Rekomendasi Obat Pereda Gejala Usus Buntu, dan Antibiotiknya untuk Cegah Risiko Infeksi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update April 30, 2020
Bagikan sekarang

Usus buntu adalah kantong kecil yang menyambung dengan usus besar. Posisinya ada di sisi kanan bawah perut Anda. Usus buntu bisa meradang ketika tersumbat dan terinfeksi bakteri dan ini dikenal sebagai penyakit usus buntu (apendisitis). Jika tidak segera diobati, usus buntu bisa pecah sewaktu-waktu, menyebarkan infeksi, dan akhirnya berakibat fatal. Selain operasi, gejala usus buntu juga bisa diredakan dengan obat yang ada di apotek. Apa saja? 

Obat untuk meredakan gejala usus buntu di apotek

Peradangan infeksi pada usus buntu akan menimbulkan rasa nyeri di bagian tengah atau di sisi kanan perut.

Keluhan sakit perut di kanan bawah dilaporkan oleh sekitar 80 persen orang yang didiagnosis radang usus buntu. Rasa sakitnya umumnya jadi lebih buruk saat bersin, batuk, dan menarik napas dalam. 

Selain sakit perut, usus buntu sering kali diikuti dengan gejala demam, mual, muntah, diare, kurang nafsu makan, dan tidak bisa buang gas (kentut). 

Untuk mengatasi berbagai gejala usus buntu yang masih ringan, dokter biasanya akan lebih dulu meresepkan obat yang bisa dibeli di apotek, seperti:

1. Obat antinyeri

Dokter dapat menyarankan obat analgesik atau obat antinyeri NSAID seperti paracetamol untuk menyembuhkan rasa sakit akibat peradangan.

Dua jenis obat ini bekerja mengurangi produksi prostaglandin di otak. Prostaglandin merupakan hormon yang menyebabkan rasa sakit. 

Selain meredakan nyeri perut akibat usus buntu, obat ini juga dapat meredakan demam yang mungkin muncul saat tubuh melawan infeksi.

Obat antinyeri untuk usus buntu ini umumnya bisa Anda dapatkan di apotek atau toko obat tanpa menebus resep dokter.

2. Obat antimual

obat-obatan saat haji

Sering kali gejala usus buntu disertai dengan mual dan muntah. Mual dan muntah adalah respon alami tubuh selama melawan infeksi yang menyerang sistem pencernaan. 

Salah satu jenis obat antimual yang biasa diresepkan untuk meredakan gejala usus buntu sebelum operasi adalah ondansetron.

Obat ini bekerja menghambat reseptor neurotransmitter yang menyebabkan muntah. Neurotransmitter adalah kumpulan sel saraf di otak yang menerima sinyal dari berbagai lokasi tubuh untuk kemudian memunculkan reaksi yang sesuai.

Ketika neurotransmitter di otak menerima sinyal dari perut yang memberi tahu adanya infeksi, saraf-saraf tersebut kemudian akan memerintahkan tubuh untuk muntah. 

3. Oralit

oralit

Peradangan usus buntu juga kerap menyebabkan dehidrasi pada beberapa orang, terutama mereka yang merasakan gejala diare.

Dehidrasi muncul karena infeksi yang menyerang usus buntu secara tidak langsung akan menurunkan nafsu makan. Hal ini dapat memicu gejala dehidrasi karena tubuh tidak cukup mendapatkan asupan cairan, baik dari makanan atau minuman, saat nafsu makan menurun.  

Selain itu, radang usus buntu juga dapat menyebabkan gejala mual dan muntah yang menghilangkan sebagian besar cairan tubuh. Inilah yang juga menyebabkan dehidrasi.

Pada kebanyakan kasus, dehidrasi bisa diatasi dengan banyak minum air putih, jus buah segar tanpa gula, atau kuah sup hangat. Namun jika sudah parah, dokter dapat menyarankan Anda minum oralit. Larutan oralit bisa Anda dapatkan di apotek tanpa harus menebus resep dokter.

Antibiotik adalah obat utama untuk usus buntu

Obat penyebab hepatitis usus buntu

Menurut penelitian dari Inggris terbitan British Medical Journal (BMJ), antibiotik efektif mengobati sekitar 63% kasus radang usus buntu akut taraf ringan yang disebabkan oleh infeksi bakteri. 

Namun, penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (JAMA) melaporkan tidak semua penyakit usus buntu bisa diobati dan langsung sembuh hanya dengan obat antibiotik.

Penelitian tersebut ingin melihat perbedaan perbaikan kondisi dari pasien usus buntu yang dioperasi dan yang hanya diberikan antibiotik. Dari total 59 ribu pasien usus buntu yang diteliti, sebanyak 4,5%-nya yang cuma minum antibiotik cenderung kembali merasakan gejala sehingga harus kembali diopname di rumah sakit. 

Penelitian ini juga menemukan bahwa risiko pembentukan abses (benjolan nanah) pada pasien usus buntu yang hanya minum obat antibiotik lebih tinggi ketimbang yang dioperasi.

Berangkat dari hasil tersebut, rata-rata dokter dan pakar kesehatan di dunia sepakat bahwa operasi masih menjadi pilihan pengobatan utama dan terbaik untuk usus buntu.

Obat antibiotik diminum sebelum operasi usus buntu

Pengobatan utama tetap harus lewat operasi untuk membuang usus buntu yang terinfeksi. Operasi apendektomi sudah menjadi standar pengobatan usus buntu sejak dari tahun 1889. 

Meski begitu, umumnya Anda akan diresepkan antibiotik beberapa hari menjelang operasi usus buntu. Kenapa? Menurut sebuah penelitian dalam Scandinavian Journal of Surgery tahun 2013, obat antibiotik berfungsi untuk mengurangi risiko komplikasi infeksi sebelum operasi usus buntu.

Obat antibiotik yang diberikan sebelum operasi usus buntu umumnya berasal dari golongan sefalosporin seperti cefotaxime dan turunan obat imidazol seperti metronidazole

Penelitian di atas juga membandingkan keampuhan metronidazole dan gentamicin untuk mencegah risiko infeksi sebelum operasi. Namun ternyata, kombinasi cefotaxime dan metronidazole tetap masih lebih ampuh.

Kombinasi obat metronidazole dan cefotaxime biasanya diberikan pada pasien yang usus buntunya belum mengalami perforasi (perlubangan atau kebocoran).

Namun, antibiotik juga akan diberikan apabila kondisi usus buntu sebelum operasi sudah telanjur luka, bolong, pecah, atau jaringannya sudah mati. 

Kedua obat ini bertujuan untuk mencegah kemunculan dan penyebaran infeksi bakteri sebelum operasi usus buntu dilakukan.

Obat antibiotik diminum lagi pascaoperasi usus buntu

Operasi adalah satu-satunya cara paling efektif untuk mengatasi radang usus buntu. Operasi usus buntu bisa dilakukan lewat operasi terbuka (open appendectomy) dengan sayatan besar di perut, atau operasi laparoskopi (appendectomy laparoscopic) yang ukuran sayatannya lebih kecil.

Pemulihan operasi usus buntu relatif cepat dan minim komplikasi risiko. Sesudah dioperasi, kemungkinan Anda akan diopname 1-2 hari. Nah di waktu inilah, dokter juga tetap masih terus meresepkan Anda antibiotik untuk menghindari risiko infeksi pada area usus buntu. Meski begitu, jenis antibiotik yang diberikan mungkin berbeda.

Obat antibiotik yang biasanya diberikan sehabis operasi usus buntu yang pecah berupa obat sefalosporin golongan dua seperti cefotetan. Obat ini berfungsi mengobati atau mencegah infeksi pascaoperasi yang rentan disebabkan oleh bakteri.

Dokter akan memasukkan obat antibiotik lewat infus intravena (IV) untuk mencegah infeksi serius pada rongga perut setelah mengeluarkan usus buntu Anda. Masih dalam penelitian yang sama, obat antibiotik yang diberikan lewat infus selama 3-5 hari dilaporkan sudah cukup untuk bantu mencegah kemunculan infeksi. 

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Punya masalah hipertensi alias tekanan darah tinggi saat puasa tentu memberikan tantangan sendiri. Agar puasa tetap lancar, ikuti tips ampuhnya berikut ini!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan Mei 4, 2020

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Donor darah sebaiknya dilakukan teratur. Tapi bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Bolehkah donor darah saat puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan Mei 2, 2020

Dua Vitamin dan Mineral yang Paling Diperlukan Tubuh Selama Puasa

Ketika bulan puasa, banyak orang yang mudah sakit dan merasa cepat lemas. Karena itu, Anda butuh minum vitamin C dan zinc untuk mengatasinya. Mengapa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Hari Raya, Ramadan Mei 1, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang Mei 17, 2020
3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Monika Nanda
Tanggal tayang Mei 14, 2020
7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal tayang Mei 9, 2020
Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 7, 2020