Penumpukan lemak pada tubuh tidak hanya berkaitan soal penampilan, tapi juga dapat menandakan adanya masalah kesehatan. Bila memiliki kelebihan lemak yang dirasa tak wajar di area kaki atau lengan, Anda perlu mewaspadai risiko mengalami lipedema.
Penumpukan lemak pada tubuh tidak hanya berkaitan soal penampilan, tapi juga dapat menandakan adanya masalah kesehatan. Bila memiliki kelebihan lemak yang dirasa tak wajar di area kaki atau lengan, Anda perlu mewaspadai risiko mengalami lipedema.

Lipedema adalah lemak yang menumpuk secara tidak normal di tubuh bagian bawah seperti kaki. Kelebihan lemak juga bisa menumpuk di area lengan atas.
Kondisi ini biasanya disebabkan oleh penumpukan sel lemak di jaringan bawah kulit. Akibatnya, cairan juga berkumpul di dalam sel lemak tersebut.
Lipedema umumnya terjadi pada wanita, terkadang menimbulkan rasa sakit sehingga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Penumpukan lemak memperlihatkan bentuk kulit yang berlapis dengan tekstur yang bergelombang.
Meski kulit yang membesar sekilas mirip dengan selulit, lipedema memiliki gejala yang berbeda dengan selulit.

Penumpukan lemak berlebih pada lipedema sering terjadi di bagian kaki atas, seperti bokong, paha, dan betis, serta lengan atas.
Akibatnya, bagian tubuh tersebut akan membesar secara tidak proporsional, sedangkan pergelangan kaki dan lengan bawah tidak mengalami perubahan.
Gejala lipedema dibagi menjadi 3 fase seperti dikutip dari situs National Library of Medicine sebagai berikut.
Di fase ini, Anda mungkin mulai merasakan area kaki yang berat dan tubuh bagian atas yang lebih kecil.
Meski pada tahap awal ini penumpukan lemak sudah terjadi, kulit Anda masih terlihat normal.
Di tahap ini, lekukan pada permukaan kulit yang mulai terlihat diakibatkan oleh penebalan dan kontraksi jaringan lemak sebagai hasil dari peningkatan lemak.
Kedua kaki atau lengan biasanya membesar pada saat bersamaan dan pada tingkat kecepatan yang sama.
Saat lemak semakin menumpuk, peredaran darah dan kinerja sel pada jaringan kulit jadi terganggu. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi sendi dan elastisitas kulit.
Pada fase ini juga, Anda mungkin akan mengalami gejala lain yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain melalui 3 fase di atas, lipedema dapat menimbulkan gejala lain seperti berikut.
Banyak yang mengira bahwa lipedema sama dengan selulit. Padahal, lipedema dan selulit memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari segi bentuk, penyebab, dan penanganan.
Lipedema ditandai dengan bagian kaki atas dan lengan bawah yang semakin membesar, empuk, dan menyebabkan kaki serta tangan terlihat tidak proporsional.
Sementara itu, selulit ditandai dengan tekstur yang seperti kulit jeruk dan tidak terjadi pembengkakan yang menyebabkan tubuh bagian tertentu terlihat membesar.
Perbedaan lipedema dan selulit berikutnya bisa dilihat dari penyebabnya.
Lipedema disebabkan oleh penumpukan lemak yang berkumpul hingga menyebabkan pembengkakan yang merata pada bagian tubuh tertentu.
Bedanya, selulit adalah jaringan ikat dan lemak yang mendorong kulit sehingga menimbulkan tonjolan tak beraturan di kulit.
Selain itu, selulit dapat disebabkan oleh adanya bakteri yang menyerang jaringan bawah kulit.
Untuk mengatasi lipedema, dibutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih kompleks seperti diet sehat, kompresi, bahkan sedot lemak.
Cara mengatasi selulit bisa berupa terapi laser, penggunaan krim dan lotion khusus, atau terapi gelombang akustik.
Penyebab lipedema belum diketahui secara pasti. Penelitian pada penyakit ini masih terus dilakukan. Namun, sekitar 20% – 60% kasus lipedema disebabkan oleh faktor keturunan.
Mengutip Cleveland Clinic, banyak perempuan yang memiliki lipedema sejak lahir dengan keluarga yang memiliki riwayat kondisi sama.
Perubahan hormon perempuan saat pubertas, selama kehamilan, setelah operasi bedah rahim, dan sekitar waktu menopause juga diduga berperan penting dalam memicu kondisi ini.
Selain itu, perlu diketahui bahwa penyakit ini tidak disebabkan oleh obesitas. Akan tetapi, lebih dari 50% pasien lipedema mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Sampai saat ini belum ditemukan cara mengatasi lipedema secara tuntas. Bahkan diet ketat atau olahraga pun belum tentu dapat menghilangkan penumpukan lemak.
Namun, tetap penting untuk menjalani keduanya sebagai gaya hidup sehat. Beberapa terapi medis di bawah ini dapat membantu Anda mengurangi gejala lipedema.
Pola hidup sehat seperti diet untuk menurunkan berat badan dan olahraga mungkin dapat mengecilkan bagian-bagian atas tubuh Anda.
Meski cara ini tidak banyak mengurangi jumlah lemak pada lapisan bawah kulit akibat lipedema, Anda tetap disarankan untuk melakukannya.
Usaha ini diharapkan dapat membantu mengurangi berat badan dari lemak nonlipedema dan mengurangi peradangan.
Mengalami sindrom kulit mengelupas yang cukup parah dapat memengaruhi sistem limfatik.
Untuk itu, manual lymphatic drainage dapat menjadi pertimbangan untuk mengatasi sindrom ini.
Manual lymphatic drainage adalah serangkaian pijatan lembut dengan gerakan berirama untuk merangsang aliran getah bening di sekitar daerah pembuluh, supaya dialihkan mengalir ke sistem vena.
Cara ini membantu mengurangi rasa sakit dan mencegah fibrosis.
Penggunaan perban, stocking, celana, atau celana pendek spandek yang ketat untuk meningkatkan tekanan jaringan di kaki.
Selain itu, hal tersebut dapat mengurangi kemungkinan cairan membesar kembali.
Operasi liposuction atau dikenal juga dengan istilah sedot lemak, bisa menghilangkan lemak di bawah kulit.
Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahwa menghilangkan lemak pada kaki memiliki risiko kematian lebih besar daripada menghilangkan lemak pada perut.
Jika Anda merasa memiliki kelebihan lemak yang tidak normal di area kaki atau lengan atas, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Lipoedema . (2023). NHS. Retrieved 27 August 2024, from https://www.nhs.uk/conditions/lipoedema/
Vyas, A., & Adnan, G. (2023). Lipedema. Statpearls Publishing. Retrieved 27 August 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK573066/
Kruppa, P., Georgiou, I., Biermann, N., Prantl, L., Klein-Weigel, P., & Ghods, M. (2020). Lipedema—Pathogenesis, Diagnosis, and Treatment Options. Deutsches Ärzteblatt International.
Lipedema Foundation. (n.d). Retrieved27 August 2024, from https://www.lipedema.org/
Versi Terbaru
27/08/2024
Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Zulfa Azza Adhini
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)