home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home

Berbagai Masalah yang Dialami Anak Broken Home

Broken home identik dengan perceraian orangtua karena pertengkaran atau KDRT. Namun, secara psikologi, anak bisa merasakan broken home pada keluarga utuh. Kondisi ini bisa berdampak pada perkembangan anak remaja. Berikut penjelasan seputar pengertian broken home sampai dampak pada anggota keluarga.

Apa itu broken home?

International Journal of Applied Research menerbitkan sebuah penelitian yang menjelaskan bahwa broken home adalah kondisi ketika keluarga tidak lagi utuh.

Ketidakutuhan keluarga bisa karena perceraian, salah satu orangtua meninggal atau masalah yang tidak terselesaikan dengan baik.

Bahkan bisa juga karena orang ketiga dalam urusan rumah tangga, misalnya orangtua, mertua, atau keberadaan wanita maupun pria idaman lain.

Mengutip dari situs resmi Brown University, idealnya keluarga adalah tempat anak tumbuh dan berkembang dengan sehat secara mental dan fisik.

Namun, ada kondisi yang membuat kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi.

Sebagai contoh, pertengkaran orangtua, kekerasan, dan pola komunikasi keluarga broken home yang membuat anak tidak bisa mengekspresikan perasaannya.

Selain karena perpisahan orangtua, ada lima tipe keluarga bisa membentuk broken home, yaitu sebagai berikut.

  • Salah satu atau kedua orangtua kecanduan sesuatu (bekerja, narkoba, alkohol, judi).
  • Orangtua melakukan kekerasan fisik pada anak atau anggota keluarga lain.
  • Salah satu atau kedua orangtua melakukan eksploitasi terhadap anak.
  • Terbiasa mengancam anak saat keinginan orangtua tidak terpenuhi.
  • Orangtua otoriter dan tidak memberikan pilihan pada anak.

Meski tidak berpisah, mendengar pertengkaran orangtua setiap hari dapat melukai hati anak. Hal itu sering tidak orangtua sadari karena sibuk dengan urusannya sendiri.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, anak akan memunculkan berbagai reaksi sebagai bentuk ungkapan isi hati dan pikirannya.

Hal ini tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga memengaruhi hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.

Dampak broken home pada anak

Perpecahan dan struktur keluarga broken home yang tidak sehat, bisa berdampak buruk pada perkembangan kesehatan mental anak.

Dampak broken home pada anak adalah sebagai berikut.

1. Masalah emosional

Perpisahan orangtua tentu menyisakan luka yang mendalam pada anak. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja.

Berdasarkan penelitian World Psychiatry, perpisahan orangtua berisiko mengganggu kesehatan mental anak dan remaja.

Masa awal perceraian bisa memicu depresi dan rasa cemas pada anak-anak dan remaja.

Tak hanya itu, anak-anak juga lebih rentan mengalami stres dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang.

Di sisi lain, beberapa anak yang sudah beranjak dewasa mungkin menunjukkan reaksi emosional yang jauh lebih sedikit ketika menghadapi perpisahan orangtua.

2. Masalah pendidikan

Masalah lain yang mungkin dialami anak yang broken home adalah menurunnya prestasi akademik.

Sebenarnya, anak dengan orangtua yang berpisah tidak selalu memiliki masalah pada prestasi akademik.

Namun, studi dari Proceeding of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa perceraian yang tidak anak duga bisa berpengaruh pada konsentrasi belajar.

Meski begitu, tidak semua anak broken home mengalami hal yang sama. Ini karena berbagai masalah akademik dapat berasal dari sejumlah faktor.

Termasuk lingkungan rumah yang tidak kondusif, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten.

Alhasil, anak jadi malas belajar, sering bolos, atau membuat keributan di sekolah.

3. Masalah sosial

Kondisi keluarga yang tidak utuh juga dapat memengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya.

Akibat perceraian atau peran orangtua yang hilang, sebagian anak akan melepaskan rasa kegelisahan mereka dengan bertindak agresif.

Tindakan agresif yang bisa anak lakukan adalah perilaku bullying (perundungan). Jika orangtua membiarkannya, hal ini dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman sebayanya.

4. Rasa cemas berlebih

Masalah lainnya yang juga sering dialami anak broken home adalah munculnya rasa cemas berlebih.

Psikolog bernama Carl Pickhardt menjelaskan bahwa anak broken home akan memiliki sikap sinis dan rasa tidak percaya terhadap sebuah hubungan.

Rasa tidak percaya diri tersebut bisa timbul pada orangtua atau pasangannya kelak.

Kecemasan ini dapat membuat mereka sulit untuk melakukan interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan apa pun yang sifatnya berkelomp0k.

5. Perubahan peran anak

Perpisahan atau peran orangtua yang tidak optimal, membuat anak-anak mengalami perubahan peran saat usia muda.

Mereka perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga yang baru.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung sering mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya.

Entah karena kesibukan orangtua untuk bekerja atau karena orangtua memang tidak bisa selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

American Sociological Association menerbitkan penelitian bahwa efek perceraian tidak hanya anak rasakan saat itu.

Efek dari perceraian orangtua juga bisa bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang, sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan.

Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku.

Tak jarang, banyak dari mereka yang sampai membutuhkan bantuan psikologis untuk membantu mengontrol emosinya sendiri.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dysfunctional Family Relationships | Counseling and Psychological Services (CAPS). (2021). Retrieved 2 March 2021, from https://www.brown.edu/campus-life/support/counseling-and-psychological-services/index.php?q=dysfunctional-family-relationships

Brand, J., Moore, R., Song, X., & Xie, Y. (2019). Parental divorce is not uniformly disruptive to children’s educational attainment. Proceedings Of The National Academy Of Sciences116(15), 7266-7271. doi: 10.1073/pnas.1813049116

D’Onofrio, B., & Emery, R. (2019). Parental divorce or separation and children’s mental health. World Psychiatry18(1), 100-101. doi: 10.1002/wps.20590

Kleinsorge, C., & Covitz, L. (2012). Impact of Divorce on Children: Developmental Considerations. Pediatrics In Review33(4), 147-155. doi: 10.1542/pir.33-4-147

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Riska Herliafifah
Tanggal diperbarui 2 minggu lalu
x