Apa Akibatnya Jika Diabetesi Terjangkit Tuberkulosis (TBC)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Diabetes melitus dan tuberkulosis (TBC) merupakan dua penyakit berbeda yang sama-sama umum terjadi di Indonesia. Berdasarkan data WHO pada tahun 2018, dengan total 842 ribu kasus setahun Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah TB tertinggi di dunia setelah India dan Cina. Begitu pula dengan kasus diabetes. Menurut hasil survei International Diabetes Foundation (IDF) tahun 2015, diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia saat ini sebanyak 9,1 juta dan akan meningkat sampai 21,3 juta orang pada tahun 2030.

Namun, tahukah Anda bahwa meski berbeda kedua penyakit ini saling berhubungan?

Kenapa diabetes dan TBC berhubungan?

Dilihat sekilas, diabetes dan TBC sama sekali berbeda. Baik dari sifat penyakitnya, penyebab, dan gejalanya. Namun, memiliki salah satu penyakit ini dapat meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit satunya.

Pada orang yang punya diabetes, misalnya. Diabetes adalah kondisi yang melemahkan sistem imun. Semakin tinggi kadar gula darah orang tersebut maka sistem imun tubuhnya semakin lemah. Ini dapat membuat Anda lebih rentan terserang infeksi.

Infeksi tuberkulosis sebenarnya termasuk menjadi salah satu komplikasi diabetes yang terselubung. Penderita diabetes bahkan dilaporkan berisiko tiga kali lipat untuk terinfeksi TBC yang lebih parah daripada orang lainnya. Hal ini disebabkan karena diabetes menyebabkan penurunan sitokin Th-1 yang berperan penting mengontrol dan menghambat perkembangan bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis bacilli.

Sebaliknya pun demikian. Pengidap TBC aktif cenderung mengalami peningkatan kadar gula darah yang tinggi, terutama jika infeksi tersebut tidak diobati dengan baik. Hal ini telah dibuktikan dalam riset Baghael, et al. Studi tersebut melaporkan sekitar 16,5-49% pengidap TB aktif mengalami intoleransi glukosa. Dari riset itu juga ditemukan bahwa sebanyak 56,6% dari orang tersebut kembali memiliki kadar gula darah normal setelah mendapat pengobatan TB rutin.

Orang yang mengidap TBC bahkan berisiko tinggi untuk meninggal akibat kekambuhan dan keparahan infeksinya jika ia juga menderita diabetes.

Pengobatan TBC dan diabetes juga saling berhubungan

Selain dari sifat penyakitnya yang berhubungan, pengobatannya pun demikian. Jika seorang pengidap TBC mengalami diabetes atau sebaliknya, besar risikonya dari kedua jenis obat itu akan berinteraksi. Interaksi antar obat dapat membuat zat obat bekerja tidak efektif, atau menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Misalnya, pemberian obat rifampicin untuk TBC yang dapat menurunkan kadar sulfonilurea (salah satu jenis obat diabetes) dalam darah. Hal ini disebabkan proses metabolisme sulfonilurea yang dipengaruhi oleh enzim CYP2C9. Sementara itu, obat rifampisin bekerja dengan merangsang enzim CYP. Akibatnya, kombinasi dari obat diabetes dan TBC ini dapat membuat sulfonilurea kurang efektif mengendalikan gula darah.

Tak hanya rifampisin saja. Pemberian obat TB golongan isoniazid juga akan memengaruhi kerja obat sulfonilurea untuk diabetes. Pasalnya isoniazid bekerja menghambat enzim CYP sehingga akan menyebabkan peningkatan kadar sulfonilurea dalam darah. Akibatnya, muncullah efek samping obat DM yang tidak diinginkan berupa hipoglikemia (penurunan kadar gula darah drastis)

Apa yang harus dilakukan bila mengalami diabetes dan TBC?

Setelah tahu bahwa diabetes dan TBC bisa saling berhubunga dan memengaruhi, maka baiknya Anda segera konsultasi ke dokter. Tujuannya tentu untuk mencari tahu seberapa besar risiko Anda mengalami dua penyakit ini bersamaan, dan mengetahui pilihan pengobatan yang aman.

Selain itu, penderita diabetes wajib melakukan tes TBC. Begitu pun sebaliknya, pengidap TBC sangat disarankan untuk menjalani tes diabetes dan cek gula darah mereka secara rutin.

Pastikan pula Anda rutin mengonsumsi obat yang diberikan dan menerapkan pola hidup sehat. Jaga pola makan Anda dan jangan atau berhenti merokok.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca