backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Posisi Tidur Seperti Apa yang Benar untuk Bayi?

Ditinjau secara medis oleh dr. Aisya Fikritama, Sp.A · Kesehatan anak · RS UNS Solo


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 5 hari lalu

Posisi Tidur Seperti Apa yang Benar untuk Bayi?

Sebagian besar waktu bayi memang dihabiskan untuk tidur. Jam tidur bayi yang berusia 0—3 bulan, misalnya, bisa memakan waktu hingga 16—20 jam per hari. Meski begitu, tidak hanya kuantitas, tidur bayi juga harus berkualitas. Salah satu caranya adalah mencari posisi tidur yang nyaman. Mengingat si Kecil sedang dalam masa yang rentan, sangat penting untuk memastikan bayi tidur pada posisi yang benar.

Bahaya posisi tidur bayi yang salah bisa berisiko fatal

Bukan hanya cara menidurkan bayi, posisi tidur bayi di bawah usia 6 bulan juga harus menjadi perhatian utama setiap orangtua untuk menjaga kebiasaan tidur yang sehat pada bayi.

Pasalnya, posisi tidur yang salah bisa meningkatkan risiko si Kecil mengalami sudden infant death syndrome (SIDS) atau sindrom bayi meninggal mendadak.

Hal ini pun sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics.

Para peneliti menemukan bahwa lingkungan tidur yang aman dan posisi tidur yang tepat akan mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak, sesak napas, dan kesulitan bergerak.

Itu sebabnya, sebagai orangtua, Anda harus selalu memperhatikan posisi tidur bayi yang benar untuk meminimalisir berbagai macam risiko yang sudah disebutkan tadi.

Posisi tidur yang benar untuk bayi

bayi jatuh dari tempat tidur

Untuk menghindari risiko dari posisi tidur yang salah, ada baiknya Anda meletakkan bayi di posisi telentang.

Posisi tidur telentang merupakan posisi yang sangat umum dan benar untuk bayi.

Biasanya, posisi ini akan terjadi pada bayi yang berusia sekitar 0 hingga 3 bulan. Pasalnya, pada usia tersebut, bayi belum mampu untuk berguling.

Bahkan, sangat direkomendasi bagi bayi untuk tidur dengan posisi telentang sampai 6 bulan pertama.

The US National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) melabeli posisi telentang sebagai posisi tidur yang benar dan terbaik untuk bayi

Posisi tidur telentang untuk bayi terbukti dapat mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak sebanyak 50%.

Namun, jika terlalu lama berada pada posisi tidur telentang, ini bisa menyebabkan kondisi plagiocephaly, atau dalam bahasa kesehariannya disebut “kepala peyang”.

Untuk menjaga bentuk kepala bayi agar terhindar dari kepala peyang, maka ubah posisi tidur secara bergantian menghadap kiri dan kanan.

Anda juga bisa sesekali menempatkan bayi di posisi tengkurap pada saat bermain.

Jangan gunakan bantal kepala khusus yang sering disebut “bantal peyang” sebagai pembentuk kepala bayi.

Meski masih dipercaya banyak orang untuk mencegah kepala peyang, tetapi penggunaan bantal ini pada bayi tidak disarankan oleh The U.S. Food and Drug Administration (FDA).

FDA belum dapat memastikan adanya manfaat yang ditunjukkan dari penggunaan bantal pembentuk kepala bayi ini untuk tujuan medis apa pun, seperti plagiocephaly (kepala peyang) atau craniosynostosis.

Sebaliknya, penggunaan bantal peyang justru dianggap bisa membuat lingkungan tidur bayi menjadi tidak aman.

Ini karena bantal jenis ini dapat meningkatkan risiko bayi kesulitan bernapas jika berguling ke arah bantal atau tertimpa bantal di bagian kepala saat tidur.

Posisi tidur bayi yang harus dihindari

saat bayi tidur

Selain posisi tidur yang benar, Anda juga perlu mengetahui apa saja posisi tidur yang dilarang untuk bayi.

Hal ini untuk mencegah Anda menempatkan atau membiarkan bayi dalam posisi tersebut saat tidur.

Posisi tidur yang harus dihindari pada bayi, meliputi berikut ini.

1. Posisi tidur miring

Beberapa ibu mungkin sering membiarkan bayinya tidur dengan posisi yang miring. Padahal, posisi tidur miring bisa membahayakan kesehatan bayi.

Bayi yang tidur dengan posisi miring memungkinkan untuk bergerak dan seringnya akan berakhir dengan posisi tidur tengkurap.

Jika dalam kondisi tengkurap, ini artinya perut bayi akan berada di bawah tubuhnya.

Adapun hal ini bisa meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) secara signifikan.

2. Posisi tidur tengkurap

Posisi bayi tidur tengkurap sampai sekarang masih menjadi perdebatan.

Pasalnya, menurut data secara statistik menyebutkan sindrom bayi meninggal secara mendadak banyak sekali terjadi pada bayi yang tidur dengan posisi tengkurap.

Penyebab sindrom bayi meninggal secara mendadak ini umumnya disebabkan oleh wajah bayi yang terlalu dekat dengan kasur.

Akibatnya, secara tidak langsung, hal ini membuat bayi mengalami masalah pernapasan karena tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Hal yang yang harus diperhatikan selain posisi tidur bayi

Selain posisi tidur yang benar, ada hal lain yang juga harus perhatikan agar bayi bisa tidur dengan aman, di antaranya sebagai berikut. 

  • Pilih tempat tidur bayi dengan permukaan yang datar.
  • Hindari menggunakan bantal pada kepala bayi.
  • Menjaga suhu kamar agar bayi bisa tidur dengan nyaman.
  • Menempatkan bayi di dalam ruangan yang memiliki ventilasi yang baik.
  • Menjauhkan semua mainan dan boneka dari tempat tidur bayi.
  • Gunakan pakaian tidur dan penutup lainnya sebagai pengganti selimut.
  • Menjaga kebersihan tempat tidur dengan rutin mengganti sprei dan sarung bantal guling. Bahkan, jika perlu, Anda juga bisa secara rutin menjemur bantal guling bayi di bawah matahari.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Aisya Fikritama, Sp.A

Kesehatan anak · RS UNS Solo


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 5 hari lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan