6 Pilihan Obat Antibiotik untuk Mengatasi Diare

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Diare umumnya terjadi akibat adanya infeksi bakteri, virus, maupun parasit yang menyerang sistem pencernaan. Masalah buang-buang air umumnya dapat sembuh sendiri dengan mengonsumsi banyak cairan dan cukup istirahat. Namun untuk beberapa kasus yang parah, diare mungkin harus diatasi dengan obat antibiotik dari dokter. Apa saja obat medis, seperti antibiotik yang ampuh untuk mengatasi diare? 

Obat antibiotik untuk mengatasi diare

Resep obat batuk antibiotik

Tidak sembarangan kasus diare yang bisa diobati dengan antibiotik. Antibiotik adalah obat untuk mematikan bakteri dalam tubuh sehingga hanya akan diresepkan jika penyebab diare adalah infeksi bakteri.

Di sisi lain, tidak sembarang pula antibiotik yang bisa diresepkan untuk masalah diare. Baik di apotek maupun toko obat, hanya menjual antibiotik untuk diare hanya dengan resep dokter. Pasalnya, kebanyakan efek samping dari antibiotik sebetulnya bisa mengganggu sistem pencernaan sampai menyebabkan diare.

Guna memastikan penyebab diare, dokter akan meminta Anda untuk melakukan uji sampel feses di laboratorium. Jika memang disebabkan oleh bakteri, dokter biasanya memberikan obat antibiotik untuk diare berikut.

1. Cotrimoxazole

Cotrimoxazole adalah antibiotik untuk diare yang mengandung dua jenis zat obat, sulfametoksazol dan trimetoprim. Cara kerja dari antibiotik untuk diare ini adalah menghentikan pertumbuhan bakteri di dalam tubuh.

Antibiotik ini biasanya diresepkan untuk kasus diare yang disebabkan oleh infeksi Escherichia coli (E. coli). Antibiotik untuk diare ini dapat dikonsumsi oleh anak-anak dan orang yang alergi terhadap penisilin. Akan tetapi, tidak cocok untuk orang yang alergi terhadap obat sulfonamid.

Dosis obat untuk diare ini diberikan berbeda-beda, tergantung usia dan berat badan pasien. Umumnya, orang dewasa akan diberikan 2 tablet sebanyak 2 kali sehari. Sementara untuk anak-anak dosisnya akan tergantung pada berat badan mereka. 

Efek samping yang paling umum dari antibiotik untuk diare ini adalah sakit kepala. Jika Anda mengalami ruam kulit atau reaksi jenis alergi apa pun, beri tahu dokter Anda segera. Setelahnya, Anda mungkin akan diresepkan antibiotik untuk diare lain dengan efek yang sama.

2. Cefixime 

Cefixime adalah antibiotik golongan sefalosporin yang bekerja melawan bakteri di tubuh Anda. Antibiotik ini diyakini manjur untuk memulihkan diare dengan cepat, terutama pada kasus gastroenteritis (muntaber) akibat infeksi bakteri Salmonella typhi.

Dari 68 peserta uji, sebagian diberikan cefixime dan sebagian lainnya diberikan pil plasebo (obat kosong) untuk mengobati diare. Hasilnya, orang yang mengonsumsi obat untuk diare ini lebih cepat sembuh daripada yang minum plasebo.

Pasien yang diobati dengan cefixime rata-rata membaik dalam waktu 55 jam setelah minum obat. Sementara orang yang diberikan pil kosong, kondisi mereka baru membaik setelah 80 jam.

Meski begitu, penelitian ini tidak menemukan cefixime dapat tuntas mematikan seluruh bakteri Salmonella Typhi yang menjadi penyebab diare. 

3. Metronidazole

Metronidazole adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati diare akibat infeksi bakteri atau infeksi parasit giardiasis. Infeksi Giardia umumnya menimbulkan kram perut, kembung, mual, dan serangan diare encer.

Dosis obat metronidazole biasanya diresepkan 250-750 mg untuk diminum tiga kali sehari selama 7 hingga 10 hari diare.

Antibiotik untuk diare ini punya efek samping seperti sakit kepala dan pusing. Maka, minum sesuai resep dan dosis dokter agar risikonya terminimalisir.

4. Azythromycin

Azythromycin adalah obat antibiotik golongan makrolida (termasuk juga eritromisin) yang bekerja melawan bakteri. Menurut studi tahun 2017 oleh International Journal of Infectious Disease, azitromisin umum digunakan untuk mengatasi diare wisatawan (Traveller’s Diarrhea) yang disebabkan oleh bakteri Campylobacter jejuni.

Penelitian tersebut mengamati kasus diare yang dialami oleh sejumlah wisatawan di Thailand, yang telah diminta minum obat azitromisin. Hasilnya, gejala diare mereka membaik dalam 72 jam setelah minum obat dengan dosis resep dokter. 

Antibiotik untuk diare ini memiliki efek samping seperti sakit perut ringan, kebelet buang air besar, mual, muntah, sembelit, dan perut kembung. Namun, efek samping ini termasuk ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya.

5. Ciprofloxacin 

Ciprofloxacin adalah antibiotik golongan fluoroquinolone. Antibiotik ini berguna untuk mengatasi bakteri Campylobacter jejuni dan Salmonella enteritidis penyebab diare.

Masih dalam penelitian yang sama seperti di atas, ciprofloxacin dianggap mampu menjadi obat antibiotik untuk diare dan akan diberikan apabila efek obat lini pertama seperti cotrimoxazole dan cefixime tidak ampuh. 

Terlebih, pemberian obat ciprofloxacin secara oral (diminum) diyakini akan lebih cepat diserap dengan baik oleh saluran cerna. Namun, pemberian obat ini hanya berlaku pada area atau daerah yang tidak memiliki kasus resistensi antibiotik fluoroquinolone.

6. Levofloxacin 

Levofloxacin adalah antibiotik fluoroquinolone yang satu golongan dengan ciprofloxacin. Obat antibiotik ini juga digunakan untuk membunuh bakteri penyebab diare.

Dokter bisa memberikan dosis obat antibiotik levofloxacin secara tunggal. Kerja obat antibiotik levofloxacin untuk mengatasi diare rata-rata sekitar 6 hingga 9 jam. Meski jarang, antibiotik untuk diare ini bisa menimbulkan efek samping seperti pusing, sakit kepala, dan sembelit.

Perawatan diare di rumah sembari minum obat

Gejala diare umumnya akan berangsur sembuh dalam 1 sampai 3 hari. Sembari menghabiskan antibiotik untuk diare yang diresepkan dokter, melakukan perawatan rumahan di bawah ini agar lebih cepat sembuh. Perawatan ini disebut juga obat alami untuk diare.

Berikut berbagai perawatan yang bisa Anda terapkan untuk menyembuhkan diare, seperti:

1. Konsumsi banyak cairan

Saat diare menyerang, tubuh akan kehilangan banyak cairan yang terus keluar bersama feses. Guna mencegah kekurangan cairan dalam tubuh, konsumsi cairan yang banyak selama diare.

Anda bisa minum air mineral yang banyak. Biasa juga dengan mengonsumsi sayur bayam bening atau sup ayam bening. Namun, saat disajikan sebaiknya tidak menambahkan cabai atau lada karena rasa pedas bisa memperparah gejala.

2. Minum oralit

Anda perlu mengonsumsi banyak cairan selama dan sesudah diare menyerang untuk mencegah dehidrasi. Selain minum banyak air putih, mungkin perlu juga untuk menambahkan minum larutan oralit selama sedang diare.

Cairan oralit dapat membantu menggantikan kadar elektrolit tubuh yang hilang karena Anda terus buang-buang air. Oralit bisa menjaga kadar mineral dan elektrolit dalam tubuh tetap seimbang sehingga menurunkan risiko Anda mengalami dehidrasi.

Anda bisa membeli oralit di apotek atau toko obat. Bisa juga membuat oralit sendiri dengan bahan yang ada di rumah. Cara membuat oralit sendiri adalah melarutkan 6 sendok teh gula pasir dan 1/2 sdt garam dalam 1 liter air. Setelahnya, aduk merata dan minum segelas tiap 4-6 jam sekali.

3. Makan makanan rendah serat

Pisang, nasi putih, roti tawar panggang (tanpa selai atau topping), dan apel yang dihaluskan merupakan makanan yang baik untuk diare karena rendah serat namun berkarbohidrat tinggi.

Saat diare, Anda dianjurkan mengonsumsi makanan tersebut untuk menjaga usus dan lambung tidak bekerja terlalu keras. Makanan rendah serat baik dikonsumsi karena memudahkan sistem pencernaan untuk memproses makanan di kala sedang terserang infeksi.

Makanan tersebut juga tinggi karbohidrat yang dapat cepat menghasilkan energi untuk membantu tubuh melawan bakteri penyebab diare.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 15, 2019 | Terakhir Diedit: Februari 17, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca