Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Manfaat Jahe untuk Batuk dan Resep Meraciknya Jadi Obat Alami

    Manfaat Jahe untuk Batuk dan Resep Meraciknya Jadi Obat Alami

    Jahe memiliki komponen zat aktif yang bisa membantu mengurangi gejala pilek, batuk, dan sakit tenggorokan. Jenis rempah ini dapat memberikan rasa hangat sehingga membantu melegakan tenggorokan. Alhasil, batuk pun bisa mereda lebih cepat.

    Kandungan zat aktif lainnya pada jahe juga memberikan manfaat lain seperti mempercepat masa pemulihan penyakit. Ketahui setiap khasiat dan cara pengolahan jahe yang tepat untuk obat batuk alami dalam ulasan ini.

    Manfaat jahe untuk mengobati batuk

    Minum obat alami jahe

    Batuk merupakan gejala yang disebabkan oleh gangguan pada saluran pernapasan, seperti pilek, iritasi pada tenggorokan, atau naiknya asam lambung.

    Konsumsi jahe memang tidak langsung mengobati kondisi Anda, tetapi bisa membatu mengatasi gejala batuk.

    Khasiat jahe tak lain berasal dari kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya.

    Dalam jahe terkandung berbagi komponen bioaktif yang mampu memberikan efek pemulihan pada tubuh.

    Komponen tersebut adalah gingerol dan shogaol yang bersifat antiradang, antimikroba, serta antioksidan.

    Berikut ini adalah manfaat yang bisa Anda peroleh saat mengonsumsi jahe sebagai obat batuk alami.

    1. Menekan frekuensi batuk

    Iritasi di tenggorokan, misalnya akibat post-nasal drip, bisa menyebabkan batuk kering yang terjadi terus-menerus.

    Konsumsi jahe dapat mengurangi refleks batuk akibat kondisi ini.

    Sensasi hangat jahe mampu meredakan nyeri dan melemaskan otot-otot di sekitar tenggorokan sehingga batuk pun berkurang.

    Selain itu, jenis rempah ini bisa mengatasi rasa gatal dan sakit pada tenggorokan yang biasanya muncul selama batuk kering berlangsung.

    2. Mengurangi dahak di tenggorokan

    Selain berkhasiat untuk batuk kering, jahe juga bisa mengatasi batuk berdahak.

    Jenis batuk ini ditandai dengan keluarnya dahak akibat produksinya yang berlebih di saluran pernapasan.

    Batuk merupakan mekanisme untuk mengeluarkan dahak yang memenuhi saluran napas guna melancarkan pernapasan.

    Selama jumlah dahak masih banyak, maka batuk akan berlangsung terus-menerus.

    Konsumsi jahe dapat membantu mengencerkan dahak yang menggumpal di tenggorokan sehingga sirkulasi udara di saluran pernapasan pun lebih lancar. Alhasil, batuk pun akan berkurang.

    3. Menangkal infeksi saluran napas

    Infeksi bakteri atau virus pada saluran napas dapat memicu peradangan yang menyebabkan batuk.

    Jahe yang bersifat antimikroba ini dapat menghalau infeksi bakteri dan virus yang menjadi penyebab batuk.

    Penelitian rilisan jurnal Peer J menjelaskan bahwa komponen antibakteri pada jahe mampu menghambat bakteri saat berusaha masuk dan merusak sel di dalam tubuh.

    Pada riset yang dilakukan di dalam tabung (in vitro) ini, cairan yang terdiri dari 10% ekstrak jahe dapat menyulitkan pergerakan bakteri Streptococcus mutans, Candida albicans, dan Enterococcus faecalis.

    Ketiganya merupakan bakteri yang bisa menyebabkan infeksi pada mulut dan strep throat.

    Dengan memperlambat infeksi, sistem imun pun akan lebih mudah melawan infeksi di tenggorokan sehingga batuk bisa mereda.

    4. Meredakan radang di tenggorokan

    Jahe juga bisa membantu mengatasi radang tenggorokan (faringitis) yang dapat menjadi penyebab batuk.

    Konsumsi jahe bisa mengurangi bengkak dan perih di sekitar tenggorokan.

    Hal ini karena zat aktif pada jahe mampu menghlangi kerja protein yang dapat menyebabkan radang, nyeri, dan gatal di tenggorokan.

    Di samping itu, kandungan antioksidan pada jahe juga mencegah kerusakan sel-sel yang disebabkan oleh peradangan di tenggorokan.

    Dengan begitu, radang tenggorokan pun bisa lebih cepat pulih.

    Riset dalam jurnal J Ethnopharmacol menunjukkan bahwa jahe dapat mempercepat masa pemulihan radang tenggorokan karena menstimulasi kerja sistem imun dalam melawan infeksi virus.

    Cara mengolah jahe sebagai obat batuk alami

    Mengolah jahe jadi obat alami

    Untuk menggunakan jahe sebagai obat batuk alami, Anda bisa mencoba beberapa resep atau cara pengolahan seperti di bawah ini.

    1. Mengunyah jahe

    Kunyahlah jahe secara langsung untuk meredakan batuk. Sebelumnya, Anda perlu mencuci, mengupas seluruh kulit jahe yang segar, dan memotongnya kecil-kecil.

    Potonglah jahe sampai berukuran 2,5 sentimeter (cm). Selanjutnya, kunyahlah potongan jahe tersebut sampai halus.

    Jika perlu, Anda bisa mengunyah 2-3 potong jahe dalam sehari sampai batuk mereda.

    2. Teh jahe

    Mengunyah jahe bisa menimbulkan sensasi menyengat dan rasa panas yang kuat. Jika tidak nyaman, Anda bisa memilih mencampurkan jahe pada teh.

    Untuk membuat teh jahe, haluskanlah jahe menjadi bubuk terlebih dulu.

    Ambil sekitar 2 sendok teh bubuk jahe dan rebus dalam air hingga mendidih selama beberapa menit.

    Saring larutan jahe ini untuk mendapatkan sarinya dan masukkan teh ke dalamnya. Minumlah teh jahe untuk obat batuk ini selagi hangat.

    3. Campuran jahe, madu, dan lemon

    Selain teh, Anda bisa menambahkan obat alami untuk batuk lainnya seperti madu dan lemon ke dalam larutan sari jahe.

    Menambahkan madu dan lemon bisa mengurangi rasa panas pada jahe yang kuat sekaligus menambah efektifitas larutan obat alami ini.

    Pasalnya, madu juga memiliki sifat antiperadangan dan antimikroba yang bisa membantu mengatasi infeksi dan radang penyebab batuk.

    Lemon yang kaya kandungan vitamin C pun bisa meningkatkan kerja sistem imun dalam menangkal infeksi di saluran pernapasan.

    4. Jahe sebagai bumbu

    Cara lainnya untuk mengolah jahe sebagai obat batuk alami adalah dengan menambahkan jahe yang telah dihaluskan ke dalam makanan.

    Bubuk jahe dapat menjadi bumbu penyedap masakan yang Anda konsumsi sehari-hari.

    Anda bisa menggunakan setidaknya 2 sendok jahe untuk 3 porsi makanan utama dalam sehari.

    Meskipun jahe memiliki khasiat yang melimpah untuk mengatasi batuk, hindari mengonsumsi bahan alami ini secara berlebihan.

    Konsumsi jahe lebih besar dari 6 gram dalam sekali makan bisa menimbulkan gangguan pencernaan seperti tukak lambung dan diare.

    Bagi Anda yang sedang hamil dan memiliki gangguan pembekuan darah, sebaiknya berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan jahe sebagai obat alami.

    Terakhir, Anda sebaiknya tak menggunakan jahe sebagai pengganti obat-obatan medis dari dokter.

    Ketahui lebih lanjut juga efek interaksi obat yang Anda konsumsi dengan kandungan jahe sebelum mengonsumsinya.


    Lawan COVID-19 bersama!

    Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Benzie, I. F., & Wachtel-Galor, S. (Eds.). (2011). Herbal medicine: biomolecular and clinical aspects. https://www.routledge.com/Herbal-Medicine-Biomolecular-and-Clinical-Aspects-Second-Edition/Benzie-Wachtel-Galor/p/book/9781439807132

    Vasala, P. (2012). Ginger. Handbook Of Herbs And Spices, 319-335.https://doi.org/10.1533/9780857095671.319

    Anh, N. H., Kim, S. J., Long, N. P., Min, J. E., Yoon, Y. C., Lee, E. G., Kim, M., Kim, T. J., Yang, Y. Y., Son, E. Y., Yoon, S. J., Diem, N. C., Kim, H. M., & Kwon, S. W. (2020). Ginger on Human Health: A Comprehensive Systematic Review of 109 Randomized Controlled Trials. Nutrients12(1), 157. https://doi.org/10.3390/nu12010157

    Wijesundara, N. M., Sekhon-Loodu, S., & Rupasinghe, H. V. (2017). Phytochemical-rich medicinal plant extracts suppress bacterial antigens-induced inflammation in human tonsil epithelial cells. PeerJ5, e3469. https://doi.org/10.7717/peerj.3469

    Chang, J., Wang, K., Yeh, C., Shieh, D., & Chiang, L. (2013). Fresh ginger (Zingiber officinale) has anti-viral activity against human respiratory syncytial virus in human respiratory tract cell lines. Journal Of Ethnopharmacology, 145(1), 146-151. https://doi.org/10.1016/j.jep.2012.10.043

    Kubra, I., & Rao, L. (2012). An Impression on Current Developments in the Technology, Chemistry, and Biological Activities of Ginger (Zingiber officinaleRoscoe). Critical Reviews In Food Science And Nutrition, 52(8), 651-688. https://doi.org/10.1080/10408398.2010.505689

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui May 05, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.