Ketahui Penyakit Saraf pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Penyakit saraf bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali anak-anak. Penyakit saraf termasuk kasus yang cukup banyak ditemukan pada usia anak-anak. Berikut penjelasan seputar penyakit saraf pada anak dan jenis-jenisnya.

Jenis penyakit saraf pada anak

Penyakit saraf atau gangguan neurologis adalah kondisi saat sebagian otak atau sistem saraf tidak bekerja sebagaimana mestinya. 

Kondisi ini nantinya bisa memengaruhi perkembangan anak yang mengakibatkan gejala tertentu, baik secara fisik maupun psikologis. Hal tersebut tergantung bagian otak dan saraf mana yang terganggu. 

Untuk lebih memahami, berikut daftar berbagai penyakit saraf pada anak.

1. Spina bifida

Spina bifida adalah kondisi kelainan yang terjadi ketika tulang belakang dan sumsum tulang belakang tidak terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini merupakan bawaan sejak bayi baru lahir dan bisa terjadi hingga anak memasuki usia sekolah.

Bayi dengan spina bifida biasanya mengalami kegagalan perkembangan tabung saraf sebagian atau tabung yang tidak menutup dengan benar.

Akibatnya, tulang belakang dan sumsum tulang belakang bisa rusak. Tabung saraf adalah bagian dari embrio yang kemudian berkembang menjadi otak dan sumsum tulang belakang serta jaringan di sekitarnya.

Kondisi ini bisa saja ringan atau bahkan sangat parah, tergantung dari jenis kerusakan, ukuran, lokasi, dan komplikasi yang terjadi. 

Tanda dan gejala dari penyakit saraf pada anak yang satu ini tergantung pada jenisnya, yaitu:

Okulta

Jenis spina bifida yang satu ini umumnya tidak merusak sistem saraf tulang belakang. Bayi yang lahir dengan kondisi ini menunjukkan tanda fisik seperti:

  • Muncul jambul atau rambut di bagian punggung.
  • Tanda lahir atau lesung pipit di bagian tubuh yang terdampak spina bifida.

Hanya sedikit kasus penyakit saraf anak spina bifida jenis okulta. 

Meningokel

Gejala spina bifida jenis ini bisa dilihat dari munculnya jaringan berbentuk kantung berisi cairan di bagian punggung bayi. KOndisi ini biasanya bisa dilihat setelah si kecil dilahirkan.

Mielomeningokel

Gejalanya mirip dengan meningokel, yaitu muncul kantung di punggung berisi cairan. Ada gejala lain yang dialami penderita penyakit saraf pada anak jenis spina bifida yang satu ini, yaitu:

  • Pembesaran di kepala karena penumpukan cairan otak
  • Perubahan kognitif dan perilaku
  • Tubuh tidak bertenaga
  • Tubuh lebih kaku
  • Sakit punggung

Setiap anak memiliki gejala dan tanda berbeda dengan anak lain. Maka, pastikan langsung memeriksakan ke dokter ketika menemukan tanda penyakit saraf di atas pada anak.

Risiko anak mengalami spina bifida bisa meningkat karena ibu kekurangan asupan asam folat selama kehamilan, riwayat keluarga dengan spina bifida, dan konsumsi obat-obatan seperti asam valproat selama kehamilan.

2. Epilepsi

anak tidur sendiri

Epilepsi adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan kejang berulang. Biasanya kondisi ini disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak akibat keturunan, cedera pada kepala, dan masalah pada otak.

Pada anak, epilepsi bisa menyebabkan berbagai masalah pada kemampuan mengendalikan otot, kemampuan bahasa anak, hingga memori dan gangguan belajar.

Epilepsi sebagai salah satu jenis penyakit saraf pada anak memiliki gejala yang cukup bervariasi, biasanya ditandai dengan:

  • Hilangnya kesadaran
  • Gerakan tangan dan kaki yang tiba-tiba
  • Tubuh menjadi kaku
  • Gangguan pernapasan
  • Mata berkedip dengan cepat sembari menatap pada satu titik

Apakah anak yang pernah kejang satu kali bisa dikatakan epilepsi? Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kalau baru satu kali mengalami kejang tanpa penyebab, belum bisa dibilang epilepsi. 

Namun pemberian obat antiepilepsi bisa dilakukan bila anak berisiko kejang kembali. Ini bisa dilihat dari pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) yang tidak normal (banyak fokus kejang). 

Tidak hanya itu, bila anak kejang hanya satu kali tapi berlangsung sangat lama sampai 30 menit, dokter akan memberikan obat antiepilepsi.

Faktor genetik berperan dalam penyakit saraf jenis epilepsi pada anak. Namun, tidak semua jenis epilepsi disebabkan oleh faktor genetik. 

Sel-sel yang rusak karena kondisi gangguan perkembangan otak, perdarahan di kepala, atau radang selaput otak, bisa menjadi fokus timbulnya kejang pada epilepsi.

3. Hidrosefalus

hidrosefalus jenis penyakit saraf anak
Sumber: Rumah Sakit Pusak Otak Nasional

Penyakit saraf pada anak yang berikutnya ialah hidrosefalus. Hidrosefalus adalah kondisi saat anak mengalami penumpukan cairan serebrospinal di rongga dalam otak. 

Dikutip dari American Association of Neurological Surgeons (AANS), cairan serebrospinal ini akan mengalir lewat otak dan sumsum tulang belakang, kemudian diserap oleh pembuluh darah. 

Namun sayangnya, tekanan pada cairan yang terlalu banyak bisa merusak jaringan otak sehingga membuat berbagai masalah yang berhubungan dengan fungsi otak. 

Meski yang terlihat hanya kepalanya yang membesar karena penumpukan cairan, tapi semua bagian tubuh anak akan terkena dampak dari hidrosefalus. Sebagai contoh, gangguan tumbuh kembang anak sampai penurunan kecerdasan.

Saat anak mengalami penyakit saraf pada anak jenis hidrosefalus, biasanya gejala yang terlihat seperti:

  • Ukuran kepala yang jauh lebih besar dibandingkan anak normal.
  • Adanya bagian lunak kepala yang menonjol (fontanel) di bagian atas.
  • Mata selalu tertuju ke bawah.
  • Pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang buruk.
  • Muntah-muntah.
  • Kejang otot
  • Kemampuan kognitif anak terganggu
  • Sulit berkonsentrasi
  • Keseimbangan menjadi tidak stabil.
  • Nafsu makan menurun drastis.
  • Lemah dan lemas tidak berdaya.
  • Kejang

Bila orangtua melihat anak memiliki tanda-tanda di atas, segera konsultasi ke dokter. Secara spesifik, ada tanda khusus yang membuat orangtua harus melakukan pemeriksaan, mengutip dari Mayo Clinic:

  • Berteriak dengan nada tinggi
  • Muntah berulang kali
  • Sulit menggerakkan kepala dan berbaring
  • Sulit bernapas dengan lancar
  • Bayi bermasalah ketika menyusu terutama saat mengisap

Di atas adalah tanda khusus yang tidak bisa dianggap sepele karena bisa mengarah kepada penyakit saraf anak jenis hidrosefalus. 

4. Cerebral palsy

penyakit saraf pada anak jenis cerebral palsy

Cerebral palsy adalah kelainan yang memengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik anak untuk dapat bergerak secara terkoordinasi dan terarah. 

Kondisi yang memiliki nama lain lumpuh otak ini umumnya disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi sebelum bayi dilahirkan.

Adapun berbagai gejala yang akan ditunjukkan saat anak mengalami cerebral palsy adalah:

  • Otot terlalu kaku atau lemah terkulai.
  • Kurangnya koordinasi otot.
  • Sering mengalami tremor atau gerakan tak sadar.
  • Gerakan yang dilakukan lambat.
  • Keterampilan motorik lambat seperti kemampuan duduk dan merangkak.
  • Mengalami kesulitan berjalan.
  • Produksi air liur berlebih dan memiliki masalah dalam menelan.
  • Mengalami kesulitan untuk mengisap atau mengunyah makanan.
  • Kemampuan bicara terlambat.

Mengutip dari Healthy Children, anak dengan penyakit saraf anak jenis cerebral palsy, memiliki gangguan otak dalam mengontrol gerakan motorik.

Kondisi ini menjadi penyebab berbagai jenis kecacatan perkembangan motorik anak yang berbeda-beda, mulai dari yang ringan sampai sangat berat. 

Anak dengan penyakit saraf tipe cerebral palsy memiliki kecenderungan sulit berjalan atau bahkan tidak bisa jalan sama sekali.

Biasanya anak akan menggunakan alat bantu berjalan berupa kursi roda yang didesain khusus untuk anak dengan penyakit saraf jenis ini.

5. Autisme

penyakit saraf pada anak jenis autisme

Dikutip dari situs resmi IDAI, autisme atau sekarang disebut dengan gangguan spektrum autisme (GSA) adalah kumpulan gangguan perkembangan dalam hal interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku.

Kondisi yang menyerang sistem saraf di otak ini membuat anak mengalami kesulitan untuk memahami dunia di sekitar mereka.

Anak yang mengalami penyakit saraf jenis ini cenderung memiliki keterlambatan dalam berbicara, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain.

Biasanya, anak yang memiliki penyakit saraf pada anak tipe autisme mengalami beberapa tanda yang bisa dilihat secara jelas seperti:

  • Tidak melakukan kontak mata saat Anda sedang berinteraksi dengannya.
  • Tidak menanggapi ketika dipanggil.
  • Mengeluarkan suara-suara untuk menarik perhatian Anda.
  • Tidak memiliki ketertarikan untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • Mengalami kesulitan untuk mengutarakan sesuatu.
  • Tidak mengerti arahan atau petunjuk yang Anda berikan.

Perilaku, minat, dan aktivitas anak dengan kondisi autisme biasanya sangat terbatas dan sifatnya berulang.

Sebagai contoh, anak akan menggerakkan anggota tubuh tertentu berulang-ulang dan mengulangi perkataan yang disebutkan orang lain (ekolalia).

Orangtua perlu khawatir bila anak dengan kondisi autisme mengalami hal-hal di bawah ini:

  • Tidak mengoceh, menunjuk benda, atau menunjukkan mimik wajah di usia 12 bulan.
  • Tidak ada kata-kata berarti di usia 16 bulan.
  • Tidak mengucapkan 2 kata yang bukan ekokalia di usia 24 bulan.
  • Hilang kemampuan bahasa dan sosial di semua usia.
  • Tidak menoleh saat dipanggil di usia 6-12 bulan.

Di atas adalah tanda bahaya anak mengalami autisme. Segera bawa ke dokter spesialis anak untuk dilakukan skrining khusus untuk anak autisme.

Berbagai penyakit saraf pada anak ini bisa segera ditangani sedini mungkin jika Anda mencurigai ada pada si kecil lewat gejala yang ditimbulkan. 

Dengan penanganan dini, dokter akan merekomendasikan berbagai pengobatan dan terapi yang bisa membantu menunjang perkembangan dan pertumbuhannya.

6. Sindrom moebius

Sumber: moebiussyndrome.org

Mengutip dari Genetic Home Reference, moebius syndrom adalah gangguan saraf sangat langka yang memengaruhi otot-otot mengontrol ekspresi wajah dan gerakan mata. Tanda penyakit saraf ini sudah hadir pada anak sejak baru lahir.

Lemahnya kondisi otot wajah adalah salah satu ciri paling umum dari sindrom moebius. Anak yang mengalami kondisi ini tidak bisa tersenyum, mengerut kening, mengontrol gerakan mata, atau mengangkat alisnya.

Bahkan, kelopak mata bisa tidak menutup sepenuhnya saat berkedip atau tidur yang membuat mata sering kering dan iritasi. Tidak hanya masalah ekspresi, sindrom moebius juga menyebabkan masalah pada proses bayi saat makan.

Orang yang lahir dengan kondisi sindrom moebius lahir dengan kondisi:

  • Dagu kecil (micrognathia)
  • Mulu kecil (microstomia)
  • Lidah pendek
  • Terdapat lubang di langit-langit mulut 

Kelainan di atas akan berhubungan dengan masalah saat berbicara.

Mengutip dari National Organization for Rare Disorders (NORD) tidak ada hal pasti yang menyebabkan penyakit saraf pada anak yang satu ini.

Namun, temuan dari NORD menunjukkan bahwa kondisi ini karena adanya gangguan atau aliran darah menuju janin yang terganggu (iskemia).

Selain itu, kekurangan darah di masa kehamilan juga memengaruhi area tertentu dari batang otak bawah yang mengandung inti saraf kranial. Kurangnya aliran darah disebabkan oleh lingkungan atau genetik.

Sindrom ini bisa terjadi pada anak laki-laki dan perempuan. Di Amerika Serikat, setidaknya 1 dari 50 ribu sampai 1 dari 500 ribu kelahiran mengalami sindrom moebius.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Ciri dan Gejala Autisme pada Bayi yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Autis (autisme) pada bayi sulit untuk didiagnosis karena ciri-ciri yang timbul nampak samar. Memang, seperti apa saja gejala autis pada bayi? Simak di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Saraf, Health Centers 8 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Jenis Terapi Perilaku untuk Anak dengan Autisme

Terapi perilaku anak autis sudah digunakan sejak lama untuk membuat anak menguasai keterampilan baru. Apa saja jenis terapi perilaku tersebut?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Anak, Parenting 9 Desember 2019 . Waktu baca 7 menit

Epilepsi pada Anak: Ketahui Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Peran orangtua penting untuk menemani anak dalam proses pengobatan epilepsi pada anak. Ikuti tips jitu ini agar pengobatan berjalan dengan baik.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 28 Oktober 2018 . Waktu baca 6 menit

Orang Dewasa Juga Bisa Kena Hidrosefalus, Apa Tanda dan Gejalanya?

Meski umum dialami oleh anak-anak, orang dewasa ternyata juga bisa terkena hidrosefalus. Bagaimana cara mendeteksi gejala hidrosefalus pada orang dewasa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Fakta Unik 28 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

spina bifida

Spina Bifida

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 13 menit
bahan kimia kosmetik autisme

Benarkah Bahan Kimia Kosmetik Tingkatkan Risiko Autisme pada Janin?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 3 menit
pengobatan hidrosefalus pada bayi

Jangan Tunda, Ini Pengobatan Hidrosefalus untuk Memperbaiki Kepala Bayi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 April 2020 . Waktu baca 7 menit
mencegah autisme saat hamil

Bisakah Mencegah Autisme Sejak Anak dalam Kandungan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 2 April 2020 . Waktu baca 4 menit