Berbagai Jenis Kekerasan pada Anak dan Dampaknya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tanpa disadari, Anda sebagai orangtua mungkin pernah melakukan kekerasan pada anak Anda. Bisa juga, Anda sendiri mungkin pernah mengalami kekerasan saat Anda masih kecil. Dampak kekerasan pada anak bisa berkepanjangan, bahkan bisa memengaruhi bagaimana anak Anda mengasuh anaknya kelak.

Jenis-jenis kekerasan pada anak

Sebelum membahas topik ini lebih lanjut, lebih baik Anda memahami terlebih dahulu apa saja bentuk kekerasan pada anak. Kekerasan pada anak bukan hanya meliputi kekerasan fisik atau pelecehan seksual, tapi bisa lebih dari itu. Perilaku penelantaran orangtua terhadap anaknya juga termasuk salah satu bentuk kekerasan pada anak.

Berikut ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan pada anak:

Kekerasan emosional

Kekerasan pada anak tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk lain, contohnya kekerasan yang menyerang mental anak. Bentuk kekerasan pada anak yang menyerang mental bisa beranekaragam.

Sebagai contoh meremehkan atau mempermalukan anak, berteriak di depan anak, mengancam anak, mengatakan bahwa ia tidak baik, termasuk kontak fisik (seperti memeluk dan mencium anak) yang jarang diberikan orangtua pada anak, merupakan contoh-contoh dari kekerasan emosional pada anak. 

Penelantaran anak

Kewajiban dari kedua orangtua terhadap anak adalah memenuhi kebutuhannya, termasuk memberikan kasih sayang, melindungi, dan merawat anak. Jika kedua orangtua tidak bisa memenuhi kebutuhan anak, bisa dianggap orangtua telah menelantarkan anak.

Tindakan ini termasuk ke dalam salah satu jenis kekerasan terhadap anak. Pasalnya, anak tentu masih membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan perlindungan orangtua. Orangtua yang tidak mampu atau tidak mau memberikan segala kebutuhan anak berarti telah melakukan tindak kekerasan terhadap anak.

Kekerasan fisik

Salah satu jenis kekerasan yang mungkin paling sering terjadi kepada anak dari orangtua adalah kekerasan fisik. Terkadang, orangtua dengan sengaja melakukan kekerasan fisik pada anak dengan maksud untuk mendisiplinkan anak.

Namun, cara untuk mendisiplinkan anak sebenarnya tidak harus selalu dengan menggunakan kekerasan fisik, seperti memukul anak, yang menyakitkan anak. Ada banyak cara lain yang lebih efektif dalam mendisiplinkan anak tanpa harus membuatnya trauma atau meninggalkan luka pada tubuhnya. 

Kekerasan seksual

Ternyata, kekerasan atau pelecehan seksual tidak hanya dalam bentuk kontak tubuh. Mengekspos anak pada situasi seksual atau materi yang melecehkan secara seksual, walaupun tidak menyentuh anak, termasuk dalam kekerasan atau pelecehan seksual pada anak.

Sebagai contoh, orangtua yang mengejek bentuk payudara anak yang tidak sesuai dengan ukuran payudara anak seusianya dan dilakukan di depan orang lain. Hal ini sudah termasuk sebagai kekerasan seksual terhadap anak. Sebagai orangtua, sebaiknya Anda justru ajari anak melindungi diri dari kekerasan seksual di luar rumah.

Dampak dari kekerasan yang terjadi pada anak

Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa dampak yang mungkin terjadi terhadap anak jika mengalami kekerasan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Kematian

Dampak kekerasan pada anak yang mungkin terjadi adalah kematian. Jika orangtua melakukan kekerasan terhadap anak yang masih belum bisa membela diri, bisa saja orangtua terlalu keras memukul atau menyakiti anak hingga anak kehilangan nyawa.

Tidak hanya itu, meskipun anak sudah memasuki usia remaja, tetap saja dampak kekerasan pada anak yang satu ini masih bisa terjadi. Apalagi jika orangtua tidak bisa mengontrol amarahnya, hingga menyebabkan kematian pada anak.

Luka atau cedera

Meski tidak menyebabkan kematian, dampak kekerasan terhadap anak yang satu ini juga bukan dampak yang baik. Anak yang mengalami kekerasan di rumah sebagian besar tentu mengalami luka-luka bekas dipukul, dilempar benda keras, dan masih banyak lagi.

Saat orangtua sedang marah, ia bisa saja tidak menyadari bahwa yang sedang dihadapinya adalah anak atau buah hatinya. Hal ini bisa menyebabkan orangtua melakukan hal di luar kendali yang bisa menyakiti fisik sekaligus batin anak.

Gangguan perkembangan otak dan sistem saraf

Kekerasan juga bisa berdampak pada gangguan tumbuh dan kembang yang sedang dialami oleh si Kecil. Mengalami kekerasan saat anak masih sangat belia tentu dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya, termasuk gangguan pada sistem saraf, pernapasan, reproduksi, dan sistem imun.

Bahkan, kondisi ini bisa menyebabkan dampak berkepanjangan pada hidup sang anak secara fisik dan juga psikis. Hal ini juga bisa membuat perkembangan kognitif anak terhambat, sehingga bisa membuat prestasi akademik anak di sekolah menurun bahkan memburuk.

Sikap negatif pada anak

Dampak lain yang juga tak kalah berbahayanya dari kekerasan pada anak adalah terbentuknya sikap buruk pada anak. Hal ini bisa berupa banyak hal, misalnya anak suka merokok, menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang, serta perilaku seksual yang menyimpang.

Jika anak sampai melakukan perilaku seksual yang menyimpang, anak Anda mungkin mengalami kehamilan di luar nikah. Artinya, pada saat itu, anak mungkin belum siap menjadi orangtua. Pada saat ini, anak juga mungkin sering mengalami kecemasan, depresi, atau berbagai gangguan mental lain. Bahkan, anak bisa saja memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Gangguan kesehatan

Tahukah Anda bahwa kekerasan kepada anak juga bisa mengakibatkan anak mengalami berbagai gangguan kesehatan? Bahkan, gangguan kesehatan yang dialami anak biasanya cukup serius. Sebagai contoh, penyakit jantung, kanker, diabetes, endometriosis, dan berbagai masalah kesehatan lain.

Masalah pada masa depan anak

Masalah yang dihadapi anak tidak hanya saat kekerasan terjadi, tapi juga pada masa depan anak. Umumnya, anak yang mengalami kekerasan saat masih kecil memiliki kemungkinan untuk keluar dari sekolah, kesulitan mencari pekerjaan, atau justru melakukan hal-hal yang buruk pada dirinya sendiri di masa depan.

Bahkan, kondisi ini bisa diteruskan kepada keturunan-keturunannya. Artinya, anak yang mengalami kekerasan saat masih kecil mungkin saja ‘melanjutkan’ hal tersebut kepada anak dan cucunya.

Apakah anak korban kekerasan akan melakukan hal yang sama?

Tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan bisa menjadi orangtua yang melakukan kekerasan/ pelecehan kepada anaknya kelak. Bahkan, siklus ini sangat mungkin terjadi. Faktor utama yang sangat berpengaruh dalam perilaku anak di masa depan adalah:

  • Kekerasan dilakukan sejak dini.
  • Kekerasan dilakukan dalam waktu yang lama.
  • Kekerasan dilakukan oleh orang yang berhubungan dekat dengan korban, misalnya orangtua.
  • Kekerasan yang dilakukan sangat berbahaya bagi anak.

Seringnya, anak korban kekerasan menanggulangi traumanya dengan cara menyangkal bahwa ia telah menerima kekerasan atau dengan cara menyalahkan dirinya sendiri. Alasan untuk menerapkan kedisiplinan sering digunakan untuk melakukan kekerasan pada anak, sehingga perlakuan ini dibenarkan oleh orangtua dan anak. Padahal, seharusnya tidak.

Pada akhirnya, anak yang pernah mengalami kekerasan saat kecil tidak dapat melihat bagaimana seharusnya orangtua mengasihi dan memperlakukan anaknya dengan baik. Dengan begitu, kemungkinan besar ia akan tumbuh dengan kemampuan “menjadi orangtua” yang kurang atau buruk. Orangtua korban pelecehan saat anak ini hanya tahu cara membesarkan anak dengan cara seperti bagaimana ia dibesarkan.

Mungkinkah anak korban kekerasan tumbuh sebagai orang dewasa antikekerasan?

Tidak selamanya anak korban kekerasan menjadi orangtua yang juga melakukan kekerasan kepada anaknya kelak. Ada juga anak korban kekerasan yang menyadari bahwa apa yang ia terima bukanlah hal baik. Dengan begitu, pada akhirnya ia termotivasi untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia terima.

Justru bisa saja anak korban kekerasan lebih melindungi anak-anak mereka dari kekerasan. Anak korban kekerasan harus diberi tahu bahwa apa yang ia terima merupakan hal yang salah dan tidak baik dilakukan, sehingga ia tidak akan berlaku seperti itu kepada siapa pun.

Anak juga tidak boleh disalahkan terhadap kekerasan yang diterimanya, sehingga trauma anak tidak bertambah buruk dan lebih cepat pulih. Banyak korban yang dapat mengatasi trauma masa kecil dengan dukungan emosional dari orang terdekat atau terapi keluarga, sehingga mereka menyadari bahwa kejadian ini tidak boleh terulang lagi.

Anak korban kekerasan bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan kondisi psikisnya. Saat sudah memasuki usia dewasa, anak korban kekerasan juga bisa mengikuti kelas parenting dan kelompok pendukung pengasuh untuk belajar bagaimana cara baik mengasuh anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
dorongan menyakiti orang lain

Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . Waktu baca 5 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit