lateks yang tidak diberi tambahan perasa atau pewangi untuk perlindungan yang maksimal. Hindari penggunaan lubrikan vagina karena bisa merusak kualitas kondom, terutama jika lubrikan tersebut dibuat dari minyak.

BACA JUGA: Mengenal Berbagai Jenis Kondom Beserta Plus Minusnya

3. Menghindari aktivitas seks yang berisiko

Sebaiknya jangan melakukan aktivitas seksual yang bisa meningkatkan kemungkinan penularan, misalnya bercinta saat menstruasi atau menyentuh bagian tubuh yang sedang ada luka. Hindari aktivitas seksual yang cukup kasar karena bisa menimbulkan lecet atau luka. Akan lebih bijak pula kalau Anda dan pasangan tidak berbagi atau menggunakan mainan seks yang sama. Jika Anda menggunakan mainan seks masing-masing dan sudah memastikan tidak ada kontak sama sekali antara mainan seks tersebut dengan pasangan, selalu cuci dan bersihkan dengan air yang mendidih setelahnya.

4. Tidak berganti-ganti pasangan

Bercinta dengan satu orang pasangan saja yang mengidap hepatitis justru lebih aman daripada dengan beberapa orang yang mungkin tidak mengidap hepatitis. Pasalnya, kadang gejala dan tanda hepatitis tak bisa dikenali begitu saja. Kalau Anda terbiasa berganti pasangan seksual, Anda pun jadi lebih rentan terhadap bahaya penularan hepatitis melalui seks.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

    Jangan biarkan alergi mengganggu aktivitas harian Anda. Ketahui cara cepat mengatasi alergi obat yang kambuh sekaligus perawatan kondisinya di rumah.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

    Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

    Multivitamin anak biasanya dikemas menarik dan rasanya enak seperti permen. Nah, ada juga multivitamin gummy khusus orang dewasa. Tapi benarkah lebih sehat?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    terapi urine minum air kencing

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    efek samping paracetamol ibuprofen

    Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
    alergi paracetamol

    Alergi Paracetamol

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit
    alergi obat antibiotik

    Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit