backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Pneumothorax (Pneumotoraks)

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

Pneumothorax (Pneumotoraks)

Beberapa gangguan paru dapat terjadi tiba-tiba dan membutuhkan penanganan darurat, salah satunya adalah pneumothorax. Kondisi yang ditandai dengan nyeri dada hingga gagal jantung ini tentu bisa berakibat fatal. Ketahui penyebab hingga cara mengobatinya berikut ini.

Apa itu pneumothorax?

Pneumothorax atau pneumotoraks adalah sebuah kondisi saat terdapat udara yang mengalir di dalam rongga pleura, yakni ruang antara paru-paru dan dinding dada.

Paru-paru yang sehat seharusnya menempel pada dinding dada. Ketika udara masuk, tekanan udara akan membuat paru-paru berkembang dan posisinya turun ke bawah.

Namun, bila ada udara yang masuk ke dalam rongga pleura, paru-paru tidak dapat berkembang sebagian atau sepenuhnya. Inilah yang disebut paru-paru kolaps.

Pneumotoraks terbagi ke dalam tiga jenis, yakni primer, sekunder, dan traumatik. Ketiganya memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda.

Seberapa umum kondisi ini terjadi?

Pneumotoraks lebih sering terjadi pada orang berusia 20–30 tahunan, terutama yang berpostur tubuh kurus dan tinggi. Penelitian dalam JAMA (2018) menunjukkan bahwa gangguan paru ini lebih banyak terjadi pada pria (17–24 per 100.000 orang) daripada wanita (1–6 per 100.000 orang).

Tanda dan gejala pneumothorax

Gejala pneumothorax yang paling umum adalah sesak napas dan nyeri dada, terutama saat menarik dan mengembuskan napas.

Selain kedua gejala tersebut, ciri-ciri lain dari pneumotoraks yakni:

  • rasa nyeri yang menusuk saat menarik napas,
  • perasaan seperti dada tertekan yang makin memburuk,
  • bibir atau kulit membiru (sianosis),
  • peningkatan detak jantung,
  • napas pendek,
  • penurunan kesadaran,
  • pingsan, dan
  • pada kasus tertentu, koma.

Pneumothorax termasuk kondisi gawat darurat dan mengancam jiwa. Anda perlu menghubungi dokter bila mengalami gejala di atas atau memiliki pertanyaan mengenai kondisi ini.

Setiap orang mungkin mengalami gejala yang berbeda. Konsultasi dengan dokter merupakan langkah paling baik yang dapat Anda lakukan.

Penyebab pneumothorax

tumor mediastinum

Jika dibagi berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks terdiri atas tiga jenis sebagai berikut.

1. Pneumotoraks primer

Pneumotoraks primer atau pneumotoraks idiopatik terjadi pada orang-orang yang tidak pernah memiliki riwayat penyakit paru-paru

Penyebab pneumothorax jenis ini sering kali tidak diketahui secara pasti. Namun, penelitian menunjukkan bahwa merokok adalah salah satu kebiasaan yang mungkin menjadi penyebabnya. 

Orang-orang yang merokok punya peluang 9–22 kali lebih besar untuk mengalami kondisi ini.

2. Pneumotoraks sekunder

Penyebab pneumotoraks sekunder adalah penyakit yang sudah hadir sebelumnya, khususnya penyakit paru-paru. 

Biasanya, gejala jenis pneumotoraks ini lebih serius dan tingkat keparahannya lebih fatal. Penyakit yang menjadi penyebabnya antara lain:

Selain itu, ada beberapa kelainan jaringan penghubung dalam tubuh yang dapat meningkatkan risiko kondisi ini, seperti rheumatoid arthritis, sklerosis sistemik, dan sindrom Marfan.

3. Pneumotoraks traumatik

Pneumotoraks traumatik disebabkan oleh trauma atau cedera pada dada, misalnya patah tulang rusuk akibat kecelakaan, cedera olahraga, tabrakan kendaraan, ledakan, atau tusukan benda tajam.

Sejumlah prosedur medis juga dapat menimbulkan efek samping berupa pneumotoraks traumatik, seperti pemasangan kateter ke dalam pembuluh darah pada paru atau pengambilan sampel jaringan paru.

Faktor risiko pneumothorax

Pneumotoraks bisa terjadi pada siapa saja. Namun, beberapa faktor di bawah ini mungkin saja dapat meningkatkan risiko Anda untuk terkena gangguan paru ini.

  • Berjenis kelamin pria.
  • Terlalu banyak merokok atau telah merokok dalam waktu lama.
  • Genetik, beberapa jenis pneumothorax bisa jadi merupakan penyakit yang diturunkan.
  • Penggunaan ventilasi mekanik. Pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan bisa mengalami peningkatan risiko terkena pneumotoraks.
  • Pernah mengalami gangguan atau penyakit pada paru-paru.
  • Riwayat pneumothorax sebelumnya.

Diagnosis pneumothorax

Awalnya, dokter akan bertanya seputar gejala yang Anda rasakan dan riwayat kesehatan Anda sebelumnya.

Dokter selanjutnya akan melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara pernapasan.

Rontgen thorax atau tes pencitraan dengan sinar-X pada area dada juga bisa dilakukan untuk melihat kondisi paru-paru dan mengetahui tingkat keparahan pneumotoraks. 

Pengobatan pneumothorax

Prosedur torakoskopi

Tujuan dari pengobatan adalah untuk menghilangkan tekanan udara pada paru-paru sehingga paru-paru dapat kembali ke posisi dan bentuk semula. 

Pengobatan biasanya tergantung pada seberapa parah kondisi yang Anda alami serta kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan.

Apabila hanya sebagian kecil paru-paru yang turun, dokter hanya akan memantau kondisi Anda dengan pemeriksaan rontgen dada selama beberapa minggu.

Namun, pada kondisi yang lebih serius, dokter dapat memberikan penanganan seperti berikut. 

1. Aspirasi jarum

Prosedur aspirasi jarum atau thoracocentesis umumnya dilakukan untuk pneumotoraks yang lebih parah dan menyebabkan rasa tidak nyaman yang signifikan.

Dalam prosedur ini, tim medis akan memasukkan jarum tipis dengan selang melalui dada untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura.

2. Drainase tabung dada

Pada kasus pneumotoraks yang lebih parah dan tidak merespons aspirasi jarum dengan baik, tim medis dapat melakukan drainase tabung dada (chest tube drainage).

Tabung plastik tipis akan dimasukkan ke dalam rongga dada melalui sayatan kecil. Tabung ini memiliki katup satu arah yang terus-menerus mengeluarkan udara dari rongga pleura.

3. Pleurodesis

Untuk pneumothorax yang sering kambuh, dokter dapat menyarankan prosedur pleurodesis.

Tindakan ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil dan memasukkan tabung ke dalam rongga pleura. Lalu, dokter akan memasukkan zat kimia tertentu, seperti doxycycline.

Bahan kimia ini dapat melekatkan paru-paru ke dinding dada sehingga mengurangi peluang udara untuk masuk kembali ke dalam rongga pleura.

4. Operasi

Dalam beberapa kasus, prosedur operasi mungkin dibutuhkan. Pembedahan dapat dilakukan bila Anda tidak merespons pengobatan lain atau memiliki kondisi berikut.

  • Terjadi kebocoran udara secara terus-menerus dari tabung atau selang dada.
  • Paru-paru tidak mengembang setelah dokter melakukan aspirasi jarum atau drainase tabung dada.
  • Pneumotoraks kambuh berulang kali.
  • Pneumotoraks pada kedua paru-paru.
  • Terjadi trauma atau cedera paru yang membutuhkan perbaikan bedah.

Pengobatan di rumah untuk pneumothorax

Setelah menjalani perawatan medis di rumah sakit, Anda juga perlu melakukan beberapa perbaikan gaya hidup berikut ini.

  • Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.
  • Membatasi aktivitas berat atau kegiatan yang menekan paru-paru, misalnya naik pesawat atau menyelam.
  • Kontrol rutin ke dokter untuk mengawasi perkembangan gejala dan kondisi kesehatan Anda secara umum.
  • Mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan yang diresepkan serta tidak memulai atau menghentikan konsumsi obat tanpa izin dari dokter Anda.
  • Menghubungi dokter bila mengalami demam dan merasakan adanya udara yang bocor dari rongga dada, sebab ini bisa menandakan infeksi atau pneumonia.

Jika ada pertanyaan lain, konsultasikanlah dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik dari masalah Anda.

Kesimpulan

  • Pneumothorax adalah masuknya udara ke rongga antara paru-paru dan dinding dada yang menyebabkan paru-paru kolaps sebagian atau sepenuhnya.
  • Berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks dibagi menjadi primer, sekunder, dan traumatik.
  • Gejala dari masalah paru ini antara lain sesak napas, nyeri dada, kulit dan bibir membiru (sianosis), detak jantung cepat, dan penurunan kesadaran.
  • Pengobatan untuk pneumotoraks dapat meliputi aspirasi jarum, drainase tabung dada, pleurodesis, dan operasi, tergantung tingkat keparahan dan respons pasien.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan