Waspadai Penyebab TBC, Penyakit Menular dan Mematikan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Tuberkulosis (TBC) jadi salah satu dari 10 penyakit mematikan di dunia. Orang yang terkena penyakit ini biasanya ditandai dengan gejala batuk terus-menerus, disertai menurunnya berat badan, kadang sesak napas, dan berkeringat di malam hari walaupun tidak sedang melakukan aktivitas. Lantas, sebenarnya apa penyebab dari TBC? Simak ulasannya berikut ini.

Bakteri M. tuberculosis adalah penyebab tunggal penyakit TBC

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan utama manusia, yaitu paru. Namun, dapat juga menyebar ke bagian tubuh yang lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak jika tidak diobati. Penyebab TBC adalah bakteri jenis Mycobacterium tuberculosis.

Mycobacterium tuberculosis atau tubercle bacilli merupakan patogen yang telah ditemukan sejak ribuan tahun lalu. Bakteri ini termasuk dalam spesies mikrobakteria, yang juga meliputi M. bovisM. africanumM. microti, M. caprae, M. pinnipediiM. canetti, dan M. mungi. Seluruh mikrobakteria ini disebut dengan M. tuberculosis kompleks.

Hampir seluruh bakteri tersebut dapat memicu terjadinya penyakit pada manusia. Namun, yang biasanya menjadi bakteri penyebab utama TBC adalah M. tuberculosis.

Kemunculan bakteri ini memang masih belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan berasal dari hewan-hewan ternak. Persebaran bakteri M. tuberculosis pada awalnya masih sangat rendah, hingga akhirnya pada awal abad 17 bakteri ini mulai mewabah saat terjadi peningkatan angka urbanisasi di Eropa Barat.

Jumlah warga yang meningkat membuat bakteri tersebut mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Wabah inilah yang dikenal dengan The Great White Plague, di mana wabah tersebut memakan korban jiwa sebanyak seperempat populasi warga Eropa.

Kasus kejadian TBC di dunia

Hingga saat ini, TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang mendapat perhatian, terutama di negara-negara berkembang. Infeksi bakteri penyebab tuberkulosis menempati posisi ke-2 penyebab kematian tertinggi di dunia.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar satu perempat dari seluruh penduduk di dunia memiliki bakteri penyebab TBC dalam tubuhnya, tapi tidak semuanya akan jatuh sakit setelah terpapar bakteri.

Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan terdapat dua kondisi TBC yang perlu Anda pahami, yaitu TBC laten dan aktif. TBC laten adalah kondisi di mana bakteri ada di dalam tubuh, tapi tidak aktif. Sementara itu, TBC aktif adalah kondisi ketika bakteri telah menimbulkan gejala dan dapat ditularkan ke orang lain. Selengkapnya akan dibahas di bagian berikutnya.

Sekitar 5 sampai 10 persen dari bakteri yang benar-benar akan menyebabkan TBC aktif dan akan menularkannya pada orang lain. Penyebaran bakteri paling aktif akan terjadi saat paru sudah mulai rusak akibat bakteri itu sendiri atau rusak oleh penyakit lain, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Namun, bakteri dapat menyerang paru dengan mudah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, terutama pada pasien HIV/AIDS,  kekurangan gizi, diabetes, dan berisiko tinggi terjadi pada perokok aktif.

Bagaimana bakteri penyebab TBC dapat menular?

bakteri adalah

Bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar melalui udara. Sama seperti flu, bakteri akan berpindah dari orang yang terinfeksi TBC ke orang yang sehat melalui tetesan air liur, yang biasanya terjadi saat batuk, bersin, meludah, bahkan berbicara.

Bakteri yang terbawa bersama tetesan air liur ini bisa terhirup dan mengendap di permukaan alveoli paru. Alveoli adalah gelembung-gelembung kecil di dalam paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dengan karbon dioksida.

Bakteri yang aktif bisa berkembang biak menyebabkan kerusakan pada bagian alveolus. Tanpa perawatan, bakteri bisa terbawa bersama darah dan menyerang ginjal, sumsum tulang, belakang, dan otak yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, seseorang dapat menularkan bakteri M. tuberculosis apabila memenuhi kriteria di bawah ini:

  • Batuk selama 3 minggu atau lebih
  • Menderita penyakit saluran pernapasan, terutama yang memengaruhi pangkal tenggorokan (laring) dan paru-paru
  • Tidak menutup mulut dan hidung saat batuk
  • Tidak mendapatkan pengobatan yang tepat (kombinasi obat-obatan yang salah, durasi pengobatan yang kurang lama)
  • Menunjukkan hasil positif saat menjalani tes kultur M. tuberculosis di dalam dahak

Selain itu, terdapat pula beberapa faktor lingkungan yang berperan dalam penularan M. tuberculosis:

  • Tempat yang sempit dan tertutup
  • Udara yang mengandung uap air dengan bakteri M. tuberculosis di dalamnya
  • Ruangan atau tempat dengan ventilasi udara yang buruk

Semakin lama seseorang berada di tempat atau ruangan dengan kriteria-kriteria di atas, maka semakin tinggi pula risikonya untuk terpapar bakteri penyebab TBC.

Bagaimana proses infeksi dapat terjadi di dalam tubuh?

Infeksi dapat terjadi ketika seseorang menghirup tetesan air liur yang mengandung bakteri penyebab TBC, yaitu M. tuberculosis. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bakteri akan mencapai alveoli yang terdapat di dalam paru-paru.

Ketika M. tuberculosis masuk ke dalam alveoli, sebenarnya sebagian besar dari bakteri tersebut sudah mati berkat adanya makrofag, yaitu salah satu bagian dari sel darah putih. Namun, sebagian kecil dari bakteri yang tersisa akan berkembang biak di dalam sel-sel pada alveoli paru-paru Anda.

Dalam 2 hingga 8 minggu, makrofag akan mengelilingi sisa bakteri yang ada. Sel-sel makrofag akan membentuk dinding yang menyelimuti sisa bakteri di dalam alveoli. Dinding yang disebut dengan granuloma ini akan menjaga supaya perkembangan bakteri-bakteri tersebut tetap terkendali.

Akan tetapi, jika sistem kekebalan tubuh tidak dapat menahan perkembangan M. tuberculosis, bakteri tersebut akan tumbuh secara tidak terkendali. Lama kelamaan, dinding granuloma pun dapat dirusak dan bakteri menyebar ke luar paru-paru.

Bakteri penyebab TBC tersebut dapat memasuki aliran darah atau kanal limfatik tubuh Anda. Kemudian, bakteri yang telah memasuki aliran darah berpotensi mencapai organ-organ tubuh lainnya, seperti ginjal, otak, kelenjar getah bening, serta tulang.

1. Penyebab infeksi TBC laten

Di bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa infeksi TB laten adalah kondisi ketika bakteri penyebab tuberkulosis telah memasuki tubuh Anda, namun bakteri masih belum berkembang secara aktif.

Dengan kata lain, Anda sebenarnya belum menderita penyakit TBC dan tidak dapat menyebarkan infeksi bakter ke orang lain, meskipun bakteri sudah ada di dalam paru-paru Anda.

Proses infeksi TBC laten terjadi ketika M. tuberculosis diserang oleh makrofag dan sel-sel darah putih lainnya. Kondisi ini memicu respons imun tubuh untuk membunuh dan menyelimuti sebagian besar bakteri dengan cara membentuk dinding granuloma.

Pada titik ini, Anda dapat dikatakan memiliki infeksi TBC laten. Bakteri penyebab TBC tersebut dapat terdeteksi ketika Anda menjalani tes uji tuberkulin atau tes interferon-gamma release assay (IGRA). Biasanya, infeksi TBC laten akan terdeteksi oleh kedua tes tersebut setelah 2-8 minggu sejak Anda pertama kali terpapar bakteri.

Dalam waktu beberapa minggu tersebut, sistem kekebalan tubuh biasanya dapat mencegah perkembangbiakan bakteri, sehingga bakteri tidak akan menyebar.

2. Penyebab penyakit TBC aktif

Pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh tidak mampu menahan perkembangbiakan bakteri M. tuberculosis di dalam paru. Akibatnya, kondisi infeksi TBC laten yang Anda derita dapat berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

Ketika TBC laten telah berubah status menjadi penyakit TBC, ini berarti Anda dapat menularkan bakteri penyebab TBC ke orang-orang di sekitar Anda. Perubahan TBC laten menuju penyakit TBC aktif biasanya terjadi mulai dari beberapa bulan hingga tahun setelah pertama kali terpapar bakteri.

Selain dapat ditularkan ke orang lain, bakteri juga berpotensi terbawa oleh darah menuju organ lain di dalam tubuh Anda.

Penyebab TBC resisten obat

Salah satu jenis TBC aktif, yaitu TBC resisten obat, disebabkan oleh bakteri M. tuberculosis yang kebal terhadap obat-obatan yang biasa digunakan untuk menyembuhkan TBC.

Pada dasarnya, penularan TBC resisten obat dan TBC biasa pun sama saja. Selain itu, baik TBC jenis resisten obat dan biasa memiliki tingkat penularan yang sama. Akan tetapi, bila TBC resisten obat terlambat dideteksi, hal ini menyebabkan penyakit lebih cepat menular dan semakin sulit diatasi dengan obat.

Terdapat 2 jenis TBC resisten obat, yaitu multidrug-resistant TB (TB MDR) dan extensively drug-resistant TB (TB XDR). Berikut penjelasannya:

  • TB MDR

Penyebab tuberkulosis jenis MDR adalah bakteri yang kebal terhadap obat-obatan anti TBC yang bahkan paling efektif dan sering digunakan untuk menangani penyakit ini, seperti isoniazid dan rifampicin.

Isoniazid dan rifampin biasanya diberikan kepada penderita TBC sebagai pengobatan pertama kali, atau yang biasa disebut dengan pengobatan lini pertama.

  • TB XDR

Sementara itu, TB XDR adalah kondisi yang sangat langka, di mana bakteri penyebab TBC bahkan sudah kebal terhadap pengobatan lini kedua. Obat-obatan yang tergolong dalam pengobatan lini kedua adalah fluoroquinolone, amikacin, dan kanamycin.

Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh dua hal. Pertama, penderita TB XDR mungkin awalnya menderita TBC biasa, namun tidak menjalani atau menyelesaikan pengobatan dengan benar. Misalnya mengonsumsi obat dengan dosis yang salah, atau berhenti minum obat begitu saja.

Kemungkinan kedua adalah, penderita TB XDR tertular bakteri dari penderita lain dengan kondisi yang sama. Ini artinya, bakteri yang ditularkan memang sudah memiliki sifat kebal terhadap obat-obata sejak awal, baik pengobatan lini pertama maupun kedua.

Apa saja faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena TBC?

Faktor-faktor risiko yang akan dijelaskan di sini adalah kondisi yang memicu TBC laten berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

Tanpa pengobatan yang tepat, sekitar 5% orang dengan bakteri M. tuberculosis laten di dalam tubuhnya akan mengembangkan penyakit TBC aktif dalam 2 tahun pertama setelah terpapar bakteri. Sementara itu, 5% lainnya akan mengembangkan penyakit ini di atas 2 tahun setelah terkena bakteri.

Ini artinya, orang-orang dengan bakteri penyebab TBC di tubuhnya memiliki peluang 10% seumur hidupnya untuk terkena TBC aktif. Akan tetapi, itu adalah angka peluang untuk orang-orang tanpa faktor risiko. Bila Anda memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko, tentu peluang yang Anda miliki jauh lebih tinggi.

Lalu, faktor-faktor seperti apa yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit TBC? Berikut ulasannya:

1. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk

Pada tubuh seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, bakteri penyebab TBC dapat dibunuh dan dinonaktifkan dalam paru-paru. Namun, apabila sistem kekebalan tubuh Anda bermasalah, tubuh tidak dapat melawan serangan infeksi dari luar dengan maksimal.

Akibatnya, bakteri M. tuberculosis dapat berkembang menjadi TBC aktif. Terdapat beberapa kondisi kesehatan, penyakit, dan obat-obatan yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, yaitu:

  • Penyakit HIV/AIDS
  • Diabetes melitus
  • Leukemia
  • Silikosis
  • Penyakit ginjal yang parah
  • Kanker jenis tertentu
  • Menjalani pengobatan kanker, seperti kemoterapi
  • Mengonsumsi obat-obatan imunosupresan untuk mencegah penolakan organ tubuh yang ditransplantasi
  • Mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi rheumatoid arthritis, penyakit Crohn, dan psoriasis
  • Mengalami malnutrisi
  • Memiliki berat badan di bawah normal
  • Masih terlalu muda, sehingga sistem kekebalan tubuh belum terbentuk dengan sempurna

Penderita diabetes yang memiliki bakteri penyebab TBC di dalam tubuhnya memiliki peluang mengembangkan TBC aktif lebih tinggi dibanding orang normal. Peluang tersebut dapat meningkat hingga sebesar 30% seumur hidupnya.

Lain lagi dengan penderita HIV/AIDS. Orang-orang dengan infeksi HIV/AIDS dan bakteri TBC di dalam tubuhnya memiliki peluang sebesar 7-10% setiap tahunnya untuk menderita TBC aktif. Persentase tersebut tentunya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang normal tanpa faktor risiko, serta penderita diabetes.

2. Bepergian, tinggal, atau bekerja di daerah tertentu

Selain karena menderita penyakit atau kondisi kesehatan tertentu, seseorang juga berisiko terjangkit penyakit TBC jika sedang bepergian atau tinggal di suatu daerah dengan kasus kejadian TBC yang tinggi.

Bakteri penyebab TBC paling banyak ditemukan di negara-negara berkembang, seperti negara-negara yang berada di:

  • Afrika
  • Eropa Timur
  • Asia, terutama Asia Tenggara
  • Rusia
  • Amerika Latin
  • Kepulauan Karibia

Tidak hanya negara tempat Anda tinggal saja, faktor lain yang menentukan penularan TBC adalah lingkungan tempat Anda bekerja. Misalnya bekerja di rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat di daerah endemik TBC.

Baik pekerja rumah sakit, puskesmas, maupun klinik sama-sama memiliki peluang yang besar untuk terpapar bakteri tuberkulosis. Maka itu, penting bagi para pekerja tersebut untuk menggunakan masker dan sering mencuci tangan ketika sedang menangani pasien penderita TBC.

Selain rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya, penularan penyakit TBC juga lebih mudah terjadi di fasilitas penampungan. Misalnya penjara, tempat penampungan anak jalanan, panti, atau pengungsian. Orang-orang yang berada di tempat-tempat tersebut jauh lebih mudah terkena TBC.

Lebih lanjut lagi, penyebab penularan TBC tidak selalu berkaitan dengan seberapa tinggi kasus kejadiannya, namun juga bagaimana akses seseorang terhadap fasilitas kesehatan yang layak.

Seseorang yang tinggal di daerah terpencil dengan fasilitas kesehatan yang minim juga berisiko tinggi mengembangkan penyakit TBC aktif.

3. Merokok, minum minuman beralkohol, dan mengonsumsi obat-obatan terlarang

Faktor risiko lain yang memicu bakteri penyebab TBC untuk berkembang menjadi aktif adalah rokok, alkohol, serta obat-obatan rekreasional, seperti narkoba.

Zat-zat berbahaya yang terdapat di dalam rokok, alkohol, dan obat-obatan tersebut berpotensi melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Ini artinya, peluang Anda untuk menderita penyakit TBC pun dapat meningkat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 14, 2018 | Terakhir Diedit: November 19, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca