Menilik Kolostomi, Operasi Pembuatan Lubang di Perut untuk Membuang Feses

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anak kecil atau orang dewasa yang susah buang air besar (BAB) sampai berhari-hari biasanya disarankan untuk melakukan kolostomi. Kolostomi adalah jenis operasi besar yang dilakukan untuk mengatasi berbagai penyakit dan kondisi, khususnya yang berhubungan dengan usus besar. Lantas, siapa saja yang harus menjalani prosedur operasi ini dan apa syaratnya? Yuk, cari tahu dalam ulasan berikut ini.

Apa itu kolostomi?

kolostomi

Sederhananya, kolostomi adalah operasi pembuatan lubang di perut untuk mengeluarkan kotoran alias feses. Jenis operasi ini sering disebut sebagai terapi pengalihan usus, karena tujuan kolostomi adalah menggantikan fungsi usus besar untuk menampung dan mengeluarkan feses.

Operasi ini dilakukan dengan cara membuka salah satu ujung usus besar, lalu dihubungkan pada bukaan atau lubang (stoma) pada dinding perut, biasanya di sisi kiri perut. Feses tidak akan lagi keluar melalui anus, tapi melalui lubang alias stoma pada dinding perut tadi.

Setelah itu, pada lubang perut akan ditempelkan sebuah kantong kolostomi untuk menampung feses yang keluar. Kantong ini perlu diganti secara rutin setelah kotorannya penuh supaya tidak menimbulkan infeksi.

Ada sedikit perbedaan bentuk feses yang keluar lewat anus dan lubang perut. Bedanya, feses yang keluar mungkin tidak sepadat saat keluar melalui anus, tapi cenderung lebih lunak atau cair. Namun, ini tergantung juga dari kondisi kesehatan masing-masing pasien.

Siapa saja yang membutuhkan kolostomi?

kanker usus besar stadium lanjut

Prosedur kolostomi biasanya dilakukan pada orang-orang yang memiliki masalah pada usus bagian bawah. Kondisi ini menyebabkan feses menjadi sulit dikeluarkan dari usus besar dan lama-lama bisa membahayakan kesehatan.

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Di antaranya yaitu:

  1. Penyakit radang usus (IBD) seperti kolitis dan penyakit Crohn.
  2. Radang kantung usus besar (divertikulitis).
  3. Kanker usus besar.
  4. Polip kolon, yaitu tumbuhnya jaringan ekstra di dalam usus besar yang bisa berubah menjadi kanker.
  5. Atresia ani, yaitu kondisi saat usus besar bayi belum terbentuk sempurna sehingga menjadi tersumbat dan sangat sempit.
  6. Sindrom iritasi usus besar (IBS), gangguan pada usus besar yang menyebabkan diare, perut kembung, sembelit, dan sakit perut.

Kolostomi bisa bersifat sementara atau permanen, tergantung dari kondisi masing-masing pasien. Operasi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak bisa buang air besar secara normal karena adanya kanker, perlengketan, atau pengangkatan beberapa bagian usus besar.

Jika masalah pada usus besar membuat pasiennya kesakitan, misalnya karena kanker usus besar, maka operasi permanen mungkin saja dilakukan. Ini artinya lubang atau stoma pada dinding perut akan terus dibiarkan terbuka. Jadi, pasien hanya bisa buang air besar melalui lubang tersebut seumur hidup.

Sementara itu, anak-anak dengan cacat bawaan biasanya membutuhkan kolostomi sementara. Setelah kondisi usus besarnya membaik atau sembuh, lubang stoma dapat ditutup dan fungsi usus akan kembali normal.

Risiko dan efek samping prosedur kolostomi

angka ketahanan hidup penderita kanker

Kolostomi adalah salah satu jenis operasi besar sehingga membutuhkan obat bius. Sama seperti operasi lainnya, ada risiko efek samping yang mungkin terjadi setelah operasi berlangsung. Mulai dari reaksi alergi pada obat bius hingga faktor kantong kolostomi itu sendiri.

Seperti yang mungkin sudah Anda tahu, feses alias kotoran manusia mengandung bakteri dan zat-zat limbah yang harus segera dibuang. Pada orang-orang yang menjalani jenis operasi ini, fesesnya tidak lagi dikeluarkan lewat anus tapi justru melalui lubang di perut.

Akibatnya, kotoran yang keluar bisa saja menyebabkan iritasi dan peradangan di area sekitar lubang perut. Kantong kolostomi yang menempel di perut juga bisa memberikan efek yang sama.

Selain itu, risiko efek samping lain yang mungkin terjadi setelah operasi kolostomi adalah:

  • Iritasi kulit
  • Kerusakan pada organ lain di sekitar usus besar
  • Hernia
  • Perdarahan di dalam perut
  • Usus menonjol melalui stoma lebih dari yang seharusnya
  • Muncul jaringan parut dan menyumbat usus
  • Luka terbuka pada area sekitar usus besar

Namun, sebelum operasi dimulai, dokter tentu akan memberitahukan Anda semua informasi seputar kolostomi. Mulai dari tahapan, manfaat, efek samping, hingga risiko komplikasi yang mungkin terjadi.

Tenang saja, percayalah bahwa dokter pasti akan memberikan semua yang terbaik untuk Anda. Bila Anda masih punya pertanyaan atau keraguan, jangan takut untuk menyampaikannya pada dokter bedah Anda.

Yang harus dilakukan setelah operasi kolostomi

Anda biasanya dianjurkan untuk rawat inap selama 3-7 hari dari sebelum operasi sampai masa pemulihan. Untuk mempercepat pemulihan, pastikan Anda benar-benar mengistirahatkan tubuh Anda secara maksimal saat rawat inap.

Pada hari pertama setelah operasi, Anda biasanya akan diminta untuk mengisap es batu untuk membantu mengurangi rasa haus. Setelah itu, Anda akan diberikan makanan cair hingga makanan lunak secara bertahap untuk menjaga sistem pencernaan Anda tetap stabil pascaoperasi.

Anda juga akan diajarkan cara menggunakan kantong kolostomi dengan benar. Ingat, perhatikan benar-benar instruksi dari dokter maupun staf rumah sakit mengenai cara memasang dan menggantinya dengan benar. Dengan begitu, risiko infeksi yang mungkin terjadi setelah operasi bisa dihindari.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kaki Terasa Lemas Tiba-Tiba? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Apakah Anda pernah merasakan tiba-tiba kaki lemas? Cari tahu penyebabnya, apakah karena penyakit berbahaya atau hanya sekadar kelelahan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Otak dan Saraf 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Enzim SGOT dan SGPT

Salah satu tes yang dianjurkan untuk dilakukan ketika Anda sakit adalah pemeriksaan SGOT dan SGPT. Pemeriksan apa itu dan apa artinya kalau tinggi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 12 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

Di mobil duduk, di kantor duduk, sampai rumah duduk lagi. Apa kira-kira efeknya pada kesehatan kita?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Terlalu Sering Minum Obat Pereda Nyeri, Bikin Obat Jadi Tak Mempan Lagi

Seberapa sering Anda minum obat pereda nyeri untuk menghilangkan rasa sakit Anda? Hati-hati jika terlalu sering, malah rasa sakit tidak hilang. Mengapa?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 12 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi sakit punggung

Saraf Kejepit, Apa Penyebab dan Bagaimana Gejalanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
zat aditif adalah msg

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat mimisan alami

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
bercak putih di puting

5 Penyebab Bercak Putih di Puting Susu dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit