home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali Cara Penularan Hepatitis Demi Upaya Pencegahan yang Efektif

Kenali Cara Penularan Hepatitis Demi Upaya Pencegahan yang Efektif

Ada dua jenis penyakit hepatitis berdasarkan penyebabnya, yaitu viral hepatitis dan hepatitis non-virus. Hepatitis virus disebabkan oleh virus, sedangkan hepatitis non-virus disebabkan oleh selain virus. Bagaimana cara penularan penyakit hepatitis?

Cara penularan hepatitis berdasarkan jenisnya

Virus hepatitis

Sebenarnya, jenis penyakit hepatitis yang termasuk dalam kelompok penyakit menular adalah hepatitis yang disebabkan oleh virus. Sementara itu, hepatitis non-virus, seperti hepatitis alkoholik dan hepatitis autoimun tidak dapat ditularkan.

Sejauh ini telah ditemukan lima jenis virus hepatitis yang diketahui dapat menyebabkan peradangan hati, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Kelima virus ini adalah penyebab utama wabah penyakit hepatitis di dunia.

Kelima virus ini memiliki genetik, karakteristik, dan siklus perkembangan yang berbeda. Alhasil, cara penularan virus hepatitis pun beragam pula. Selain itu, ada banyak hal yang memengaruhi tingkat penyebaran virus, seperti kemampuan adaptasi.

Berikut ini beberapa kondisi yang bisa menjadi media penularan virus hepatitis yang perlu Anda waspadai.

1. Penularan hepatitis melalui fecal-oral

Virus-hepatitis-E

Rute fecal-oral adalah rute penularan hepatitis yang paling sering dijumpai pada penderita hepatitis A dan hepatitis E. Kedua virus hepatitis ini dapat menyebar melalui sistem pencernaan lewat makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi feses penderita hepatitis.

Tidak hanya itu, penularan hepatitis A dan E juga dapat terjadi melalui konsumsi minuman dan makanan mentah atau belum sepenuhnya matang yang terpapar virus, seperti:

  • buah,
  • sayur,
  • kerang-kerangan,
  • es, dan
  • air.

Beragam jenis makanan lainnya pun juga berpotensi terkontaminasi akibat adanya pencemaran pada sumber air yang digunakan untuk memasak dan kebutuhan harian.

Penyebaran virus nantinya juga bisa dipengaruhi oleh tingkat kebersihan lingkungan yang kurang baik karena fasilitas sanitasi yang kurang memadai. Bahkan, perilaku kebersihan masyarakat juga memegang andil terhadap penyakit liver menular ini.

Sebagai contoh, penderita hepatitis A atau hepatitis E yang tidak mencuci tangan setelah dari toilet, lalu menyentuh benda lain pun bisa menularkan virusnya ke orang lain.

2. Transfusi darah

hepatitis boleh donor darah

Selain rute fecal-oral, penularan hepatitis pun dapat terjadi melalui transfusi darah. Meski begitu, rute penyebaran virus ini hanya berlaku pada hepatitis B, C, dan D.

Terlebih lagi, virus hepatitis C hanya bisa menular lewat rute parenteral, yaitu kontak langsung dengan darah yang terinfeksi. Pasalnya, baik virus hepatitis B, C, dan D hanya terdapat di dalam darah atau cairan tubuh.

Itu sebabnya, penerima donor darah, rutin menjalani pengobatan dengan transfusi darah, atau transplantasi organ lebih berisiko terinfeksi hepatitis.

Bila berlangsung dalam jangka waktu yang lama, tentu dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit hati yang serius, seperti sirosis, kanker hati, dan gagal hati.

3. Pemakaian jarum yang tidak steril

Penularan hepatitis C melalui jarum suntik

Bila Anda termasuk orang yang sering menggunakan jarum bersama dengan orang lain, sebaiknya hentikan kebiasaan tersebut. Begini, jarum yang digunakan bersama dengan orang lain cenderung tidak steril dan berisiko terkontaminasi virus hepatitis.

Sebagai contoh, penggunaan jarum yang tidak steril biasa ditemukan pada jarum untuk pembuatan tato, tindik, dan obat-obatan terlarang. Pasalnya, virus hepatitis yang terdapat pada darah bisa menempel pada jarum yang digunakan untuk menyuntikkan obat.

Akibatnya, jarum suntik yang digunakan kembali tanpa disterilkan dapat menginfeksi orang lain karena langsung disuntikkan ke pembuluh darah.

Menurut penelitian dari University of Tripoli, risiko penularan hepatitis melalui jarum juga dipengaruhi oleh durasi pemakaian. Oleh sebab itu, pengguna obat terlarang melalui jarum suntik lebih berisiko terinfeksi hepatitis karena digunakan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

4. Berhubungan seks

berapa kali ganti seprai setelah berhubungan seks

Tahukah Anda bahwa penularan hepatitis juga dapat terjadi ketika berhubungan seks dengan penderita hepatitis, terutama tanpa alat kontrasepsi?

Pada dasarnya virus hepatitis tidak dapat ditularkan lewat interaksi kontak biasa, seperti sentuhan kulit saat berpelukan atau berciuman. Sayangnya, hal ini tidak berlaku ketika berhubungan seks dengan pasien yang terinfeksi, terlebih jika tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Berhubungan seks ternyata menjadi salah satu penyebaran virus hepatitis A dan B yang paling sering terjadi. Risiko penularan akan semakin tinggi ketika aktivitas seksual dilakukan bersama dengan injeksi obat-obatan terlarang.

Penularan ini tidak begitu banyak terjadi pada hepatitis C. Hal ini dikarenakan HCV adalah virus RNA yang tidak ditemukan dalam cairan tubuh, seperti sperma, cairan vagina, urine, atau feses, sebagaimana HBV.

Walaupun demikian, ada kemungkinan penularan virus hepatitis C dapat menyebar dari orang yang terinfeksi masuk ke dalam pembuluh darah orang lain melalui hubungan seksual. Risiko penularan juga semakin tinggi ketika berhubungan seks saat menstruasi.

5. Penularan hepatitis secara vertikal saat melahirkan

bayi lahir caesar

Di wilayah yang mengalami wabah hepatitis B, penularan secara vertikal, yaitu saat melahirkan paling sering ditemukan. Jumlah kasus penularan hepatitis B di Indonesia melalui proses persalinan bahkan mencapai 95 persen.

Penyebaran virus terjadi akibat adanya membran darah yang pecah sebelum melahirkan. Hal ini juga berlaku saat bayi terpapar darah ibu yang terinfeksi ketika proses persalinan.

Virus hepatitis C juga bisa menular saat proses persalinan, tetapi masih cukup jarang terjadi. Namun, risiko penyebaran hepatitis C dapat meningkat ketika ibu hamil yang terinfeksi hepatitis juga terjangkit HIV.

6. Cara penularan hepatitis lainnya

Penularan hepatitis A

Kelima kondisi di atas adalah cara penularan hepatitis yang paling sering terjadi. Selain itu, ada kebiasaan lainnya yang mungkin terdengar sepele, tetapi bisa meningkatkan risiko terpapar virus, seperti:

  • penggunaan alat cukur, silet, dan sikat gigi bersama dengan orang yang terinfeksi hepatitis,
  • petugas kesehatan yang melakukan prosedur injeksi dengan jarum suntik, serta
  • pemakaian alat operasi yang tidak steril, seperti pisau bedah dan bor gigi.

Ketiga hal di atas mungkin memang menjadi cara penularan virus yang paling jarang dijumpai. Meski begitu, Anda tetap harus berhati-hati dan menjaga kebersihan diri sendiri untuk mencegah virus hepatitis.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hepatitis. (2019). World Health Organization. Retrieved 5 November 2019, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/hepatitis

Situasi dan Analisis Hepatitis. (2014). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [PDF File].  Retrieed 5 November 2019, from https://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-hepatitis.pdf

Dahanayaka, N. J., Kiyohara, T., Agampodi, S. B., Samaraweera, P. K., Kulasooriya, G. K., Ranasinghe, J. C., Semage, S. N., Yoshizaki, S., Wakita, T., & Ishii, K. (2016). Clinical Features and Transmission Pattern of Hepatitis A: An Experience from a Hepatitis A Outbreak Caused by Two Cocirculating Genotypes in Sri Lanka. The American journal of tropical medicine and hygiene, 95(4), 908–914. https://doi.org/10.4269/ajtmh.16-0221. Retrieved 5 November 2019.

Hepatitis B virus: epidemiology and transmission risks. (2016). EMI Guidelines [PDF File]. Retrieved 5 November 2019, from https://www.hpsc.ie/a-z/EMIToolkit/appendices/app21.pdf

Daw, Mohamed. (2014). Transmission of Hepatitis C Virus. Retrieved 5 November 2019, from https://www.researchgate.net/publication/273447265_Transmission_of_Hepatitis_C_Virus

The ABCs of Hepatitis – for Health Professional. (2020). Centers for Diseases Control and Prevention [PDF File]. Retrieved 5 January 2020, from https://www.cdc.gov/hepatitis/resources/professionals/pdfs/abctable.pdf

Blood Donor Counselling: Implementation Guidelines. (2014).  Annex 6, Hepatitis B Virus Infection: Information for Blood Donors. Geneva: World Health Organization. Retrieved 5 January 2020, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK310566/

Sexual Transmission and Viral Hepatitis. (2020). Centers for Diseases Control and Prevention. Retrieved 5 January 2020, from https://www.cdc.gov/hepatitis/populations/stds.htm

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi
Tanggal diperbarui 06/01/2021
x