Tiga miliar orang berisiko menderita demam berdarah dengue (DBD). Hal ini membuat DBD jadi salah satu infeksi virus yang ditularkan lewat nyamuk paling berpengaruh di dunia, di mana terdapat 390 juta infeksi dengue setiap tahun. 

Indonesia sendiri merupakan negara kedua terbanyak dengan kasus DBD setelah Brazil. Penyakit ini juga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. Kerugian ini diperkirakan mencapai 300 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau 3,9 triliun rupiah per tahunnya. 

Melihat kenyataan diatas, kebutuhan akan vaksin DBD jadi semakin mendesak dan para peneliti terus berusaha untuk membuat vaksin terhadap virus dengue. Akhirnya, setelah 20 tahun dilakukan penelitian, vaksin DBD telah berhasil dibuat dan disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO pada tahun 2015 silam.

Mengenal vaksin DBD merek Dengvaxia®

Vaksin DBD yang berhasil diproduksi dan diuji oleh Sanofi Pasteur dikenal dengan nama Dengvaxia®. Vaksin ini jadi vaksin DBD yang pertama di dunia. Selama 20 tahun, Dengvaxia® telah menjalani 25 uji klinis yang tersebar di 15 negara di dunia. Sudah ada puluhan ribu peserta penelitian yang menjalani uji klinis terhadap vaksin dengue ini. 

Sebuah penelitian mengenai kemanjuran Dengvaxia® pada anak usia sekitar 9 tahun menyimpulkan bahwa vaksin ini ampuh mencegah infeksi empat jenis virus dengue dengan tingkat keberhasilan hingga 66 persen. Penelitian ini diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine tahun 2015.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa vaksin DBD Dengvaxia® dapat mengurangi kemungkinan pasien DBD untuk rawat inap (opname) di rumah sakit. Selain itu, Dengvaxia® bisa mencegah infeksi virus dengue bertambah parah pada pasien. 

Bagaimana dengan izin edar vaksin DBD ini?

Dengvaxia® telah disetujui oleh WHO pada akhir tahun 2015. Meksiko menjadi negara pertama yang mengizinkan vaksin ini. Jangan khawatir, vaksin DBD ini telah selesai menjalani uji klinis fase III untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya. Di Asia Tenggara sendiri uji klinis fase III telah selesai dilaksanakan pada 2017.

Di Indonesia sendiri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin edar Dengvaxia® sejak September 2016. Ini berarti Indonesia adalah negara kedua yang menyetujui penggunaan vaksin DBD. Hingga tahun 2017, sudah ada total sebelas negara yang mengizinkan peredaran vaksin Dengvaxia®. Di antaranya adalah Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brazil, Puerto Rico, Meksiko, Honduras, Singapura, dan Kolombia.

Siapa saja yang boleh mendapatkan vaksin DBD?

Vaksin ini boleh diberikan pada anak-anak mulai usia 9 tahun. Sedangkan anak-anak usia di bawah 9 tahun belum dianjurkan untuk menjalani imunisasi demam berdarah dengan vaksin ini. Menurut penelitian, pemberian vaksin dengue pada anak di bawah 9 tahun, terutama usia 2-5 tahun, justru memberikan risiko rawat inap dan risiko terinfeksi dengue berat yang lebih besar.

Anak-anak yang sudah pernah terinfeksi dengue juga perlu diberikan vaksin ini. Pasalnya, anak tidak mungkin terinfeksi oleh keempat jenis virus dengue pada waktu yang bersamaan. Masalahnya, apabila seorang anak menderita penyakit demam berdarah dengue oleh salah satu tipe, maka anak masih mungkin terinfeksi dengue oleh jenis virus dengue lainnya.

Kapan vaksin ini sebaiknya diberikan?

Pemberian vaksin DBD akan optimal jika diberikan pada usia 9 hingga 16 tahun sebanyak tiga kali dengan jarak tiap imunisasi yaitu enam bulan. Pemberian vaksin dapat diberikan kapan saja antara usia 9 sampai 16 tahun.

imunisasi mempengaruhi kecerdasan anak

Di mana bisa mendapatkan imunisasinya?

Saat ini vaksin demam berdarah belum masuk program pemerintah. Sehingga untuk mendapatkannya secara gratis di Puskesmas masih belum memungkinkan. Vaksin demam berdarah bisa Anda dapatkan di rumah sakit atau prakter dokter anak tertentu.

Vaksin Dengvaxia® dibanderol dengan harga kurang lebih satu juta rupiah untuk sekali imunisasi. Sedangkan imunisasi demam berdarah harus dilakukan sebanyak tiga kali. Harga tersebut memang mahal, tapi tentu jauh lebih murah daripada biaya yang harus dikeluarkan bila anak dirawat di rumah sakit akibat DBD.

Apakah vaksin Dengvaxia® dapat menghentikan persebaran penyakit DBD?

WHO merekomendasikan agar daerah endemik DBD, salah satunya Indonesia, segera memberikan vaksin demam berdarah secara gencar. Pemberian vaksin diharapkan mampu mencegah persebaran penyakit. WHO menargetkan agar pada tahun 2020, angka morbiditas (orang yang kena penyakit) bisa berkurang hingga 25 persen. Angka kematian juga diyakini dapat ditekan hingga 50 persen.

Namun, untuk mencapai target tersebut tentu tidak mudah. Diperlukan kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah. Selain harganya yang mahal dan belum ditanggung pemerintah, diperlukan promosi yang luas mengingat masih banyak masyarakat yang belum paham soal imunisasi, terutama vaksin DBD yang terhitung masih baru. Oleh karena itu, marilah saling membagikan informasi penting mengenai vaksin demam berdarah ini. Selain itu, jangan lupa untuk memberikan vaksin demam berdarah pada Anda sekeluarga.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca