backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Pentingnya Suplemen Vitamin D Tambahan untuk Bayi

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Pentingnya Suplemen Vitamin D Tambahan untuk Bayi

Tahukah Anda bahwa kekurangan vitamin D pada bayi dapat berdampak pada kesehatannya? Apalagi, vitamin D merupakan zat gizi penting untuk mengatur jumlah kalsium dalam tubuh, termasuk pada bayi.

Tidak hanya orang dewasa, si Kecil juga memerlukan vitamin D untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Tanpa vitamin D, tulang akan rapuh, lemah, atau bahkan memiliki bentuk yang abnormal. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, perlukah bayi mengonsumsi suplemen tambahan? Berikut penjelasannya.

Perlukah si Kecil minum suplemen vitamin D?

Vitamin D membantu penyerapan kalsium sehingga semua kalangan membutuhkannya, mulai dari bayi sampai lansia.

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi dan anak-anak perlu mengonsumsi suplemen vitamin D tambahan, tanpa memandang jenis makanannya.

Jenis makanan yang IDAI maksud di sini adalah bayi yang mengonsumsi ASI atau susu formula, tetap perlu mendapatkan vitamin D tambahan.

Pasalnya, ASI mengandung kadar vitamin D yang rendah, sehingga si Kecil yang hanya minum ASI tidak bisa mencukupi kebutuhan vitamin D dalam tubuh.

Alasan lain bayi butuh suplemen tambahan adalah 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan di Indonesia mengalami defisiensi vitamin D

Anak-anak masuk kategori defisiensi bila kadar vitamin D dalam darah kurang dari 30 nmol/L.

Maka dari itu, IDAI menyarankan bayi usia 0—12 bulan mendapatkan suplemen vitamin D sebanyak 400 IU per hari.

Sementara untuk anak di atas 12 bulan, kebutuhan vitamin D sekitar 600 IU per hari. 

Sebagai gambaran, ASI hanya mengandung 25 IU vitamin D/liter atau bahkan lebih sedikit.

Ini membuat si Kecil membutuhkan suplemen vitamin D tambahan untuk pertumbuhan gigi dan tulang.

Selain dari suplemen, makanan sumber vitamin D yang bisa ibu berikan pada bayi yang sudah makan makanan padat, misalnya tuna, hati ayam, daging sapi, telur.

Meski begitu, kandungan vitamin D di dalamnya tidak sebesar suplemen tambahan.

Ciri-ciri bayi kekurangan vitamin D

tangan bayi dingin

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang berperan penting untuk perkembangan tulang, sistem imun, dan antiradang.

Namun, anak-anak rentan mengalami kekurangan vitamin D karena beberapa faktor. Sebut saja, kekurangan asupan vitamin D dari makanan dan jarang terpapar sinar matahari.

Berikut ini ciri-ciri anak kekurangan vitamin D yang penting untuk kesehatan tubuh, mengutip dari Nottingham University Hospital.

  • Nyeri pada tulang tungkai bawah (dari lutut sampai mata kaki)
  • Otot nyeri dan lemah
  • Deformitas atau perubahan pada bentuk tulang
  • Ketidakseimbangan kalsium

Defisiensi vitamin D adalah masalah penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Maka dari itu, orangtua perlu memperhatikan asupan vitamin D pada si Kecil.

Dampak kekurangan vitamin D pada si Kecil

lipoma pada bayi

Tulang anak bertumbuh dengan cepat. Oleh karena itu, tulang mereka membutuhkan banyak vitamin dan mineral agar dapat tumbuh secara optimal. 

Selain menunjang pertumbuhan tulang, vitamin D juga membantu menjaga sistem pertahanan tubuh, kesehatan jantung, otak, dan organ-organ lain dalam tubuh.

Kekurangan vitamin D juga berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan berikut:

  • penyakit autoimun (diabetes tipe 1, multiple sclerosis, dan rheumatoid arthritis),
  • osteoporosis,
  • penyakit jantung,
  • gangguan suasana hati,
  • kanker jenis tertentu,
  • inflamasi kronis, dan
  • arthritis.

Mengutip dari Mayo Clinic, bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif dan tidak mendapat cukup vitamin D bisa mengalami rakitis.

Ini adalah kondisi yang membuat tulang lemah, rapuh, bahkan bisa membuat cacat. Vitamin D berperan menyerap kalsium dan fosfor dari makanan.

Kalau buah hati ibu kekurangan vitamin D, tubuh akan sulit mempertahankan kadar kalsium dan fosfor dalam tulang. Kondisi inilah yang menyebabkan rakitis pada bayi dan anak. 

Rakitis umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 2,5 tahun. Jika tidak diobati, rakitis dapat berujung pada berbagai komplikasi seperti:

  • kejang,
  • gagal tumbuh,
  • postur tubuh pendek,
  • kehilangan energi,
  • risiko mengalami infeksi saluran napas,
  • tulang belakang yang melengkung,
  • masalah gigi, dan
  • deformitas tulang (perubahan bentuk tulang).

Deformitas tulang pada rakitis biasanya dapat ibu perbaiki dengan memberikan asupan vitamin D sedini mungkin. 

Beberapa bayi mungkin harus menjalani prosedur operasi untuk memperbaiki deformitas tulangnya.

Kesimpulan

  • Vitamin D merupakan zat gizi yang membantu penyerapan kalsium. Vitamin inipenting untuk kesehatan tulang dan gigi, termasuk pada bayi.
  • Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh, lemah, atau memiliki bentuk yang abnormal.
  • Bayi dan anak-anak memerlukan suplemen vitamin D tambahan. Pasalnya, meskipun kaya akan nutrisi, faktanya ASI mengandung kadar vitamin D yang rendah.
  • Suplemen vitamin D direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk memastikan anak mendapatkan cukup vitamin D. Dosis yang direkomendasikan, yaitu 400 IU per hari untuk bayi usia 0—12 bulan dan 600 IU per hari untuk anak di atas 12 bulan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan