Panduan Menyiapkan, Mengolah, dan Memberikan Makanan Bayi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/08/2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Sejak baru lahir sampai usia enam bulan, asupan harian bayi hanya diperoleh dari ASI eksklusif. Seiring dengan semakin bertambahnya kebutuhan gizi bayi, nantinya ia membutuhkan asupan makanan selain ASI. Agar pemberian makanan untuk bayi dapat lebih optimal, Anda perlu memahami semua informasi penting berikut ini.

Mengapa bayi butuh asupan lain di usia 6 bulan?

makanan bayi 7 bulan

ASI eksklusif adalah makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir sampai usianya enam bulan. Selama masa pemberian ASI eksklusif tersebut, Anda dianjurkan untuk tidak memberikan si kecil asupan makanan maupun minuman lainnya.

Ini karena di usia yang masih kurang dari enam bulan, pemberian ASI eksklusif saja sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi harian bayi.

Namun selepas usianya enam bulan, cadangan zat gizi tersebut habis dan pemberian ASI saja tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan bayi.

Inilah alasan mengapa asupan makanan pendamping ASI atau MPASI bayi dibutuhkan saat usianya menginjak 6 bulan.

Sesuai dengan namanya, makanan pendamping ini diberikan bersamaan dengan ASI. Dengan kata lain, meski sudah bukan masanya lagi bagi si kecil untuk memperoleh ASI eksklusif, tetapi ASI sebaiknya masih tetap diberikan.

Pemberian MPASI ini seolah-olah sebagai masa peralihan atau transisi bagi bayi setelah sebelumnya hanya mendapatkan asupan ASI.

Sebelum nantinya benar-benar makan makanan padat hingga makanan keluarga, pemberian MPASI membantu bayi beradaptasi sembari tetap diberikan ASI maupun susu formula bayi.

Pemberian MPASI untuk bayi pun bisa Anda sesuaikan dengan jadwal MPASI berdasarkan usia si kecil.

Jika ternyata ada satu dan lain hal yang membuat Anda ingin mengenalkan makanan padat kepada bayi sebelum usianya enam bulan, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter.

Pilihan makanan untuk bayi

menu MPASI tunggal

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi sampai usianya genap dua tahun dapat dilakukan secara bertahap.

Anda bisa memulainya dengan memberikan tekstur MPASI lumat, cincang, hingga nantinya bayi mampu makan makanan keluarga.

Menyiapkan makanan untuk si kecil sebenarnya mudah selama Anda tahu pilihan yang tepat. Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan RI memaparkan beragam komposisi bahan makanan untuk bayi, yakni:

  • MPASI lengkap, terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah.
  • MPASI sederhana, terdiri dari makanan pokok, lauk hewani atau nabati, dan sayur atau buah.

Di sisi lain, memerhatikan komposisi bahan makanan si kecil saja kurang lengkap tanpa mengetahui kriteria yang baik.

Kementerian Kesehatan RI menerangkan kriteria MPASI yang baik untuk bayi, meliputi:

  • Padat energi, protein, serta zat gizi mikro yang kurang pada ASI seperti zat besi, seng, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan folat.
  • Tidak mengandung bumbu yang tajam dan menggunakan gula, garam, penyedap rasa, pewarna, maupun pengawet secukupnya saja.
  • Gampang dimakan dan disukai bayi.

Nah, sebagai penjabarannya, berikut beberapa pilihan makanan yang bisa Anda perkenalkan untuk bayi:

1. Buah dan sayur

buah dan sayuran untuk asam urat

Pemberian beragam buah dan sayuran untuk bayi mulai diperbolehkan sejak bayi mendapat asupan selain ASI sebagai perkenalan di usia 6 bulan.

Bayi yang lebih sering diberikan aneka buah dan sayuran yang baik dan bagus berpeluang lebih besar untuk menyukai makanan ini saat dewasa kelak.

Sementara jika Anda menunda pemberian buah dan sayuran sampai usia bayi agak dewasa, biasanya ia cenderung untuk menolak dan lebih susah menyukainya.

Di samping kaya akan zat gizi seperti vitamin, mineral, dan serat, sayuran dan buah juga akan lebih mempercantik makanan untuk bayi sejak 6 bulan.

Ini karena campuran sayuran maupun buah dapat menambah warna pada makanan yang Anda sajikan. Bila si kecil tampak menolak sayuran atau buah yang Anda berikan, sebaiknya sabar dan jangan memaksanya.

Coba berikan menu MPASI lainnya kemudian barulah sajikan sayuran atau buah yang sama beberapa hari kemudian.

Biasanya, Anda perlu memberikan bayi sayuran atau buah yang sama setidaknya 10-15 kali sebelum mengambil kesimpulan ia menyukainya atau tidak.

Selama masa perkenalan dengan berbagai jenis sayuran dan buah yang baik dan bagus, sah-sah saja untuk memberikan bayi aneka rasa.

Mulai dari sayur atau buah yang manis, kecut, hingga cenderung pahit.

Cara ini akan membantu si kecil untuk belajar dan terbiasa menyukai aneka macam rasa makanan secara bertahap.

2. Sumber protein hewani

berat badan naik protein pengganti karbohidrat

Pilihan protein untuk bayi dalam kategori hewani mencakup daging merah, daging ayam, hati sapi, hati ayam, telur, makanan laut, hingga keju untuk bayi.

Daging merupakan sumber zat gizi yang baik meliputi zat besi, seng, serta vitamin D di dalamnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, persediaan cadangan zat besi bayi habis saat usianya enam bulan.

Itu sebabnya, memasukkan asupan zat besi di dalam makanan harian bayi penting untuk mencukupi kebutuhannya.

Selain daging, makanan laut juga tidak kalah baik untuk diberikan kepada bayi selama tidak ada alergi. Makanan laut seperti ikan, udang, cumi, dan lainnya merupakan sumber protein, mineral, dan vitamin untuk bayi.

Asam lemak omega-3 yang terkandung di dalam ikan salmon juga baik untuk membantu menjaga kesehatan jantung bayi sekaligus mendukung perkembangan otaknya.

Jangan lupa, usahakan untuk selalu memastikan sumber protein hewani ini telah dimasak hingga benar-benar matang.

Jika Anda menyajikan ikan maupun makanan laut untuk si kecil, pastikan juga bebas merkuri dan sudah tidak ada duri yang tertinggal.

Apa yang harus diperhatikan saat memberikan makanan bayi?

status gizi bayi

Beberapa hal berikut ini perlu Anda perhatikan saat memberikan makanan untuk bayi:

1. Waktu pemberian protein hewani dan nabati

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, memperkenalkan bayi dengan aneka ragam sumber makanan memang sebaiknya dilakukan sejak dini.

Begitu pula dengan pemberian makanan sumber protein hewani dan nabati yang mulai dapat dilakukan sejak bayi berusia enam bulan alias masa MPASI.

Sumber protein hewani termasuk daging sapi, daging ayam, hati sapi, hati ayam, telur, serta berbagai makanan laut.

Sementara tahu dan tempe termasuk pilihan sumber protein nabati.

2. Perhatikan saat memasak sumber protein hewani

Meski sangat diperbolehkan, Anda dianjurkan untuk memastikan telur, ikan, serta daging yang diberikan kepada bayi telah benar-benar matang.

Ini karena sumber protein hewani yang kurang matang berisiko mengandung bakteri. Jika makanan tersebut termakan oleh bayi, tidak menutup kemungkinan bisa membuat bayi mengalami masalah gizi dan terserang penyakit.

3. Perhatikan pemilihan makanan dan minuman bayi

Tidak disarankan untuk memberikan madu kepada bayi dan jus buah kepada bayi bila usianya masih kurang dari 12 bulan.

Selain itu, hindari juga memberikan makanan dengan pemanis dan lemak yang tinggi.

4. Perhatikan cara memasak dan memberikan makanan bayi

Anda wajib memerhatikan kebersihan tangan beserta peralatan masak sebelum mengolah makanan untuk si kecil. Tak kalah penting, pisahkan juga talenan yang digunakan untuk memotong bahan mentah dan bahan matang.

Terakhir, pastikan tangan bayi sudah dalam keadaan bersih sebelum makan.

5. Penggunaan minyak, mentega, dan santan diperbolehkan

Jika diperlukan, tidak masalah untuk menambahkan minyak, mentega, maupun santan ke dalam makanan si kecil.

Penambahan minyak, mentega, serta santan dapat berguna sebagai penambah kalori untuk si kecil.

Aturan pemberian makanan bayi usia 6-11 bulan

makanan bayi 8 bulan

Memberikan makanan untuk bayi tidak bisa sembarangan. Selain memerhatikan pilihan makanan untuk si kecil, Anda juga perlu mengerti tekstur makanan di setiap usianya.

Bayi tidak bisa langsung diberikan makanan keluarga di awal masa transisi dari ASI eksklusif.

Supaya tidak salah langkah, begini perkembangan tekstur, frekuensi, serta porsi makanan bayi di setiap tahapan usia:

Bayi usia 6-8 bulan

Setelah di usia 0-6 bulan sebelumnya bayi selalu menyusu ASI, kini tidak lagi. Anda mulai dapat memberikan makanan pendamping ASI dengan tekstur lumat (mashed) maupun yang telah disaring (puree).

Frekuensi makan bayi di usia 6-8 bulan ini biasanya sekitar 2-3 kali untuk makanan utama dan 1-2 kali untuk makanan selingan atau camilan bayi sesuai dengan seleranya.

Sementara untuk porsi makannya, mulailah dengan 2-3 sendok makan yang bisa semakin ditingkatkan hingga mencapai ½ mangkuk ukuran 250 mililiter (ml). 

Bayi usia 9-11 bulan

Pada usia 9-11 bulan ini, buah hati Anda umumnya sudah bisa diberikan makanan yang dicincang halus (minced), cincang kasar (choped), dan makanan seukuran jari (finger food).

Frekuensi makan di usia ini sudah meningkat menjadi 3-4 kali untuk makanan utama dan 1-2 kali untuk makanan selingan sesuai dengan keinginan bayi.

Begitu pula dengan porsi sekali makan yang sudah mampu mencapai ½ mangkuk ukuran 250 ml. 

Kapan boleh memberikan keju, madu, dan jus buah untuk bayi?

Para ibu mungkin kerap bertanya-tanya mengenai pemberian keju, madu, dan jus buah untuk bayi. Berikut aturan pemberian keju, madu, dan jus buah untuk bayi:

Keju untuk bayi

anak boleh makan keju

Sebagian besar bayi dapat makan keju segera setelah mereka terbiasa mengunyah, biasanya antara usia 6-9 bulan. Meskipun begitu, saran ini memang cukup bervariasi.

Kebanyakan dokter anak menganjurkan setidaknya usia 8-10 bulan untuk bayi boleh mulai makan keju.

Aturan makan keju ini khususnya berlaku bagi bayi yang tidak memiliki riwayat alergi makanan dalam keluarga. Namun, jika buah hati Anda memiliki riwayat alergi makanan, tunggu sampai usianya kira-kira mencapai usia 12 bulan.

American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa prinsipnya keju untuk bayi boleh diberikan setelah ia terbiasa dengan beberapa makanan padat.

Akan tetapi, jika Anda sudah mengetahui bahwa bayi Anda mengalami eksim maupun alergi makanan, sebaiknya konsultasikan pada dokter sebelum memberikan keju untuk si kecil.

Keju adalah salah satu jenis makanan yang bersifat allergenic karena mengandung protein susu. Maka itu, untuk beberapa anak tidak disarankan mulai makan keju sampai diizinkan oleh dokter.

Madu untuk bayi

manfaat madu

Sementara untuk madu bagi bayi agak berbeda dengan pemberian keju.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), waktu paling aman untuk memberikan bayi makanan dengan kandungan madu yaitu saat usianya telah menginjak 12 bulan atau 1 tahun.

Aturan pemberian madu untuk bayi ini berlaku baik bagi madu murni ataupun madu olahan.

Selain itu, aturan ini tidak hanya berlaku untuk madu asli yang berbentuk cair saja, tapi juga untuk semua makanan yang diolah bersama madu.

Jus buah untuk bayi

memilih jus buah sehat

Selain itu, jus untuk bayi juga sebaiknya tidak diberikan bila usia bayi masih kurang dari 12 bulan atau 1 tahun.

Bayi yang sudah memasuki usia 6 bulan juga belum waktunya untuk diberikan jus buah, apalagi jus buah kemasan. 

Anda mungkin menganggap jus buah sebagai makanan yang sehat. Akan tetapi, bukan berarti jus buah dapat menggantikan buah segar yang seharusnya dimakan bayi secara langsung. 

Jus buah sebenarnya tidak memberikan manfaat yang berarti pada perkembangan bayi di tahun pertamanya.

Kebanyakan jus buah kemasan hanya mengandung gula dan kalori yang tinggi. Hal ini bisa menyebabkan berat badan bayi bertambah, merusak gigi, dan cenderung menyebabkan diare.

Protein dan serat adalah zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi. Zat gizi tersebut bisa didapatkan dari ASI atau susu formula, bukan dari jus buah.

Bahkan, pemberian jus buah untuk bayi dapat membuat kebutuhan protein dan seratnya tidak terpenuhi.

Hal ini membuat bayi berisiko mengalami perubahan berat badan yang tidak sesuai.

Selain itu, bayi juga bisa mudah kenyang karena kapasitas lambung bayi yang masih kecil. Alhasil, anak Anda jadi enggan mengonsumsi makanan yang lain karena kenyang.

Bolehkah memberi makanan untuk bayi di bawah 6 bulan?

jadwal makan bayi di bawah 6 bulan

Idealnya, bayi memang belum boleh mendapatkan makanan dan minuman selain ASI bila usianya belum 6 bulan.

Hal ini didukung oleh kutipan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurut IDAI, pemberian ASI saja selama usia bayi masih kurang dari 6 bulan sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi harian bayi.

Namun kadang kala, ada beberapa kondisi tertentu yang menyulitkan bayi untuk menyusu ASI eksklusif saja.

Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh produksi ASI ibu yang kurang sehingga kebutuhan ASI eksklusif bayi tidak tercukupi. Selain itu, masih ada berbagai kondisi medis lainnya yang tidak memungkinkan bayi mendapat ASI.

Kondisi tersebut contohnya galaktosemia pada bayi, ibu sedang menjalani kemoterapi, serta kondisi HIV, tuberkulosis, dan herpes pada ibu.

Bayi yang mengalami galaktosemia tidak disarankan memperoleh ASI karena tubuhnya tidak memiliki kemampuan untuk mengubah galaktosa menjadi glukosa.

Begitu pula untuk ibu yang mengalami HIV serta sedang menjalani kemoterapi karena kanker. Kedua kondisi ini juga tidak diperkenankan memberikan ASI kepada bayi melalui cara apa pun.

Sementara jika ibu mengalami tuberkulosis dan herpes, pemberian ASI masih bisa dilakukan dengan cara memompa dan menyusui dari botol.

Akan tetapi, ibu tidak boleh menyusui bayinya secara langsung untuk kondisi herpes dengan lesi pada payudara.

Dalan kondisi ini, biasanya Anda diperbolehkan untuk memberikan bayi kurang dari 6 bulan asupan selain ASI.

Dengan catatan, tetap konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan asupan makanan dan minuman apa yang terbaik bagi bayi di bawah 6 bulan.

Biasanya dokter akan menilai indikasi pemberian MPASI sebelum 6 bulan dan tanda kesiapan MPASI pada bayi.

Melansir dari laman Mayo Clinic, bayi yang berusia sekitar 4-6 bulan sudah mulai bisa diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang teksturnya disesuaikan seperti MPASI untuk bayi 6 bulan.

Cara menyiapkan makanan bayi

Proses menyiapkan makanan bayi tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Hal ini bertujuan untuk memastikan kualitas makanan yang diberikan untuk si kecil memang baik untuk memenuhi kebutuhan gizi harian serta mendukung tumbuh kembangnya.

Cara menyiapkan makanan bayi

Ketika sedang mempersiapkan atau mengolah makanan untuk si kecil, berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

  • Pastikan Anda sudah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengolah makanan si kecil.
  • Pastikan peralatan masak dan makan untuk mengolah serta menyajikan makanan si kecil sudah dalam keadaan bersih.
  • Cuci kembali tangan Anda maupun bayi sebelum makan, tak terkecuali setelah dari toilet dan membersihkan kotoran si kecil.
  • Simpan makanan yang akan diberikan kepada bayi di wadah serta tempat yang bersih dan aman.
  • Hindari menggunakan talenan yang sama untuk memotong bahan makanan mentah dan matang.

Bolehkah menambahkan gula, garam, dan micin?

jadwal makan bayi 6 bulan

Mungkin Anda kerap kali merasa kebingungan untuk menambahkan gula, garam, dan micin ke dalam makanan bayi. Jika diberi tambahan perasa tersebut, ditakutkan belum saatnya untuk bayi.

Namun, jika tidak diberi tambahan perasa tersebut, bayi susah makan karena rasanya yang hambar. Penting untuk diketahui bahwa pemberian gula, garam untuk anak, serta micin untuk bayi sebenarnya tidak masalah.

Sebab, orang dewasa seperti Anda mungkin akan menolak makan makanan yang terasa hambar, begitu pun dengan si kecil.

Hanya saja, IDAI menyarankan gula dan garam untuk bayi kurang dari 12 bulan diberikan dalam jumlah yang sesedikit mungkin. Begitu pula dengam micin, sebaiknya tidak diberikan terlalu banyak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Mitos Seputar Makanan Bayi yang Harus Ditinggalkan

Coba cek lagi kebiasaan makan yang Anda terapkan untuk si kecil. Bisa jadi selama ini Anda menerapkan pola makan yang salah!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 06/08/2020 . Waktu baca 10 menit

Kenali Kebutuhan Vitamin untuk Bayi dan Perannya Sebagai Penambah Nafsu Makan

Zat gizi mikro lainnya yang penting untuk dipenuhi buat bayi yakni asupan vitamin. Berapa jumlah kebutuhan vitamin untuk bayi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 06/08/2020 . Waktu baca 9 menit

8 Macam Makanan untuk Mendukung Kecerdasan dan Perkembangan Otak Bayi

Otak bayi berkembang pesat sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Ini daftar nutrisi yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan perkembangan otak bayi.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 06/08/2020 . Waktu baca 9 menit

Aturan dalam Memberikan Susu Formula untuk Bayi

Ada beberapa bayi yang butuh pemberian susu formula. Namun, ada aturan yang perlu diikuti saat memberi susu formula untuk bayi baru lahir.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 06/08/2020 . Waktu baca 15 menit

Direkomendasikan untuk Anda

peralatan mpasi

5 Peralatan MPASI untuk Memudahkan Proses Pembuatannya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
cara menyimpan mpasi

Agar Kualitasnya Tetap Terjaga, Pahami Cara Menyimpan MPASI Bayi yang Benar

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 7 menit
keju untuk bayi

Usia Berapa Bayi Mulai Diperbolehkan Makan Keju?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 7 menit
buah untuk bayi

6 Pilihan Buah untuk Bayi yang Baik Dikonsumsi Sehari-Hari

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 9 menit