Indonesia adalah salah satu negara tropis yang menjadi habitat nyamuk demam berdarah. Oleh karena itu, demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama bagi masyarakat Indonesia. Dikutip dari Riskesdas Kemenkes RI, tercatat ada 1.200 orang yang dinyatakan meninggal dunia dari total 126 ribu kasus DBD di Indonesia pada tahun 2015. Jumlah tersebut dilaporkan meningkat dibandingkan pada tahun 2014. Data di atas menempatkan Indonesia sebagai negara nomor 1 di Asia Tenggara terkait kasus DBD. Bagaimana bisa penyakit DBD sebabkan kematian?

Demam berdarah dengue (DBD) beda dengan demam berdarah biasa

DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Namun lebanyakan orang masih sering rancu dengan istilah demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD).

Kedua jenis demam ini sama-sama disebabkan virus dengue, yang membedakannya adalah ada tidaknya kebocoran plasma. Demam dengue menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Sedangkan demam berdarah dengue (DBD) dapat menyebabkan kebocoran plasma yang mengakibatkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah tiba-tiba (syok), hingga bahkan kematian.

Peningkatan kasus DBD di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh mobilitas penduduk yang tinggi, perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, dan yang terpenting rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Komplikasi penyakit DBD dapat berujung kematian

Dibiarkan tanpa penanganan medis, DBD akan sembakin berkembang parah dan menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling mungkin terjadi adalah kerusakan pembuluh darah dan kelenjar getah bening, yang dapat menyebabkan perdarahan. Perdarahan akibat DBD biasanya ditandai dengan mimisan, gusi berdarah, dan/atau memar berwana keunguan yang terjadi tiba-tiba. Lambat laun perdarahan dalam ini dapat menyebabkan syok akibat tekanan darah yang menurun drastis dalam waktu singkat.

Terlebih, pasien DBD juga mengalami kebocoran plasma seperti yang telah dijelaskan di atas. Artinya, Anda akan tetap kehilangan cairan meskipun sudah banyak minum atau mendapatkan cairan infus. Inilah yang paling sering mengakibatkan terjadinya syok. Jika DBD sampai pada tahap syok, kondisi ini disebut sebagai dengue shock syndrome (DSS) dan dapat menyebabkan kegagalan sistem organ yang berujung pada kematian.

Jangan sepelekan demam berdarah dengue

Anda harus waspada terhadap perdarahan dan dengue shock syndrome sebagai dua komplikasi demam dengue yang mematikan. Kedua kondisi tersebut bisa dibilang jarang terjadi, namun khususnya lebih berisiko pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi. Selain itu, komplikasi DBD juga paling tinggi pada orang yang sebelumnya pernah terkena demam dengue dari tipe virus berbeda.

Itu sebabnya penting untuk cepat-cepat mendapatkan pertolongan medis jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala penyakit DBD atau demam dengue. Selain memberikan tambahan cairan lewat infus, dokter biasanya juga dapat melakukan transfusi darah untuk mengganti darah yang berkurang, serta memonitor tekanan darah pasien.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca