Jenis Kekerasan pada Anak plus Ciri-Ciri yang Terlihat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Sebagai orangtua, Anda mungkin pernah melakukan kekerasan pada anak dengan sengaja maupun tidak disadari. Sayangnya, dampak kekerasan pada anak bisa berkepanjangan bahkan memengaruhi sikap anak di masa depan. Lantas, apa saja bentuk kekerasan pada anak? Dan seperti apa dampak kekerasan terhadap anak? Simak informasi selengkapnya di sini, ya!

Berbagai bentuk kekerasan pada anak

kekerasan diturunkan

Selepas masa balita dan sebelum memasukin perkembangan remaja, perkembangan anak 6-9 tahun juga perlu diperhatikan.

Hal ini meliputi perkembangan kognitif anak, perkembangan sosial anak, perkembangan fisik anak, hingga perkembangan emosi anak.

Salah satu yang menjadi perhatian pada perkembangan emosi anak yakni mengenai kekerasan.

Sebelum membahas topik ini lebih lanjut, lebih baik Anda memahami terlebih dahulu apa saja bentuk kekerasan pada anak.

Kekerasan pada anak bukan hanya meliputi kekerasan fisik atau pelecehan seksual, tapi bisa lebih dari itu.

Tanpa disadari, perilaku penelantaran orangtua terhadap anaknya juga termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak.

Supaya lebih paham, kenali beragam bentuk kekerasan pada anak berikut ini:

1. Kekerasan emosional

Kekerasan pada anak tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk lain, contohnya kekerasan yang menyerang mental anak.

Bentuk kekerasan terhadap anak yang menyerang mental bisa beranekaragam.

Sebagai contoh kekerasan emosional yakni meremehkan atau mempermalukan anak, berteriak di depan anak, mengancam anak, dan mengatakan bahwa ia tidak baik.

Jarang melakukan kontak fisik seperti memeluk dan mencium anak juga termasuk contoh dari kekerasan emosional pada anak. 

Tanda-tanda kekerasan emosional di diri anak meliputi:

  • Kehilangan kepercayaan diri
  • Terlihat depresi dan gelisah
  • Sakit kepala atau sakit perut yang tiba-tiba
  • Menarik diri dari aktivitas sosial, teman-teman, atau orangtua
  • Perkembangan emosional terlambat
  • Sering bolos sekolah dan penurunan prestasi, kehilangan semangat untuk sekolah
  • Menghindari situasi tertentu
  • Kehilangan ketrampilan

2. Penelantaran anak

Kewajiban dari kedua orangtua terhadap anak adalah memenuhi kebutuhannya, termasuk memberikan kasih sayang, melindungi, dan merawat anak.

Jika kedua orangtua tidak bisa memenuhi kebutuhan anak, bisa dianggap orangtua telah menelantarkan anak.

Tindakan ini termasuk ke dalam salah satu jenis kekerasan terhadap anak.

Pasalnya, anak tentu masih membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan perlindungan orangtua.

Orangtua yang tidak mampu atau tidak mau memberikan segala kebutuhan anak berarti telah melakukan tindak kekerasan terhadap anak.

Berikut tanda-tanda dari penelantaran anak:

  • Anak merasa acuh tak acuh
  • Memiliki kebersihan yang buruk
  • Memiliki pertumbuhan tinggi atau berat badan yang buruk
  • Kurangnya pakaian atau perlengkapan kebutuhan anak lainnya
  • Prestasi yang buruk di sekolah
  • Kurangnya perawatan medis atau perawatan emosional
  • Kelainan emosional, mudah marah atau frustrasi
  • Perasaan ketakutan atau gelisah
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

3. Kekerasan fisik

Salah satu jenis kekerasan yang mungkin paling sering terjadi kepada anak dari orangtua adalah kekerasan fisik.

Terkadang, orangtua dengan sengaja melakukan kekerasan fisik pada anak dengan maksud untuk mendisiplinkan anak.

Namun, cara untuk mendisiplinkan anak sebenarnya tidak harus selalu dengan menggunakan kekerasan fisik, seperti anak sering dibentak yang menyakitkan hatinya.

Ada banyak cara lain yang lebih efektif dalam mendisiplinkan anak tanpa harus membuatnya trauma atau meninggalkan luka pada tubuhnya. 

Tanda-tanda kekerasan fisik yang dialami anak bisa terlihat dengan adanya cedera, lebam, maupun bekas luka di tubuh.

4. Kekerasan seksual

Ternyata, trauma akibat pelecehan seksual tidak hanya dalam bentuk kontak tubuh.

Mengekspos anak pada situasi seksual atau materi yang melecehkan secara seksual, walaupun tidak menyentuh anak, termasuk dalam kekerasan atau pelecehan seksual pada anak.

Sebagai contoh, orangtua yang mengejek bentuk pertumbuhan payudara anak tidak sesuai dengan ukuran payudara anak seusianya, terlebih dilakukan di depan orang lain.

Hal ini sudah termasuk sebagai kekerasan seksual terhadap anak. Sebagai orangtua, sebaiknya Anda justru ajari anak melindungi diri dari kekerasan seksual di luar rumah.

Di sisi lain, mengenalkan anak dengan pornografi di usia yang belum seharusnya juga termasuk dalam bentuk kekerasan seksual, dilansir dari Mayo Clinic.

Tanda-tanda kekerasan seksual yang dialami anak biasanya berupa punya penyakit menular seksual, masalah pada organ intim, hamil, nyeri saat berjalan, dan lainnya.

Dampak dari kekerasan yang terjadi pada anak

Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa dampak yang mungkin terjadi terhadap anak jika mengalami kekerasan.

Berikut dampak dari kekerasan pada anak:

1. Kekerasan pada anak berdampak kematian

memukul pantat anak

Dampak kekerasan pada anak yang mungkin terjadi adalah kematian.

Jika orangtua melakukan kekerasan terhadap anak yang masih belum bisa membela diri, bisa saja orangtua terlalu keras memukul atau menyakiti anak hingga anak kehilangan nyawa.

Tidak hanya itu, meskipun anak sudah memasuki usia remaja, tetap saja dampak kekerasan pada anak yang satu ini masih bisa terjadi.

Apalagi jika orangtua tidak bisa mengontrol amarahnya, bukan tidak mungkin dapat berakibat fatal bagi anak.

2. Luka atau cedera

Meski tidak menyebabkan kematian, dampak kekerasan terhadap anak yang satu ini juga bukan dampak yang baik.

Anak yang mengalami kekerasan di rumah sebagian besar tentu mengalami luka-luka bekas dipukul, dilempar benda keras, dan masih banyak lagi.

Saat orangtua sedang marah, ia bisa saja tidak menyadari bahwa yang sedang dihadapinya adalah anak atau buah hatinya.

Hal ini bisa menyebabkan orangtua melakukan hal di luar kendali yang bisa menyakiti fisik sekaligus batin anak.

3. Gangguan perkembangan otak dan sistem saraf

gen kekerasan

Kekerasan juga bisa berdampak pada gangguan tumbuh dan kembang yang sedang dialami oleh si kecil.

Mengalami kekerasan saat anak masih sangat belia tentu dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya, termasuk gangguan pada sistem saraf, pernapasan, reproduksi, dan sistem imun.

Bahkan, kondisi ini bisa menyebabkan dampak berkepanjangan pada hidup sang anak secara fisik dan juga psikis.

Hal ini juga bisa membuat perkembangan kognitif anak terhambat, sehingga bisa membuat prestasi akademik anak di sekolah menurun bahkan memburuk.

4. Sikap negatif pada anak akibat kekerasan

kekerasan dan pelecehan seksual pada anak

Dampak lain yang juga tak kalah berbahayanya dari kekerasan pada anak adalah terbentuknya sikap buruk di dirinya.

Hal ini bisa berupa banyak hal, misalnya anak suka merokok, menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang, serta perilaku seksual yang menyimpang.

Jika anak sampai melakukan perilaku seksual yang menyimpang, anak mungkin mengalami kehamilan di luar nikah.

Padahal, belum tentu anak sudah siap untuk menjadi orangtua di usia tersebut.

Selain itu, bila anak juga mungkin sering mengalami kecemasan, depresi, atau berbagai penyakit mental lain, ia bisa saja memiliki keinginan untuk bunuh diri.

5. Dampak kekerasan terhadap anak pada gangguan kesehatan

mengatasi demam pada anak

Tahukah Anda bahwa kekerasan kepada anak juga bisa mengakibatkan anak mengalami berbagai gangguan kesehatan?

Bahkan, gangguan kesehatan yang dialami anak biasanya cukup serius seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, endometriosis, dan berbagai masalah kesehatan lain.

Selain itu, beragam dampak kekerasan pada gangguan kesehatan anak meliputi:

  • Perkembangan otak yang terbelakang
  • Ketidakseimbangan antara kemampuan sosial, emosional dan kognitif
  • Gangguan berbahasa yang spesifik
  • Kesulitan dalam penglihatan, bicara dan pendengaran
  • Susah fokus
  • Susah tidur
  • Gangguan makan
  • Kecenderungan melukai diri sendiri

6. Masalah pada masa depan anak

cara melerai anak bertengkar

Masalah yang dihadapi anak tidak hanya saat kekerasan terjadi, tapi juga terkait masa depan anak.

Umumnya, kekerasan terhadap anak saat masih kecil bisa saja membuatnya keluar dari sekolah.

Bukan hanya itu, dampak kekerasan yang dialami anak tersebut juga dapat menyebabkan ia kesulitan mencari pekerjaan.

Anak juga dapat cenderung melakukan hal-hal yang buruk terhadap dirinya sendiri di masa depan.

Bahkan, kondisi ini bisa diteruskan kepada keturunan-keturunannya.

Artinya, anak yang mengalami kekerasan saat masih kecil mungkin saja ‘melanjutkan’ hal tersebut kepada anak dan cucunya.

Apakah anak korban kekerasan akan melakukan hal yang sama?

orang tua keras picu kenakalan remaja

Tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan bisa melakukan hal yang sama pada anaknya kelak.

Beberapa faktor utama yang sangat berpengaruh dalam perilaku anak di masa depan yakni:

  • Kekerasan yang dialami sejak dini
  • Kekerasan dilakukan dalam waktu yang lama
  • Kekerasan dilakukan oleh orang yang berhubungan dekat dengan korban, misalnya orangtua
  • Kekerasan yang dilakukan sangat berbahaya bagi anak

Anak korban kekerasan seringnya mengatasi traumanya sendiri dengan cara menyangkal bahwa ia telah menerima kekerasan atau dengan cara menyalahkan dirinya sendiri.

Alasan untuk menerapkan kedisiplinan sering digunakan untuk melakukan kekerasan pada anak. 

Itulah mengapa perlakuan ini dibenarkan oleh beberapa orangtua yang melakukan kekerasan terhadap anak, padahal seharusnya tidak.

Pada akhirnya, anak yang pernah mengalami kekerasan saat kecil tidak dapat melihat bagaimana seharusnya orangtua mengasihi dan memperlakukan anaknya dengan baik.

Dengan begitu, kemungkinan besar kelak ia akan tumbuh dengan mencontoh apa yang orangtuanya telah lakukan.

Ia kemungkinan akan membesarkan anak dengan cara sama seperti ia dibesarkan oleh orangtuanya dahulu.

Bisakah anak menjadi orang dewasa antikekerasan nantinya?

mendidik anak jujur

Tidak selamanya anak korban kekerasan menjadi orangtua yang juga melakukan kekerasan kepada anaknya kelak.

Ada juga anak korban kekerasan yang menyadari bahwa apa yang ia terima bukanlah hal baik.

Pada akhirnya, anak termotivasi untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia terima saat masih kecil kepada anak-anaknya kelak.

Tidak menutup kemungkinan, anak korban kekerasan nantinya bisa lebih melindungi anak-anak mereka dari kekerasan.

Anak korban kekerasan harus diberi tahu bahwa apa yang ia terima merupakan hal yang salah dan tidak baik dilakukan.

Hal ini bertujuan agar anak tidak akan berlaku seperti itu kepada siapa pun.

Anak juga tidak boleh disalahkan terhadap kekerasan yang diterimanya sehingga trauma anak tidak bertambah buruk dan lebih cepat pulih.

Banyak korban yang dapat mengatasi trauma masa kecil dengan dukungan emosional dari orang terdekat atau terapi keluarga.

Ini membuat anak menyadari bahwa kejadian tidak mengenakkan tersebut tidak boleh terulang lagi.

Anak korban kekerasan bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan kondisi psikisnya.

Saat sudah memasuki usia dewasa, anak korban kekerasan juga bisa mengikuti kelas parenting dan kelompok pendukung pengasuh untuk belajar bagaimana cara baik mengasuh anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mendengar Cerita Korban Trauma Juga Bisa Bikin Stres, Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Secondary traumatic stress adalah kondisi yang rentan menyerang orang terdekat korban trauma. Mengapa kondisi ini bisa terjadi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 6 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Trauma Akibat Kekerasan Emosional dari Ibu Sendiri

Salah satu cara agar Anda dapat mengatasi trauma akibat kekerasan emosional yang dilakukan oleh ibu sendiri adalah membuka diri.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 26 Juli 2019 . Waktu baca 5 menit

Waspada, Berhubungan Seks Tanpa Persetujuan Merupakan Kekerasan

Meskipun telah menikah, kegiatan seks harus dilakukan dengan persetujuan, alias sexual consent, dari pasangan. Tanpa itu, Anda mengalami kekerasan seksual.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 2 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit

Mengulik Beragam Jenis Perkosaan dan Dampaknya Bagi Korban, Secara Fisik dan Mental

Pemerkosaan masih menjadi teror terbesar bagi wanita. Dua dari tiga kasus perkosaan dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengan korban.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Psikologi 11 Maret 2019 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bullying pada remaja

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
dorongan menyakiti orang lain

Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15 April 2020 . Waktu baca 6 menit