Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Penyakit yang disebabkan infeksi patogen seperti virus dan bakteri dapat menular. Penularan penyakit infeksi bisa terjadi melalui kontak langsung atau bahkan menghirup udara yang mengandung droplet patogen yang dikeluarkan saat bicara, bersin, dan batuk. Oleh karena itu, penting untuk Anda mengetahui etika atau tata cara batuk yang benar sehingga bisa mencegah penularan penyakit pada orang lain.

Etika batuk yang benar minimalisir risiko penularan penyakit

Di masa new normal, Anda perlu mempraktikkan etika batuk di mana dan kapan pun. Etika batuk ini penting dilakukan untuk meminimalkan penularan penyakit. Batuk yang terjadi sesekali sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi perlu diperhatikan secara etika.

Batuk adalah bentuk respons tubuh yang alami karena adanya substansi asing yang masuk ke dalam sistem pernapasan. Refleks ini menjadi cara tubuh untuk mengeluarkan kotoran atau iritan yang mengganggu sistem pernapasan.

Namun, batuk yang berlangsung secara menerus dapat menandakan terdapatnya masalah dalam sistem respirasi atau penyakit lainnya.

Batuk menjadi gejala yang paling umum dialami ketika terjadi infeksi patogen, yaitu mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri, di saluran pernapasan. Misalnya infeksi virus yang menyebabkan flu dan pilek merupakan penyakit penyebab batuk berdahak yang paling sering dialami atau asma yang menyebabkan batuk kering.

Penularan penyakit ini bisa berlangsung sangat cepat dari orang ke orang dikarenakan virus penyebabnya terdapat dalam droplet lendir yang dikeluarkan saat bersin dan batuk.

Jika penyebaran droplet virus bisa dibatasi, maka transmisi penyakit juga bisa ikut diminimalisir. Penerapan etika batuk dapat membantu mengendalikan penyebaran virus penyebab infeksi sistem pernapasan.

Cara yang tepat menerapkan etika batuk

Etika batuk sebaiknya memang dilakukan kapapun, sekalipun Anda dalam keadaan sehat. Sementara, orang yang sakit sangat diwajibkan untuk menerapkan etika batuk ini.

Upaya mencegah penyebaran penyakit yang paling umum diketahui adalah dengan menutup mulut dan hidung dengan tangan saat bersin dan batuk.

Menghalangi droplet tersebar luas dengan cara menutup mulut dan hidung memang tepat. Namun, menggunakan telapak tangan pun Anda tetap bisa menyebarkan patogen lewat sentuhan. Tanpa sadar Anda telah memindahkan bakteri dari telapak tangan ke benda atau orang lain yang nantinya bersentuhan dengan tangan Anda.

Penggunaan sapu tangan untuk menutup batuk juga tidak tepat. Alih-alih menghindari kontak dengan kuman penyakit, organisme berbahaya ini malah bisa terperangkap di dalamnya. Jika Anda sakit, maka kemungkinan untuk terjadinya reinfeksi akan lebih tinggi.

Namun etika batuk lebih dari sekadar menutup mulut dan hidung, terdapat beberapa langkah lainnya yang juga perlu diikuti.

1. Menutup hidung dan mulut dengan tisu

Jika Anda hendak batuk, etika yang tepat adalah segera mengambil tisu untuk menutupi mulut dan hidung Anda. Langsung buang segera tisu yang digunakan ke tempat sampah, sebelum tisu tersebut disentuh atau bahkan digunakan oleh orang lain.

Batuk itu sendiri merupakan refleks yang terkadang sulit dikontrol. Ada kalanya Anda mau batuk tapi tidak sempat mengambil tisu untuk menutup mulut dan hidung.

Maka batuklah pada bagian dalam lengan atas Anda, jangan pada telapak tangan. Bagian lengan atas merupakan bagian yang jarang berkontak dengan benda (gagang pintu, alat makan, atau telepon) atau melakukan sentuhan fisik seperti saat berjabat tangan dengan orang lain.

2. Menjaga jarak dengan orang lain

Ketika batuk, jangan lupa untuk memalingkan wajah Anda menjauhi orang-orang yang ada di sekitar. Etika batuk seperti ini dilakukan untuk memastikan tidak ada cipratan droplet yang mengenai tubuh atau wajah orang lain.

Bergerak menjauhi orang lain juga penting sebab menurut dr. Frank Esper dari Cleveland Clinic, kuman penyakit yang dikeluarkan saat batuk bisa terlontar sejauh 1-2 meter.

3. Mencuci tangan menggunakan sabun

Ingatlah untuk selalu mencuci tangan setelah batuk. Sebagian besar penyakit pernapasan berbahaya disebarkan karena dari sentuhan tangan yang terkontaminasi patogen ke bagian wajah.

Etika mencuci tangan dengan benar adalah dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Cairan pembersih lain seperti sanitizer juga bisa digunakan asalkan mengandung alkohol dengan kosentrasi 60-95 persen.

Selama mencuci tangan, pastikan Anda membersihkan seluruh bagian telapak tangan, termasuk menggosok sela-sela jari. Lakukanlah selama 20 detik sehingga memastikan pelindung tubuh patogen benar-benar hancur oleh air sehingga ia tidak bisa lagi aktif menginfeksi tubuh.

Dalam etika batuk, membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir lebih efektif karena dengan batuan aliran air kuman bisa langsung terlepas dari permukaan tangan.

4. Menggunakan masker saat sakit

Terakhir, gunakan masker jika Anda merasa sakit dan batuk terus-menerus.

Penggunaan masker juga sebaiknya digunakan dengan tepat. Ganti masker secara berkala atau cuci dengan sabun yang mengandung disinfektan jika menggunakan bahan masker yang bisa dipergunakan ulang.

Hindari menggunakan masker yang sudah kotor dan lembab karena justru dapat menjadi lingkungan yang kondusif untuk kuman penyakit berkembang biak.

Meskipun sudah menggunakan masker, cobalah untuk tetap menjauhkan diri dari orang lain saat Anda batuk sehingga tidak menyebarkan kuman.

Etika batuk yang dilakukan saat merasa sakit

Setiap langkah etika batuk sebaiknya diterapkan ketika batuk di mana pun, terutama di tempat atau fasilitas umum yang dipadati orang. Begitupun saat Anda sendirian karena droplet tetap bisa berpindah melalui udara atau menempel di permukaan benda.

Jika batuk yang Anda alami memang merupakan gejala penyakit menular, ada baiknya Anda beristirahat di rumah dan menghindari tempat ramai seperti kantor, pasar, dan sekolah bila memungkinkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kontak fisik dan menjaga jarak dengan orang lain sehingga mencegah penularan kuman penyakit.

Selain itu, akan lebih baik jika Anda juga mengenali gejala-gejala lain dari penyakit penyebab batuk secara umum. Dilansir dari Mayo Clinic, penyakit seperti pilek dan flu bisa menyebabkan munculnya gangguan kesehatan lain yang muncul bersamaan dengan batuk, seperti:

  • Demam
  • Tenggorokan kering
  • Nyeri tubuh terutama pada sendi dan otot
  • Sesak napas
  • Hidung berair dan tersumbat
  • Sakit kepala
  • Kelelahan atau badan lemas
  • Diare dan muntah-muntah

Batuk yang disebabkan oleh pilek atau flu biasanya akan berhenti dalam waktu kurang dari seminggu, bahkan bisa lebih cepat jika Anda melakukan perawatan sederhana untuk meredakan batuk. Misalnya, dengan memperbanyak konsumsi cairan, istirahat, dan minum obat batuk.

Ada rangkaian obat batuk yang aktif redakan beragam batuk berdasarkan gejalanya. Sesuaikan obat batuk dengan masalah batuk Anda, apakah itu batuk berdahak, tidak berdahak, batuk dan demam, ataupun batuk tidak berdahak yang disebabkan alergi. Segera minum obat batuk untuk tuntaskan gejala batuk yang cocok, agar Anda dapat kembali berkomunikasi dengan lancar dan menjalani kegiatan lebih optimal.

Namun, jika Anda batuk secara menerus selama lebih dari 2 minggu walaupun sudah minum obat batuk, maka Anda perlu menemui dokter secepatnya. Dokter akan merekomendasikan obat batuk yang tepat dengan jenis batuk yang Anda alami. Namun berhati-hatilah, gejala batuk seperti ini dapat mengarah pada kondisi batuk kronis yang menjadi penanda adanya masalah pernapasan yang lebih serius.

Ingat, etika batuk seperti menggunakan tisu atau bagian dalam lengan atas, menjaga jarak dari orang lain, dan mencuci tangan setelahnya juga berlaku diterapkan ketika bersin.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

You are already subscribed to notifications.
Sumber

CDC. (2020). Coughing & Sneezing | Etiquette &amp Practice. Retrieved 14 April 2020, from https://www.cdc.gov/healthywater/hygiene/etiquette/coughing_sneezing.html

CDC. (2020). Respiratory Hygiene/Cough Etiquette in Healthcare Settings. Retrieved 14 April 2020, from https://www.cdc.gov/flu/professionals/infectioncontrol/resphygiene.htm

Cleveland Clinic. (2020). Cough Etiquette: Why It’s So Important. Retrieved 14 April 2020, from https://health.clevelandclinic.org/cough-etiquette-why-its-so-important/

Mayo Clinic. (2020). Common cold - Symptoms and causes. Retrieved 14 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/common-cold/symptoms-causes/syc-20351605

Cough. (2020). Retrieved 30 June 2020, from https://foundation.chestnet.org/lung-health-a-z/cough/#:~:text=Coughing%20is%20a%20natural%20body,with%20nerves%20that%20sense%20irritants

Yang juga perlu Anda baca

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Benar Kena Air Hujan Bisa Bikin Sakit?

Banyak orang yang jatuh sakit setelah hujan-hujanan. Benarkah terkena air hujan memengaruhi kesehatan kita? Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Tips Seputar Pencegahan Sinusitis yang Wajib Anda Tahu

Bersin dan pilek akibat sinus yang kambuh dapat menyulitkan Anda beraktivitas, tapi Anda bisa mencegah sinusitis dengan beberapa perubahan gaya hidup mudah

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Jangan Sembarang Minum, Ini Daftar Pilihan Obat yang Aman untuk Ibu Menyusui

Ketika sakit saat menyusui, obat tentu jadi solusi cepat. Namun ternyata, Ibu tidak boleh minum sembarang obat. Apa saja obat yang aman untuk ibu menyusui?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Menyusui 2 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

4 Tips Mengatasi Telinga Sakit dan Tersumbat karena Flu

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 19 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Flu dan Potensi Imunitas terhadap COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Obat Alergi dari Bahan Alami yang Bisa Ditemukan di Rumah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Mengatasi Dahak yang Mengganggu dan Tak Kunjung Hilang

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit