Gangguan bicara dan komunikasi pada anak dapat menimbulkan masalah serta kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Jika kondisi ini cukup parah, anak perlu mendapat penanganan secepatnya. Salah satu perawatan gangguan bicara dan komunikasi pada anak yakni terapi wicara.
Apa saja kondisi yang perlu menjalani terapi ini dan bagaimana cara melakukannya? Ketahui selengkapnya tentang terapi wicara di bawah ini.
Apa itu terapi wicara?
Terapi wicara adalah suatu prosedur penilaian dan pengobatan untuk mengatasi gangguan bicara dan komunikasi, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
Fungsi terapi wicara yaitu untuk membantu melatih pemahaman, kelancaran, kejelasan, dan ekspresi saat berbicara.
Dokter dapat merujuk anak Anda untuk menjalani terapi wicara bila ada kondisi yang memengaruhi kemampuan bicara dan komunikasi, misalnya anak terlambat bicara.
Terapi wicara dilakukan oleh ahli patologi bahasa dan wicara atau sering kali disebut dengan terapis wicara.
Seorang terapis akan memeriksa, mendeteksi, dan mengatasi gangguan bicara dan komunikasi.
Terapi ini dapat dilakukan di berbagai tempat. Berikut contoh tempat terapi wicara.
- Pusat terapi wicara.
- Pusat rehabilitasi.
- Sekolah luar biasa.
- Tempat penitipan anak atau daycare yang dilengkapi fasilitas terapi wicara.
[embed-health-tool-vaccination-tool]
Tujuan terapi wicara
Terapi wicara bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan bicara anak.
Fokus utama terapi ini yaitu membantu anak menggunakan dan mengerti bahasa untuk melakukan komunikasi dengan orang lain.
Tujuan dari terapi wicara adalah sebagai berikut.
- Melatih pemahaman, misalnya untuk membedakan antara bunyi setiap kata dan suku kata.
- Melakukan latihan untuk menghasilkan suara tertentu dan meningkatkan kelancaran berbicara.
- Melakukan kegiatan untuk meningkatkan pernapasan dan kemampuan menelan.
- Membantu komunikasi dengan menggunakan alat bantu, seperti bahasa isyarat, papan komunikasi, dan ucapan dengan bantuan komputer.
- Memberikan nasihat untuk pasien yang membutuhkan terapi serta orangtua atau kerabat yang mendampinginya.
- Memberikan dukungan untuk menerapkan langkah-langkah terapi dalam kehidupan sehari-hari.
Agar dapat membantu dalam jangka panjang, penting bagi Anda sebagai orangtua untuk melatih anak secara rutin langkah-langkah terapi wicara secara mandiri di rumah.
Kondisi yang perlu ditangani dengan terapi wicara
Umumnya, terapi wicara dapat membantu anak-anak maupun orang dewasa yang mengalami gangguan bicara dan komunikasi.
Namun, terapi ini juga bisa membantu penderita gangguan pendengaran dan kesulitan menelan. Berikut daftar beberapa kondisi pada anak yang bisa diatasi dengan terapi wicara.
1. Afasia
Afasia ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, bericara, dan mengerti bahasa.
Kondisi ini bisa dipicu oleh kerusakan bagian otak yang memproses bahasa akibat stroke atau cedera.
2. Apraksia
Apraksia menyebabkan seseorang kesulitan menyusun kata-kata, meskipun tahu apa yang ingin disampaikan.
Penderita apraksia juga bisa mengalami kesulitan membaca, menulis, menelan, atau kemampuan motorik lainnya.
3. Gangguan artikulasi
Gangguan artikulasi terjadi saat seseorang tidak bisa mengucapkan kata-kata tertentu dengan jelas.
Misalnya, Anda mungkin ingin mengucapkan “tidak tahu”, tetapi malah terdengar seperti “tidak mau”.
4. Gangguan komunikasi kognitif
Kerusakan bagian otak yang mengatur kemampuan berpikir bisa menyebabkan kesulitan berbicara.
Orang dengan gangguan komunikasi kognitif bisa mengalami kesulitan dalam mendengar, berbicara, mengingat, dan memecahkan masalah.
5. Disatria
Disartria atau kelemahan otot yang mengatur kemampuan bicara bisa terjadi akibat stroke, multiple sclerosis (MS), amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau gangguan saraf lainnya.
Kondisi ini bisa ditandai dengan bicara pelan atau pelo (cadel).
6. Gangguan ekspresif
Penderita gangguan ekspresif bisa mengalami kesulitan dalam menyampaikan maksud atau pikirannya.
Kondisi ini diduga bisa dipicu oleh kondisi neurologis (saraf), gangguan perkembangan, atau gangguan pendengaran.
7. Gangguan kefasihan
Gangguan kefasihan bisa memengaruhi kecepatan, alur, dan ritme saat berbicara.
Kondisi yang termasuk gangguan kefasihan meliputi bicara gagap dan bicara kacau (cluttering).
8. Gangguan reseptif
Gangguan reseptif terjadi saat seseorang sulit memahami atau memproses apa yang orang lain sampaikan.
Akibatnya, penderita kondisi ini biasanya memiliki kosakata yang lebih terbatas, kesulitan memahami perintah atau petunjuk arah, atau tidak tertarik berbicara dengan orang lain.
9. Gangguan resonansi
Gangguan resonansi bisa terjadi akibat adanya penyumbatan pada rongga mulut atau hidung yang menghambat aliran udara.
Penyumbatan tersebut bisa memengaruhi getaran yang bertugas menghasilkan nada suara sehingga kata-kata yang diucapkan menjadi sulit dimengerti atau terdengar tidak jelas.
10. Disfagia
Disfagia adalah gangguan yang memengaruhi cara seseorang makan atau minum.
Gangguan ini meliputi kesulitan mengunyah dan menelan, batuk-batuk, dan tersedak.