Informasi Seputar Cat Kuku dan Dampaknya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Selain, tentu banyak orang yang ini agar kukunya tampak cantik. Nah, salah satu cara mempercantik kuku adalah mengecat kuku. Ada beragam jenis cat kuku (kutek) yang bisa Anda jumpai. Kenali definisi kutek dan dampaknya terhadap kesehatan. 

Apa itu cat kuku?

cara mengeringkan kutek dengan cepat

Cat kuku adalah produk yang digunakan untuk melapisi lempeng kuku agar tampilannya lebih cantik. Bahkan, mengecat kuku juga bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kuku tertentu, seperti kuku yang terkelupas atau melunak. 

Perawatan kuku yang satu ini mengandung formula yang bertujuan untuk meningkatkan tampilan kuku dengan menyamarkan kuku yang retak atau terkelupas.

Kandungan kutek biasanya terdiri dari campuran polimer organik dan beberapa bahan lainnya untuk memberikan warna dan tekstur yang unik. 

Anda bisa mewarnai kuku sebagai bagian dari manicure dan pedicure di salon, atau melakukannya sendiri di rumah dengan membeli produk kutek yang dijual bebas. 

Produk kutek, termasuk berbentuk gel, cairan, dan bubuk, umumnya mengandung bahan-bahan seperti: 

  • dibutyl phthalate (DBP), 
  • toluene, 
  • formaldehida,
  • kamper,
  • parafin, 
  • metakrilat,
  • aseton, dan
  • asetonitril.

Jenis cat kuku

Bagi orang yang hobi mengecat kuku mereka mungkin sudah paham betul apa saja varian kutek yang ditawarkan. Berikut ini beberapa jenis kutek yang perlu Anda kenali sebelum mencoba mewarnai kuku Anda. 

Cat kuku biasa

Jenis kutek yang paling sering digunakan untuk mengecat kuku yaitu cat kuku konvensional. Cat kuku yang satu ini biasanya harus dioleskan beberapa kali pada kuku dan dapat dikeringkan dengan udara. 

Kandungan polimer di dalam kutek ini dilarutkan dalam pelarut. Selama proses pengeringan, pelarut tersebut akan menguap dan polimer pun mengeras, sehingga menghasilkan cat yang menempel pada kuku. 

Cat kuku gel

Salah satu jenis kutek yang cukup populer adalah cat kuku gel. Varian kutek yang satu ini terbilang cukup tahan lama dibandingkan jenis yang lainnya karena mengandung jenis polimer metakrilat. 

Cara pemakaiannya pun mirip dengan cat kuku pada umumnya, tetapi tidak akan mengering dengan sendirinya. Anda perlu mengeringkan kutek di bawah lampu LED atau ultraviolet. 

Berbeda dengan kutek biasa, kutek gel lebih sulit dihilangkan dan dapat bertahan selama dua minggu. Anda bisa menghilangkan kutek gel dengan merendam kuku dalam kandungan aseton murni dengan waktu yang tergantung pada formula di dalamnya. 

Cat kuku bubuk

Tidak hanya dalam bentuk gel, kutek pun bisa Anda temukan dalam bentuk bubuk. Varian yang satu ini biasa digunakan dalam proses manikur dan pedikur. 

Cat yang terdiri dari bubuk akrilik halus ini nantinya akan dicampurkan dengan bahan perekat agar warnanya dapat menempel. Lalu, kuku jari Anda akan dicelupkan atau dioleskan pada kuku. 

Jenis perawatan yang satu ini mengandung cairan berbahan kimia yang menyebabkan polimerisasi dan dapat meninggalkan ‘cangkang’ yang cukup keras. 

Cat kuku ‘non-toksik’ atau ‘tidak beracun’

Sebenarnya, label non-toksik pada cat kuku cukup sulit untuk dijelaskan. Akan tetapi, label non-toksik pada kutek mengacu pada ketiadaan lima bahan yang cukup spesifik, yakni: 

  • formaldehida, 
  • toluene, 
  • dibutyl phthalate (DBP), 
  • formaldehida resin, dan 
  • kamper.

Begini, formaldehida merupakan bahan pengawet yang diyakini dapat menyebabkan kanker. Senyawa ini juga yang menjadi zat yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Sifat tersebut juga berlaku pada resin formaldehida, dibutil ftalat, dan toluene. 

Sementara itu, kamper merupakan minyak yang digunakan sebagai obat oles, tetapi bisa menjadi racun ketika dikonsumsi secara oral. 

Sejumlah penelitian juga melaporkan bahwa bahan kimia dalam cat kuku dapat diserap ke dalam tubuh, tetapi belum dapat ditentukan berapa jumlah pastinya.

Itu sebabnya, embel-embel non-toksik pada cat kuku masih perlu dipertanyakan, mengingat ada bahan kimia lain di dalamnya. 

Bahaya cat kuku terhadap kesehatan

cara memutihkan kuku yang kuning

Mengecat kuku memang dapat meningkatkan tampilan kuku. Sayangnya, kebanyakan produk kutek mengandung tiga bahan beracun yang dapat merusak kesehatan Anda sebagai berikut.

Dibutyl phthalate (DBP)

Dibutyl phthalate merupakan senyawa kimia yang digunakan agar kutek lebih fleksibel. Selain itu, senyawa kimia ini juga mencegah kuku yang dicat menjadi rapuh dan terkelupas. 

Meski begitu, DBP ternyata disebut dapat mengganggu organ reproduksi, yaitu mengganggu hormon endokrin. Itu sebabnya, DBP sudah sangat jarang digunakan, terutama di negara-negara Eropa karena memiliki dampak yang cukup berbahaya. 

Toluene

Selain DBP, senyawa kimia lainnya dalam kutek yang berdampak buruk terhadap kesehatan adalah toluene. Toluene merupakan pelarut yang dipakai untuk mengencerkan kutek agar menjadi halus setelah dioleskan. 

Pelarut biasanya cukup berbahaya, terutama bagi sistem saraf. Beberapa orang menghirup cat semprot, lem, dan bensin dapat menjadi pusing dan pingsan. 

Formaldehida

Sebagai pengeras kutek, formaldehida pun dianggap dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi penderita alergi terhadap formaldehida.

Oleh karena itu, orang yang memiliki alergi ini dianjurkan untuk menggunakan perawatan kuku tanpa formaldehida. 

Bagaimana cat kuku mengganggu hormon endokrin?

Salah satu bahaya yang bisa muncul akibat mengecat kuku yaitu hormon endokrin yang terganggu. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dari EWG dan Duke University

Para peneliti menemukan bahwa kutek yang mengandung triphenyl phosphate (TPHP) dapat mengganggu hormon endokrin. Penelitian ini menguji urine 26 peserta wanita, baik sebelum dan sesudah mereka mengoleskan cat kuku. 

Para ahli mencoba mencari DPHP, yaitu bahan kimia yang dibuat oleh tubuh saat proses metabolisme TPHP terjadi. Hasilnya, mereka melihat peningkatan DPHP yang lebih tinggi setelah kuku dicat. 

TPHP dapat mengganggu hormon manusia, terutama ketika proses reproduksi dan pertumbuhan. Banyak perusahaan kosmetik yang menggunakan TPHP karena membuat cat kuku lebih fleksibel dan tahan lama. 

Tips mengecat kuku dengan kutek

Walaupun kutek, terutama kutek gel, bertahan lama dan mempercantik tampilan kuku Anda, kandungan di dalamnya dapat memengaruhi kesehatan kuku. Mengecat kuku dengan kutek gel dapat menyebabkan kuku menguning, rapuh, dan pecah-pecah. 

Maka dari itu, mewarnai kuku tidak boleh asal-asalan karena ada beberapa tips yang perlu diperhatikan untuk menjaga kuku tetap sehat

1. Selalu tanya tingkat kebersihannya dengan terapis 

Tidak ada salahnya untuk bertanya seputar kebersihan alat yang digunakan untuk mengecat kuku kepada terapis. Anda bisa menanyakan, apakah alatnya sudah disterilkan, baik sesudah maupun sebelum digunakan. 

Selain itu, jangan pernah membiarkan terapis untuk memotong kutikula Anda saat mewarnai kuku agar tidak terjadi peradangan atau infeksi jamur pada kuku

2. Pertimbangkan cat kuku biasa dibandingkan kutek gel

Bagi orang yang memiliki alergi terhadap aseton atau masalah pada kuku yang sering terjadi berulang kali, mungkin perlu mempertimbangka cat kuku konvensional. Pasalnya, cat kuku gel memerlukan aseton untuk menghilangkan warnanya pada kuku. 

Hal ini tentu dapat memicu reaksi alergi bagi orang yang memilikinya atau menyebabkan penyakit kuku lainnya. 

3. Pakai tabir surya

Sebelum mengecat kuku, sebaiknya gunakan tabir surya dengan bahan yang tahan air dan SPF 30 pada tangan Anda. Hal ini bertujuan untuk mencegah kanker kulit dan penuaan kulit di sekitar kuku.

Tabir surya juga melindungi kulit dari sinar UV yang digunakan ketika ‘mengeringkan’ cat kuku gel ke kuku. Anda juga bisa memakai sarung tangan berwarna gelap dengan ujung jari yang terbuka sebelum cat kuku dioleskan. 

4. Rendam ujung jari dengan aseton

Bila kutek sudah hilang, cobalah untuk merendam ujung jari dengan aseton, tidak seluruh tangan atau jari Anda. Dengan begitu, kulit di sekitarnya pun bisa terlindungi. 

Pilihan lainnya yaitu memakai bola kapas untuk menghilangkan kutek. Cobalah untuk merendam bola kapas dalam aseton dan tempelkan pada kuku. 

Sebelum itu, bungkus kulit di sekitar jari dengan alumunium foil agar tidak terpapar aseton. Cara ini dapat memastikan hanya kuku Anda yang bersentuhan dengan aseton. 

Amankah ibu hamil memakai kutek? 

Bagi ibu hamil yang ingin mempercantik kuku dengan kutek mungkin bertanya-tanya, apakah cat kuku aman atau tidak? 

Kabar baiknya, pemakaian produk ini, terutama dalam bentuk gel, tergolong aman dipakai oleh ibu hamil, asalkan berhati-hati. 

Sebagai tambahan, usahakan untuk tidak mengecat kuku dengan kutek berbahan methacrylate monomer (MMA). Pasalnya, bahan ini dapat menyebabkan iritasi kulit, mata dan paru-paru, serta memicu reaksi alergi

Sementara itu, beberapa ibu hamil mungkin akan merasa mual ketika mencium aroma bahan kimia yang ada di salon. Bila Anda mengalami sakit kepala atau mual saat mengecat kuku, cobalah untuk menghirup udara segar di luar. 

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Proses Terjadinya Kehamilan: Dari Hubungan Intim Hingga Jadi Janin

Anda pasti sudah tahu bahwa kehamilan terjadi ketika sel sperma bertemu dengan sel telur. Namun, apakah Anda pernah berpikir bagaimana proses ini terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Program Hamil, Kesuburan, Kehamilan 22 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Usia Berapa Bayi yang Baru Lahir Diperbolehkan Keluar Rumah?

Saat baru dilahirkan Anda mungkin cemas untuk membawa si kecil keluar rumah. Memangnya, kapan pada umur berapa bayi baru lahir boleh keluar rumah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 18 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Bisakah Mencegah Autisme Sejak Anak dalam Kandungan?

Tentu kita tidak ingin memiliki anak autisme. Sebisa mungkin, kita ingin mencegahnya, bahkan sejak hamil. Apakah bisa mencegah autisme anak sedari hamil?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Tanda-Tanda Keguguran yang Perlu Diketahui Ibu Hamil

Keguguran rentan menyerang kehamilan di usia muda atau trimester pertama. Berikut tanda-tanda keguguran yang perlu diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 17 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit



Direkomendasikan untuk Anda

fungsi hormon fsh dan lh

Memahami Fungsi Hormon FSH dan LH pada Sistem Reproduksi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
pergerakan janin

Kapan Bisa Mulai Mendengar Detak Jantung Janin Dalam Kandungan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
13 Olahraga Untuk Penyandang cacat

13 Olahraga yang Baik untuk Penyandang Cacat atau Disabilitas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit
vitamin E untuk kesuburan

Vitamin E untuk Kesuburan, Benarkah Bisa Bikin Cepat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit