Batuk pada Anak: Penyebab, Jenis dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Batuk pada anak memang cukup sering terjadi, terutama ketika anak sedang flu. Batuk biasanya akan sembuh seiring dengan pulihnya tubuh dari penyakit tersebut. Meski begitu, orangtua perlu memerhatikan jenis batuk yang sering menyerang anak. Berikut penjelasan seputar penyakit batuk pada anak.

Apa yang menjadi penyebab batuk pada anak?

Anak batuk rejan

Batuk dan pilek bisa disebabkan karena infeksi virus pada hidung, tenggorokan, dan sinus. Anak kecil bisa lebih sering mengalami batuk dan pilek karena belum mempunyai sistem kekebalan tubuh yang kuat. 

Sebelum usia 7 tahun, sistem kekebalan tubuh anak belum kuat sepenuhnya. Di usia itu, tubuh anak belum membangun kekebalan pada lebih dari 100 virus berbeda yang menyebabkan batuk-pilek.

Selain itu, saluran pernapasan atas anak (termasuk telinga dan bagian sekitarnya) belum sepenuhnya berkembang sampai setelah usia sekolah. Hal ini memungkinkan bakteri dan virus lebih bisa menyerang imunitas anak.

Namun, jika batuk pada anak tidak kunjung sembuh, jangan langsung beranggapan bahwa anak mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Pada saat ia terkena batuk, anak hanya sedang terpapar dengan banyak virus. Jika kondisi ini sering menyebabkan masalah yang lebih serius, mungkin sistem kekebalan tubuh anak sedang menurun.

Anak bisa terkena batuk karena tertular dari orang sekitarnya, seperti saudara, orang tua, anggota keluarga, teman, dan lainnya. Anak yang sering bermain dengan temannya, mungkin akan lebih sering mengalami batuk dan pilek. 

Musim penghujan juga dapat memengaruhi batuk pada anak. Usia balita bisa mengalami batuk dan pilek sampai 9 kali setiap tahun. Sementara itu, orang dewasa bisa terkena batuk sebanyak 2-4 kali dalam setahun.

Saat anak sudah pernah terkena virus yang menyebabkan batuk, maka sistem kekebalan tubuh anak akan mengenalinya sehingga kekebalan tubuh anak pun menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, frekuensi batuk dan pilek akan menurun pada anak yang lebih tua.

Jenis batuk pada anak yang perlu diwaspadai

batuk pada anak

Walau sering dianggap penyakit biasa, tapi orangtua perlu waspada. Pasalnya, batuk bisa menjadi gejala pada penyakit tertentu. Berikut jenis batuk pada anak yang perlu diperhatikan.

1. Batuk berdahak pada anak

Anak-anak sering terkena batuk karena pilek atau flu. Ini menyebabkan hidung menjadi tersumbat atau berair, nafsu makan berkurang, mata berair, dan sakit tenggorokan. Saat pilek, batuk berdahak juga sering menyertai dan biasanya sembuh dalam 1-2 minggu.

Namun, bila demam terus terjadi disertai berubahnya warna ingus menjadi kehijauan, segera periksa ke dokter. Dikhawatirkan terjadi infeksi bakteri pada anak. Infeksi ini tidak hanya di tenggorokan saja tapi bisa sampai infeksi di paru-paru. 

Menggunakan humidifier (alat pelembap udara), mandi dengan air hangat, serta mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat bisa melegakan saluran napas anak dan meredakan sakit tenggorokan. Salah satu cara mengurangi batuk dan pilek tanpa obat.

2. Batuk mirip mengi pada anak

Kondisi ini terdengar seperti gejala batuk asma yaitu mengi. Mengi adalah suara napas yang mirip siulan bernada tinggi seperti ngik-ngik. Ini memang umum terjadi pada anak yang berusia 6 bulan sampai 3 tahun.Namun jika mengi ini disebabkan karena asma biasanya terjadi di atas 2 tahun.

Batuk mengi biasanya akan membaik pada siang hari, tapi akan memburuk pada malam hari atau saat udara sekitarnya terasa dingin. Biasanya akan bertambah parah saat anak menangis atau merasa gelisah.

Batuk tersebut bisa disebabkan oleh penyakit croup. Mengutip dari Kids Health, ini adalah infeksi pernapasan yang terjadi ketika laring (kotak suara), trakea (batang tenggorokan), serta bronkus (saluran udara ke paru-paru) mengalami iritasi dan membengkak.

Pembengkakan membuat saluran udara menyempit sehingga menyebabkan napas jadi lebih cepat dan dangkal serta batuk parah. Akibatnya anak akan sulit bernapas.

Croup paling rentan menyerang bayi usia 3 bulan sampai anak usia 5 tahun, tapi bisa juga dialami oleh anak-anak di atas 15 tahun.

Penyebabnya adalah infeksi virus seperti virus influenza, parainfluenza RSV, campak, dan adenovirus. Awalnya si kecil akan mengalami gejala pilek umum dan seiring waktu akan mengalami batuk mengi disertai demam.

Selain batuk mengi, gejala lain yang meliputinya adalah bernapas menjadi lebih cepat. Untuk meringankan kondisi batuk, menjaga agar anak tidak kedinginan merupakan cara termudah yang bisa dilakukan orangtua.

Batuk ini umumnya bisa ditangani di rumah dan mengonsumsi obat-obatan seperti ibuprofen atau acetaminophen.

Bila serangan batuk pada anak terjadi secara tiba-tiba disertai kesulitan bernapas atau mengi terjadi lebih dari lima menit hingga warna kulit di sekitar mulut anak berubah, segera bawa ke dokter.

3. Batuk kering di malam hari

Batuk ini akan memburuk ketika di malam hari atau sehabis beraktivitas fisik. Batuk kering merupakan gejala utama asma pada anak-anak. Penyakit asma merupakan kondisi paru-paru yang meradang dan menyempit sehingga menghasilkan lendir berlebih.

Lendir di paru-paru menyebabkan sensasi menggelitik sehingga anak-anak dengan kondisi asma menjadi batuk.

Selain batuk, kondisi anak yang kurus, sering mengangkat dada ketika bernapas, atau mudah lelah bisa menjadi pertanda bahwa anak memiliki asma. Apalagi bila anak pernah mengalami kesulitan bernapas. Untuk memastikannya, periksa ke dokter.

Mencegah terjadinya serangan pada asma bisa dilakukan dengan menghindari pemicunya. Untuk kasus ringan, anak mungkin membutuhkan bronkodilator inhalasi dan obat pengendali asma.

4. Batuk tersengal-sengal

Ketika anak (terutama usia di bawah 2 tahun) mengalami batuk tersengal, bernapas dengan cepat dan suaranya terdengar serak, kemungkinan anak mengalami infeksi bronkiolus (bronkiolitis)

Bronkiolitis adalah kondisi di mana saluran kecil pada paru-paru mengalami pembengkakan dan berlendir.

Menurut American Academy of Pediatrics, infeksi yang disebabkan oleh virus sinsitial pernapasan ini tidak memerlukan sinar-X pada dada atau tes darah.

Dokter bisa mendiagnosis penyakit dengan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan secara menyeluruh. Untuk kasus berat, anak mungkin memerlukan perawatan dari rumah sakit untuk menerima oksigen, cairan, dan obat-obatan.

5. Batuk rejan pada anak

Batuk rejan atau dikenal dengan pertusis terjadi akibat bakteri pertusis yang menyerang saluran pernapasan. Ini menyebabkan peradangan dan mempersempit bahkan menghalangi saluran pernapasan.

Bayi berisiko tinggi mengalami batuk ini. Apabila usianya belum mencapai satu tahun, ia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit serta pengobatan antibiotik untuk mengobati batuk pada bayi karena pertusis.

Gejala batuk rejan awalnya seperti flu, tapi akan muncul batuk pada minggu kedua. Batuknya biasanya lebih cepat dari batuk biasa disertai keluarnya semburan, bahkan bisa muntah atau tersedak karena napas berhenti sejenak.

Penyakit ini mudah menular dan bersifat sangat lama, bahkan batuknya bisa bertahan hingga lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, penyakit ini dikenal juga dengan istilah batuk 100 hari.

Cara agar batuk pada anak cepat mereda

anak batuk terus menerus

Untuk meredakan batuk pada si kecil, orangtua bisa mencoba berbagai pengobatan. Mulai dari obat batuk alami sampai obat dari dokter untuk anak.

Berikut beberapa cara meredakan batuk pada anak:

1. Anak harus istirahat cukup

Ketika batuk pada anak terjadi, anak perlu istirahat yang cukup. Lama istirahatnya tergantung dari parahnya batuk dan seberapa berat gejala lainnya, seperti demam atau pilek. Saat terserang batuk, biasanya anak membutuhkan 2-3 hari untuk istirahat.

Pastikan anak istirahat di rumah dengan tidur cukup dan tidak menjalani aktivitas yang bisa memperlambat penyembuhan batuk. Maka dari itu, kurangi dulu bermain di luar rumah.

Apakah anak perlu absen dari sekolah bisa dilihat dari seberapa parah batuk yang dialami. Jika kondisi batuk terjadi berulang kali sampai kondisi anak lemas, lebih baik istirahat di rumah 1-2 hari sampai gejala batuk membaik.

2. Minum obat batuk khusus anak

Penanganan batuk pada anak tergantung dari penyebab dasarnya. Pemberian obat batuk pada anak harus memperhatikan jenis obatnya, seberapa banyak dosisnya, berapa kali sehari harus diberikan.

Pemberian obat batuk sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Umumnya batuk sering disebabkan oleh virus, yang mana biasanya akan sembuh sendiri tanpa harus ditangani pakai obat (self limiting disease).

Umumnya dosis obat batuk anak dari dokter diberikan berbeda-beda berdasarkan usia si kecil. Namun, ada baiknya periksa ke dokter spesialis anak untuk mengetahui dosis obat batuk yang pas berdasarkan kondisi anak.

Bila ingin memberi obat batuk sirup yang di jual di pasaran, orangtua harus mengikuti aturan pakai yang ada di label kemasan. Ingat, selalu gunakan sendok takar. Jangan menggunakan sendok lain untuk anak minum obat batuk.

Penting untuk mengikuti petunjuk pemakaian obat, jangan melebihkan atau mengurangi dosis yang dianjurkan dalam kemasan obat batuk anak.  Bila sudah minum obat dan batuk tidak kunjung sembuh dalam 1-2 minggu, segera bawa anak ke dokter.

3. Mengonsumsi madu

Madu merupakan salah satu obat batuk alami anak yang cukup populer. Riset yang dilakukan oleh University of North Carolina menunjukkan tren baik pada 90 persen anak-anak dengan gejala batuk.

Hasilnya memperlihatkan perkembangan kondisi yang membaik setelah mengonsumsi 1,5 sendok teh madu sebagai obat batuk setiap malam sebelum tidur. 

Sebagai obat batuk, madu memang memiliki kandungan yang bersifat antibakteri yang dapat membantu melawan infeksi.

Selain kandungannya yang memang ampuh menyembuhkan batuk, madu juga lebih disukai oleh anak-anak karena rasanya yang manis. 

Anjuran dosis madu yang diberikan sebagai obat batuk untuk anak menurut AAP:

  • Umur 1-5 tahun: ½ sendok teh
  • Umur 6-11 tahun: 1 sendok teh
  • Umur 12 dan lebih: 2 sendok teh

Selain memberikan obat batuk untuk anak ini secara langsung,  Anda juga dapat melarutkan madu ke dalam air hangat agar si kecil lebih mudah menelannya. Namun hindari memberikan madu untuk anak yang berusia di bawah satu tahun.

Madu berpotensi menyebabkan botulisme, yaitu kondisi keracunan serius yang dialami oleh bayi, jika diberikan kepada anak berumur di bawah 12 bulan.

4. Berikan anak cairan yang cukup

Untuk merawat anak yang sedang batuk, orangtua juga dapat memastikan anak minum air yang cukup guna mencegah dehidrasi. Orangtua juga dapat memberikan ASI yang cukup apabila si kecil masih mengonsumsi ASI.

Jangan sampai anak dehidrasi karena kondisi ini dapat membuat batuk pada anak makin parah kondisinya.

5. Hindari pemicu batuk dan alergi

Bila batuk anak tak kunjung sembuh, hindari makanan minuman yang menjadi pemicu dan penyebab batuk. Sebagai contoh, minuman manis, minuman dingin, dan makanan yang digoreng.

Disarankan untuk memberikan makanan berkuah hangat yang bisa menghindari batuk karena gatal di tenggorokan.

Jika anak mengalami gejala batuk alergi, hindari alergen (pemicu alergi) pada anak. Perhatikan juga kebersihan kasur dan lingkungan rumah.

Umumnya debu, jamur, dan bulu hewan peliharaan mudah menempel di sofa atau kasur yang bisa sebabkan anak batuk karena alerginya kumat.

7. Minum air jahe

Meminum jahe yang telah dilarutkan ke dalam air hangat atau teh dapat membantu meredakan gejala batuk pada anak.

Sebagai obat batuk alami, jahe memiliki efek anti-inflamasi dan antibakteri sehingga ampuh melawan infeksi yang disebabkan oleh kuman.

Berdasarkan data Departemen Farmasi Jazan University, jahe dapat memberikan sensasi hangat sehingga memberi efek melegakan pada tenggorokan yang terasa kering dan otot-otot leher yang menegang akibat batuk kering.

Pada beberapa penelitian, obat tradisional yang mengandung jahe turut membantu mengencerkan lendir di saluran pernafasan sehingga amat cocok dijadikan obat batuk alami untuk anak yang menyembuhkan batuk berdahak.  

Manfaat dari obat batuk alami ini dapat diperoleh secara maksimal jika anak mengonsumsinya secara langsung.

Jika anak tak suka dengan rasanya yang pahit, Anda dapat mencoba mencampurnya air perasan lemon, teh, madu, ataupun susu. Konsumsi obat batuk alami ini sebanyak dua kali sehari selama mengalami gejala batuk.

8. Mengobati batuk croup

Batuk croup pada umumnya bisa sembuh sendiri dalam waktu kurang lebih seminggu. Namun agar lebih cepat sembuh, orangtua bisa berikan obat paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri pada bayi berusia di atas 6 bulan.

Obat batuk dextromethorphan hanya boleh diberikan untuk mengobati batuk pada anak sudah berusia lebih dari 4 tahun.

Selain pakai obat, orangtua juga dapat meringankan gejala batuk croup anak dengan cara:

  • beri 1/2-1 sdm madu sebanyak 4 kali sehari (khusus untuk anak di atas usia 1 tahun).
  • Segera tenangkan anak jika ia mulai menangis.
  • Jaga suhu kamar anak dan rumah tetap lembap dengan memasang humidifier.
  • Pastikan anak cukup tidur dan istirahat, kompres tubuhnya dengan air hangat, atau mandi air hangat.
  • Perbanyak minum air putih hangat, jus buah, atau sup hangat untuk melegakan pernapasannya dan mengurangi batuk.

Sebelum tidur, berikan minum segelas air putih hangat sebelum tidur dan selipkan bantal tebal di bawah kepalanya untuk melegakan pernapasan.

Kapan sebaiknya periksa ke dokter?

batuk

Bila kondisi batuk sangat mengganggu, melakukan pemeriksaan ke dokter merupakan langkah yang tepat. Dokter bisa menyarankan pengobatan yang paling efektif untuk mempercepat proses penyembuhan.

Berikut adalah gejala batuk pada anak yang menandakan si kecil perlu segera di bawa ke dokter:

  • Anak batuk disertai demam tinggi
  • Anak sampai sulit bernapas karena batuk
  • Batuk rejan
  • Nyeri dada
  • Anak sulit atau tidak mau makan
  • Anak mengalami batuk darah
  • Anak mengalami batuk disertai muntah-muntah

Penting untuk memeriksakan ke dokter apabila batuk pada anak sudah berlangsung lebih dari 2 minggu.

Selain itu, apabila batuk pada anak sembuh dan kambuh terus selama lebih dari 3 bulan, orangtua wajib periksakan anak ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Menyebalkan memang jika terkena flu saat puasa. Namun, tahukah Anda jika kena flu saat puasa justru akan membuat tubuh lebih baik dan Anda cepat pulih?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hari Raya, Ramadan 4 Mei 2020 . Waktu baca 3 menit

Ragam Bahan Tradisional sebagai Obat Alami untuk Batuk Kering dan Berdahak

Selain obat warung, bahan juga alami bisa digunakan untuk meredakan batuk kering ataupun berdahak. Berikut beberapa obat batuk tradisional yang bisa dicoba.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Batuk, Kesehatan Pernapasan 24 Oktober 2019 . Waktu baca 9 menit

Hindari Risiko Efek Samping Obat, Pilihlah Obat Batuk Alami untuk Ibu Hamil

Jika ingin menghindari risiko efek samping dari obat apotek, sebaiknya gunakan berbagai obat batuk alami untuk ibu hamil ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Batuk, Health Centers 4 Oktober 2019 . Waktu baca 10 menit

Anak Batuk Terus Menerus, Apa Ortu Harus Khawatir?

Jika anak mengalami batuk yang terus menerus muncul dan tidak kunjung membaik, apakah orang tua harus waspada? Simak ulasannya di Hello Sehat.

Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Anak, Parenting 23 September 2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat yang aman untuk ibu menyusui

Jangan Sembarang Minum, Ini Daftar Pilihan Obat yang Aman untuk Ibu Menyusui

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
mual saat hamil

Batuk Terus Bikin Lelah, Pelajari Teknik Batuk Efektif Berikut!

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 17 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
dada sakit saat batuk

Mengapa Dada Saya Terasa Sakit Saat Batuk?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
Batuk ke arah siku etika batuk

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 2 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit