Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Ciri-Ciri Bayi Cebol Berdasarkan Jenisnya yang Perlu Orangtua Pahami

Ciri-Ciri Bayi Cebol Berdasarkan Jenisnya yang Perlu Orangtua Pahami

Bila Anda pernah melihat anak bayi pendek dengan kondisi tulang yang tidak normal, itu adalah dwarfisme. Kondisi ini termasuk kelainan bawaan sejak lahir dengan tanda pertumbuhan tulang yang lebih pendek daripada umumnya. Selain pertumbuhan tulang yang terganggu, berikut ini ciri-ciri bayi cebol yang perlu orangtua pahami.

Sepertia apa ciri-ciri bayi cebol (kerdil)?

kepala bayi lonjong saat lahir

Pada umumnya, ada dua jenis dwarfisme, yakni proporsional dan tidak proporsional.

Dwarfism proporsional adalah kondisi ketika bagian tubuh sesuai dengan proporsinya alias seimbang, tetapi ukuran tubuhnya pendek.

Sementara dwarfism tidak proporsional adalah kondisi ukuran tubuh sesuai rata-rata, tetapi lengan tangan dan kaki lebih pendek.

Namun, dwarfism bisa juga punya ciri yakni ukuran tubuh pendek dengan anggota tubuh yang lebih panjang. Meski sudah bisa terjadi sejak bayi baru lahir, kondisi ini dapat muncul di usia berapa pun.

Ciri-ciri bayi cebol terbagi berdasarkan jenis yang sudah dijelaskan sebelumnya. Berikut gejala dwarfism menurut jenis yang ada, mengutip dari Mayo Clinic.

Ciri-ciri bayi kerdil (dwarfisme) tidak proporsional

Kebanyakan bayi dan anak dengan dwarfism tidak proporsional mengalami gejala berupa perawakan pendek dengan ukuran tubuh yang tidak seimbang.

Berikut ciri-ciri anak cebol atau pendek dengan kondisi dwarfisme.

  • Tubuh relatif berukuran normal.
  • Lengan dan kaki yang pendek dan tidak proporsional.
  • Ukuran jari pendek.
  • Pergerakan pada siku tangan terbatas.
  • Kepala yang besar dan tidak proporsional.
  • Dahi menonjol atau jenong dan tulang hidung seolah datar (pesek).
  • Kaki yang membengkok.
  • Berkurangnya mobilitas pada sendi siku.

Ambil contoh, ukuran tubuh anak normal, tetapi ukuran anggota tubuh seperti tangan dan kaki pendek.

Sementara anak dan orang dewasa lain dengan kelainan bawaan ini bisa memiliki ukuran tubuh pendek, tetapi anggota tubuh seperti tangan dan kakinya lebih panjang.

Jenis dwarfisme tidak proporsional ini juga membuat ukuran kepala bayi dan anak sangat besar daripada dengan ukuran tubuhnya sehingga tampak tidak proporsional.

Namun, bayi dan anak dengan ciri-ciri dwarfisme (cebol atau kerdil) tidak proporsional ini tetap memiliki kemampuan kognitif yang normal.

Ciri-ciri bayi kerdil (dwarfism) proporsional

Dwarfisme proporsional adalah kondisi kelainan yang bisa muncul saat bayi lahir maupun di usia dini.

Gejala dwarfisme proporsional dapat membatasi tumbuh kembang tubuh si kecil secara keseluruhan.

Gejala bayi cebol proporsional yang paling umum adalah ukuran kepala dan anggota badan kecil, tetapi saling seimbang satu sama lain.

Jenis dwarfisme yang satu ini berpengaruh pada pertumbuhan anak secara keseluruhan.

Maka dari itu, membuat perkembangan yang kurang optimal pada satu atau beberapa bagian tubuh.

Beberapa ciri-ciri bayi kerdil atau cebol proporsional adalah sebagai berikut.

  • Tinggi badan anak pada grafik pertumbuhan berada di bawah rata-rata anak seusianya.
  • Perkembangan tinggi badan anak lebih lambat daripada anak seusianya.
  • Perkembangan seksual anak terlambat atau tidak ada sama sekali selama masa remaja.

Gejala dapat menyebabkan komplikasi jika tidak mendapat penanganan yang tepat. Komplikasi dari penyakit yang terkait dengan dwarfisme dapat sangat bervariasi.

Kapan harus ke dokter?

bayi bau tangan

Ciri-ciri cebol (kerdil) tidak proporsional biasanya muncul saat bayi baru lahir atau setidaknya selama masa pertumbuhan bayi.

Berbeda dengan gejala dwarfisme proporsional yang biasanya tidak langsung terlihat karena ukuran tubuh yang tampak seimbang.

Jika melihat bayi memiliki gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, segera konsultasikan dengan dokter.

Dokter dapat mendiagnosis dwarfisme sejak bayi dalam kandungan, saat lahir, maupun selama masa pertumbuhan bayi.

Berikut cara dokter mendiagnosis bayi cebol setelah orangtua melihat ciri-ciri pada anak.

  • Pemeriksaan USG sejak bayi masih di dalam kandungan.
  • Ketika bayi lahir, dokter mengukur pertumbuhan bayi meliputi tinggi badan bayi, berat badan bayi, dan lingkar kepala bayi.
  • Memeriksa kondisi tubuh bayi meliputi bentuk wajah dan kerangka tubuh.
  • Melakukan pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) dan
  • Pemeriksaan x-ray atau rontgen pada anak untuk melihat perkembangan tulang.
  • Tes genetika untuk mengetahui gen yang terlibat sebagai penyebab kondisi dwarfisme
  • Memeriksa riwayat kesehatan anggota keluarga

Di sisi lain, anak bisa melakukan pemeriksaan hormon guna mengetahui kadar hormon pertumbuhan maupun hormon lain yang terlibat dalam tumbuh kembang anak.

Mengutip dari Kids Health, bayi yang memiliki ciri-ciri cebol atau kerdil bukan berarti punya kecacatan intelektual.

Anak dengan kondisi ini masih tetap bisa sekolah, bekerja, menikah, bahkan membesarkan anak-anak.

Bila akan sudah pasti terdiagnosis memiliki dwarfisme, dukung terus cita-cita dan keinginan anak agar ia tidak rendah diri.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dwarfism. Retrieved 23 April 2020, from http://www.webmd.com/children/dwarfism-causes-treatments#1

Dwarfism. Retrieved 23 April 2020, from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dwarfism/basics/definition/con-20032297

Dwarfism. Retrieved 23 April 2020, from http://kidshealth.org/en/parents/dwarfism.html

All You Need to Know About Dwarfism. Retrieved 23 April 2020, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/320286

Dwarfism. Retrieved 23 April 2020, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/dwarfism

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 10/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto