home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apakah Menahan Kentut Berbahaya bagi Kesehatan?

Apakah Menahan Kentut Berbahaya bagi Kesehatan?

Kentut merupakan hal yang alami dan menyehatkan. Namun, demi kesopanan, Anda mungkin lebih memilih menahan kentut saat berinteraksi dengan orang lain. Meski begitu, apakah menahan kentut menimbulkan bahaya kesehatan?

Bolehkah Anda menahan kentut?

dampak menahan kentut

Beberapa orang mungkin malu karena sering kentut atau kentutnya berbau menyengat.

Ada pula yang tidak nyaman bila harus kentut di depan umum. Semua ini hanyalah segelintir alasan mengapa seseorang lebih memilih menahan kentut.

Menahan kentut tidak memiliki bahaya, tapi perut Anda akan terasa begah dan tidak enak.

Penelitian dalam New Zealand Medical Journal menyebutkan bahwa kebiasaan ini bisa menimbulkan dampak langsung berupa sakit perut dan rasa tak nyaman.

Ini karena segala sesuatu yang memengaruhi aliran di bawah alias sistem pencernaan bisa memengaruhi aliran di atasnya.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Lisa Ganjhu, seorang dokter dan asisten dosen klinis kedokteran dan gastroenterologi di NYU Langone Medical Center, AS.

Ketika menahan kentut, penumpukan udara pun terjadi dalam saluran pencernaan sehingga udara terdorong ke atas.

Dorongan udara menyebabkan kembung dan rasa tidak nyaman pada perut.

Apa yang terjadi saat Anda menahan kentut?

Ketika Anda kentut, gas dalam usus bergerak menuju rektum dan keluar melalui anus.

Namun, saat Anda menahan kentut, Anda mengencangkan otot bokong dan sfingter anus. Sfingter anus merupakan otot yang berperan seperti katup pada anus.

Selama Anda mengencangkan otot sfingter anus, tekanan dalam saluran pencernaan Anda terus bertambah.

Anda mungkin akan mengalami gejala gangguan pencernaan dan mendengar suara keroncongan saat gas bergerak dalam usus.

Sebuah penelitian dalam jurnal Digestive Disease and Sciences menyebutkan bahwa sistem peredaran darah dapat menyerap kembali gas ini.

Gas lantas bergerak menuju sistem pernapasan dan keluar dari tubuh saat Anda bernapas.

Akan tetapi, sebagian besar gas yang tersisa tetap berada dalam saluran pencernaan dan menambah tekanan usus.

Gas ini baru akan keluar dari tubuh begitu Anda kentut, sendawa, atau melakukan keduanya.

Adakah bahaya menahan kentut?

Divertikulitis

Menahan kentut dapat menyebabkan panas perut, kembung, dan masalah pencernaan.

Tekanan usus juga menyebabkan gas terperangkap dalam usus sehingga usus akan menggelembung seperti balon karena penyumbatan gas tersebut.

Seiring meningkatnya tekanan usus, Anda pun semakin stres dan merasa tak nyaman karena kesulitan menahan gas yang keluar.

Menahan kentut juga dapat menimbulkan dampak langsung berupa meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah.

Apa bahaya jangka panjang dari menahan kentut?

Sejumlah pakar kesehatan menemukan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan risiko divertikulitis.

DiverTIkulitis merupakan kondisi ketika kantong-kantong kecil pada lapisan usus mengalami peradangan.

Penyakit ini bisa bertambah parah dan menyebabkan infeksi yang mengancam nyawa bila pasien tidak mengobatinya.

Kasus ini memang terbilang langka, tapi orang-orang berusia lanjut yang lebih rentan tetap perlu mewaspadainya.

Lakukan ini bila Anda sering ingin kentut

kentut berlebih saat menstruasi

Kendati tidak memiliki bahaya yang besar, menahan kentut bukanlah kebiasaan yang benar.

Saat Anda berada di keramaian dan ingin buang angin, segeralah pergi ke toilet atau tempat sepi yang nyaman untuk melakukannya.

Sementara untuk mengurangi kentut yang berlebihan, Anda bisa mencoba berbagai cara berikut.

1. Mengonsumsi probiotik

Bakteri usus menghasilkan gas dalam saluran pencernaan.

Pertumbuhan bakteri yang berlebihan bisa meningkatkan pembentukan gas sehingga perut menjadi kembung dan Anda lebih sering kentut dari biasanya.

Makanan sumber probiotik seperti yogurt, kimchi, dan tape dapat menyeimbangkan populasi bakteri dalam usus.

Dengan begitu, produksi gas dalam saluran pencernaan kembali seperti semula.

2. Mengurangi konsumsi makanan tertentu

Supaya Anda terhindar dari bahaya menahan kentut, cobalah mengurangi makanan yang bisa menyebabkan kentut berlebihan.

Makanan mengandung pemanis buatan dan makanan yang sulit dicerna ialah beberapa contohnya.

Biasanya, frekuensi kentut bisa berkurang setelah Anda mengurangi makanan penyebab kembung seperti:

  • kubis, selada, dan kembang kol,
  • bawang-bawangan,
  • minuman bersoda dan bir,
  • brokoli,
  • jamur, serta
  • Kacang-kacangan.

3. Melakukan perubahan gaya hidup

Seseorang bisa kentut berlebihan akibat kebiasaan makan dan gaya hidup yang salah.

Berikut beberapa perubahan yang dapat Anda lakukan.

  • Makan dan minum secara perlahan.
  • Makan dengan porsi kecil tapi sering.
  • Beraktivitas fisik untuk melancarkan gas dalam saluran pencernaan.
  • Berobat ke dokter bila memiliki kondisi medis yang menjadi penyebab sering kentut.

Anda boleh-boleh saja menahan kentut selama perut tetap terasa nyaman atau Anda sedang mengulur waktu untuk kentut di tempat lain.

Namun, jangan jadikan ini sebagai kebiasaan karena dampaknya tetap tidak baik bagi kesehatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Practical tips to reduce bloating, belching and gas. (2021). Retrieved 9 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gas-and-gas-pains/in-depth/gas-and-gas-pains/art-20044739

Intestinal gas Causes. (2021). Retrieved 9 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/intestinal-gas/basics/causes/sym-20050922

Flatulence causes and treatments. (2021). Retrieved 9 November 2021, from https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/flatulence

Pommergaard, H.C., Burcharth, J., Fischer, A., Thomas, W.E., and Rosenberg, J. (2013). Flatulence on airplanes: just let it go. The New Zealand Medical Journal, 126(1369). Retrieved from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23463112/

Sahakian, A., Jee, S., & Pimentel, M. (2009). Methane and the Gastrointestinal Tract. Digestive Diseases And Sciences, 55(8), 2135-2143. doi: 10.1007/s10620-009-1012-0

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan