Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Moebius Syndrome, Kondisi Langka yang Membuat Anak Tanpa Ekspresi

Moebius Syndrome, Kondisi Langka yang Membuat Anak Tanpa Ekspresi

Penyakit langka juga bisa menyerang anak-anak, salah satunya adalah Moebius syndrome. Sindrom ini adalah kondisi yang sangat jarang terjadi dengan tanda anak tidak bisa menunjukkan ekspresi wajahnya. Simak penjelasan lengkap berikut seputar penyakit langka ini.

Apa itu Moebius syndrome?

Sumber: 25 Hour News

Mengutip dari John Hopkins Medicine, Moebius syndrome adalah penyakit cacat lahir langka pada bayi yang menyerang saraf dan otot wajah.

Bayi yang memiliki sindrom ini umumnya kesulitan mengontrol gerakan mata dan ekspresi wajah.

Moebius syndrome juga memengaruhi saraf yang berhubungan dengan kemampuan bicara atau bahasa, mengunyah, dan menelan.

Hal ini membuat bayi menjadi kesulitan tersenyum, mengerut kening, bahkan mengangkat alisnya.

Kondisi otot wajah yang lemah juga berpengaruh pada kemampuan menyusui bayi yang sangat penting pada tumbuh kembangnya.

Tidak hanya itu, Moebius syndrome juga berpengaruh pada kendali gerakan mata bayi.

Ia akan kesulitan melakukan kontak mata dan tidak menutup mata atau berkedip saat tidur. Alhasil, matanya bisa jadi kering dan mengalami iritasi.

Tanda dan gejala Moebius syndrome

Gejala sindrom ini tergantung pada saraf yang mengalami kelainan. Pada umumnya, tanda dan gejala Moebius syndrome meliputi:

  • kelumpuhan otot wajah,
  • sulit menelan dan mengisap,
  • tidak bisa membentuk ekspresi wajah (tersenyum, mengangkat alis, mengerut kening),
  • terdapat celah pada langit-langit mulut,
  • kelainan pada gigi dan lidah,
  • mata iritasi dan kering karena sulit mengedip,
  • mata juling pada bayi,
  • jari saling menempel (sindaktili),
  • lelainan bentuk kaki seperti bengkok ke dalam (clubfoot), dan
  • keterlambatan dalam perkembangan motorik bayi.

Gejala Moebius syndrome sering terjadi pada area wajah, tetapi bisa mengalami kelainan pada bagian tubuh lain.

Penyebab Moebius syndrome

kelainan kongenital cacat bawaan pada bayi baru lahir

Mengutip dari Medlineplus, penyebab sindrom Moebius masih belum diketahui secara pasti. Namun, kemungkinan besar faktor genetik memengaruhi kondisi tersebut.

Gangguan ini juga berhubungan dengan kelainan kromosom 3, 10, atau 13 pada beberapa keluarga.

Selain itu, faktor paparan polusi, zat beracun, dan efek samping obat-obatan saat hamil bisa menjadi penyebab sindrom Moebius.

Meski begitu, kebanyakan kasus kelainan langka ini tidak memiliki riwayat gangguan dalam keluarga.

Hal tersebut membuat sindrom Moebius tidak memiliki pola yang jelas dalam menyerang janin.

Pengobatan Moebius syndrome

lipoma pada bayi

Perawatan bagi anak dengan sindrom Moebius memerlukan peran dari berbagai dokter spesialis.

Para dokter spesialis tersebut adalah ahli saraf, dokter mata, bedah plastik, ahli THT, dan terapi wicara.

Berikut beberapa perawatan yang perlu dokter berikan pada bayi dengan Moebius Syndrome.

1. Terapi wicara

Kelainan pada sindrom Moebius menyerang saraf kranial yang berperan dalam mengontrol otot lidah, rahang, laring, tenggorokan, dan otot yang berperan dalam bicara.

Anak dengan sindrom ini biasanya kesulitan dalam mengucapkan artikulasi yang jelas dan mengunyah makanan.

Terapi wicara berperan dalam melatih saraf dan otot mulut agar koordinasi serta keterampilan motorik bayi lebih baik.

2. Perawatan gigi

Saat anak dengan Moebius syndrome mengalami kesulitan untuk makan dan mengunyah, ia rentan mengalami masalah pada gigi.

Penumpukan makanan pada bagian belakang gigi bisa menyebabkan pembusukan dan merusak gigi.

Di sini dokter gigi berperan untuk menyikat dan membersihkan sisa-sisa makanan untuk mencegah kerusakan gigi.

Bila anak memiliki celah pada langit-langit mulutnya, mungkin perlu penanganan dokter spesialis ortodonti untuk merapikan gigi dan rahangnya.

3. Pemasangan selang NGT

Sindrom Moebius membuat penderitanya sulit menelan dan mengunyah. Anak juga tidak bisa menggerakan otot rahang, mulut, lidah, dan wajahnya.

Kondisi ini membuat anak membutuhkan selang NGT melalui hidung menuju lambung untuk menyalurkan makanan dan minuman.

Selang ini biasanya perlu dokter pasang sampai anak bisa menelan dengan baik.

4. Operasi untuk mata juling

Anak dengan kondisi sindrom Moebius memiliki kondisi mata juling karena kelainan pada saraf anak dan otot wajahnya.

Pada masa ini, kemungkinan dokter akan menyarankan untuk melakukan pembedahan demi memperbaiki mata juling atau strabismus.

Caranya dengan menyalurkan saraf dan otot ke wajah untuk meningkatkan kemampuan tersenyum.

Dokter juga akan melakukan operasi wajah pada rahang dan anggota tubuh untuk mengatasi kondisi perbedaan wajah.

Pada dasarnya, penyakit langka ini belum bisa sembuh total. Namun, lewat perawatan di atas akan membantu anak untuk berkembang dengan baik.

Bila ibu melihat gejala Moebius syndrome pada anak, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What is Moebius syndrome? | Moebius Syndrome Foundation. (2021). Retrieved 22 June 2021, from https://moebiussyndrome.org/about-moebius-syndrome/what-is-moebius-syndrome/

Moebius Syndrome – NORD (National Organization for Rare Disorders). (2021). Retrieved 22 June 2021, from https://rarediseases.org/rare-diseases/moebius-syndrome/

Conditions, G. (2020). Moebius syndrome: MedlinePlus Genetics. Retrieved 22 June 2021, from https://medlineplus.gov/genetics/condition/moebius-syndrome/

Moebius Syndrome. (2021). Retrieved 22 June 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/moebius-syndrome#:~:text=Moebius%20syndrome%20is%20a%20rare,for%20speech%2C%20chewing%20and%20swallowing.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita