Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Anak Sudah Besar, Tapi Masih Tidur di Kamar Ortu? Studi Ungkap Efeknya Pada Psikologis Ibu

    Anak Sudah Besar, Tapi Masih Tidur di Kamar Ortu? Studi Ungkap Efeknya Pada Psikologis Ibu

    Bagi kebanyakan orangtua di Indonesia, membiarkan anak kecil tidur sendiri di kamarnya mungkin belum menjadi sesuatu hal yang lazim. Apalagi, tidur bareng di kamar yang sama juga dirasa lebih hemat waktu dan tenaga daripada harus bolak-balik kamar yang berbeda ketika anak terbangun di tengah malam karena mimpi buruk atau kelaparan. Namun, tahukah Anda bahwa membiasakan anak tidur bareng orangtua meski usianya sudah cukup besar untuk bisa tidur sendiri bakal memberikan pengaruh buruk pada kesehatan sang ibu?

    Anak tidur bareng orangtua tiap malam, ini efeknya pada ibu

    Tidak semua orangtua sampai hati untuk membiarkan anaknya tidur sendirian sepanjang malam. Itu kenapa masih ada banyak orangtua yang membolehkan anak mereka tidur bareng di kasur yang sama.

    Di satu sisi, tidur bersama orangtua dapat mendukung kesejahteraan fisik dan mental si anak.

    Anak akan lebih jarang menangis karena merasa nyaman dan aman, juga lebih baik mengendalikan stresnya. Ini semua berkat jalinan ikatan batin yang semakin kuat antara orangtua dan anak.

    Namun saat usia si kecil sudah mulai beranjak lebih dewasa, ada baiknya Anda mulai melatih dan membiasakan anak tidur di kamar sendiri.

    Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan pada Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics ternyata menemukan potensi dampak buruk khususnya bagi kesehatan mental sang ibu jika terus-terusan membolehkan anak tidur bareng orangtua di kasur yang sama.

    Anak kecil, terutama yang berusia 12-23 bulan, adalah kelompok usia yang masih sulit tidur nyenyak.

    Mereka masih suka terbangun tengah malam entah karena lapar, mengompol, atau takut. Kebanyakan anak kecil juga termasuk aktif bahkan saat tidur sekali pun.

    Mereka mungkin berguling, menendang, memukul, hingga memutar badannya ke segala arah.

    Nah, berbagai isu tidur malam ini cenderung membuat ibunya ikut terbangun.

    Peneliti menemukan bahwa ibu yang bolak-balik terbangun tengah malam karena “ulah” anaknya (baik sengaja atau tidak) melaporkan mengalami gejala stres, gangguan kecemasan, bahkan hingga depresi.

    Para ibu ini juga mengalami kekurangan waktu tidur hingga sekitar 1 jam saat tidur bersama sang anak.

    Di sisi lain, ibu yang sudah melatih anaknya tidur di kamar sendiri tidak mengalami hal-hal demikian.

    Kurang tidur dan gangguan mental saling berkaitan

    tubuh pendek akibat kurang tidur

    Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan. Namun, sudah banyak studi di luaran sana yang melaporkan berbagai efek merugikan dari kurang tidur yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan kita.

    Menghimpun berbagai penelitian, rata-rata orang yang mengidap insomnia kronis dapat memiliki risiko menderita depresi hingga empat kali lipat.

    Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi.

    Gangguan mental itu sendiri juga erat kaitannya dengan masalah sulit tidur. Para ahli menemukan bahwa gejala gangguan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan dapat memperparah insomnia dan masalah tidur lainnya.

    Lalu, apa yang harus dilakukan orangtua?

    anak tidur sendiri

    Kesehatan setiap anggota keluarga adalah sama pentingnya. Jadi, di samping memastikan supaya anak bisa tidur cukup dan nyenyak, Anda pun juga harus memastikan hal yang sama bagi diri sendiri dan pasangan. Namun, bagaimana caranya?

    Solusinya adalah dengan tidak lagi membiasakan anak tidur bareng orangtua di kamar yang sama. Ajarkan anak untuk mulai tidur sendiri.

    Latihlah anak secara perlahan hingga ia mulai terbiasa. Awalnya Anda bisa pisahkan anak dari ranjang tidur Anda, namun tetap dalam ruangan yang sama.

    Jika sudah mulai terbiasa, Anda bisa memisahkan ruangan tidur Anda dengan si kecil.

    Ketika mengajarkan anak tidur di kamarnya sendiri, Anda juga tidak perlu berlama-lama menemaninya. Cukup antar si kecil ke kamar tidurnya, bacakan dongeng jika perlu, dan ucapkan selamat malam.

    Anda bisa berikan boneka atau mainan lainnya yang disukai anak sebagai teman tidur. Begitu si kecil tampak mulai pulas, anda boleh kembali ke kamar tidur pribadi untuk beristirahat dengan nyaman.

    Membiasakan anak tidur di kamarnya sendiri berarti melatih anak untuk hidup mandiri dan berani. Namun jika masalah tidur anak malah makin parah hingga bahkan memengaruhi kesehatan Anda dan pasangan, sebaiknya konsultasi lebih lanjut ke dokter untuk mencari solusi terbaiknya.

    health-tool-icon

    Pengingat Jadwal Imunisasi Bayi dan Anak

    Gunakan pengingat jadwal ini untuk mempelajari imunisasi apa yang dibutuhkan oleh anak Anda dan kapan waktu tepatnya.

    Apa jenis kelamin anak Anda?

    Laki-laki

    Wanita

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Co-Sleeping With a Toddler May Affect Mom’s Health. https://www.verywellfamily.com/co-sleeping-with-a-toddler-4157986. Accessed on October 24, 2018.

    The Long-Term Effects of Co-Sleeping with Children. https://www.livestrong.com/article/245233-long-term-effects-of-sleeping-with-children/. Accessed on October 24, 2018.

    Is “Bed Sharing” Beneficial and Safe during Infancy? A Systematic Review. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3941230/. Accessed on October 24, 2018.

    Perceived Toddler Sleep Problems, Co-sleeping, and Maternal Sleep and Mental Health. https://journals.lww.com/jrnldbp/Citation/2018/04000/Perceived_Toddler_Sleep_Problems,_Co_sleeping,_and.7.aspx. Accessed on October 24, 2018.

    Foto Penulis
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Jun 08, 2021
    Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus
    Next article: