Waspada Cacar Monyet pada Anak dan Bayi, Begini Penularannya

    Waspada Cacar Monyet pada Anak dan Bayi, Begini Penularannya

    Menjelang pertengahan tahun 2022, cacar monyet kembali menjadi perhatian dunia. Pasalnya, penyakit ini dilaporkan telah menyebar ke beberapa negara, termasuk yang dekat dengan Indonesia, seperti Singapura dan Australia. Infeksi cacar monyet diketahui dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada bayi dan anak-anak.

    Apa itu cacar monyet pada bayi dan anak?

    Cacar monyet adalah infeksi langka yang terjadi akibat virus Monkeypox.

    Seperti namanya, virus ini berasal dari monyet dan termasuk ke dalam genus (kelompok) virus ortopoks dalam famili (keluarga) Poxviridae.

    Virus Monkeypox awalnya merupakan penyakit zoonosis atau jenis penyakit menular dari hewan ke manusia.

    Akan tetapi, sekarang, infeksi ini sudah bisa ditularkan dari orang ke orang, termasuk kepada bayi dan anak-anak.

    Bahkan, bayi dan anak-anak termasuk golongan orang yang berisiko mengalami gejala serius hingga kematian akibat penyakit infeksi pada anak ini.

    Infeksi ini sebenarnya bisa sembuh sendiri dan biasanya terjadi hingga 2 atau 4 minggu. Akan tetapi, pada beberapa kasus terbaru, tingkat keparahan kondisi ini telah mencapai 3 – 6% kasus.

    Bagaimana penularan cacar monyet pada bayi dan anak?

    beda cacar air dan cacar monyet

    Meski umumnya bukan merupakan kondisi yang serius, cacar monyet sering kali terjadi sebagai penyakit endemi di daerah tertentu karena penularannya yang cukup mudah.

    Penularan cacar monyet pada bayi dan anak-anak dapat terjadi melalui orang ke orang atau hewan ke orang. Berikut beberapa cara penularannya.

    1. Kontak erat dengan penderita

    Penularan orang ke orang pada bayi dan anak dapat terjadi saat mereka melakukan kontak erat dengan orang lain.

    Paparan virus dapat terjadi secara langsung, misal melalui cairan pernapasan dan luka di kulit, atau secara tidak langsung dengan menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi.

    2. Kontak erat dengan hewan

    Penularan dari hewan ke manusia pada bayi dan anak dapat terjadi jika ada kontak langsung dengan cairan tubuh hewan, seperti air liur dan darah, atau luka pada tubuh hewan.

    Beberapa jenis hewan juga lebih rentan memiliki virus penyebab cacar monyet, di antaranya yaitu monyet, tupai, dan tikus.

    Selain itu, bayi atau anak yang makan daging atau produk hewani lainnya yang masih mentah juga berisiko tertular penyakit ini karena mungkin telah terkontaminasi virus penyebabnya.

    3. Melalui ASI

    Pada bayi, hasil penelitian menunjukkan adanya dugaan penularan cacar monyet melalui ASI.

    Dugaan ini muncul berdasarkan fakta bahwa virus penyebab infeksi bisa terkandung dalam darah, yang artinya mungkin juga terserap ke dalam ASI.

    Hal ini dijelaskan oleh dr. Robert Sinto, SpPD, K-PTI, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dalam press conference: Perkembangan Kasus Cacar Monyet (Monkeypox) di Indonesia yang digelar oleh Kementerian Kesehatan secara daring.

    Adanya fakta tersebut, lanjut dr. Robert, sampai saat ini CDC menyarankan kepada ibu menyusui yang terinfeksi oleh cacar monyet untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya hingga mendapat kejelasan soal kemungkinan penularan ini.

    “Tujuannya bukan semata-mata agar tidak ada kontak erat, tetapi bahkan ASI perah pun disarankan untuk tidak diberikan pada anak,” katanya.

    4. Selama masa kehamilan atau persalinan

    Penularan cacar monyet juga bisa terjadi saat kepada bayi yang masih di dalam kandungan.

    Penularan dari ibu hamil penderita cacar monyet kepada janin dapat terjadi melalui plasenta atau kontak langsung saat atau setelah proses persalinan.

    Belum diketahui secara pasti mengapa penularan dapat terjadi akibat persalinan.

    Meski kontak langsung memang dapat memicu penularan, tetapi masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut apakah juga dipicu oleh kontak langsung melalui jalur penularan seksual.

    Gejala cacar monyet pada bayi dan anak

    penyebab cacar air

    Bayi atau anak yang telah terpapar virus Monkeypox biasanya tidak akan langsung menunjukan gejala cacar monyet.

    Ini karena virus memerlukan masa inkubasi di dalam tubuh sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Masa inkubasi umumnya berkisar antara 6 – 13 hari, tetapi bisa juga terjadi antara 5 – 21 hari.

    Melansir dari WHO, proses infeksi virus di dalam tubuh bisa dibagi ke dalam dua tahap dengan gejala khasnya masing-masing, yaitu sebagai berikut.

    • Tahap invasi. Tahap pertama ini terjadi dari awal paparan hingga lima hari setelahnya. Umumnya, tahap ini ditandai dengan gejala, seperti anak mengalami sakit kepala berat, demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.
    • Tahap erupsi. Tahap ini biasanya mulai terjadi saat hari ke-1 hingga ke-3 setelah muncul demam pada anak, ditandai dengan munculnya ruam yang timbul secara bertahap sebagai bintil atau lepuhan pada wajah dan tungkai. Ruam ini bisa gatal maupun nyeri.

    Bagaimana dokter mendiagnosis cacar monyet pada bayi dan anak?

    Dalam mendeteksi cacar monyet pada bayi dan anak, sangat penting untuk mengenali gejala-gejala yang membedakannya dari penyakit serupa, seperti cacar (smallpox), cacar air (chickenpox), dan campak.

    Untuk itu, dokter akan melihat gejala yang dialami secara rinci. Jika ada dugaan cacar monyet, tenaga medis akan mengambil sampel virus untuk kemudian diteliti di laboratorium.

    Ada beberapa tes yang bisa dilakukan untuk memperoleh sampel tersebut, di antaranya yaitu sebagai berikut.

    • Tes swab atau usap tenggorokan.
    • Biopsi kulit, dengan mengambil sampel jaringan kulit yang luka, seperti kulit yang kering atau cairan nanah.
    • Tes darah.

    Pengobatan cacar monyet pada bayi dan anak

    jenis cacar monyet

    Cacar monyet biasanya terjadi cukup ringan, sehingga tidak memerlukan pengobatan khusus.

    Umumnya, Anda hanya perlu memastikan kebutuhan air dan nutrisi untuk anak tercukupi setiap hari.

    Selain itu, awasi juga luka pada kulit anak agar tetap tertutup dan tidak digaruk oleh anak.

    Jika anak menggaruk luka tersebut, lalu menyentuh matanya, hal ini bisa menimbulkan penyebaran infeksi pada mata atau penyakit serius lainnya.

    Selama menderita cacar monyet, batasi juga kontak anak dengan anggota keluarga yang lain ataupun teman-temannya.

    Jika anak sudah bersekolah, maka sebaiknya anak tidak perlu pergi ke sekolah hingga ia sudah sembuh sepenuhnya.

    Meski umumnya bisa sembuh sendiri, pengobatan cacar monyet pada bayi dan anak diperlukan pada kondisi berikut ini.

    • Bayi dan anak yang memiliki penyakit serius. Misalnya, kelainan perdarahan, luka sulit sembuh, radang otak, dan kerusakan saluran pernapasan akibat pembengkakan kelenjar getah bening.
    • Bayi dan anak yang mengalami komplikasi cacar monyet.
    • Bayi dan anak dengan faktor risiko, seperti berusia di bawah 8 tahun, atau memiliki gangguan daya tahan tubuh, riwayat penyakit kulit (misal, eksim atau luka bakar), atau mengalami infeksi di mata, wajah, atau alat kelamin.

    Pengobatan cacar monyet bertujuan untuk meredakan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi pada bayi dan anak, baik jangka pendek maupun panjang.

    Bila diperlukan, obat antinyeri, seperti paracetamol, bisa diberikan kepada bayi dan anak untuk meredakan demam, nyeri, atau gatal.

    Obat antivirus juga mungkin akan dokter berikan kepada anak untuk mencegah kondisi bertambah parah, umumnya pada bayi berusia kurang dari 6 bulan.

    Ini karena daya tahan tubuh bayi belum berkembang sempurna dan tidak dapat bereaksi secara efektif terhadap vaksin.

    Komplikasi cacar monyet pada bayi dan anak

    Meski terlihat mengkhawatirkan, cacar monyet, termasuk yang dialami bayi dan anak, umumnya bukan kondisi yang serius.

    Penularannya juga tidak semudah penularan COVID-19 pada anak. Namun, pada beberapa kasus, komplikasi dapat terjadi akibat cacar monyet, seperti:

    • infeksi lanjutan,
    • pneumonia,
    • selulitis,
    • bisul bernanah (abses).
    • bronkopneumonia,
    • sepsis,
    • ensefalitis,
    • luka pada mata,dan
    • infeksi pada kornea mata yang bisa menimbulkan kebutaan.

    Pencegahan cacar monyet pada bayi dan anak

    Anak laki-laki cuci tangan pakai sabun

    Saat ini, vaksin cacar (smallpox) telah terbukti mampu mencegah infeksi cacar monyet, termasuk pada bayi dan anak.

    Namun, vaksin yang dibuat khusus untuk mencegah smallpox dan cacar monyet juga telah tersedia.

    Selain mendapat vaksin, pencegahan juga perlu dilakukan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat, dengan upaya berikut ini.

    • Mengajarkan kebersihan diri kepada anak, termasuk cuci tangan secara rutin.
    • Menggunakan masker.
    • Menghindari kontak dengan orang sakit dan hewan liar.

    Dengan menerapkan upaya tersebut, risiko bayi dan anak tertular cacar monyet pun dapat berkurang.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Monkeypox. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/clinicians/pediatric.html

    Press Conference: Perkembangan Kasus Cacar Monyet (Monkeypox) di Indonesia. (2022). [Image]. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=CDNtblyLlZk

    Monkeypox. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/monkeypox/

    Monkeypox. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox

    Monkeypox (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://kidshealth.org/en/parents/monkeypox.html

    What is monkeypox?. (2022). Retrieved 2 August 2022, from https://www.healthychildren.org/English/tips-tools/ask-the-pediatrician/Pages/what-is-monkeypox.aspx

    Monkeypox. Who.int. (2022). Retrieved 9 August 2022, from https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/monkeypox#:~:text=In%20most%20cases%2C%20the%20symptoms,symptoms%20and%20death%20from%20monkeypox

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Reikha Pratiwi Diperbarui Aug 16
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita