Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Komplikasi Setelah Operasi

Komplikasi Setelah Operasi

Operasi terkadang menjadi salah satu tindakan medis yang dianggap menakutkan oleh beberapa orang. Guna mengatasi rasa stres atau cemas sebelum operasi, banyak-banyaklah bertanya seputar operasi yang akan Anda jalani, termasuk komplikasi setelah operasi.

Sebelum menanyakan langsung kepada dokter, ada berbagai masalah komplikasi setelah operasi yang bisa Anda ketahui di sini.

Apa saja komplikasi setelah operasi yang bisa terjadi?

operasi fisura ani

Luka operasi, penggunaan obat-obatan, dan lama perawatan di rumah sakit setelah operasi diketahui berkaitan dengan risiko komplikasi breikut.

1. Rasa nyeri karena sayatan pada kulit

Nyeri pascaoperasi merupakan hal yang normal dan umum terjadi. Beberapa langkah dapat diambil untuk meminimalisasi atau meredakannya, tapi rasa nyeri pascaoperasi dapat memburuk ketika disertai dengan gejala lainnya.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang menjalani operasi juga merasakan nyeri yang sama. Rasa nyeri biasanya datang dari penyayatan pada kulit yang akan merangsang saraf penghantar sinyal nyeri ke otak.

Seiring pulihnya tubuh, rasa nyeri seharusnya berkurang dan bisa tidak dirasakan sama sekali. Lamanya nyeri pascaoperasi dapat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi kesehatan seseorang, adanya penyakit lain, dan juga kebiasaan merokok.

Untuk mengatasi nyeri pascaoperasi, dokter biasanya sudah meresepkan obat untuk meringankannya. Beberapa jenis obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri antara lain, parasetamol, ibuprofen, dan naproxen.

Banyak orang tidak mau mengonsumsi obat pereda nyeri yang diresepkan oleh dokter dengan alasan takut ketagihan. Sebenarnya, ketagihan obat pereda nyeri sangat jarang terjadi. Bahkan, tidak menggunakan obat pereda nyeri justru berbahaya.

Nyeri yang hebat terkadang membuat seseorang susah mengambil napas dalam. Nyeri juga dapat membuat seseorang sulit melakukan pekerjaan sehari-hari, seperti berjalan, makan, dan tidur.

Padahal, asupan gizi dan istirahat yang cukup sangat diperlukan dalam mempercepat proses penyembuhan luka operasi dan menghindari terjadinya komplikasi setelah operasi.

2. Efek samping obat bius

Apa yang terjadi jika para ahli di bidang kesehatan tidak menemukan obat bius? Pastinya, kita akan mendengar jeritan kesakitan para pasien dari balik pintu ruang medis. Dalam bidang kesehatan, pembiusan disebut dengan anestesi, yang berarti “tanpa sensasi”.

Tujuan penggunaan obat bius adalah untuk membuat area tubuh tertentu mati rasa atau membuat Anda tidak sadarkan diri (tertidur).

Dengan menggunakan obat bius, dokter bisa leluasa melakukan tindakan medis yang melibatkan peralatan tajam pada bagian tubuh tertentu tanpa menyakiti Anda.

Ada beberapa efek samping obat bius yang bisa membuat Anda tidak nyaman, seperti mual dan muntah, pusing, sulit buang air kecil, merasa kedinginan, dan menggigil. Biasanya, efek-efek tersebut tidak berlangsung lama.

Risiko efek samping dan komplikasi setelah operasi bergantung pada jenis obat bius yang digunakan, usia, kondisi kesehatan, dan bagaimana tubuh merespons obat tersebut.

Risiko akan menjadi lebih tinggi jika Anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat (merokok, mengonsumsi alkohol dan narkoba) dan kelebihan berat badan.

Untuk mencegah hal ini, ada baiknya Anda mengikuti semua prosedur yang disarankan dokter sebelum menjalani pembiusan, misalnya dengan tidak makan.

Dokter mungkin akan meminta Anda berpuasa sebelum operasi, kira-kira di atas pukul 12 malam. Konsumsi obat-obatan herbal atau vitamin sebaiknya juga dihentikan setidaknya tujuh hari sebelum tindakan medis dilakukan.

3. Infeksi pada luka operasi

Infeksi terjadi ketika patogen, yakni mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit, memasuki tubuh. Adapun infeksi pada luka operasi dapat terjadi selama 30 hari setelah operasi dilakukan, biasanya antara 5 sampai 10 hari setelah operasi.

Komplikasi setelah operasi ini dapat terjadi pada luka tertutup ataupun terbuka. Kuman dapat memasuki jaringan yang dekat dengan kulit maupun pada jaringan yang lebih dalam. Pada kasus yang serius, infeksi pascaoperasi bahkan bisa mengenai organ tubuh.

Infeksi pada luka operasi membutuhkan perhatian khusus oleh tenaga medis secara langsung. Pasalnya, infeksi dapat menjadi sangat berbahaya bila menyebar dan mengenai organ-organ vital.

Berikut gejala infeksi luka operasi yang perlu Anda waspadai.

  • Terdapat nanah, darah, atau cairan yang keluar dari luka operasi.
  • Luka operasi terasa nyeri, bengkak, memerah, atau menghangat.
  • Luka operasi tidak kunjung sembuh atau mengering.

Bila luka operasi Anda memiliki gejala di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar Anda mendapat penanganan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Luka operasi yang terinfeksi perlu dievaluasi lebih lanjut. Mungkin diperlukan juga prosedur membuka jahitan operasi untuk membersihkan daerah yang terinfeksi.

Penanganan yang paling utama pada infeksi luka operasi yakni memastikan infeksi sudah dibersihkan, kemudian dokter memberikan pengobatan antibiotik secara suntik, minum, maupun oles.

4. Penggumpalan pembuluh darah

tromboemboli vena

Biasanya, wanita lebih sering mengalami penggumpalan pada pembuluh darah sebagai bentuk komplikasi setelah operasi. Penggumpalan kerap terjadi pada bagian kaki, terutama pada wanita yang melahirkan secara caesar.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal CHEST turut menyimpulkan adanya hubungan operasi caesar dengan risiko peningkatan tromboemboli vena (VTE), atau pembekuan darah dalam pembuluh vena.

Penelitian tersebut menemukan bahwa operasi caesar membawa risiko VTE lebih besar empat kali lipat dibanding persalinan pervaginam (melalui vagina).

Operasi caesar menjadi faktor yang meningkatkan risiko VTE setelah melahirkan dan penggumpalan darah terjadi pada 1.000 orang yang menjalaninya.

Setelah persalinan, wanita yang menjalani operasi caesar berisiko juga berisiko lebih besar untuk mengalami pembekuan darah. Tidak hanya itu, persalinan caesar membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama dibanding persalinan pervaginam.

Menurut Hopkins Medicine, orang yang mengalami tromboemboli vena biasanya akan menunjukkan beberapa gejala, seperti nyeri, bengkak, dan kemerahan pada area kaki dan lengan.

Jika komplikasi setelah operasi di atas terjadi pada Anda, segeralah berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan rencana pengobatan selanjutnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

After Surgery: Discomforts and Complications. (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/after-surgery-discomforts-and-complications

After Surgery: Discomforts and Complications – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center . (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=85&ContentID=P01390

Common Complications After Surgery. (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://www.webmd.com/a-to-z-guides/surgery-complications-side-effects#1

Complications. (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://stanfordhealthcare.org/medical-treatments/g/general-surgery/complications.html

What Are The Possible Risks and Complications of Surgery. (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://www.oakbendmedcenter.org/possible-risks-and-complications-of-surgery/

What to Do About Common Problems After Surgery. (2022). Retrieved 31 March 2022, from https://www.verywellhealth.com/know-the-most-common-complications-after-surgery-3157301

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa