Autisme adalah kelainan perkembangan otak yang memengaruhi keterampilan seseorang untuk berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi, dan berpikir. Selain itu, anak autisme sering melakukan gerakan berulang yang disebut stimming. Dengan perawatan dan terapi autisme yang tepat, anak dengan kondisi ini bisa hidup lebih baik ke depannya.
Lantas, apa saja terapi dan perawatan yang tepat untuk anak autis? Simak pilihannya pada ulasan berikut ini.
Pilihan terapi untuk anak autisme
Tidak ada satu obat yang dibuat khusus untuk mengobati anak autis, tapi ada banyak pilihan terapi yang bisa dipilih.
Autisme tidak dapat disembuhkan total. Namun, terapi dapat membantu mengendalikan gejala sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional seseorang dalam menjalani kehidupan.
Perlu diingat pula bahwa kondisi autisme pada setiap orang itu berbeda-beda.
Ada yang gejalanya masih ringan sehingga butuh satu atau dua jenis terapi saja. Ada pula yang lebih parah sehingga membutuhkan rangkaian terapi yang lebih beragam.
Maka, Anda akan sangat disarankan untuk mengikuti anjuran dokter. Lebih jelasnya, mari bahas satu per satu pilihan terapi untuk autisme.
1. Terapi edukasi
Tim spesialis akan bekerja sama untuk menyiapkan berbagai aktivitas lewat terapi edukasi.
Tujuan dari terapi ini adalah membantu anak autis dalam mengasah keterampilan, perilaku, serta kemampuannya berkomunikasi.
Program ini bisa sangat terstruktur dan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik masing-masing orang.
Penderita autisme sering menerima kombinasi dari kelas pribadi, kelas kelompok kecil, dan kelas biasa.
2. Terapi okupasi
Terapi okupasi bertujuan membantu anak autis untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya.
Mereka akan belajar untuk mengatasi masalah dalam kehidupan dan memaksimalkan kemampuan mereka serta kebutuhan dan minat mereka.
Beberapa keterampilan yang diajarkan kepada anak autisme pada terapi ini adalah cara menggunakan sendok dengan benar saat makan atau cara berpakaian.
3. Terapi keluarga
Terapi keluarga berfokus pada mengajarkan orangtua, pengasuh, dan anggota keluarga lainnya untuk berkomunikasi, bermain, dan membesarkan anak autisme dengan berbagai cara khusus.
Pasalnya, anak-anak dengan kondisi ini tidak dapat dihadapi dan diasuh dengan cara yang biasanya diterapkan pada anak yang normal.
Dengan terapi ini, anak dengan autisme dapat belajar keterampilan baru dan memperbaiki perilakunya yang tidak diinginkan dengan bantuan dan dukungan keluarganya.
4. Obat-obatan
Obat-obatan memang memberikan sedikit manfaat untuk gejala utama pada anak autis.
Akan tetapi, obat-obatan bisa memperbaiki masalah dan kondisi yang berkaitan seperti depresi, gangguan tidur, gangguan cemas, epilepsi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan perilaku agresif seperti melukai diri sendiri.
Para ahli menganjurkan penggunaan obat-obatan bersamaan dengan terapi autisme lainnya, misalnya CBT.
Obat yang umum digunakan dalam perawatan autisme meliputi obat antidepresan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), trisiklik, dan obat-obatan antipsikotik.
Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping, sehingga sangat penting untuk mengikuti petunjuk dokter, baik penentuan dosis, jenis obat, hingga masa penggunaan obat.
5. Terapi fisik
Beberapa anak dengan kelainan ini bisa mengalami masalah pergerakan.
Terapi fisik untuk anak autis mencakup latihan spesifik guna meningkatkan kesehatan, kekuatan, keseimbangan, dan postur mereka.
Terapis fisik akan membantu penderita autisme dengan merancang program tepat dan mengajarkannya cara melakukan aktivitas fisik.
6. Memantau asupan nutrisi dan pola makan
Beberapa penderita autisme berisiko kekurangan nutrisi. Ini terjadi karena mereka hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu.
Beberapa di antaranya bahkan menghindari makan karena mereka sensitif terhadap pengaturan cahaya atau perabotan di ruang makan.
Mereka juga tidak mau makan karena percaya bahwa makan bisa memicu gejala autis kumat. Hal ini tentu berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Oleh karena itu, orangtua dan pengasuh harus bekerja bersama ahli gizi untuk membuat rencana makan untuk penderita autisme.
Nutrisi yang baik sangat diperlukan karena penderita autisme cenderung memiliki tulang yang lebih tipis dan masalah pencernaan (sembelit, sakit perut, muntah).
7. Pelatihan keterampilan sosial
Salah satu terapi untuk anak autis yang sangat bermanfaat yaitu pelatihan keterampilan sosial.
Pelatihan ini membantu penderita autisme belajar cara berinteraksi dengan orang lain.
Berbagai kegiatan yang diasah dalam pelatihan ini adalah bekerja sama dalam tim, menjawab dan mengajukan pertanyaan, melakukan kontak mata, memahami bahasa tubuh, hingga mencari penyelesaian masalah bersama dengan orang lain.
8. Terapi wicara
Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi penderita autisme.
Beberapa orang memiliki masalah dengan keterampilan komunikasi verbal seperti berbicara atau memahami apa yang orang lain katakan.
Terapi ini akan membantu mereka dalam memberikan penjelasan yang lebih baik atas pemikiran dan perasaan mereka, menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat, atau memperbaiki ritme berbicara mereka.
Kemampuan berkomunikasi secara nonverbal juga akan dilatih. Misalnya kemampuan mengartikan gerak-gerik tubuh, mengenal berbagai ekspresi wajah, dan sebagainya.
9. Terapi perilaku kognitif (CBT)
Terapi perilaku kognitif (CBT) menggunakan kaitan antara perasaan, pikiran, dan perilaku untuk membantu penderita autis mengatasi kecemasan, menghadapi situasi sosial, dan menyadari emosinya dengan lebih baik.
Dalam terapi ini, dokter, penderita autisme, dan orangtuanya (atau pengasuhnya) bekerja bersama untuk menetapkan tujuan yang spesifik.
Penderita akan belajar menentukan dan mengubah pemikiran yang menyebabkan perilaku dan perasaan yang bermasalah secara perlahan-lahan.
Terapi perilaku kognitif dapat disesuaikan dengan kelemahan dan kekuatan masing-masing penderita.
Lamanya masa terapi bergantung dengan tingkat kemajuan penderita dalam mengikuti semua sesinya.
10. Terapi manajemen perilaku
Terapi manajemen perilaku mengutamakan dukungan positif, latihan keterampilan, dan bantuan diri sendiri untuk mengembangkan perilaku yang diinginkan sekaligus mengurangi perilaku yang tidak diinginkan pada anak autis.
Pendekatan perawatan yang diterima secara umum kepada orang dengan autisme disebut dengan analisis perilaku terapan (ABA).
Menurut National Institute of Health, ABA memiliki beberapa jenis yang dapat meliputi berikut ini.
- Perilaku dan dukungan positif (PBS). PBS mencoba untuk mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru pada pengidap autisme, dan membuat perubahan lainnya untuk mendukungnya berperilaku dengan benar.
- Intervensi perilaku intensif dini (EIBI). Terapi EIBI ditujukan untuk anak autis usia dini (biasanya di bawah usia 5 tahun). Terapi ini membutuhkan instruksi dan mengatur perilaku satu orang ke orang lainnya atau dalam kelompok kecil.
- Pelatihan tanggapan vital (PRT). PRT bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar, mengendalikan perilakunya sendiri, dan mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Perubahan dalam perilaku-perilaku ini bisa membantu penderita mengatasi berbagai situasi, contohnya ketika anak bertemu dengan orang baru.
- Pelatihan percobaan diskrit (DDT). DTT adalah terapi pengajaran yang menggunakan cara langkah demi langkah pada anak autis. Pelajaran akan dibagi menjadi beberapa bagian dan terapis menggunakan umpan balik positif, seperti penghargaan atas perilaku positif anak selama mengikuti terapi.
11. Intervensi dini
Diagnosis dan perawatan dini dapat membantu mengendalikan gejala autisme.
Intervensi dini mengajarkan anak dengan autisme untuk belajar keterampilan dasar seperti berpikir dan membuat keputusan serta keterampilan sosial dan emosional.
Terapi dan intervensi yang tepat dapat membantu penderita autisme memaksimalkan dan mendorong kemampuan mereka.
Jika Anda curiga anak Anda mengidap autisme, konsultasikan kepada dokter sesegera mungkin sehingga perawatan dan terapi autisme dapat dimulai di waktu yang lebih tepat.
Jangan lupa untuk meningkatkan pengetahuan diri mengenai fakta seputar autisme dan cara mengasuh mereka lewat konsultasi dokter, membaca buku, atau mengikuti komunitas yang berkaitan.
Kesimpulan
- Terapi untuk anak dengan autisme bertujuan untuk mengelola gejala dan meningkatkan kemampuan fungsional mereka.
- Terapi yang disarankan meliputi terapi manajemen perilaku, terapi perilaku kognitif (CBT), terapi edukasi, terapi okupasi, dan terapi keluarga.
- Metode ini membantu anak dalam berinteraksi sosial, mengembangkan keterampilan sehari-hari, serta meningkatkan komunikasi dan perilaku positif.
- Meskipun tidak ada obat khusus untuk autisme, terapi yang tepat dapat membantu anak menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan berkualitas.