Alergi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu alergi?

Alergi adalah reaksi abnormal dari sistem imun saat melawan zat asing yang masuk ke tubuh, yang pada dasarnya tidak berbahaya. Zat ini dikenal sebagai alergen. 

Beberapa contoh pemicu alergi adalah makanan, serbuk bunga, obat, debu, atau udara dingin. Itu semua bukanlah hal yang berbahaya. Maka, sistem imun tubuh orang pada umumnya tidak akan bereaksi negatif terhadap hal-hal tersebut.

Normalnya, sistem imun memang hanya akan bereaksi melawan zat asing yang benar-benar dapat mengancam kesehatan. Misalnya, kuman seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur, dan partikel asing lainnya yang dapat menyebabkan penyakit.

Sistem kekebalan tubuh seharusnya bisa mudah membedakan mana zat berbahaya dan yang tidak. Namun, sistem imun sebagian orang tidak seperti itu.

Seperti apa proses reaksi alergi?

Sistem kekebalan tubuh beberapa orang tidak mampu atau kebingungan membedakan mana zat yang aman dan berbahaya.

Maka ketika mereka berinteraksi dengan alergen, entah dengan cara dihirup, dimakan, atau paparan di kulit, sistem imun akan langsung melepaskan antibodi Immunoglobulin E (IgE) khusus serta bahan kimia seperti histamin dan leukotrien ke aliran darah.

Senyawa-senyawa kimia ini kemudian akan diantarkan ke jaringan kulit, sistem pernapasan, saluran pencernaan, jaringan telinga, dan sistem tubuh lainnya untuk menghasilkan reaksi alergi.

Proses ini dianggap oleh sistem imun sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari serangan “zat asing” dengan mengeluarkannya dari dalam tubuh. Respons imun yang bekerja aktif akibat paparan alergen mirip dengan respons yang memunculkan demam.

Jenis-jenis

Orang yang memiliki alergi biasanya akan sangat mudah bereaksi terhadap satu atau lebih dari beberapa hal ini:

1. Obat

Cukup jarang orang yang bereaksi negatif terhadap pengobatan hingga dikatakan alergi. Biasanya kondisi ini jugua suka salah didiagnosis karena dianggap sebagai gejala efek samping obat pada umumnya.

Gejala biasanya terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi obat.

2. Serangga

Lebah, tawon, dan semut api adalah serangga penyengat yang umum menyebabkan reaksi alergi. Ketika serangga-serangga ini menyengat Anda, mereka akan mengeluarkan zat beracun. 

Kebanyakan reaksi karena tersengat serangga akan pulih dalam beberapa jam atau hari. Namun dalam kondisi tertentu, racun sengatan serangga dapat memicu reaksi yang mengancam nyawa.

Serangga seperti nyamuk, kutu, dan lalat tertentu juga dapat menimbulkan reaksi seperti rasa sakit, kemerahan, gatal, menyengat dan pembengkakan ringan di daerah sekitar gigitan. 

3. Spora jamur

Jamur atau spora yang berterbangan di udara dapat menimbulkan gejala alergi. bergerak di udara. Beberapa spora menyebar dalam cuaca kering dan berangin, dan ada juga yang menyebar bersama kabut atau embun ketika udara lembap.

Ketika Anda menghirup serpihan spora, tubuh menganggapnya sebagai alergen dan memicu timbulnya gejala. 

4. Bulu hewan

Alergen pada dasarnya bukan pada bulu hewannya, tapi dari air liur, ketombe, atau feses dan air kencing hewan yang ada di bulu. Zat-zat tersebut mengandung protein tertentu yang dianggap tubuh sebagai ancaman.

Bulu hewan bisa hinggap di perabotan rumah tangga atau bahkan di permukaan lantai. Saat bulu terhirup atau menempel di kulit, orang yang sensitif dapat langsung merasakan gejala seperti bersin atau gatal

5. Makanan

Makanan adalah salah satu alergen yang paling umum. Makanan adalah zat yang tidak berbahaya. Namun, tubuh beberapa orang bisa menganggapnya sebagai zat asing yang bisa menyebabkan kerusakan dan bahaya.

Beberapa macam makanan yang paling umum menyebabkan reaksi alergi adalah susu, telur, kacang dan biji-bijian (kacang tanah, kedelai, gandum, dsb), hingga makanan laut (ikan, kerang, dan lainnya).

6. Lateks

Lateks adalah produk yang dibuat dari pohon karet. Lateks mengandung protein tertentu yang dapat dianggap sebagai zat berbahaya oleh tubuh beberapa orang.

Alergi lateks dapat menyebabkan kulit gatal atau bahkan syok anafilaksis.

7. Tungau debu

Debu di kasur, sofa, atau karpet rumah Anda adalah alergen yang paling umum. Tungau debu hidup dan berkembang biak dengan mudah di tempat yang hangat dan lembap.

Partikel tungau debu sering melayang di udara dan menetap di area rumah Anda. Partikel-partikel debu terlalu kecil untuk dilihat dan seringkali tidak dapat dihilangkan hanya dengan dilap atau disapu biasa.

Maka itu, rumah yang bersih sekalipun dapat memicu reaksi alergi tungau debu.

Gejala

Apa saja tanda dan gejala alergi?

Setiap orang mungkin memunculkan reaksi yang berbeda. Intensitas gejalanya pun dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Jika Anda terkena alergen untuk pertama kalinya, gejala mungkin ringan. Gejala mungkin akan lebih buruk jika Anda berulang kali terkena alergen.

Gejala reaksi alergi ringan pada umumnya adalah:

  • Ruam (bercak bintik-bintik merah pada kulit yang terasa gatal)
  • Kulit lecet atau terkelupas
  • Hidung gatal, tersumbat. atau berair
  • Mata merah, bengkak, berair, atau gatal
  • Bersin-bersin
  • Sakit perut

Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan gejala seperti:

  • Kram perut
  • Rasa sakit atau sesak di dada
  • Diare
  • Kesulitan menelan
  • Pusing (vertigo)
  • Ketakutan atau kecemasan
  • Wajah memerah
  • Mual atau muntah
  • Palpitasi jantung
  • Pembengkakan wajah, mata, bibir, atau lidah
  • Kelemahan
  • Batuk mengi
  • Serangan asma
  • Sulit bernapas
  • Ketidaksadaran

Jika beberapa gejala muncul dalam tubuh, segera hubungi dokter agar dapat diobati secepatnya.

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda tidak dapat mengobati alergi dengan menggunakan obat bebas yang dijual di apotek, segera ke dokter. Anda juga harus mengunjungi dokter jika gejalanya mengganggu kualitas dan produktivitas hidup, serta mengganggu tidur Anda.

Selain itu, segera dapatkan bantuan medis darurat jika reaksi alergi timbul langsung parah dan tiba-tiba dalam beberapa detik setelah terkena alergen. Jenis reaksi ini dikenal sebagai syok anafilaksis.

Gejala anafilaksis yang harus diwaspadai adalah kesulitan bernapas serta penurunan tekanan darah secara dramatis dan mendadak. Tanpa pengobatan, kondisi ini dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 15 menit.

Penyebab

Apa saja penyebab alergi?

Sampai saat ini para ahli dan dokter masih belum mengetahui apa penyebab pasti dari alergi, atau apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi berbeda terhadap zat tertentu.

Namun, alergi adalah kondisi yang dapat diturunkan dalam keluarga. Jika Anda memiliki anggota keluarga dekat yang punya alergi, Anda akan berisiko lebih besar untuk mengalami hal yang sama.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat umumnya mudah membedakan mana senyawa berbahaya dan yang tidak. Namun, sistem imun tubuh beberapa orang tidak mampu bekerja seperti demikian. 

Sistem imun tubuh mereka justru menciptakan antibodi Immunogulobin E (IgE) dan melepaskan zat histamin untuk menargetkan alergen tertentu. Ini artinya jika lain kali Anda terpapar alergen yang sama di masa depan, sistem imun akan terus menghasilkan reaksi alergi.

Terkena penyebab alergi berulang kali juga dapat menyebabkan alergen mengikat ke sel-sel kekebalan tubuh dan mengembangkan gejala. 

Faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko memiliki alergi?

Beberapa faktor membuat tubuh lebih rentan mengalami alergi adalah:

  • Riwayat keluarga. Jika Anggota keluarga Anda ada yang memiliki alergi, kemungkinan besar Anda juga bisa terkena.
  • Anak-anak berisiko lebih besar mengalami reaksi daripada orang dewasa. Alergi yang dimiliki waktu kecul biasanya akan hilang ketika beranjak dewasa, meski tidak selalu.
  • Anda memiliki asma. Asma membuat kita berpotensi akan mengalami alergi-alergi yang lain.

Tes dan Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis reaksi alergi?

Reaksi alergi dapat didiagnosis oleh dokter dengan melakukan pemeriksaan dan bertanya tentang riwayat kesehatan Anda. Jika reaksi alergi Anda parah, dokter mungkin meminta Anda untuk membuat jurnal detail mengenai gejala, zat apa yang tampak memicunya, serta  kapan gejala itu muncul, dan kapan Anda terpapar alergen.

Dokter Anda mungkin selanjutnya memerlukan tes untuk menentukan apa alergen Anda. Jenis yang paling umum dari tes alergi adalah:

  • Tes kulit. Ini adalah metode yang paling umum digunakan untuk mengetahui penyebab tubuh bereaksi terhadap alergen tertentu. Ada 3 jenis tes pada kulit yaitu prick testing, patch testing, dan intradermal testing.
  • Challenge test atau tes tantangan
  • Tes darah Immunoglobulin E (IgE) untuk mengukur tingkat zat alergi dan efeknya terhadap tubuh.
  • Complete blood count (CBC) atau pemeriksaan darah lengkap yang digunakan untuk menghitung jumlah sel darah putih eosinofil.

Selain itu, dokter dapat menindaklanjuti tes dengan beberapa prosedur ini:

1. Tes eliminasi

Dokter akan menyarankan Anda untuk menghindari atau justru menggunakan zat atau benda tertentu. Tujuannya untuk mengetahui apakah reaksi Anda memburuk atau membaik setelah terpapar benda tersebut.

Proses ini sering digunakan untuk memeriksa apa saja makanan dan obat yang dapat menjadi penyebab alergi.

Selain itu, dokter juga akan memeriksa reaksi tubuh dengan menggunakan suhu panas, dingin, atau rangsangan lain.

Dalam kasus alergi makanan, dokter dapat mengujinya secara oral dengan memberikan Anda sedikit makanan yang dicurigai sebagai alergen.

2. Tes di kelopak mata

Terkadang alergen juga akan dicairkan dan diteteskan ke dalam kelopak mata bagian bawah untuk memeriksa reaksi tertentu. 

Berhubung semua prosedur ini dapat berisiko bahaya, tes alergi hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan medis yang ketat oleh spesialis alergi.

Obat & Pengobatan

Apa saja obat dan pengobatan untuk alergi?

Cara terbaik untuk meredakan gejala alergi adalah dengan langsung menghindari penyebab. Misalnya, langsung hentikan menyuap makanan atau menjauh dari hewan berbulu. 

Alergi adalah kondisi yang umumnya tidak dapat dihilangkan atau disembuhkan total. Maka, Anda harus siap hidup dengan reaksi alergen yang bisa muncul kapan saja. Namun Anda dapat menghindari alergen dan ketika muncul, gejala dapat dikontrol dengan bantuan obat.

Biasanya dokter akan menyarankan obat tergantung pada jenis alergen, reaksi apa yang muncul, dan seberapa parah gejala yang Anda alami.

Berikut obat-obatan yang umumnya digunakan:

1. Antihistamin

Antihistamin bisa dibeli bebas atau didapat dengan resep dokter. Obat ini tersedia dalam beberapa bentuk, di antaranya:

  • Kapsul dan pil
  • Obat tetes mata
  • Suntikan
  • Cairan
  • Nasal spray

2. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah obat antiradang yang tersedia dalam beberapa bentuk, yaitu:

  • Krim dan salep untuk kulit
  • Obat tetes mata
  • Nasal spray
  • Inhaler untuk paru-paru

Orang dengan gejala yang parah bisa mendapatkan resep obat berupa pil kortikosteroid atau suntikan yang berguna dalam jangka pendek.

Penggunaan kortikosteroid secara berulang tanpa pengawasan dokter dapat memberikan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Selalu konsultasikan penggunaan steroid dengan dokter Anda.

3. Dekongestan

Dekongestan dapat membantu meringankan hidung tersumbat. Jangan gunakan semprotan hidung dekongestan lebih dari beberapa hari karena obat ini dapat menyebabkan efek rebound.

Akan tetapi, dekongestan dalam bentuk pil tidak memiliki efek samping yang sama. Orang yang memiliki tekanan darah tinggi, masalah jantung, atau masalah prostat, harus menggunakan dekongestan dengan hati-hati.

4. Suntikan alergi

Suntikan (immunotherapy) akan diberikan jika tubuh tidak dapat menghindari alergen dan pasien mengalami gejala reaksi alergen yang sulit dikendalikan. Suntikan alergi bekerja dengan cara menjaga tubuh bereaksi berlebihan terhadap alergen. Suntikan harus digunakan secara teratur. 

Suntikan akan diberikan dari dosis paling rendah, dan suntikan-suntikan berikutnya akan mengandung dosis yang terus lebih tinggi sampai dosis maksimum tercapai. Suntikan tidak bisa digunakan oleh semua orang, dan Anda harus sering mengunjungi dokter untuk mendapatkan suntikan ini.

5. Sublingual Imunoterapi Treament (SLIT)

Imunoterapi sublingual adalah prosedur pengobatan tanpa suntikan. Obat diletakkan di bawah lidah untuk mengurangi gejala reaksi yang parah. Dokter akan memberikan dosis yang rendah terlebih dulu.

6. Suntik epinefrin

Reaksi yang parah atau anafilaksis perlu diobati dengan obat yang disebut dengan epinefrin (EpiPen). 

Epinefrin berfungsi untuk membuka saluran pernapasan dan menaikkan tekanan darah. Obat ini sangat berguna untuk menyelamatkan nyawa.  

Pertolongan pertama

Jika orang terdekat Anda mengalami reaksi alergi serius dan tidak dapat menggunakan obat, bantulah dia untuk menggunakannya.

Jika orang tersebut tidak sadar, Anda harus dapatkan bantuan medis untuknya dan melakukan hal berikut untuk mencegah syok sementara menunggu bantuan:

  • Periksa apakah orang itu bernapas
  • Merebahkan orang tersebut dalam posisi telentang di atas permukaan rata.
  • Mengangkat kaki orang tersebut, lebih tinggi dari jantungnya
  • Menutupi badannya dengan selimut

Jika tidak bisa mendatangkan bantuan medis, segera bawa orang tersebut ke rumah sakit terdekat.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah dan mengendalikan reaksi alergi?

Anda mungkin tidak dapat mencegah reaksi alergi. Tapi ada langkah-langkah yang dapat Anda ambil untuk mencegah reaksi alergi di masa depan, dengan:

  • Menghindari paparan alergen
  • Mencari perawatan medis jika Anda terkena alergen
  • Membawa obat untuk mencegah dan mengobati anafilaksis

Beberapa hal di bawah ini juga dapat membantu mengurangi atau mencegah risiko alergi:

  • Menyusui dapat membantu mencegah atau mengurangi risiko alergi ketika bayi diberikan ASI di usia 4 sampai 6 bulan.
  • Mengubah pola dan asupan makanan apabila Anda memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini. Diskusi tentang makanan dan pantangan dengan dokter yang bersangkutan.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa jika anak akan kebal jika diekspos zat-zat alergen selama tahun pertama kehidupannya. Teori ini disebut “hipotesis higienis”. Namun, teori ini tidak berlaku bagi semua balita.

Jika Anda memiliki pertanyaan terkait reaksi alergi maupun pengobatan dan pencegahannya, konsultasikan ke dokter.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 4, 2019

Yang juga perlu Anda baca