Bahaya Alkohol pada Tubuh: Kerusakan Jantung Hingga Ginjal

    Bahaya Alkohol pada Tubuh: Kerusakan Jantung Hingga Ginjal

    Dalam porsi sewajarnya, minuman beralkohol seperti wine berpotensi mendatangkan manfaat bagi kesehatan. Namun, ini bukan berarti Anda boleh berlebihan mengonsumsinya karena segala sesuatu yang berlebihan dapat membahayakan. Nah, prinsip yang sama juga berlaku pada minuman keras dan alkohol. Sebenarnya, apa bahaya alkohol bagi tubuh jika dikonsumsi berlebihan?

    Berbagai bahaya alkohol yang memengaruhi tubuh

    toleransi alkohol; mudah mabuk

    Sesaat, alkohol mungkin dapat memberikan efek menenangkan. Namun, alkohol juga bisa membuat Anda kecanduan. Ketergantungannya bisa memberikan dampak yang serius baik untuk kesehatan fisik maupun mental Anda kedepannya. Berikut adalah bahaya yang mengintai pecandu alkohol.

    1. Kerusakan jantung

    Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat melemahkan otot jantung. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh menjadi terganggu.

    Alkohol bisa mengakibatkan kardiomiopati yang ditandai dengan sesak napas, detak jantung tidak teratur (aritmia), kelelahan, dan batuk yang terus menerus. Tak hanya itu, alkohol juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan hipertensi.

    2. Peradangan pankreas (pankreatitis)

    Terlalu banyak alkohol di dalam tubuh membuat pankreas mengalami penumpukan enzim. Penumpukan enzim berlebih di dalam pankreas ini akhirnya bisa menyebabkan peradangan atau yang disebut dengan pankreatitis.

    Pankreatitis akut biasanya ditandai dengan berbagai gejala seperti sakit perut, mual, muntah, detak jantung meningkat, diare, dan demam. Jika dibiarkan dan kebiasaan minum alkohol tidak dihentikan maka bukan tidak mungkin nyawa Anda menjadi terancam.

    3. Merusak otak

    Alkohol dapat menyebabkan kerusakan otak dengan memperlambat penyaluran informasi antarsaraf. Selain itu, kandungan etanol di dalam minum minuman beralkohol juga dapat menyebabkan kerusakan spesifik pada beberapa area otak.

    Akibatnya, Anda akan mengalami serangkaian gejala seperti perubahan perilaku dan suasana hati, kecemasan, hilang ingatan, hingga kejang. Bahkan, orang yang telah ketergantungan alkohol bisa mengalami berbagai komplikasi masalah otak, salah satunya halusinasi.

    4. Infeksi paru-paru

    Saat Anda sudah kecanduan alkohol, daya tahan tubuh perlahan dapat melemah. Akibatnya beberapa organ tubuh, termasuk paru-paru, akan kesulitan untuk melawan bakteri dan virus penyebab penyakit.

    Itu sebabnya pecandu alkohol (alkoholisme) lebih rentan terhadap infeksi penyakit pernapasan seperti TBC dan juga pneumonia.

    5. Kerusakan hati

    Hati berfungsi untuk menyaring racun dan limbah tak terpakai sehingga tidak menumpuk dalam tubuh. Namun, konsumsi minuman keras yang berlebihan dapat memperlambat kerja hati tersebut sehingga menimbulkan gangguan hati.

    Sekitar satu dari tiga kasus transplantasi hati di Amerika Serikat berawal dari penyakit hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebih. Selain itu, sirosis hati karena konsumsi alkohol berlebih menjadi penyebab kematian ke-12 terbanyak di Amerika tahun 2009.

    6. Kerusakan ginjal

    Efek diuretik pada alkohol dapat meningkatkan jumlah urine yang diproduksi tubuh. Akibatnya, ginjal kesulitan untuk mengatur aliran urin dan cairan tubuh termasuk distribusi ion natrium, kalium, dan klorida ke seluruh tubuh.

    Kondisi ini bisa mengganggu keseimbangan elektrolit di dalam tubuh yang menyebabkan Anda mengalami dehidrasi.

    7. Gangguan kecemasan

    Minum minuman beralkohol mungkin dapat menjadi pelarian untuk membantu seseorang merasa lebih nyaman. Sayangnya efek ini hanya bertahan sebentar. Seperti yang telah disebutkan, efek santai yang muncul setelah minum alkohol cepat menghilang.

    Akibatnya, ia akan terus mengandalkan alkohol untuk membantu menutupi rasa cemasnya lalu membuat toleransi alkohol semakin meningkat dan butuh minum lebih banyak lagi agar bisa merasakan efek yang sama. Namun, tanpa disadari efek hangover justru akan membuat gejala kecemasan semakin memburuk.

    8. Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri

    Ketergantungan alkohol dapat mendorong seseorang untuk berperilaku impulsif, sehingga menyebabkan terjadinya tindakan berbahaya seperti melukai diri sendiri bahkan bunuh diri.

    Kebiasaan minum alkohol yang ekstrem juga bisa membuat seseorang mengalami psikosis, sebuah penyakit mental kronis di mana penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan.

    Orang-orang yang mengalami psikosis kerap merasa yakin bahwa mereka sedang berada pada situasi yang berbahaya. Biasanya hal ini terjadi bila pecandu tiba-tiba berhenti minum alkohol.

    9. Potensi kanker

    Menurut National Cancer Institute, konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi dan jangka waktu lama berisiko menyebabkan beberapa jenis kanker seperti kanker kepala dan leher, termasuk kanker rongga mulut, faring dan laring, serta kanker esofagus, khususnya karsinoma sel skuamosa esofagus.

    Orang-orang yang kekurangan enzim yang dapat membantu metabolisme alkohol diketahui secara substansial meningkatkan risiko karsinoma sel skuamosa esofagus jika mereka mengonsumsi alkohol.

    Risiko kanker lain yakni kanker hati, kanker kolorektal, dan kanker payudara. Sejumlah penelitian secara konsisten menemukan peningkatan risiko kanker payudara pada wanita dengan peningkatan asupan alkohol.

    Wanita yang mengonsumsi sekitar alkohol setiap harinya memiliki kemungkinan 5-9% lebih tinggi terkena kanker payudara dibandingkan wanita yang tidak minum sama sekali.

    10. Gangguan kehamilan dan persalinan

    Ibu hamil yang mengonsumsi alkohol beresiko membuat janin mengalami Fetal Alcohol Spectrum Disorder (FASD) atau Fetal alcohol syndrome (FAS).

    Kondisi tersebut merupakan gangguan pada pembatasan pertumbuhan janin, gangguan dari system saraf pusat, dan kelainan bentuk wajah. Tidak sedikit juga yang mengalami bayi lahir cacat serta gangguan intelegensia pada bayi seperti aspek bahasa dan lainnya akibat konsumsi alkohol selama hamil.

    Alkohol dapat meningkatkan hepcidin pada ibu hamil dan janin. Meningkatnya penyimpanan zat besi di hati janin dapat mengganggu proses lain seperti pembentukan sel-sel darah.

    Seorang alkoholik cenderung tidak memprioritaskan nutrisi. Pola makan yang buruk ini memungkinkan terjadi defisiensi zat besi, folat, dan vitamin B12 yang dapat menyebabkan anemia

    Mencegah bahaya akibat kecanduan alkohol

    Memang tak mudah menghentikan kebiasaan yang telah terjadi dalam waktu lama, terutama bila Anda sudah sangat bergantung pada konsumsinya.

    Kendati demikian, tentu akan lebih baik bila Anda berusaha untuk mengurangi atau mengatasi kecanduan alkohol sebelum bahaya terjadi pada Anda.

    Anda bisa meminta pertolongan pada psikolog atau psikiater untuk bantu mengatasi kondisi Anda. Beberapa perawatan yang diberikan dapat meliputi konseling individu, terapi perilaku kognitif, dan detoksifikasi untuk membersihkan tubuh dari zat-zat yang terkandung dalam alkohol.

    Bila perlu, Anda mungkin juga akan diberikan obat-obatan seperti disulfiram atau naltrexone yang dapat membantu mengurangi keinginan minum alkohol.

    Jika alkohol sudah memberikan efek pada kesehatan fisik, Anda juga harus segera memeriksakan kondisi Anda ke dokter terkait.

    Pilihan pengobatan untuk kecanduan alkohol bergantung pada tingkat keparahannya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memeriksakan kondisi Anda dan mencari pertolongan pada dokter.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    The Effects of Alcohol on Your Body

    https://www.healthline.com/health/alcohol/effects-on-body accessed on October 9th 2018

    Alcohol’s Effect On The Body: 5 Majors Organs That Are Being Destroyed By Your Alcohol Consumption

    https://www.medicaldaily.com/alcohols-effect-body-5-majors-organs-are-being-destroyed-your-alcohol-consumption-291440 accessed on October 9th 2018

    https://www.niaaa.nih.gov/alcohols-effects-health/alcohols-effects-body.

    https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29017023/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui Dec 23, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa