Psst, Ternyata Ini Alasan Kenapa Suara Kentut Tiap Orang Berbeda-beda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin pernah sesekali menahan kentut saat sedang dikelilingi banyak orang. Bukan cuma takut tiba-tiba muncul bau busuk, tapi juga khawatir jika nanti suaranya akan terdengar keras sampai menarik perhatian. Alhasil, Anda malah disebut-sebut tidak sopan dan jorok karena kentut sembarangan. Pernahkah Anda bertanya-tanya, kenapa suara kentut orang bisa berbeda-beda? Ada yang keras, pelan, bahkan tidak terdengar sama sekali. Temukan jawabannya lewat ulasan berikut ini.

Sekilas tentang kentut

Meskipun dianggap memalukan, buang angin alias kentut adalah suatu hal yang normal dilakukan oleh semua orang. Ini adalah proses alami tubuh yang menunjukkan bahwa sistem pencernaan Anda berfungsi dengan baik.

Akan tetapi, tidak semua kentut itu sama, ada yang tiba-tiba muncul bau tapi tidak bersuara sama sekali. Ada pula yang kentutnya berbunyi keras, tapi tidak berbau.

Seorang ahli gastroenterologi dari University of Michigan Medicine Gastroenterology Clinic, Michael Rice, M.D, mengungkapkan bahwa rata-rata manusia menyimpan sekitar 1,5 liter gas pada saluran pencernaannya setiap hari. Semua gas ini akan dikeluarkan melalui kentut secara bertahap. Biasanya, rata-rata manusia akan kentut dalam sehari sebanyak 14-23 kali dan cenderung tidak berbau.

Kenapa suara kentut bisa berbeda-beda?

kentut dalam sehari

Anda mungkin sudah tahu bahwa bau kentut dipengaruhi oleh makanan yang Anda konsumsi sebelumnya. Jika Anda baru saja makan kacang polong, lobak, sawi, atau nangka muda, maka tak heran jika Anda akan langsung kentut karena semua makanan tersebut mengandung gas tinggi.

Berbeda dengan itu, suara kentut ditentukan oleh seberapa cepat dorongan gas-gas dari dalam perut untuk keluar. Selain itu, ukuran dan bentuk lubang anus juga menentukan suara kentut Anda.

Bayangkan saat Anda bermain suling. Semakin kecil dan sedikit lubang suling yang terbuka, maka akan menghasilkan nada yang tinggi dan melengking. Sementara jika Anda membuka semua lubang suling, maka nadanya akan semakin rendah dan besar.

Sama halnya dengan kentut. Ketika Anda menahan kentut, lubang anus akan dipaksa untuk menutup sehingga gas akan keluar sedikit demi sedikit. Akibatnya, kentut akan berbunyi nyaring dan keras, karena jalan keluar alias lubang anusnya dalam kondisi sempit.

Sementara jika Anda lebih rileks, maka lubang anus akan terbuka lebar dan membuat gas lebih mudah keluar. Suara yang dihasilkan pun cenderung lebih kecil dan bahkan bisa juga tidak terdengar sama sekali.

Keras atau pelannya suara kentut juga dipengaruhi oleh kecepatan gas yang keluar dari tubuh. Semakin cepat udara keluar dari tubuh Anda, maka otot-otot anus akan semakin tertekan dan membuka dengan cepat. Hati-hati, hal ini menyebabkan suara kentut terdengar lebih nyaring dan keras.

Apakah saya bisa mengendalikan suara kentut sendiri?

pneyebab kentut berlebihan

Ketika muncul hasrat ingin buang angin alias kentut, Anda mungkin jadi takut suaranya akan terdengar keras dan menarik perhatian banyak orang. Ketimbang menahan kentut, sebetulnya ada trik khusus yang bisa Anda lakukan untuk mengantisipasinya.

Prinsipnya sama seperti saat Anda menahan buang air besar. Semakin keras usaha Anda mengatupkan lubang anus, maka suara kentutnya justru bisa jadi lebih keras begitu Anda melonggarkan lubang anus.

Maka itu, posisikan diri Anda serileks mungkin. Semakin Anda tenang, otot-otot bukaan anus juga akan ikut rileks. Dengan begitu, udara dari dalam perut akan lebih mudah keluar tanpa menimbulkan bunyi yang mengganggu.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

Penyakit kuku, mulai dari penampakannya yang aneh atau sekadar mudah patah, bisa berarti ada masalah juga pada kesehatan Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Tiara Putri
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Sering mencium bau kentang atau bau busuk padahal tidak ada wujudnya? Tenang, ini bukan pertanda mistis, kok! Bisa jadi Anda mengalami hal ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Memanjangkan kuku seringkali menjadi pilihan bagi kaum hawa untuk mempercantik diri. Namun, kuku yang panjang ternyata memiliki segelintir risiko.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gula darah turun

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mencium bau badan

Kenapa, Sih, Kita Tidak Bisa Mencium Bau Badan Sendiri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
tidak bisa kentut susah kentut

Tiba-Tiba Susah Kentut? Tak Perlu Pusing, Begini Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit