home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

6 Mitos Seputar Tuberkulosis (TBC) yang Ternyata Salah Besar

6 Mitos Seputar Tuberkulosis (TBC) yang Ternyata Salah Besar

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Banyaknya jumlah kasus TBC di Indonesia dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat yang keliru soal penyakit ini. Tidak sedikit orang yang masih percaya pada mitos-mitos TBC yang sebenarnya tidak terbukti secara medis. Akibatnya, muncul banyak stigma negatif yang membuat banyak penderita TBC ragu untuk menjalani pengobatan sedari awal dan akhirnya terlambat ditangani.

Jika mitos tentang TBC adalah pemahaman umum yang salah kaprah, lantas seperti apa fakta sebenarnya?

Mitos TBC yang ternyata salah besar

Tuberkulosis merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan intensif dan lengkap.

Jika terlambat melakukan pengobatan TBC, tidak hanya kondisi penderita yang bisa terancam, tetapi penularan TBC juga bisa lebih meluas.

Oleh karena itu, Anda perlu memahami penyakit ini dengan lebih baik. Anda dapat memulainya dengan memeriksa kembali fakta yang teruji dibalik mitos mengenai penyakit TBC.

Berikut beberapa mitos tentang TBC yang sebenarnya salah, tapi masih dipercaya banyak orang.

1. TBC adalah penyakit turunan

Mitos tentang TBC ini SALAH. TBC atau tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini memang lebih sering menyebar di antara anggota keluarga, tapi tidak ada hubungannya dengan genetik atau riwayat kesehatan keluarga.

Bakteri penyebab tuberkulosis menyebar ke udara lewat percikan air liur yang keluar dari mulut ketika pengidapnya batuk, bersin, tertawa, atau berbicara — dan kemudian dihirup oleh orang lain.

Ketika Anda menghabiskan banyak waktu beraktivitas di sekitar pengidap TBC tanpa perlindungan (misalnya masker), lambat laun Anda mungkin saja tertular penyakit TBC.

Pasalnya, bakteri TBC dapat menyebar lebih cepat di ruangan tertutup, terutama dengan kondisi ventilasi yang buruk.

Itulah sebabnya penularan TBC mungkin lebih sering terjadi di rumah. Sekolah, panti, atau penjara juga menjadi tempat yang berisiko terhadap penularan.

Walau demikian, bukan berarti tinggal serumah dengan pasien TBC akan langsung membuat Anda tertular TBC juga.

Kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, dan kebersihan pribadi Anda akan menentukan tinggi rendahnya risiko Anda tertular.

2. TBC adalah penyakit masyarakat ekonomi menengah ke bawah

Mitos TBC ini kerap menjadi stigma untuk masyarakat di kalangan ekonomi bawah. Padahal, ini juga salah.

Penyakit TBC bisa menyerang siapa pun yang terinfeksi oleh bakteri tuberkulosis.

Data terbaru dari Pusat Data dan Informasi Kemenkes tahun 2018 mencatat bahwa kasus TBC di Indonesia—diukur dari data tes dahak (BTA) positif—jumlah terbanyak ditemukan pada kelompok orang berusia di atas 15 tahun ke atas. Tidak ada perbedaan jumlah kasus yang besar antara kelompok ekonomi terbawah sampai dengan menengah atas.

Dapat disimpulkan bahwa hampir semua masyarakat di tingkat ekonomi mana pun berisiko untuk terjangkit TBC.

Meski begitu, tetap ada kelompok orang yang berisiko lebih tinggi untuk sakit TBC apabila memiliki kondisi seperti:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Mengidap penyakit HIV dan diabetes.
  • Tinggal di tempat yang sanitasinya kurang terjaga, seperti lingkungan yang lembap, sempit, dan tidak terpapar sinar matahari.
  • Kontak langsung secara dekat dan dalam waktu lama, sering, dan terus-terusan dengan pasien TBC paru aktif.

3. TBC hanya bisa menyerang paru-paru

Mitos tentang TBC ini tidak tepat dan bisa mengurangi kewaspadaan akan perkembangan penyakit pada penderita.

Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri TB memang akan mengendap di paru-paru. Di sanalah awal mula bakteri akan berkembang biak dan merusak sel.

Namun, jika tidak diobati dengan baik, bakteri dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya lewat aliran darah atau saluran limfatik lantas menginfeksi organ dan bagian tubuh lain. Kondisi ini disebut juga dengan TB ekstra paru.

Jenis TB ekstra paru umum terjadi adalah TB tulang, TB kelenjar getah bening, dan TB usus. Selain itu, TBC juga bisa menyerang jantung, sistem saraf, dan organ lainnya.

4. TBC penyakit infeksi yang mudah menular

Mitos tentang TBC ini SALAH. Anda mungkin sering mendengar nasihat ini dari orang sekitar, untuk menjauhi pengidap TBC agar tidak ikut tertular.

TBC memang menular, tapi bukan berarti Anda harus menjauhkan atau mengasingkan mereka.

Anda tetap bisa melakukan sejumlah langkah pencegahan penularan TBC, termasuk dengan mengetahui cara-cara penularan bakteri tuberkulosis.

Dilansir dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), TBC tidak akan menular atau berpindah melalui kontak fisik ketika Anda:

  • Bersalaman atau berpegangan tangan dengan penderita.
  • TBC tidak menular dari hubungan seks, berpelukan, atau berciuman.
  • Berbagi makanan atau minuman.
  • Menggunakan toilet yang sama dengan orang yang sakit TBC.
  • Menggunakan alat makan, alat tidur, dan sikat gigi yang sama dengan pengidap TBC.

Bakteri TBC tidak bisa menempel pada pakaian ataupun kulit.

Bakteri hanya bisa ditularkan melalui udara ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi atau melalui kontak dekat yang berlangsung lama atau rutin dengan penderita TBC.

5. Orang yang terinfeksi bakteri tuberkulosis sudah pasti sakit

Mitos TBC ini kurang tepat. Faktanya, kebanyakan orang sebenarnya pernah terpapar kuman TB setidaknya satu kali selama hidupnya.

Akan tetapi, hanya 10% orang yang terinfeksi bakteri tuberkulosis akan menderita sakit TBC.

Biasanya, ketika bakteri masuk ke tubuh, tapi tidak aktif, kondisi ini dikenal dengan TB laten. Artinya, tidak ada gejala apa pun yang muncul.

Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk bakteri TBC berkembang menjadi penyakit.

6. TBC tidak bisa sembuh

Mitos TBC ini jelas tidak benar. Meski termasuk penyakit kronis, TB bisa sembuh total hingga 99 persen—asalkan penderita rutin berobat selama 6-9 bulan berturut-turut dan tidak pernah lupa minum obat TBC.

Jika tidak rutin berobat, bakteri hanya melemah sesaat dan menguat sehingga Anda mendapat kesan bahwa penyakit Anda kambuh.

Padahal, sebenarnya Anda belum sepenuhnya sembuh karena pengobatan yang tidak disiplin.

Untuk mengetahui apakah pasien sudah sembuh total baru bisa dipastikan lewat hasil pemeriksaan BTA, rontgen dada, dan tes laboratorium lainnya.

Jika hasilnya menunjukkan keberadaan bakteri sudah negatif, pasien dinyatakan sembuh total.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

CDC. (N.d.). Transmission and Pathogenesis of Tuberculosis. Retrieved 9 June 2020, from https://www.cdc.gov/tb/education/corecurr/pdf/chapter2.pdf

CDC. (2020). Basic TB Facts. Retrieved 9 June 2020, from https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/default.htm

TB Alert. (2020). Stigma and myths. Retrieved 9 June 2020, from https://www.tbalert.org/about-tb/global-tb-challenges/stigma-myths/

Dutta, N., & Karakousis, P. (2014). Latent Tuberculosis Infection: Myths, Models, and Molecular Mechanisms. Microbiology And Molecular Biology Reviews, 78(3), 343-371. doi: https://10.1128/mmbr.00010-14

Amo-Adjei, J., & Kumi-Kyereme, A. (2013). Myths and misconceptions about tuberculosis transmission in Ghana. BMC International Health And Human Rights, 13(1). doi: https://10.1186/1472-698x-13-38

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2018. Tuberkulosis. Jakarta.


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 25/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x