Usus Buntu yang Meradang Bisa Pecah, Ini yang Perlu Anda Ketahui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah suatu kondisi yang menyebabkan peradangan pada usus buntu (apendiks). Jika tidak diobati, bisa jadi usus buntu akan pecah. Kondisi ini harus mendapatkan penanganan medis segera karena bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui gejala, penyebab, dan pengobatannya. Yuk, pelajari lanjut kondisi ini pada ulasan berikut.

Penyebab usus buntu yang meradang bisa pecah

usus buntu apendisitis kronis

Penyebab usus buntu pecah tidak diketahui secara pasti. Namun, ahli kesehatan berpendapat bahwa ini mungkin berawal dari infeksi yang memicu peradangan pada sistem pencernaan, tepatnya di usus. Pasalnya, usus Anda menjadi rumah bagi bakteri baik dan jahat.

Apendiks yang tersumbat dapat mengundang bakteri jahat berkumpul, berkembang biak, dan akhirnya menyebabkan infeksi. Sistem imun dalam tubuh akan melawan infeksi dan menghasilkan nanah, yakni kumpulan bakteri, sel jaringan, dan sel darah putih yang mati.

Infeksi ini akan menyebabkan tekanan pada usus buntu meningkat tajam. Akibatnya, darah yang mengalir melalui dinding organ akan menurun sehingga jaringan pada usus akan kekurangan darah dan mati secara perlahan.

Robekan atau luka berlubang akan terbentuk pada jaringan yang mati. Ini akan meningkatkan tekanan di jaringan, sehingga dapat mendorong bakteri dan nanah keluar dari rongga perut. Jadi, maksud radang usus buntu yang pecah, bukan digambarkan seperti pecahnya balon. Namun, keluarnya bakteri dan nanah dari rongga perut.

Pecahnya usus buntu biasanya terjadi setelah 24 jam pertama setelah gejala-gejala awal usus buntu muncul. Namun, risiko akan semakin meningkat terutama pada 48-72 jam setelah gejala.

Tanda dan gejala radang usus buntu yang pecah

sakit gejala usus buntu

Guna mendapatkan perawatan segera, Anda perlu memerhatikan berbagai gejala pecahnya usus buntu, di antaranya:

1. Sakit perut yang tak tertahankan

Usus buntu biasanya menyebabkan rasa sakit parah yang membentang dari pusar ke sisi kanan bawah perut. Jika apendiks yang meradang sudah pecah, rasa sakit bisa menyebar ke seluruh area perut.

Gejala usus buntu yang pecah ini akan semakin memburuk, saat Anda berjalan, batuk, atau melewati polisi tidur di dalam mobil, seluruh dinding perut Anda bisa meradang. Jika ini gejala sakit perut ini, usus buntu mungkin akan hampir pecah atau mungkin sudah pecah.

2. Demam

Gejala demam umum terjadi pada orang yang mengalami radang usus buntu pecah. Ini karena demam merupakan respon kekebalan tubuh yang normal terjadi saat melawan infeksi dan sedang berusaha mengurangi jumlah bakteri yang menyerang tubuh.

Gejala ini dapat berupa suhu tubuh yang mencapai lebih dari 38,3 derajat Celsius, menggigil, berkeringat, dan adanya peningkatan denyut jantung pada pasien.

3. Mual, muntah, dan tidak nafsu makan

Radang usus buntu terkadang berdampak pada saluran pencernaan dan sistem saraf yang menyebabkan diare, mual dan muntah. Anda juga tentu jadi tidak nafsu makan ketika sistem pencernaan tidak beres.

4. Sering buang air kecil

Letak usus buntu lebih rendah di panggul, sehingga posisinya cukup dekat dengan kandung kemih. Ketika kandung kemih bersinggungan dengan usus buntu yang meradang, kandung kemih juga akan meradang. Akibatnya, Anda akan lebih sering buang air kecil dan mungkin terasa menyakitkan.

5. Linglung atau gelisah

Jika Anda bingung atau mengalami disorientasi (linglung) yang disertai dengan gejala usus buntu lainnya, ini mungkin pertanda usus buntu sudah pecah.

Bakteri yang menginfeksi usus buntu Anda kemungkinan sudah masuk ke peredaran darah yang dapat menyebabkan sepsis atau keracunan darah.

Sepsis terjadi karena zat kimia dari sistem imun tubuh yang masuk ke dalam pembuluh darah untuk melawan infeksi memicu respon peradangan di dalam tubuh. Hal ini bisa berakibat fatal.

Infeksi bisa semakin memburuk dan menghabiskan banyak oksigen, sehingga otak tidak mampu dan tidak dapat berfungsi dengan normal.

Cara tepat mengatasi radang usus buntu yang pecah

operasi usus buntu

Kondisi usus buntu yang sudah pecah harus diatasi dengan tindakan operasi. Namun, jenis operasi akan disesuaikan dengan seberapa parah kondisi pasien. American Pediatric Surgical Association menjelaskan berbagai tindakan yang biasanya tim medis lakukan untuk mengatasi usus buntu, di antaranya:

Apendektomi terbuka dan apendektomi laparoskopi

Apendektomi terbuka adalah prosedur medis yang dilakukan untuk menghilangkan radang usus buntu. Caranya, dengan membuat sayatan besar melintang di bagian kanan bawah perut. Setelah, jaringan yang mati, meradang, dan bermasalah diangkat, luka terbuka akan segera dijahit kembali.

Apendektomi laparoskopi juga bisa menjadi menjadi perawatan untuk usus buntu yang pecah. Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil, dan memasukan sebuah alat khusus yang dilengkapi kamera kecil untuk melihat kondisi peradangan di usus besar.

Selanjutnya, bagian usus yang bermasalah akan dipotong dan dibersihkan. Sayatan kecil yang dibuat akan segera dijahit.

Operasi usus buntu pecah yang disertai terbentuknya abses

Pada beberapa, usus buntu yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan terbentuknya abses, yakni benjolan berisi nanah. Sebelum dilakukan tindakan operasi, dokter akan lebih dahulu melihat kondisi abses melalui USG atau CT scan.

Jika ukurannya cukup besar, abses akan lebih dahulu dikeringkan. Caranya, mencari lokasi yang aman untuk membuat celah di abses sebagai jalur keluarnya cairan nanah. Biasanya , celah ini dibuat di sisi perut, lubang anus, atau bagian depan perut.

Setelah abses mengering, dokter akan memberikan obat antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi. Perawatan ini dapat dilakukan di rumah.

Dosis antibiotik pertama akan diberikan melalui suntikan di pembuluh darah. Selanjutnya, obat antibiotik akan diberikan lewat oral (obat minum). Obat diminum selama 2 hingga 4 minggu, tergantung keparahan abses yang dimiliki. Setelahnya, operasi usus buntu akan dilakukan.

Operasi usus buntu pecah yang disertai obstruksi usus

Kadang peradangan pada pecahnya usus buntu menyebabkan adanya jaringan parut di usus. Akibatnya, aliran makanan yang akan melewati usus akan tersumbat. Penyumbatan pada usus ini disebut dengan obstruksi usus. Bila kondisi ini terjadi, biasanya pasien akan mengalami gejala muntah berwarna hijau kekuningan.

Jika pasien menunjukkan gejala tersebut, dokter akan merekomendasikan tes pemindaian dengan sinar X atau CT scan untuk mengetahui letak obstruksi usus. Selanjutnya, dokter akan melakukan operasi terbuka di tengah perut.

Proses pemulihan pascaoperasi usus buntu pecah

periksa ke dokter

Proses pemulihan setelah operasi memakan usia 4 hingga 6 minggu. Selama beberapa hari setelah operasi, Anda akan diberikan obat penghilang rasa sakit. Biasanya obat yang diberikan adalah paracetamol atau ibuprofen. Anda mungkin membutuhkan bantuan orang lain atau kursi roda untuk berdiri atau berjalan setelah operasi.

Operasi yang dilakukan memengaruhi kinerja usus Anda. Oleh karena itu, Anda perlu menjalani diet yang sesuai sampai kondisi Anda membaik. Agar luka bekas sayatan tetap bersih dan kering, jangan mandi sampai dokter mengizinkan.

Hindari kegiatan apa pun yang bisa membuat luka sayatan bekas operasi jadi terbuka, contohnya olahraga. Umumnya, olahraga diperbolehkan dalam waktu 4 hingga 6 minggu setelah operasi usus buntu yang pecah.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: April 5, 2018 | Terakhir Diedit: Maret 20, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca