Definisi

Apa itu virus Zika?

Virus Zika adalah infeksi virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegpti – jenis nyamuk yang juga menularkan demam berdarah dan chikungunya. Nyamuk Aedes Aegpti menyebarkan virus Zika dengan cara mengisap virus dari orang yang terinfeksi, kemudian menularkannya ke orang yang sehat.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Virus Zika umum terjadi di daerah tropis di mana banyak ditemukan nyamuk Aedes Aegpti. Virus ini bisa menyerang siapa saja dalam berbagai kalangan usia. Namun, wanita hamil atau siapapun yang tinggal atau bepergian ke daerah yang terdapat infeksi Zika memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi.

Begitu pula orang yang berhubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi Zika. Meski begitu, kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala virus Zika?

Dalam kebanyakan kasus orang yang terinfeksi virus ini tidak menunjukkan gejala sama sekali. Bahkan, menurut Kementerian Kesehatan, hanya 1 dari 5 orang yang terinfeksi menunjukkan gejala virus Zika.

Meskipun kebanyakan orang yang mengalami virus Zika tidak merasakan gejala apapun, namun berikut adalah tanda dan gejala virus Zika yang paling umum terjadi:

  • Merasa gatal hampir di semua bagian tubuh
  • Demam
  • Kepala sakit dan pusing
  • Mengalami nyeri sendi dan bengkak pada persendian
  • Nyeri otot
  • Mata menjadi merah
  • Merasa sakit di bagian punggung
  • Nyeri di bagian belakang mata
  • Muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit

Mengenai gejala virus Zika, sejumlah pakar kesehatan melihat adanya banyak kesamaan gejala antara demam berdarah dengan demam Zika. Namun, hal yang paling membedakan antara gejala virus Zika dengan  penyakit demam berdarah adalah demam yang muncul akibat infeksi virus ini cenderung tidak terlalu tinggi, kadang maksimal hanya pada suhu 38 derajat celcius.

Dalam kebanyakan kasus, orang yang tertular penyakit Zika dapat pulih secara total dan gejala membaik dengan sendirinya. Seseorang yang terinfeksi virus ini umumnya akan kembali pulih dalam waktu 7 sampai 12 hari.

Meski begitu dalam beberapa kasus yang lebih serius, kondisi ini memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit karena adanya gangguan saraf dan autoimun pada orang yang terinfeksi virus Zika. Jika ini terjadi, dokter akan melakukan diagnosis lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan laboratorium berupa RT-PCR & tes antibodi.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Apabila Anda mengalami salah satu gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan di rumah untuk meringankan gejala yang timbul:

  • Istirahat dengan cukup.
  • Minum air mineral yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan kehilangan cairan yang berlebihan.
  • Mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri serta demam yang terjadi.
  • Tidak dianjurkan untuk mengonsumsi jenis obat aspirin atau obat nonsteroid anti peradangan lainnya (NSAID).

Jika keadaan Anda tidak kunjung membaik lebih dari tiga hari, segeralah konsultasikan ke dokter. Semakin cepat Anda tanggap terhadap gejala yang dirasakan, maka akan meminimalisir adanya komplikasi yang lebih serius. Namun ingat, gejala virus Zika yang sudah disebutkan di atas mungkin saja tidak sama dengan apa yang Anda alami. Pasalnya, tubuh masing-masing orang berbeda.

Penyebab

Apa penyebab penyakit ini?

Infeksi virus ini pertama kali diidentifikasi pada kawanan monyet di Uganda pada tahun 1947. Pada manusia, virus ini pertama kali ditemukan tahun 1954 di Nigeria. Bahkan kemunculannya sempat mewabah di Afrika, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Meski begitu, sebagian besar kasus yang terjadi masih berskala kecil dan tidak dianggap sebagai ancaman besar terhadap kesehatan manusia. Namun, persebaran Zika mulai mengancam masyarakat global semenjak mewabah di benua Amerika, terutama Brasil pada tahun 2015.

Nyamuk jenis ini aktif di siang hari yang dapat hidup di dalam atau di luar ruangan. Jika nyamuk Aedes Aegepti mengisap darah orang yang terpapar Zika, nyamuk-nyamuk tersebut dapat menularkan Zika ke orang berikutnya yang mereka hisap darahnya. Selain itu, berdasarkan penelitian terbukti bahwa virus Zika dapat disebarkan melalui hubungan seksual dan transfusi darah. Virus Zika juga dapat menular dari ibu ke anak melalui kehamilan.

Faktor-faktor risiko

Siapa saja yang berisiko terkena penyakit Zika?

Berikut ini faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena virus Zika, yaitu:

1. Ibu hamil

Dalam laman resmi Kementerian Kesehatan RI, disebutkan bahwa bahaya terbesar dari serangan virus Zika justru muncul pada ibu hamil, karena ibu hamil yang positif memiliki virus tersebut kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya. Jika virus tersebut sampai menyerang ibu hamil, akibatnya akan berdampak pada kerusakan jaringan otot dan sistem saraf termasuk sistem saraf pusat di otak dari janin.

Ibu hamil yang terkena infeksi Zika akan berisiko melahirkan anak yang mengalami microcephaly atau ukuran kepala yang terlalu kecil. Perlu diketahui, sampai saat ini adanya hubungan infeksi virus Zika pada ibu hamil dengan kejadian mikrosefalus pada bayi yang dilahirkan belum terbukti secara ilmiah, namun bukti ke arah itu semakin kuat. Hal ini berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan di daerah persebaran virus Zika pada tahun 2015 lalu.

Microchepaly pada bayi dapat mengakibatkan bayi tersebut mengalami komplikasi seperti, tidak dapat tumbuh dan berkembang secara normal, memiliki kecacatan pada wajahnya, mengalami keterbelakangan mental, hiperaktif, serta kejang.

Virus Zika dapat dideteksi pada ibu hamil dengan melakukan pemeriksaan RT-PCR, saat ibu hamil tersebut mengalami demam di minggu pertama gejala virus Zika muncul.Oleh karena itu, ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk tidak melakukan perjalanan ke tempat yang sedang terjadi wabah virus Zika untuk mencegah terkena infeksi tersebut.

2. Hubungan seksual tanpa pengaman

CDC telah mengkonfirmasi bahwa Zika dapat menyebar melalui hubungan seks, biasanya setelah seseorang melakukan perjalanan ke daerah di mana Zika telah mewabah. Zika juga bisa dilewatkan melakuki seks, meski orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala pada saat itu.

Kasus pertama yang membuktikan bahwa Zika bisa ditularkan lewat hubungan seks adalah pada Juli 2016 di New York City. Saat itu, otoritas kesehatan Amerika Serikat melaporkan bahwa seorang wanita menularkan virus Zika ke seorang pria melalui seks tanpa pengaman. Sebelum itu, para ahli hanya pernah menemukan kasus di mana pria menularkan virus ini ke pasangannya melalui seks, serta penularan dari gigitan nyamuk.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa virus ini dapat ditularkan dalam darah – donor darah, air mani, air kencing, dan air liur orang yang terinfeksi, serta cairan mata.

3. Pergi ke daerah yang terinfeksi

Sebagian kasus penyebab virus Zika dikaitkan dengan aktivitas perjalanan ke daerah yang sedang terinfeksi. CDC menerbitkan peringatan perjalanan terkait peta penyebaran virus Zika. Berikut ini adalah beberapa daerah tropis yang harus diwaspadai:

Negara-negara dengan penyebaran Zika yang tergolong kejadian luar biasa (KLB)

  • Brazil
  • Cape Verde
  • Colombia
  • El Savador
  • Honduras
  • Martinique
  • Panama
  • Suriname

Negara-negara dengan penyebaran Zika memiliki status transmisi aktif

  • Barbados
  • Bolivia
  • Curacao
  • The Dominican Republic
  • Ecuador
  • Fiji
  • French Guiana
  • Guadalope
  • Guatemala
  • Guyana
  • Haiti
  • Meksiko
  • New Caledonia
  • Nicaragua
  • Paraguay
  • Puerto Rico
  • Saint Martin
  • Samoa
  • Tonga
  • US Virgin Islands
  • Venezuela

Informasi lebih lanjut, Anda bisa merujuk ke situs website CDC untuk perkembangan terbaru daerah penyebaran Zika yang harus diwaspadai. Bila setelah Anda kembali dari suatu negara dan Anda mulai merasa sakit berkaitan dengan gejala virus Zika yang sebagaimana sudah disebutkan di atas, pastikan untuk memberitahu dokter dan perawat tentang tujuan perjalanan Anda yang telah lalu.

Kenapa penting untuk mewaspadai penyakit ini?

Pada kasus yang jarang terjadi, virus Zika juga diketahui dapat membuat seseorang mengalami sindrom Guillane Bare, yaitu sindrom yang ditandai dengan adanya gangguan serius pada sistem saraf pusat. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mencegah wabah dari virus Zika ini.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis penyakit ini?

Langkah pertama dalam mendiagnosis virus Zika adalah dengan memberikan riwayat medis dan perjalanan Anda pada dokter, termasuk informasi pribadi seperti aktivitas seksual yang dilakukan Anda dengan pasangan.

Untuk memastikan diagnosis dari gejala yang dikeluhkan pasien, dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan tes darah. Tes darah ini dilakukan untuk mendeteksi asam nukleat virus, mengisolasi virus, serta uji serologis. Selain melakuan tes darah, dokter juga memungkinkan untuk melakuan tes urine dan air liur pada hari ketiga sampai hari kelima ketika gejala masih berlangsung.

Dari hasil tes darah yang sudah dilakukan pada ibu hamil, tim medis dapat:

  • Mendeteksi microcephaly dan gangguan pada otak melalui tes USG.
  • Mengambil sampel cairan ketuban dan memeriksa rahim menggunakan jarum berongga.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati Zika?

Sampai saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk virus Zika, hal ini disebabkan karena pada awalnya infeksi penyakit ini dianggap tidak tergolong berat dan hanya sedikit kasus yang dilaporkan. Jadi, pengobatan yang ada saat ini masih berfokus pada menangani gejala yang dirasakan. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika Anda terindikasi mengalami gejala virus zika, yaitu:

  • Memenuhi asupan cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
  • Mengonsumsi obat pereda rasa sakit seperti acetaminophen atau paracetamol untuk meredakan demam dan sakit kepala.
  • Jangan lupa untuk selalu beriskusi dengan dokter sebelum Anda menggunakan obat-obat tambahan selain yang sudah disebutkan di atas.
  • Istirahat yang cukup.
  • Jangan konsumsi aspirin dan obat-obatan non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDS) lainnya hingga demam berdarah disingkirkan untuk mengurangi risiko perdarahan.
  • Bagi pasien yang telah terinfeksi virus Zika diharapkan untuk menghindari gigitan nyamuk selama terjangkit virus ini karena virus Zika yang dapat bertahan lama di dalam darah penderita dapat menyebar ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Sampai saat ini pun penyakit ini belum bisa dicegah dengan vaksin. Jika Anda terinfeksi dengan virus Zika, hindari gigitan nyamuk selama seminggu pertama untuk meminimalisir kemungkinan penyebaran penyakit. Minggu pertama dari infeksi adalah periode kritis di mana virus Zika aktif pada aliran darah dan mudah ditularkan melalui nyamuk. Satu nyamuk saja dapat menginfeksi banyak orang lain.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah terinfeksi virus Zika?

Mencegah gigitan nyamuk adalah salah satu tindakan pencegahan awal yang bisa membantu Anda terhindar dari infeksi virus Zika. Meski terdengar sederhana, namun fakta di lapangan kadang sulit dilakukan. Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Tetap berada di dalam ruangan yang tertutup dan ber-AC untuk mengurangi faktor risiko, karena nyamuk pembawa Zika aktif sepanjang hari.
  • Kenakan pakaian yang dapat melindungi dari gigitan nyamuk seperti baju berlengan panjang, celana panjang, kaus kaki dan sepatu.
  • Kurangi tempat perkembangbiakan nyamuk untuk menurunkan populasi nyamuk dengan cara melakukan 3M Plus (menguras dan menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau melakukan daur ulang barang  bekas) plus menabur bubuk larvasida.
  • Menggunakan kelambu saat tidur.
  • Gunakan juga kelambu pada tempat tidur bayi, kereta dorong bayi, dan gendongan atau alat pengangkut bayi lainnya.
  • Menggunakan obat nyamuk atau lotion anti nyamuk. Namun, hindari pemakaian lotion anti nyamuk pada bayi yang berusia di bawah dua bulan. Sehingga Anda harus memastikan agar pakaian bayi dapat melindunginya dari gigitan nyamuk.
  • Pilihlah perawatan, pencucian, atau pemakaian pakaian serta peralatan yang menggunakan bahan dengan kandungan permethrin. Jangan lupa pelajari terlebih dahulu terkait informasi produk dan instruksi penggunaan mengenai perlindungan yang diberikan. Selain itu, pastikan untuk tidak menggunakan produk tersebut pada area kulit.
  • Melakukan pengawasan jentik melalui program Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik)
  • Meningkatkan daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti olahraga rutin, asupan nutrisi yang cukup, dan lain sebagainya.
  • Bagi wanita hamil diharapkan untuk lebih berhati-hati, dan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin bepergian ke tempat yang memang masuk dalam daftar negara yang terkena wabah Zika.
  • Selain itu, jika Anda merencanakan berpergian ke luar negeri, pelajari informasi mengenai daerah yang akan Anda kunjungi, seperti fasilitas kesehatan dan area luar ruangan terbuka sebelum waktu keberangkatan tiba, khususnya area yang terjangkit virus Zika.
  • Segera lakukan tes laboratorium sekembalinya Anda dari perjalanan ke salah satu negara yang sudah disebutkan di atas- khususnya perempuan hamil.
Sumber

Direview tanggal: September 8, 2017 | Terakhir Diedit: September 8, 2017