Batuk Alergi Berbeda dengan Batuk Biasa, Ketahui Cirinya

Batuk Alergi Berbeda dengan Batuk Biasa, Ketahui Cirinya

Selain gatal-gatal, salah satu tanda yang dialami saat mengalami alergi adalah gangguan pernapasan. Salah satu gejala gangguan napas yang biasa dialami adalah batuk. Pemilik alergi mungkin bingung membedakan batuk alergi dan batuk biasa, misalnya karena flu. Lantas, bagaimana ciri khas batuk alergi?

Ciri-ciri batuk alergi

Batuk ini terjadi karena adanya respons sistem imun terhadap pemicu (alergen) alih-alih adanya infeksi virus. Batuk ini merupakan salah satu gejala dari rinitis alergi.

Mengutip situs American College of Allergy, Asthma and Immunology (ACAAI) Berikut ciri-ciri batuk alergi yang bisa Anda amati.

  • Batuk kering berlangsung selama lebih dari tiga minggu.
  • Muncul pada musim atau cuaca tertentu.
  • Mata merah dan berair.
  • Lingkar hitam di bawah mata.
  • Bersin-bersin disertai hidung meler atau tersumbat.
  • Sakit kepala.

Sementara itu, jenis batuk biasa umumnya terjadi dalam waktu singkat dan bisa sembuh dalam waktu 2 – 3 minggu.

Selain itu, ada lendir atau dahak yang muncul saat batuk biasa. Anda pun mungkin mengalami menggigil, nyeri otot, dan demam lebih dari 38 °Celsius.

Terkadang, batuk ini sulit dibedakan dengan asma. Pasalnya, asma juga sering diikuti dengan batuk-batuk.

Namun, Anda perlu mengetahui bila batuk pada asma sering diikuti dengan napas pendek, dada sesak, dan napas berbunyi atau mengi.

Ciri khas batuk alergi

Batuk alergi biasanya kering, bisa muncul lagi lebih dari 3 minggu, dan membuat mata merah serta berair. Sementara itu, batuk biasa umumnya disertai dahak, demam tinggi, dan nyeri otot.

Jenis alergi yang menyebabkan batuk

jenis alergi penyebab batuk

Ada banyak jenis alergi, tetapi beberapa di antaranya lebih cenderung menyebabkan masalah pernapasan. Inilah jenis alergi yang menyebabkan batuk.

  • Alergi bulu hewan.
  • Alergi serbuk sari.
  • Alergi spora dari jamur.
  • Alergi debu.
  • Alergi kecoak.

Penyebab batuk alergi

Mengutip studi terbitan Allergy, Asthma & Clinical Immunology (2019) reaksi alergi pada dasarnya muncul akibat tubuh menganggap beberapa zat atau benda sebagai hal yang membahayakan tubuh.

Hal ini membuat sistem imun melepas senyawa kimia bernama histamin di dalam pembuluh darah.

Sebenarnya, cara kerja tubuh ini bisa melindungi tubuh dari paparan infeksi. Akan tetapi, tubuh justru menyalahartikan zat-zat atau benda asing tersebut.

Histamin inilah yang membuat reaksi alergi timbul, seperti batuk, hidung meler, dan mata berair.

Secara spesifik, batuk ini timbul akibat hidung yang menghirup alergen dan menghasilkan lendir cair.

Lendir ini mengalir ke tenggorokan dan menimbulkan sensasi gatal. Jadi, Anda pun batuk-batuk.

Obat batuk alergi

obat batuk alergi

Ada beberapa jenis obat yang bisa meredakan gejala batuk ini. Berikut obat yang bisa Anda dapatkan di apotek.

1. Antihistamin

Obat alergi antihistamin oral (minum) merupakan pilihan pertama untuk meredakan batuk alergi.

Obat ini bekerja dengan cara memblokir histamin agar tidak dilepas di pembuluh darah.

Berikut beberapa jenis obat antihistamin minum untuk atasi batuk yang satu ini.

  • Difenhidramin.
  • Cetirizin.
  • Loratadin.
  • Montelukast.

2. Kortikosteroid

Obat ini biasanya tersedia dalam bentuk obat minum atau hirup hidung (nasal). Obat alergi ini berguna untuk mengurangi pembengkakan di dalam saluran pernapasan.

Obat kortikosteroid tergolong keras dan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Beberapa jenis obat kortikosteroid ini, di antaranya triamcinolone dan prednisone.

3. Dekongestan

Dekongestan adalah obat yang mampu mengurangi hidung meler. Obat ini bekerja dengan cara mengempiskan pembengkakan pada saluran pernapasan.

Jenis obat dekongestan yang bisa Anda temukan di apotek, yaitu pseudoephedrine.

Cara mencegah batuk alergi

Selain menggunakan obat, ada cara untuk menghindarinya. Berikut beberapa yang bisa Anda coba.

1. Ketahui pemicu alergi

Anda bisa melakukan tes alergi di rumah sakit. Bila sudah memiliki riwayat alergi yang telah disebutkan di atas, hindari penyebab alergi sebisa mungkin.

2. Bersihkan tempat tinggal

Pastikan Anda rutin membersihkan kipas angin, filter AC, dan sela-sela bagian rumah. Hal ini berguna agar debu tidak menumpuk dan bisa terhirup saat beraktivitas.

Hindari memelihara binatang berbulu lebat atau membawanya masuk ke kamar. Bulunya bisa saja rontok di kasur dan terhirup saat tidur.

3. Gunakan masker

Bila Anda berada sedang bersih-bersih atau berada di tempat berdebu, gunakan masker untuk mencegah debu masuk ke hidung.

Jadi, hidung tidak meler dan membuat tenggorokan gatal.

4. Bersihkan sela-sela hidung

Anda bisa menggunakan semprotan nasal atau irigasi hidung khusus berbahan air saline yang mengandung natrium klorida.

Ini berguna untuk membersihkan debu atau alergen lain dari hidung.

Kapan harus ke dokter?

Batuk mungkin berkurang bila Anda sudah menjauhi penyebab alergi. Meski begitu, Anda harus ke dokter secepat mungkin bila menemui gejala berikut.

  • Mual dan muntah.
  • Pingsan.
  • Detak jantung tak beraturan.
  • Bengkak pada wajah, bibir, dan tenggorokan.
  • Diare parah dan tiba-tiba.
  • Sangat sulit bernapas.
  • Ruam dan gatal di sekujur tubuh.

Ini merupakan gejala anafilaksis atau reaksi alergi parah. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa mengancam keselamatan jiwa.

Batuk alergi adalah salah satu bentuk gejala yang biasa dijumpai bila alergi Anda kumat.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh benda-benda yang terhirup hidung, lalu membuat tenggorokan gatal.

Anda bisa menjauhi penyebab alergi atau menggunakan obat-obatan. Selalu konsultasi dokter sebelum mengonsumsi obat alergi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cough | ACAAI Public Website. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://acaai.org/allergies/symptoms/cough/

How to Deal With That Nagging Cough. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.muhealth.org/our-stories/how-deal-nagging-cough

Bjermer, L., Westman, M., Holmström, M., & Wickman, M. (2019). The complex pathophysiology of allergic rhinitis: scientific rationale for the development of an alternative treatment option. Allergy, Asthma & Clinical Immunology, 15(1). doi: 10.1186/s13223-018-0314-1

Cough. (2021). Retrieved 2 August 2022, from https://www.healthdirect.gov.au/cough

When to Call Your Doctor- Flu, Fever, and Coughing | Beaumont | Beaumont Health. Retrieved 2 August 2022, from https://www.beaumont.org/services/find-a-beaumont-primary-care-doctor/when-to-call-your-doctor-flu-fever-and-coughing

May, J., & Dolen, W. (2017). Management of Allergic Rhinitis: A Review for the Community Pharmacist. Clinical Therapeutics, 39(12), 2410-2419. doi: 10.1016/j.clinthera.2017.10.006

Allergy Treatments | AAFA.org. (2018). Retrieved 2 August 2022, from https://www.aafa.org/allergy-treatments/

Anaphylaxis Symptoms, Diagnosis, Treatment & Management | AAAAI. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.aaaai.org/Conditions-Treatments/allergies/anaphylaxis

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Aug 25
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan