home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mana Lebih Sehat, Membuat Jus Dengan Juicer Atau Blender?

Mana Lebih Sehat, Membuat Jus Dengan Juicer Atau Blender?

Tidak perlu diragukan lagi, buah dan sayur sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Sebuah tulisan yang diterbitkan oleh CDC menyarankan agar kita mengonsumsi ½ hingga 2 gelas buah dan 2 hingga 3 gelas sayuran setiap harinya. Dengan mengonsumsi sebanyak jumlah tersebut, maka buah dan sayur dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker, serta membantu menurunkan berat badan.

Karena begitu bermanfaat, maka tak heran jika kita mencari cara yang lebih praktis untuk mengonsumsi sayur dan buah dalam jumlah banyak. Cara yang paling banyak dipakai adalah dengan membuat minuman buah dan sayur menggunakan juicer dan blender. Lalu, timbulah pertanyaan selanjutnya, mana yang lebih baik diantara keduanya?

Perbedaan membuat jus dengan juicer dan blender

Salah satu hal yang membedakan membuat jus dengan juicer atau blende adalah hasil akhirnya. Saat Anda menggunakan juicer, maka secara otomatis Anda membuang semua kandungan serat yang terdapat dalam buah atau sayur, menyisakan hanya cairannya saja. Akan tetapi, jika Anda menggunakan blender, maka Anda tetap dapat mengonsumsi serat atau ampasnya.

Kandungan nutrisi

Saat Anda menggunakan juicer, maka Anda akan mendapatkan nutrisi dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena kandungan mineral dan vitamin pada buah atau sayur biasanya terdapat pada airnya dan bukan pada seratnya.

Di sisi lain, jus produksi juicer mengandung lebih sedikit atau bahkan hampir tidak mengandung serat sama sekali. Secara umum, terdapat dua jenis serat yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut biasanya ditemukan pada apel, wortel, kacang-kacangan, dan jeruk. Serat ini larut dalam air, memperlambat pencernaan, dan mengatur kadar gula dalam darah. Sementara itu, serat tidak larut dapat dijumpai pada kembang kol, kentang, dan sayuran berwarna gelap. Serat jenis ini memberi bentuk pada feses dan merangsang usus untuk bergerak.

Serat bukan merupakan satu-satunya kandungan yang tidak dimiliki oleh jus hasil juicer. Sebuah penelitian pada tahun 2012 meneliti kandungan antioksidan pada anggur yang dijus dan di-blend. Hasilnya kandungan antioksidan lebih tinggi pada anggur yang diolah dengan blender.

Kandungan gula

Salah satu sisi buruk terbesar dari buah yang dijus atau di-blend adalah jumlah gula yang terkandung di dalamnya. Jus dan smoothie sama-sama dapat meningkatkan gula darah, namun efek yang lebih dramatis dan cepat terdapat pada jus.

Saat Anda mengonsumsi smoothie yang dibuat dengan cara diblender, kandungan serat dan ampas ikut memberikan volume terhadap minum Anda. Oleh karena itu, Anda akan lebih cepat merasa kenyang dan total kalori yang Anda konsumsi menjadi terbatas. Namun, tidak demikian halnya jika Anda mengonsumsi jus hasil juicer. Karena kandungannya yang hampir seluruhnya berupa cairan, maka Anda akan dapat mengonsumsi minuman ini dalam jumlah banyak dan tidak merasa kenyang.

Beberapa produk jus komersil mengandung gula yang sama banyaknya atau bahkan lebih banyak dari minuma soda. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 menemukan bahwa jus buah mengandung 45.5 gram fruktosa per liter, angka ini tidak berbeda jauh dengan minuman soda, yaitu sekitar 50 gram per liter. Walaupun smoothie memiliki kandungan gula yang lebih sedikit, namun hal ini tidak menyingkirkan fakta bahwa jus dan smoothie sama-sama meningkatkan kadar gula secara signifikan dalam darah.

Jadi lebih baik pakai juicer atau blender?

Saat Anda meminum jus hasil juicer, maka Anda akan mendapat banyak keuntungan seperti mendapatkan konsentrasi nutrisi yang lebih tinggi dan dapat mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur. Namun, di sisi lain, Anda tidak akan mendapatkan serat dan komponen penting lain seperti antioksidan yang terkandung di dalam seratnya. Dengan blender, Anda akan mendapatkan semua kandungan yang terdapat pada buah atau sayur, namun teksturnya akan membuat Anda lebih sulit mengonsumsinya.

Sayangnya, kedua metode ini memiliki sisi buruk yaitu kandungan gula yang tinggi di dalam keduanya. Jika berat badan bukan merupakan masalah bagi Anda, maka blender mungkin akan lebih baik daripada juicer.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mayo Clinic Staff. Dietary Fiber: Essential for a healthy diet. http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/fiber/art-20043983 [diakses pada 13 Desember 2016]

Montalto, M. 2015. Juicing vs. blending: What’s the difference? https://www.washington.edu/wholeu/2015/03/11/juicing-vs-blending/ [diakses pada 13 Desember 2016]

Moore, L., Thompson, F. 2015. Adults meeting fruit and vegetable intake recommendations. Morbidity and mortality weekly report. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm6426a1.htm [diakses pada 13 Desember 2016]

Uckoo, R., et al. 2012. Grapefruit phytochemicals composition is modulated by household processing techniques. Journal of Food Science, 77(9), 1750-3841. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22957912 [diakses pada 13 Desember 2016]

Schaefer A. 2016. Juicing vs. Blending: Which Is Better for Me?. http://www.healthline.com/health/food-nutrition/juicing-vs-blending – overlaySources [diakses pada 13 Desember 2016]

Walker, R. W., et al. 2014. Fructose content in popular beverages made with and without high-fructose corn syrup. Nutrition, 30(7-8), 928-35. http://www.nutritionjrnl.com/article/S0899-9007%2814%2900192-0/fulltext [diakses pada 13 Desember 2016]

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Priscila Stevanni
Tanggal diperbarui 03/01/2017
x