6 Trik Jitu Melindungi Anak Remaja dari Jerat Pergaulan Bebas

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20/03/2019
Bagikan sekarang

Pergaulan bebas diartikan sebagai tindakan di luar batas kewajaran yang melanggar norma susila maupun agama. Di Indonesia, pergaulan bebas merujuk pada penyalahgunaan narkoba, penyalahgunaan alkohol, dan aktivitas seksual yang tidak aman. Ironisnya, anak remaja paling rentan terjerumus ke dalam perilaku ini.

Ingat, dampak yang ditimbulkan dari perilaku ini tak main-main. Pada kasus hubungan seksual pranikah, perilaku ini bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual, hingga gangguan lainnya pada tumbuh kembang anak. Sementara penyalahgunaan narkoba dan alkohol tidak hanya menyebabkan kerusakan organ tubuh saja, bahkan juga kematian.

Lantas, bagaimana cara melindungi anak dari pergaulan bebas? Yuk intip beberapa tips jitu berikut ini.

Tips melindungi anak dari pergaulan bebas

Keluarga, atau dalam hal ini orangtua, merupakan baris pertahanan pertama yang bertanggung jawab penuh melindungi anak.

Jika Anda tak cepat-cepat mengambil langkah bijak, bukan tidak mungkin anak Anda ikut terseret arus pergaulan bebas yang semakin mengkhawatirkan. Berikut beberapa hal yang perlu Anda lakukan:

1. Ajak anak diskusi

Tak dapat dipungkiri jika masa remaja adalah masa paling sibuknya anak. Namun ketika anak dan Anda sama-sama punya waktu luang, manfaatkanlah untuk saling bertanya kabar dan bertukar cerita.

Anda bisa memancing obrolan dari topik yang paling sederhana. Misalnya, menanyakan apa saja aktivitas anak di sekolah dan bagaimana anak Anda biasanya bergaul dengan teman-temannya. Setelah itu, barulah Anda giring obrolan ke topik utama. Jelaskan pada anak apa itu pergaulan bebas secara umum, apa saja hal-hal yang masuk ke dalam tindakan tersebut, dan apa bahayanya bagi anak Anda juga orang-orang di sekitarnya.

Jelaskan secara perlahan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Persilakan anak untuk bertanya tentang hal apa saja yang sekiranya masih membuat mereka bingung. Jangan sungkan untuk mengatakan ‘tidak tahu’ jika Anda memang belum mengetahui jawaban dari pertanyaannya.

2. Beri pendidikan seksual

Anak remaja punya rasa penasaran yang tinggi tentang seks dan seksualitas. Ini adalah bagian alami dari proses tumbuh kembangnya. Namun, rasa penasaran yang tidak didampingi oleh pengetahuan mumpuni dapat menuntun anak memuaskan rasa ingin tahunya lewat saluran lain yang umumnya tidak tepat dan bisa jadi berbahaya. Misalnya dari internet, film porno, mitos-mitos, serta tekanan teman sebaya.

Di sinilah peran Anda sebagai orangtua sangat diperlukan. Pergaulan bebas sangat erat dengan aktivitas seks yang tidak aman dan berisiko. Maka, mulailah mengenalkan pendidikan seksual kepada anak sejak dini meski obrolan seputar seks mungkin masih tergolong tabu untuk dibicarakan terang-terangan.

Pendidikan seksual bukan hanyalah mengenai hubungan seks semata. Anda dapat mulai dengan menjelaskan misalnya mengenai perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan secara umum, perubahan tubuh ketika puber, bagaimana kehamilan terjadi, risiko hamil di usia remaja, serta area-area tubuh yang tidak boleh disentuh orang asing. Ajarkan pula anak untuk berani menolak atau melarikan diri ketika ada orang asing yang menyentuh area-area tersebut.

Ya. Pendidikan seksual bukan hanya menjaga anak remaja dari pergaulan bebas akibat ingin “coba-coba” karena penasaran. Pendidikan seksual dini juga dapat melindungi anak Anda dari bahaya pelecehan seksual oleh orang-orang sekitar.

Singkirkan semua kecanggungan yang mungkin Anda rasakan ketika akan menyampaikan hal ini pada anak. Ingatlah bahwa kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan anak jauh lebih penting daripada kerisian sementara.

Pastikan Anda tidak menjelaskan secara berbelit-belit karena anak Anda bisa salah tangkap atau justru kehilangan minat terhadap topik yang dibicarakan. Buatlah diskusi ringan ini dalam beberapa kesempatan. Dengan begitu, anak jadi punya waktu untuk menyerap dan mengingat informasi yang didapat.

3. Terapkan aturan yang tegas di rumah

Menerapkan aturan tegas di rumah merupakan cara jitu yang bisa dilakukan orangtua untuk menghindari pergaulan bebas pada remaja. Beberapa aturan yang perlu ditegakkan misalnya soal jam pulang malam.

Sampaikan pada setiap anak, baik itu laki-laki maupun perempuan, tidak boleh pulang larut malam. Mintalah anak-anak untuk sampai di rumah setidaknya pada pukul 8 malam. Kecuali jika memang ada urusan lain dengan alasan yang kuat.

Selain itu, buatlah larangan untuk tidak mengajak teman-teman lawan jenisnya bermain di area kamar anak Anda.

4. Kenali setiap teman-teman anak Anda

Dalam banyak kasus, perilaku anak remaja tercermin dari lingkungan perteman mereka sehari-hari. Ya, kasus penyalahgunaan narkoba, minuman keras, bahkan seks bebas bisa dipicu jika anak-anak Anda bermain dan berkumpul di lingkungan yang mendukung hal-hal tersebut.

Nah, maka dari itu, pastikan Anda mengenali semua teman-teman anak Anda dengan baik. Bila perlu, mintalah anak Anda untuk mengajak teman-temannya ke rumah dan berkenalan dengan Anda.

Mengetahui lingkaran perteman anak juga memungkinkan Anda untuk mengenal orangtua anak-anak lain. Alhasil, Anda juga bisa bertukar pikiran dan informasi tentang tips mendidik anak dengan orangtua lainnya.

5. Awasi aktivitas anak sehari-hari

Usahakan Anda selalu memantau dan mengawasi semua kegiatan yang anak-anak lakukan. Anda bisa meminta anak Anda mengabari setiap kali mereka akan beraktivitas atau pergi ke suatu tempat. Pastikan juga Anda mengetahui kapan mereka akan pulang.

Anda bisa berkirim pesan singkat, menelepon, atau melakukan panggilan video dengan anak Anda guna memastikan kabar dan keberadaannya. Berikan pemahaman pada anak bahwa apa yang Anda lakukan ini bukan sebagai bentuk kekangan, tapi pengawasan.

Pada dasarnya, setiap orangtua punya caranya masing-masing untuk mengawasi anak-anaknya. Apa pun caranya, pastikan bahwa anak Anda tidak merasa keberatan atau bahkan tertekan dengan hal tersebut. Sepakati apa yang paling baik untuk anak dan juga diri Anda sebagai orangtua.

6. Dukung anak melakukan hobi yang ia sukai

Masa remaja adalah masa anak sedang aktif-aktifnya mencoba berbagai kegiatan. Apa pun kegiatan yang dipilih anak selama tergolong positif, dukunglah. Jika anak Anda sedang gemar-gemarnya bermain sepak bola, Anda bisa mengikutsertakannya dalam klub sepak bola. Begitu pula jika anak Anda suka melukis atau menggambar, Anda bisa membelikan seperangkat alat gambar untuknya.

Intinya, alihkan perhatian anak dari pergaulan bebas melalui berbagai aktivitas positif yang ia sukai.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Begini Bahaya Junk Food pada Otak Anak Remaja

Makanan cepat saji (junk food) digemari oleh kebanyakan orang, termasuk remaja. Namun, ada bahaya dibalik konsumsi junk food pada otak remaja.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Penyebab Rambut Rontok pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Rambut rontok pada remaja bisa disebabkan oleh beberapa kondisi. Tapi sering kali hanya sementara dan bisa tumbuh kembali jika diketahui penyebabnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Mendidik Anak yang Sukses, Lakukan Tips Berikut Ini!

Siapa yang tak ingin punya anak sukses? Berikut berbagai tips dalam mendidik anak agar bisa menggapai sukses di masa depan.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Mencegah Anak Shopaholic, Begini Caranya

Anak menjadi kecanduan belanja atau shopaholic memang merepotkan. Kita harus mencegahnya agar tidak terbiasa hingga dewasa. Berikut tips mencegahnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Direkomendasikan untuk Anda

menghadapi amarah anak

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 06/06/2020
agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
memilih hewan untuk anak

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020